
Jadi sebenarnya, siapa yang mengirimiku keranjang buah itu? Aska sama sekali tak menanyakan keranjang kiriman itu berarti bukan dia yang mengirim. Candi juga tidak tahu di mana aku tinggal. Apa ada orang lain lagi yang tahu siapa aku dan di mana aku tinggal? Mmh, orang yang menyewakan warung untukku saja hanya tahu namaku tapi ia tidak di beritahu ke mana aku pindah. Apa ... ada yang memata-matai aku? Leka segera melihat berkeliling, jangan-jangan ada yang memata-matai kehidupan pribadinya, tapi siapa?
"Leka, kau lihat apa?" Candi bingung melihat Leka yang seperti mencari seseorang.
"Ah, tidak. Kenapa kamu di sini?" Wanita itu kini menatap Candi.
"Kan rumahku tidak jauh dari taman ini. Agak ke belakang sana, di komplek perumahan." Candi menunjuk ke belakangnya. "Itu mobilku. Aku tadi lewat lihat kamu."
"Oh."
"Kau tinggal di mana?"
"Dekat sini."
"Iya, di mana?"
Leka enggan memberitahunya karena pasti Candi akan main ke rumah sedang Aska terakhir sudah memperingatkan temannya itu untuk tidak mengganggu rumah tangganya. Ia lelah bertengkar dengan Aska juga ia tidak ingin Aska bertengkar dengan teman sekampungnya ini.
"Tidak jauh."
"Leka, kenapa kamu berahasia?"
Tin, tiin ....
Keduanya menoleh. Dari kejauhan sebuah mobil sedan berwarna biru tua berhenti dan kaca belakangnya terbuka secara otomatis. Terlihat seorang pria melambai-lambai dari dalam mobil.
Leka mengenali mobil itu. "Oh, maaf aku menunggu teman suamiku." Ia segera berdiri dari duduknya dan bergegas menghampiri mobil itu, tinggal Candi hanya melihat dan tak bisa berbuat apa-apa.
Leka segera masuk ke dalam mobil membawa Runi.
"Oh, kau mau ke mana?" Tanya Kenzo. Ia tak sengaja melihat Leka di taman dan menyapanya.
"Ke mana saja, ayo kita pergi."
"Mmh? Kau mau ke rumahku?"
Leka terkejut. "Hah?"
"Ya sudah." Kenzo memerintah Bodyguardnya. "Ayo Dan pulang."
Kini Leka yang bingung. Ia tidak bermaksud pergi ke rumah Kenzo karena ia berusaha menghindari Candi, tapi ia sudah terlanjur secara tidak langsung mengiyakan. Jadi ia harus konsekuen dengan apa yang di katakannya, tapi ke rumah pria itu ... tak pernah terpikirkan sedikit pun olehnya.
Tak lama mereka sampai ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi dengan halaman yang sangat luas. Pintu di buka oleh seorang satpam. Rumah berlantai dua itu terlihat asri karena mempunyai taman yang mempercantik rumah itu.
Mobil parkir di depan pintu utama dan pintu belakang mobil, keduanya dibantu dibukakan oleh bodyguard Kenzo sehingga pria itu dan Leka bisa keluar dengan mudah.
Seorang pembantu membukakan pintu utama. Pria itu mengajak Leka masuk bersamanya. Runi yang diturunkan dari gendongan Leka, juga penasaran dengan rumah itu.
Pertama masuk, mata di suguhi sebuah akuarium besar di salah satu dinding ruang tamu. Beragam ikan dengan berbagai ukuran dan warna memenuhi akuarium itu. Runi seperti terhipnotis melihatnya dan langsung menarik tangan ibunya. "Uhh!"
"Apa? Mau lihat ikan?"
"Oh, lihat saja. Tidak masalah." Kenzo meninggal mereka berdua dan masuk ke dalam hingga ruang makan. Ia mengambil sebuah lonceng yang diletakkan di sana dan membunyikannya. Seorang wanita muda tergopoh-gopoh mendatanginya. "Kamu jangan lari-lari begitu, Tun. Nanti kamu jatuh."
"Iya Pak." Wanita itu tersenyum.
__ADS_1
Tolong sediakan minum untuk tamuku dan makanan ringan. Minumnya jus saja ya?"
"Iya Pak."
Kenzo kemudian kembali. "Runi suka ikan ya?"
Runi menoleh sebentar tapi kemudian memperhatikan lagi ikan yang berlalu lalang di hadapannya. Ia telah di gendong lagi oleh Leka agar bisa melihat dari dekat ikan di dalam akuarium itu. Runi senang melihat ikan yang bergerak dengan beraneka warna di tambah sinar lampu yang membuat warna ikan itu jadi lebih hidup.
Kenzo mendekat. "Aku gendong boleh?" Tanyanya pada Leka. Ia ingin menggendong Runi.
Leka terlihat ragu, tapi ia diam saja ketika Kenzo mencoba mengambilnya pelan-pelan.
Runi sedikit terkejut ketika Kenzo mengambil dirinya, tapi ia hanya tegang sambil memperhatikan wajah Kenzo yang berusaha tersenyum semanis mungkin padanya. Pria itu mengajaknya bicara. "Eh, itu lihat ikannya, besar-besar. Dede mau ambil ikan? Iya?" Tanyanya pada Runi.
Gadis kecil itu bergeming, melongo melihat wajah Kenzo, ia tidak bergerak.
"Wajahnya lucu sekali ya? Apalagi pakai jilbab seperti ini. Seperti boneka," ucapnya pada Leka.
Wanita itu tersenyum senang. Kenapa pria ini begitu baik, bahkan pada Runi. Kami bukan siapa-siapanya, tapi entah kenapa di saat aku gundah ia selalu muncul. Andai saja Aska seperti dirinya, bisa menghargai kehadiranku dan Runi. Leka menghela napas. Ditatapnya wajah Kenzo yang sangat berbeda dari wajah orang kebanyakan di Indonesia. Ya, tentu saja. Perpaduan Timur dan Eropa membuat wajah Kenzo terbilang unik. Wajahnya Jepang tapi rambutnya sedikit pirang. Ia memang tidak setampan Aska tapi ia punya semua yang Leka inginkan, ramah, perhatian dan punya banyak waktu untuknya. Ia juga bisa sangat menghibur dengan suaranya saat bernyanyi.
"Ayo sekarang Om mau nyanyi ya?" Kenzo membawa Runi yang masih menatapnya tegang. Pria itu membawa Runi ke salah satu sudut ruangan di mana ada sebuah benda seperti meja. Oh, bukan. Sebuah piano.
Kenzo membuka tutup piano itu dan duduk di kursi yang ada di depannya. Ia memangku Runi. Ia coba menekan tuts piano dengan satu jemarinya. Dentingannya menarik Runi untuk melihat tuts piano yang berjejer rapi di depannya. Kembali pria itu menekan tuts itu tapi dengan beberapa kali tekan sehingga menghasilkan nada yang enak di dengar.
Tiba-tiba Runi mencobanya dengan kedua tangannya dan hasilnya suara yang berantakan. Kenzo tertawa, begitu juga Leka yang berdiri di samping mereka. Namun Runi malah makin penasaran dengan mencobanya lagi dan lagi.
Kenzo menengahi dengan memainkan tuts di piano itu hingga Runi berhenti dan mendengarkan.
Kenzo mulai menyanyikan suara yang mengikuti nada. "Na na na na na ...."
"Na!" Sahut Runi
"Pa!" Ucap bocah kecil itu mengikuti.
"Pa pa ram pa ...."
"Papa!"
Kenzo tersenyum. Ia akhirnya mendentingkan tuts piano itu yang membuat ia memainkan jemarinya dan bernyanyi pelan. Kedua ibu dan anak itu mendengarkan. Selesai menyanyi, Leka tanpa sadar bertepuk tangan, tapi kemudian ia malu sendiri saat Kenzo memperhatikannya. "Terima kasih."
"Papa!"
Kenzo dan Leka tertawa.
"Sepertinya di meja sudah di taruh minuman ya? Ayo diminum dulu, mungkin kalian haus." Kenzo sambil menggendong Runi mendatangi ruang tamu. Di sana sudah tersedia minuman dan makanan ringan.
Kenzo duduk di salah satu sofa dan kembali memangku Runi. "Kamu ingin minum?"
Runi mengangguk. Kenzo membantunya untuk minum dari gelas seteguk dan kemudian meletakkannya di meja.
"Papa ...." Gadis kecil itu merentangkan tangan ingin minum lagi dan Kenzo mengambilkannya kembali.
Leka yang duduk di seberangnya sempat minum dan memperhatikan Runi.
"Papa ...."
__ADS_1
"Mau minum lagi?"
Gadis kecil itu menggeleng dan menunjuk pada biskuit yang berada di piring di atas meja. "Papa ...."
"Eh, kok panggil 'Papa', panggil 'Om', Runi ...." Leka mulai menyadari ada yang salah dari panggilan Runi pada Kenzo, tapi tidak bagi Runi karena Kenzo sering bersenandung 'Papa,' berkali-kali maka ia memanggilnya 'Papa'.
Kenzo tersenyum pada Runi. "Tidak apa-apa. Aku juga menyukaimu." Pria itu menoleh pada Leka. "Eh, boleh kan?"
"Hah?" Leka terkejut.
"Maaf, tapi aku benar-benar menyukaimu."
Sesaat Leka bingung. Apa tindakanku padanya waktu itu membuat ia berpikir aku menyukainya? Leka resah. Aku kan sudah punya suami tapi ... Aska lihat! Kalau ada yang menyukai istrimu ini bagaimana? Wanita itu tidak tega menjawab apalagi Kenzo adalah teman keluarga suaminya dan pria itu sangat sopan. Ah ... kenapa aku menangis di hadapannya waktu itu. Mungkin di pikirnya aku menggodanya padahal aku adalah wanita yang paling tidak mungkin bersama siapapun saat ini karena bersama Aska saja ia tidak menghargaiku. Mungkin karena aku dari kalangan miskin yang tak mungkin menikah dengan orang kaya jadinya tidak ada orang yang menghargaiku. Apalagi dia. Harus wanita kaya yang bersanding dengannya, bukan aku.
Leka melihat Runi mulai terbuka pada Kenzo. Kenzo yang mengajaknya bicara di tanggapi Runi dengan senang.
Lihat Aska, kenapa Runi harus akrab dengan orang lain? Kenapa pada orang lain ia memanggil 'Papa'. Memanggil Om saja padamu, ia belum pernah. Sedih rasanya.
"Tapi kalau kau tak suka padaku tidak masalah. Aku tidak memaksa. Cintaku ini tumbuh dengan sendirinya tanpa di minta."
"Mmh? Cinta?"
"Aku sudah jatuh cinta padamu pada pandang pertama. Maaf, aku tidak bisa membuat kalimatnya jadi begitu indah, tapi inilah yang kurasa. Maaf, sekali lagi maaf."
"Eh, tidak apa-apa." Eh, kenapa aku jawab seperti ini?
"Jadi, apakah kamu merasakan juga hal yang sama?"
"Eh ...." Lidah Leka keluh. Rasanya benar-benar tidak tega mematahkan hati pria yang begitu baik ini.
"Niichan." Seorang gadis berlari-lari dari arah luar rumah terlihat dari pintu utama yang terbuka itu. Ia menghampiri Kenzo. "Eh, ada tamu ya? Maaf." Ia melihat Runi. "Eh, ada Dede gemes."
Runi terkejut dan malah merapatkan tubuhnya pada Kenzo. "Papa." Gumamnya.
"Papa? Kenapa dia memanggilmu 'Papa' Nichan?" Aiko menoleh pada Kenzo juga Leka. "Jangan-jangan kalian ...."
"Oh, bukan-bukan. Tadi aku nyanyi papa-papa jadi dia memanggilku Papa."
"Oh ...."
Namun Leka tak enak hati. Diambilnya Runi dari gendongan Kenzo. "Maaf, maaf ya?"
"Tidak apa-apa." Pria itu terlihat senang.
"O ya, Nichan. Dicari Mama di rumah. Sepertinya diminta mengambil gambar lagi buat foto bentonya."
"Oh, gitu." Kenzo berdiri.
"Kak, saya pulang saja ya?" Leka pamit.
"Eh jangan Kak, aku belum main sama chibi ini." Aiko menatap gemas pada Runi. Runi sedikit takut dan berpegang pada baju Leka. Aiko tertawa.
"Kamu ikut ke rumah orang tuaku saja. Main di sana." Kenzo mengundang wanita itu.
"Eh, tapi ...."
__ADS_1
"Sudah, ayo ikut saja kata Onichan." Aiko menarik lengan Leka.
Mau tak mau Leka mengikuti mereka. Mereka hanya perlu menyeberangi jalan komplek itu dan sampai ke rumah orang tua Kenzo. Pria itu segera masuk ke dalam rumah dan mencari ibunya hingga ke belakang.