
Pintu di tutup. Terdengar suara mesin mobil yang lambat laun pergi menjauh.
Di dalam Arya dan Kenzo hanya bisa berdiri mematung. Sebentar kemudian Kenzo bergerak ke arah tangga. "Ayah, tinggalkan aku sendiri."
"Jo, dengarkan Ayah dulu. Leka ...."
"Sudah, tidak ada gunanya lagi, Yah."
"Jo, Leka tidak bersalah. Dia ...."
"Ayah, tolong ... Aku sangat lelah hari ini. Aku ingin cepat tidur." Kenzo tak menoleh. Ia menunduk sambil tetap menaiki tangga.
"Kenapa kau terus menghindar? Bukankah Leka wanita yang kau cintai?"
Kenzo berhenti dan membalikkan tubuhnya. Ia menuruni anak tangga. Dengan mata merah menahan tangis ia terlihat bingung. Ia menggaruk-garuk kepalanya mencoba menjawab pertanyaan Ayahnya yang ia sendiri tak tahu jawabannya. "Mungkin aku salah mencintai orang," jawabnya menyalahkan dirinya sendiri.
Arya mendekat. Ia meraih lengan anaknya dan berusaha menenangkannya. "Cinta tak pernah salah Jo. Kenapa menurutmu Allah membuatmu jatuh cinta pada Leka tapi bukan pada wanita lain?"
"Agar ia bisa menghukumku karena dosa-dosa Ayahku ...." Akhirnya pertahanan Kenzo runtuh. Air matanya jatuh satu-satu. Matanya seperti tanpa tujuan tenggelam kembali pada masa lalunya yang kelam. Masa lalu orang tuanya.
"Oh, Jo ...." Arya segera memeluknya. Mendung dari masa lalunya belum jua sepenuhnya pergi dari diri Kenzo. Ia masih merasa bersalah atas dosa-dosa dan kesalahan orang tuanya di masa lalu padahal itu sama sekali bukan kesalahannya. "Jo ... itu bukan salahmu ...."
"I know ....(aku tahu)" Isaknya.
Cukup lama Arya membisu dan memeluknya erat hingga Kenzo berhenti menangis. Arya kemudian pamit.
"Yah, mana Mbak Lekanya, Yah?" Sambut Tama di pintu.
Arya melihat keluarganya telah berkumpul. Aiko, Tama dan Mariko. Akhirnya ia menceritakan apa yang baru saja terjadi. Semua terdiam setelah mendengar cerita Arya.
"Bagaimana Mbak Leka bisa menikah dengan Kak Aska? Apa dia jatuh cinta padanya?" tanya Aiko bingung.
"Ayah tidak tahu."
"Bagaimana Kak Aska bisa menikah sama Mbak Leka tanpa diketahui Papa? Ada apa sebenarnya yang terjadi?" Tama juga bingung.
"Mereka pasti menikah tiba-tiba, kalau tidak, mana mungkin pernikahannya disembunyikan. Sampai punya anak lagi."
Aiko, Tama dan Arya memandangi Mariko dengan tatapan mata kesal.
"Mmh? Kenapa? Bisa saja kan mereka ...."
"Tidak mungkin!" Protes mereka bertiga.
"Mbak Leka orangnya tidak pernah yang aneh-aneh," bela Aiko.
"Kak Aska juga tidak gampang tergoda dengan wanita cantik. Dari dulu teman sekolah dan teman kantornya banyak yang cantik tapi cintanya cuma sama Kak Nena," ujar Tama.
"Nena siapa? Nena yang dulu mengajari Kenzo bahasa Indonesia itu? Itu pacar Aska? Bukannya dia anak pembantu?" tanya Arya.
"Iya. Sejak putus dari Kak Nena, Kakak belum pernah pacaran lagi sama orang lain. Kayaknya masih suka sama Kak Nena deh. Kan setiap Kak Nena datang dari Amerika, Kakak masih suka cari Kak Nena terus ngajakin jalan tapi Kak Nenanya udah gak mau."
"Apa Nena sudah punya pacar?"
Tama tertawa. "Masa Ayah gak tau. Kak Nena kan naksir Kak Jo. Kak Nena ninggalin Kak Aska karena suka sama Kak Jo, Kak Jonya aja yang gak sensitif."
"Apa?" Aiko, Mariko dan Arya terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Beneran Kak?" Tanya Aiko pada Tama.
"Eh, gak percaya. Aku kan bisa lihat. Kak Aska juga benci sama Kak Jo karena mantannya ninggalin dia demi Kak Jo."
Oh, begitu awal mula perang dingin ini? Padahal aku ada di sana saat kejadian tapi kenapa aku tidak mengetahuinya ya? Apa aku terlalu fokus mendirikan rumah Chris hingga tidak memperhatikan apa yang terjadi pada anak-anak?
"Tapi Kak Aska memang galak. Kalau ada orang salah sedikit saja, dia gampang marah. Ngomongnya juga kasar," cibir Aiko.
"Yah, namanya juga laki-laki," bela Tama.
"Ayah gak gitu, apalagi Oniichan."
"Kak Aska gak pernah galak tuh sama aku. Sama kamu kali!" ledek Tama. Tama memang dekat dari kecil dengan Aska, karena Tama adalah salah satu adik kesayangan Aska sewaktu masih tinggal dengan Chris hingga sekarang.
"Gak juga sih, tapi aku pernah lihat dia maki-maki orang."
"Kayak kamu gak pernah galakin orang aja." Kembali Tama meledek adiknya.
Aiko membulatkan matanya dengan mulut mengerucut.
"Sudah ... sudah, sekarang sudah malam. Sebaiknya kita tidur saja. Kalian kan besok masih harus sekolah, " ucap Arya pada kedua anaknya. Anak-anak kembali menaiki tangga.
Lalu, bagaimana dengan Leka dan Aska? Leka sepanjang perjalanan hanya diam tak bicara. Aska pun tak mengusiknya. Sampai di apartemen, Leka dikejutkan oleh seorang wanita yang sedang menunggunya.
"Berikan Runi padanya," ucap Aska pada istrinya.
"Si-siapa dia?" tanya Leka heran.
"Itu baby sitter kita yang baru, biar kau tak repot mengurusi Runi."
"Apa?" Leka akhirnya menurut. Ia memberikan Runi yang telah tertidur pada wanita itu.
Leka bingung kenapa tiba-tiba Aska menyewa baby sitter untuknya, tapi mau tidak mau ia memberi tahu jadwalnya di pagi hari, kemudian bersama-sama wanita itu masuk ke kamar Runi dan membaringkan gadis kecil itu di tempat tidurnya. Wanita itu ternyata sudah punya pengalaman mengurus bayi sehingga Leka tidak harus bersusah payah memberi tahunya soal pekerjaan. Setelah itu mereka keluar dari kamar itu menuju kamar mereka masing-masing.
Leka baru saja masuk ke dalam kamarnya ketika tiba-tiba suaminya segera menutup pintu dan mendekapnya mesra.
"Ah, Abang kamu mau apa?" Leka terkejut.
"Mau apa lagi? Aku sudah sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu Leka." Aska mendekatkan wajah mereka. Ia mulai menyentuh pipi istrinya dengan punggung tangannya.
"Tu-tunggu dulu." Leka segera mendorong tubuh suaminya.
Namun Aska malah menggendong istrinya di kedua tangannya.
"Ah!"
"Bagaimana kalau kita lanjutkan di tempat tidur saja."
"Apa?"
Aska segera membopong Leka dan menurunkannya di atas tempat tidur. Ia naik ke atas tubuh istrinya dan mulai mencium keningnya.
"Abang dengarkan dulu, aku ingin bicara!" Leka berusaha mendorong tubuh suaminya, tapi pria itu bergeming.
"Nanti saja bicaranya, yang penting penyatuan kita." Aska semakin tak terkendali. Ia mulai menciumi lekukan leher istrinya.
"Bang lepaskan aku!"
__ADS_1
"Kau belum mandi ya? Tak apa-apa, nanti kita mandi sama-sama saja." Tangan Aska sudah masuk ke dalam baju Leka dan mulai menggerayangi tubuh istrinya.
"Bang, hentikan!" Leka ketakutan dan memukuli Aska berkali-kali, tapi pria itu malah makin bernafsu mencumbui istrinya. Saat Aska mulai mencium istrinya, wanita itu menangis.
"Leka, kenapa kamu menangis?" Aska seperti tersadar dan terkejut melihat istrinya menangis.
Dengan sekuat tenaga, Leka mendorongnya hingga Aska jatuh ke samping. Ia segera duduk dari tidurnya. Aska segera bangun dan mendekat. "Leka, apa aku menyakitimu? A-aku pikir kau hanya mencoba jual mahal padaku."
"Jual mahal katamu?" Isak Leka. "Apa kamu tidak mendengar aku berusaha bicara padamu?"
"I-iya maaf." Aska berusaha memeluk Leka kembali tapi istrinya tetap mendorongnya menjauh.
"Bang, aku tidak mau kembali padamu. Aku ingin kita pisah saja!"
"Leka ...."
"Maaf, tapi aku sudah tak ingin meneruskan pernikahan ini ...."
"A-aku kini sudah banyak berubah untukmu. Aku akan bilang pada orang tuaku, dalam beberapa hari ini, percayalah, dan kedepannya kau akan di kenal sebagai Nyonya Aska Irfan dan ...."
"Aku tidak peduli, Aska. Aku tidak peduli! Aku hanya ingin hidup tenang tanpamu ...."
Aska syok mendengar pernyataan Leka. "Kau ingin kembali pada pria brengsek itu kan?" Ia menduga-duga dan mengepalkan tangan.
"Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan pria. Aku hanya ingin pulang kampung dengan Runi dan hidup bersama dengannya saja."
"Leka, kumohon."
Leka mencoba menghapus air matanya. "Aku sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi Bang, semuanya sudah pergi entah ke mana." Ia masuk ke dalam selimut dan memunggungi suaminya.
Tiba-tiba Aska turun dari tempat tidur dan pergi keluar kamar. Ia kembali dengan membawa pisau dapur.
Leka hampir terlonjak melihat pisau di tangan suaminya. Pria itu dengan tangan gemetaran mendatangi Leka.
"Kau mau apa?" Leka terduduk kembali ketakutan melihat Aska membawa pisau menghampirinya.
"A-a-aku tak bisa hidup tanpamu. Kalau kau meninggalkanku aku sebaiknya mati saja." Aska dengan nekat menggores pergelangan tangannya dengan pisau. Darah mengalir keluar dari luka yang di buatnya.
"Bang ...." Leka segera mengejarnya. "Apa yang kau kerjakan ...." Ia segera meraih lengan Aska.
Seketika itu juga Aska menjatuhkan pisaunya. Pria itu hanya melihat kepada istrinya. Ia berharap istrinya mengerti, ia sekarang sedang sekuat tenaga berusaha agar istrinya kembali seperti dulu lagi padanya, perhatian, percaya, dan menyayanginya.
Leka menarik suaminya ke kamar mandi dan mencuci lukanya. Sepertinya mereka harus pergi ke klinik. Leka mengikat luka Aska dengan selendang lalu membawanya keluar.
Aska hanya diam tak banyak bicara. Saat Leka membawa tasnya, pria itu memberikan dompetnya pada istrinya. Dengan taksi, mereka ke klinik terdekat. Sepanjang perjalanan, Aska melingkarkan tangannya pada lengan istrinya. Ia terlihat nyaman dengan sesekali bersandar pada wanita itu. Leka tak bisa berbuat apa-apa karena Aska masih suaminya.
Setelah luka Aska di tangani dokter, mereka pulang. Leka membantu suami masuk ke dalam selimut. Setelah itu ia pergi mandi. Usai mandi, didapatinya suaminya telah tidur.
Ia kemudian menyisir rambutnya dan memakai deodoran, agar suaminya tak terusik saat tidur. Ia beranjak ke tempat tidur.
"Leka ...."
Wanita itu menoleh. "Kau belum tidur?"
"Aku tak bisa tidur tanpamu. Tolong peluk aku ...." Aska sudah mengangkat tangan kirinya. Mau tak mau Leka menggeser tubuhnya. Ia antara tidak tega dan terpaksa melakukannya.
Aska mendekap istrinya dengan senangnya. Siasatnya untuk membuat kekerasan hati istrinya mencair, berhasil sudah. Ia sempat takut juga menggores tangannya dengan pisau tapi akhirnya ia bisa juga.
__ADS_1
Leka memang tak nyaman, tapi suaminya mendekapnya erat. Beberapa kali Aska bahkan mengecup pucuk kepalanya karena saking bahagianya.