
"O dia ke atas tadi, mungkin ke kamarnya."
Kenzo segera mendatangi tangga dan menaikinya hingga lantai 2. Ia mengetuk kamar Zack dan membukanya. "Zack ...."
Aiko menjerit. "Onichan!(Kakak!)" Ia segera turun dari tempat tidur dan menghampiri Kenzo. Ia melompat-lompat dan memeluk Kakaknya.
"Ow ow ow, kamu ada di sini juga rupanya." Kenzo memeluk Aiko.
"Onichan bawa apa untukku?" Tanya Aiko manja. Ia selalu begitu setiap Kenzo pulang dari luar negri, dan Kenzo juga memanjakan adiknya dengan banyak hadiah hingga Aiko jadi sangat dekat dengannya.
"Ada di rumah. Nanti ya?"
"Iya."
Kenzo mendatangi Zack yang sudah turun dari tempat tidur. "Ini untukmu." Zack menerima sebuah kotak kado dalam ukuran lebih kecil.
"Makasih Kak."
"Juga kamu." Kenzo menoleh pada Lydia.
"Eh, aku?" Lydia ikut turun dari tempat tidur.
"Eh, tapi dia kan tidak ulang tahun?" Protes Aiko sengit.
Kenzo tertawa. "Ya tidak apa-apa. Kamu juga kan tidak ulang tahun."
Aiko merengut kesal.
Kenzo merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah jepitan berbentuk pita berwarna pink. "Sini Kakak pasang." Ia merapikan rambut Lydia di samping dan menyematkannya.
Zack ikut memperhatikannya. "Cantik lho!"
Kenzo hanya tersenyum. Lydia terlihat senang sedang Aiko kesal karena kedua laki-laki yang berada di depannya sangat perhatian pada Lydia. Dari dulu Aiko sangat tidak suka pada Lydia. Ia suka pada Zack tapi pemuda itu perhatiannya sering terpecah karena memikirkan Lydia. Apa-apa serba Lydia, apa-apaan selalu Lydia dan kini kakaknya juga mulai ikut-ikutan memperhatikan gadis berkulit sedikit gelap blasteran Indonesia-India-Amerika-Rusia ini.
Kenzo bisa memahami perasaan Aiko. "Aiko, kamu gak boleh iri begitu. Nichan kan baru kali ini belikan hadiah buat Lydi. Setiap ada waktu ke luar negri Nichan selalu belikan kamu hadiah. Kamu harus mulai belajar bersyukur ya?" Ia mengusap pucuk kepala Aiko. Gadis itu masih merengut.
"Sudah, kakak keluar dulu." Kenzo pamit. Di luar ia terdiam. Karena di meja makan ada Aska, ia enggan turun. Zack ulang tahun adalah penyebab ia datang ke rumah itu. Ia berusaha menghindari Aska karena mulutnya selalu pedas terhadapnya.
Ia tahu Aska sudah tidak tinggal di rumah ini tapi sekali-sekali ia masih datang menengok orang tuanya.
Kenzo menghela napas. Kenapa masalah yang dahulu itu tidak juga usai. Aska masih tetap marah padanya hingga hampir 12 tahun berlalu. Aska yang dahulu pacaran dengan Nena, putus di saat Nena mulai mengajarinya bahasa Indonesia. Padahal itu bukan salahnya. Nena sendiri yang memilih putus dari Aska dan ia sediri tidak tahu sebabnya.
Tak terasa ia sudah berjalan di beranda belakang tempat jemuran di lantai 2. Dulu ia sering berada di situ saat ia ragu dengan jalan hidupnya sementara Mariko mengangkat anak dirinya. Sebuah pergulatan besar karena semasa hidup ayah kandungnya, ia banyak menyiksa orang termasuk wanita dan salah satunya adalah Mariko. Wanita itu menerimanya dengan ikhlas, sangat ikhlas hingga malu dan hampir bunuh diri. Ayah Aryalah yang menuntunnya hingga akhirnya ia masuk Islam. Mengingat itu seperti memutar waktu mengingat kembali kebodohan-kebodohannya yang telah ia lakukan.
Langit terlihat cerah walau gelap dan sedikit bintang menyinarinya. Telinganya kemudian menangkap keramaian di bawah sana, suara wanita-wanita yang sedang bercakap-cakap dan suara anak kecil merajuk. Anak kecil ...?
Mata Kenzo menilik lebih jauh ke bawah. Di antara 2 orang pembantu keluarga Chris yang ia kenal, ia menemukan seorang lagi yang berbeda. Seorang wanita berjilbab berwarna hijau dengan menggendong seorang anak kecil yang sepertinya perempuan karena berjilbab juga yang terdengar jeritannya bercanda dengan 2 pembantu di sana. Kenzo tersenyum.
Wanita itu kemudian duduk di kursi taman sambil menggendong anak kecil itu dan wajahnya terkena cahaya lampu. Kenzo terkejut melihat wajah wanita itu. Sangat cantik, sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seperti seorang dewi yang tiba-tiba datang mengganggu penglihatannya. Wanita itu tersenyum melihat tingkah gadis kecil yang berada di pangkuannya. Sesekali senyumnya yang mengembang melihat gadis kecil itu, mencuri perhatiannya.
Siapa dia? Aku belum pernah melihat dia sebelumnya? Apa dia pembantu baru keluarga ini?
__ADS_1
Kenzo bergerak turun. Ia bahkan melewati meja makan tanpa mendengarkan panggilan Chris. "Kenzo, kau mau ke mana? Kau tidak makan?"
Ia tidak menemukan siapapun di taman belakang. Ia kembali masuk. Dilihatnya 2 pembantu itu sedang memanaskan makanan dan wanita itu ... baru keluar dari kamar mandi dengan gadis kecil itu. Runi terkejut melihat Kenzo dan segera mundur dan meraih kaki ibunya. Leka pun sama terkejutnya.
Kenzo bingung harus bagaimana. Gerakannya yang spontan turun dari lantai 2 juga ia tidak ketahui penyebabnya. Hanya instingnya yang membawanya ke sana. Untung Ijah menyelamatkannya.
"Oh, Kak Kenzo. Mau makan Kak?" Wanita itu menyapanya. Ia sudah hapal, kalau Kenzo satu-satunya tamu yang suka duduk menyendiri di banding bergabung dengan yang lain.
"Oh iya, tapi ini siapa ya?" Kenzo bertanya pada Ijah di depan Leka.
"O itu pembantu baru Aska di apartemennya."
"Mmh?" Kenzo menatap Leka yang terlihat malu di tatap frontal olehnya. Ia hanya tak percaya wanita itu seorang pembantu karena memang tidak terlihat seperti itu.
"Pembantu?"
"Iya, tapi dia sebelumnya punya usaha buka warung makan. Karena suaminya sudah meninggal, Kak Aska kasihan jadi mengajaknya kerja di rumahnya."
Leka hanya menunduk malu mendengarkan kebohongan yang harus ia pertahankan. Sepertinya saat itu ia ingin berteriak itu tidak benar dan berlari pulang, tapi ia tidak bisa. Ia sedang mengemis statusnya pada Aska. Ia ingin sekali bercerai tapi itu dosa dan ada Runi yang perlu ia pertimbangkan. Ingin ia egois dan jadi diri sendiri saja tapi betapa sulitnya.
"Bukankah berjualan lebih enak, uangnya lebih banyak walau sedikit capek. Nanti kan bisa punya asisten."
"Punya anak kecil Kak, susah." Leka menjawabnya sendiri.
"Oh."
Leka permisi dan kembali ke taman sementara Kenzo mengambil makanan di dapur. Pria itu kemudian menyusul Leka. "Maaf, boleh aku makan di sini?" Ia segera duduk di kursi taman di samping Leka. Biasanya ia tidak begitu. Ia biasanya berhati-hati bila bicara dengan orang baru tapi Leka seperti telah menyihirnya menjadi manusia yang berbeda. Ia seperti ingin terus mengikuti wanita itu dan ingin tahu lebih jauh tentang wanita yang kini tiba-tiba menguasai hatinya.
"Halo," sapa Kenzo pada si kecil Runi.
Gadis kecil itu sambil masih menatap Kenzo ia merebahkan kepalanya pada dada ibunya.
"Oh ya siapa namamu? Apa tadi kau menyebutkan namamu?"
"Oh, Leka."
"Leka?"
"Jaleka."
"Apa itu nama yang umum ya, aku kok gak pernah dengar?"
"Nama yang umum di kampung seperti Jamilah, Jamiah."
"Kalau itu malah aku sering dengar. Apa kamu tertarik kerja kantoran tapi di rumah saja jadi hanya mengerjakan online?"
"Online? Pekerjaan apa itu?"
"Ya kamu tinggal cek semuanya di laptop dan mengirimkan data. Mudahkan?"
"Laptop?" Wajah Leka terlihat bingung. Ia kemudian menggeleng.
__ADS_1
"Kau tidak bisa atau tidak mengerti?"
"Semuanya."
Kenzo terkejut. "Oh, sayang sekali padahal uangnya lumayan dan pekerjaannya ringan bisa sambil mengurus anak."
"Oh."
Di meja makan, Aska sudah gelisah. Ia melihat Kenzo pergi ke taman belakang. Sebenarnya itu hal yang sudah biasa di lakukan Kenzo saat ia bertamu ke rumah ini karena Kenzo selalu mengalah. Ia duduk di taman belakang bila ada Aska di dalam rumah. Itu sepertinya menjadi kepuasan tersendiri bagi Aska melihat Kenzo duduk di taman belakang terkucilkan. Dendam yang tiada habis-habisnya.
Namun ini tidak luput dari perhatian Arya, Ayah Kenzo. Ia tahu Kenzo di kesehariannya adalah pria berhati lembut yang selalu mengalah pada lawan. Karena itu Arya selalu mencari tahu orang-orang yang berusaha menyakiti Kenzo sebab ia tahu Kenzo takkan pernah cerita. Apalagi soal Aska. Melihat ayahnya berteman dengan Chris, ia tak berani mengusiknya. Arya juga serba salah karena Aska juga salah seorang guru potensial di Perguruan Wushu yang dia punya menjadikannya dilema. Sejauh ini bapak dan anak ini rapi menutup kejahatan Aska pada Kenzo di depan Chris dan Reina tapi bukan orang tua namanya kalau ia tidak ingin membalas Aska atas ke sewenang-wenangannya terhadap Kenzo. Ia hanya menunggu kesempatan yang tepat saja.
Kenangan itu kembali mengganggu Aska, tentang Nena yang memutuskan dirinya setelah gadis itu mulai mengenal Kenzo. Kini ia tidak ingin itu terjadi lagi untuk kedua kalinya. Dengan Leka.
Aska berdiri.
"Oh ya, apa kamu ingin mengganti jadwal mengajar?" Tanya Arya melihat Aska ingin beranjak dari kursinya. Ia tahu, Aska terlihat gelisah saat Kenzo, anaknya pergi ke taman belakang. Ia menduga Aska takut Kenzo berbicara dengan wanita yang di sebutnya pembantu itu.
"Apa?" Aska kembali duduk. "Jadwal?"
"Mungkin kamu ingin mengajar juga Minggu karena kamu hanya mengajar sabtu saja."
Aska terlihat bingung. "Tapi aku jadi tidak punya hari istirahat dong."
"Atau bisa juga di maksimalkan hari Sabtunya karena ada 3 kelas, pagi, siang, malam."
"Aku pikir-pikir dulu."
"Atau hari biasa, tapi ngajarnya malam."
"Itu pasti tidak bisa karena aku ada lembur Om, gak tentu."
Namun kedatangan Salwa menyadarkan Aska akan fokus utamanya. "Halo semua, maaf aku lembur. Untung punya asisten yang bisa bantu-bantu dan bisa di suruh-suruh." Salwa baru pulang dari kantornya.
"Oh, aku juga mau pulang. Ngantuk." Aska pura-pura menguap. "Aku pulang dulu ya Pa?"
"Oh, iya. Hati-hati."
Aska segera berjalan ke arah taman belakang menjemput istrinya. "Leka." Ia terkejut melihat istrinya duduk di satu kursi panjang dengan Kenzo. Ia benar-benar geram tapi di tahannya.
"Ya?"
"Ya, aku mau pulang."
"Oh." Leka langsung mengangkat Runi yang duduk di pangkuannya. "Permisi Kak."
"Iya," sahut Kenzo sambil melirik kilatan di mata Aska.
________________________________________________
Author receh kembali lagi. Ini visual Kenzo yang bersahaja. Jangan lupa dukung terus author agar terus bisa terus berkarya dengan komen, like, vote dan hadiah. Salam, Ingflora 💋
__ADS_1