
Leka membuka pintu kamar Runi. Dilihatnya gadis kecil itu sedang asyik duduk di karpet busa sambil menonton tv. Sesekali ia tertawa melihat acara tv kartun yang ditontonnya. Ia tidak menyadari Leka datang karena saking fokusnya ia menonton tv. Leka meletakkan baki itu di atas karpet dan mengangkat piringnya. Ia mulai menyuapi Runi makan.
"Mmh, mmh!" Runi menunjuk tv pada ibunya dengan mulut penuh sedang mengunyah.
"Iya, apa itu?" Leka menoleh pada tv.
Runi menatap Leka bingung.
"Itu burung. Ya?" Leka memberi tahu.
Runi terus mengunyah dan kemudian bertanya lagi. "Mmh, mmh!"
"Oh, itu jerapah ya?"
Runi menatap Leka.
"Je-ra-pah." Leka mulai menyuap lagi sambil mengajari.
Sejak dari pagi Runi belum beranjak dari tv. Ini untuk pertama kalinya ia punya tv sendiri karena sebelumnya di kampung ia harus pergi ke rumah tetangga untuk bisa nonton tv.
Sebentar saja makannya habis. Ia mulai menikmati hari-harinya di apartemen itu karena ibunya punya lebih banyak waktu dengannya dan ia punya tv, tempat tidur yang empuk dan rumah yang sejuk.
Aska di kantor terlihat bersemangat. Pekerjaan apapun di kerjakannya dengan baik dan tepat waktu. Tidak hanya Zaki yang terlihat heran, bahkan teman-teman seruangan dengannya bisa melihat perbedaannya. Kadang Aska bersenandung dan bergumam seakan-akan ia sendiri tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Happy(bahagia) banget!" Ledek Zaki.
"Oh, ho ho kamu tahu lah. Aku kalau ketemu makanan yang aku suka, moodku langsung bagus."
"Kayaknya beda deh!"
"Apa?" Aska mengerutkan keningnya dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
"Seperti orang yang jatuh cinta."
Aska sedikit terkejut. "Ah, masa? Aku memang seperti ini kalau ketemu makanan enak kan?"
"Kan beda, 'bahagia' dengan 'bahagia banget'."
"Apa?" Aska menyipitkan matanya.
"Ya sudah, bilang terus terang, kamu ketemu siapa?" Zaki berdiri dari duduknya dan memutari mejanya berdiri bersandar di depan meja.
"Ketemu siapa apa? Ya gak ada lah."
"Jangan sembunyikan apapun dari sahabatmu ini, aku tahu. Instingku tajam Ka." Zaki mulai mendesaknya.
Aska melirik sekelilingnya. Kantor lagi sibuk-sibuknya dan ia tak ingin ada yang tahu persoalan tentang kehidupan pribadinya, karena itu ia bicara asal. "Ada. Orang lama."
"Siapa? Mantan?"
Aska hanya menunduk. Ia memainkan ujung kertas yang di pegangnya.
"Yuk, keluar sebentar. Kita refreshing.(Penyegaran)"
Aska mengikuti Zaki ke beranda tempat Zaki biasa merokok tapi kali ini ia tidak merokok.
"Kenapa sekarang kamu pelit cerita sih padaku?"
"Ah, gak juga." Namun Aska tak berani menatap mata Zaki, ia hanya menundukkan pandangannya.
"Ada yang kamu sembunyikan kan Ka, padaku. Aku tahu, dan suatu saat nanti orang juga akan tahu. Jadi, bukankah seharusnya sahabat dulu yang lebih tahu?"
Aska masih ragu.
"Kalau kamu masih menganggapku sih ...."
"Bukan begitu Ki. Kamu sedang bermasalah, aku gak mau nambah beban kamu lagi."
"Lho, ini berita gembira apa berita sedih sih, kok aku jadi bingung." Zaki memang terlihat bingung, ia makin tidak mengerti atas apa yang terjadi pada Aska.
Aska menghela napas. Ia terpaksa harus menceritakannya pada Zaki. Ia meletakkan kedua tangannya di atas pagar dan memandang keluar. Ia sendiri juga sudah tak tahan memendamnya sendiri.
"Aku sudah nikah Ki, 2 tahun yang lalu." Aska mengucapkannya dengan suara rendah.
"Serius?" Zaki benar-benar terkejut.
"Iya, tapi waktu itu dalam keadaan darurat. Perempuan itu menolong aku yang hanyut di sungai tapi orang-orang di kampungnya salah sangka. Kami di paksa menikah di tempat kejadian."
Zaki terperangah. "Kapan itu?"
"Itu ... yang mobilku mogok di luar kota. Kalau tidak salah itu hari Jum'at. Karena besoknya libur jadi tidak ada yang memperhatikan dan orang tuaku juga sedang berada di Amerika."
"Jadi orang tuamu juga tidak tahu?"
"Iya, sampai sekarang."
"Kok bisa?"
"Besoknya aku meninggalkannya."
"Apa?" Zaki menatap Aska. "Kamu sadis juga ya."
__ADS_1
"Ya tapi waktu itu aku panik. Aku tidak bisa menerima perkawinan itu. Aku benar-benar marah tapi aku tak bisa marah padanya. Aku tahu, dia juga korban."
"Tapi meninggalkannya itu juga ...."
"Aku tahu aku salah. Selama dua tahun ini aku pendam terus rasa bersalah ini dengannya, hingga kami bertemu lagi."
"Kapan?"
"Kemarin."
Zaki kini bingung melihat Aska. "Lalu kenapa kamu terlihat senang, bukankah kamu tidak menyukai wanita itu?"
"Anak Ki, anaknya lucu."
"Anak?" Zaki mengerut kening.
"Iya."
"Anakmu?" Zaki berusaha mencari tahu.
"Iya."
"Kau malam pertama dengannya?"
"Eh, itu ... aku saat itu terbawa suasana." Aska berusaha menerangkan.
"Sebenarnya kamu menyukainya atau tidak sih?"
"Eh, saat ... itu aku berusaha menenangkannya sih. Kami habis bertengkar."
"Dan terjadilah ...."
"Iya."
Zaki meluruskan tangannya di atas pagar dan memandang keluar. Ia memandang sebentar dan kemudian berbicara. "Kita kaum laki-laki di minta untuk menentukan banyak hal tapi tidak semua laki-laki itu bijaksana. Kita juga bisa salah. Adalah menyenangkan bila kita bisa bertemu dengan wanita yang bisa mengerti itu."
"Mmh."
"Jadi apa yang terjadi?"
"Aku menampungnya."
"Maksudnya?"
"Di rumah."
"Iya, tapi maksudmu apa dengan itu?"
"Aaahh ... kamu sama konyolnya dengan aku!"
"Aku hanya ingin tahu apa aku bisa mencintainya."
"Karena anak?"
"Ya ... salah satunya."
"Kalau tidak kalian cerai?"
"Tapi aku menginginkan anak itu."
"Tapi dengan orang tuamu?"
"Belum tahu. Kami akan mencoba hidup bersama selama sebulan ini. Kalau berhasil baru akan aku beri tahu orang tuaku."
"Tapi itu sulit."
"Aku tahu."
"Jadi kamu itu sebenarnya senang karena apa?" Zaki kemudian berpikir ulang.
"Aku ternyata sudah punya anak yang lucu sekali wajahnya. Aku suka."
"Bukan ibunya?"
Aska tersenyum. "Aku juga tidak tahu."
"Selamat berjuang." Zaki menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
"Makasih."
Di sebuah sekolah SD International School (Sekolah Internasional) yang gedungnya megah, suasana terlihat sepi hingga bel berbunyi. Seorang guru wanita di salah satu ruang kelas 6, hanya tersenyum menghadap kelas dan menutup bukunya. "Ya sudah. Karena masih banyak yang belum mengerti, hari ini Ibu gak kasih tugas dulu ya?"
Anak-anak bersorak kegirangan.
"Makasih Bu," ucap Zack dengan sopan. Ia duduk paling depan dekat meja guru.
"Tapi tolong cari tahu ya, siapa yang menumpahkan minyak entah apa ini, di kursi duduk Ibu jadi nodanya tidak bisa hilang." Ibu Guru itu terlihat kesal.
"Oh, siap Bu." Zack yang ketua kelas memiringkan tangkupan tangannya di depan dahinya.
Ibu itu kemudian merapikan barang-barangnya di meja dan melangkah keluar. Anak-anak memastikan guru itu sudah pergi menjauh sebelum mereka bersorak gembira.
__ADS_1
Raden menepuk bahu Zack sambil tertawa. "Hebat Zack, tidak ada satu pun guru yang tahu kalau Zack yang terkenal sopan, pintar dan jadi ketua kelas juga ternyata adalah biang keonaran."
"Aku gak pernah bikin onar lah. Jahil iya." Zack mengusap rambut belakangnya.
"Ya biang kejahilan."
"Aku cuma bantu sedikit kok." Zack merendah.
"Gue seneng lo bisa bantu kita-kita di sini. Jadi setidaknya ujian bisa di tunda sehari." Danang meraih bahu kedua sahabatnya.
"Ya gak apa-apa sih."
"Zack!" Panggil Aiko. "Ayo ...."
"Eh, aku duluan ya? Yuk."
Kedua sahabatnya memperhatikan Aiko dan Zack pergi ke kantin. Danang mengalungkan tangannya pada leher Raden sambil berbisik. "Cewek tomboy itu kayaknya naksir Zack ya?"
"Kelihatan sih ...."
"Pantesan cewek-cewek yang biasa mendatangi Zack sudah gak kelihatan. Yang jagain singa."
Mereka berdua tertawa.
Sebuah mobil sedan sedang di parkir di bahu jalan. Seorang pria dengan tinggi sedang keluar dari mobil itu. Ia menatap lapak jualan yang ramai di kunjungi pembeli di depannya. Terpalnya sudah di ganti baru. Juga jualannya, soto ayam. Pria itu menyentuh seorang pria paruh baya yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi dekat situ.
"Ya?"
"Itu yang jualan pecel ayam ke mana ya?" Ia menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala.
"Oh, dia sudah di bawa suaminya."
"Suaminya?"
"Iya, dia pergi dengan suaminya."
"Makasih Pak." Pria itu memasang kembali kacamata hitamnya.
"Iya, iya."
Pria itu kemudian kembali ke dalam mobil dan pergi. "Haduh ... aku makan siang di mana lagi?" Katanya melajukan mobilnya.
Seorang gadis remaja berkulit sedikit gelap sedang makan sendiri di kantin. Ia datang sedikit terlambat karena tidak suka bertemu banyak temannya karena mereka akan mengejek gadis itu.
"Eh, ada keriting kusut di sini." Seorang anak laki-laki mendekati dan menyentuh rambutnya yang keriting dan mekar.
Gadis itu diam saja sambil melanjutkan makannya.
"Aneh, cewek kribo kayak gini makannya sushi." Anak itu tertawa bersama teman-temannya.
"Jangan ganggu deh." Gadis itu mengerutkan dahinya.
Namun anak laki-laki itu malah makin bersemangat menjahilinya. Ia mengambil paksa sumpit yang di pegang gadis itu.
Tentu saja gadis itu marah. "Hei kembalikan ...." Ia mengejarnya. Anak laki-laki itu lari menjauh.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki bule berdiri di hadapan anak laki-laki itu dengan wajah kesal. "Hei, kembaliin gak sumpit adek gue!" Bentaknya.
"Damn(sialan), kenapa lo harus ikut-ikutan sih? Adek dari mana lagi? Wajahnya aja beda."
"Bukan urusan lo!" Katanya dengan nada marah.
Namun bukan cowok bule ini yang menakuti anak laki-laki itu. Gadis cantik berdarah Jepang yang berdiri di belakang cowok bule itu yang menakutinya, ia terlihat meradang.
"Iya, cuma pinjam sebentar, marah." Anak laki-laki itu kemudian mengembalikan sumpit itu pada gadis berambut keriting yang lebat itu dan kemudian meninggalkan mereka semua pergi bersama teman-temannya.
"Lydi, kok kamu baru makan jam segini?" Zack menghampiri.
Gadis itu merapikan sumpitnya. "Gak apa-apa Kak."
"Mau kakak beliin apa lagi?" Zack duduk di samping Lydia.
"Gak, udah Kak." Lydia melirik wajah Aiko yang kesal.
"Untuk apa sih kita bulak-balik ke sini mencari Lydi, dia kan bisa membela dirinya sendiri?"
Zack menoleh. "Ah, dia adikku. Aku harus pastikan dia sudah makan."
"Gak apa-apa Kak," ucap Lydi pelan.
"Tidak, aku tunggu di sini sampai kamu selesai makan dan masuk kelas."
Halo reader, ini ada visual Zack. Jangan lupa dukung terus author dengan like, komen, vote dan hadiah. Salam, Ingflora.💋
Ada yang baru dari author Warnyi. Novel berjudul Mafia Story, Kembalinya Anak Tak Berguna. Bercerita tentang seorang anak yang tidak pernah di akui keberadaan oleh orang tua hingga ia berontak dan kembali dengan memperlihatkan sisi kelamnya.
__ADS_1