
"Lho, pacar naik jabatannya kok malah ngambek? Harusnya senang dong."
Chris tertawa.
"Gimana gak kesal Map, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada aku. Dia sekarang traktir teman-temannya, terus aku di suruh pulang sendiri." Salwa masih merengut kesal.
Reina dan Chris saling berpandangan dan tersenyum.
"Ya sebagai pacar, kamu dukung saja Rojak. Mungkin besok, dia akan ajak kamu ke tempat yang lebih spesial."
Salwa terdiam sejenak tapi terlihat tidak sekesal tadi. "Beneran Map?"
"Ya, dia kan pacarmu. Kamulah yang lebih tahu. Apa dia orang yang seperti itu?"
Walaupun tak menjawab, sorot mata Salwa kembali ceria. "Good night Pa, Map.(Selamat malam Pa, Map.)"
"Good night, Salwa." Reina menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya yang terlihat masih asyik menonton tv. Ia mengganti siaran tv tapi Chris bergeming. Ia akhirnya mematikan siaran tv dan masih sama. "Uda ...."
"Mmh, apa Honey."
"Pikiranmu ke mana?"
"Eh, itu ...." Chris terkejut, istrinya tahu kalau ia sedang tidak fokus menonton. Pikirannya sedang menerawang ke tempat lain. "Maaf Honey, aku sedang memikirkan pekerjaan di kantor."
"Aneh. Biasanya Uda tidak suka memikirkan soal pekerjaan kantor di rumah. Malah biasanya tidak peduli. Ini tiba-tiba serius begini dalam beberapa hari ini. Memikirkan pekerjaan atau wanita lain?" Bola mata Reina yang indah menatapnya intens.
Chris semakin terkejut, tapi ia berusaha agar Reina tidak melihat perubahan di wajahnya itu. Ia berusaha mengelabuinya dengan sedikit tertawa. "Honey ... kamu ada-ada saja. Ayo kita tidur. Besok kan aku mau ke kantor lebih awal."
"Mmh, ada apa?" Wajah Reina yang lembut memandangi wajah bule suaminya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah 44 tahun itu.
"Oh, ada sedikit persiapan yang harus aku lakukan." Chris menarik tubuh istrinya agar segera berdiri. Ia sulit berbohong bila Reina menatapnya terlalu lama.
"Ok, Sayang."
Di tempat tidur, Chris belum juga mampu tertidur. Ia masih resah.
Mama yang paling pintar mengurus masalah ini tapi ia telah meninggal dunia 3 tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas di Amerika sedang Daddy yang ikut kecelakaan bersamanya sekarang sakit-sakitan di sana. Untung ada Nena yang merawatnya dan menjalankan perusahaannya.
Chris menghela napas. Aku harus hati-hati melakukannya sambil meraba-raba karena kalau salah-salah bisa fatal akibatnya. Dirapikannya selimut istrinya dan ia tidur di sampingnya.
Telepon berdering. Leka hanya menoleh pada hp-nya yang berada di atas meja nakas. Malas rasanya mengambilnya tapi ia ingat ancaman suaminya tadi dan akhirnya ia terpaksa mengangkatnya. "...."
"Leka, kenapa kau tak bersuara?"
"Malas," jawab wanita itu yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Leka ... di malam-malam seperti ini, aku rindu suaramu, baumu, wajahmu dan rasa bahwa kau ada di sini. Apa kau tidak merasakan apa yang aku rasakan?" Aska juga ternyata tengah berada di atas tempat tidurnya dan menatap pembaringan di sebelahnya. Sunyi tanpa ada istrinya di sana.
"Tidak." Leka segera menyudahi percakapan itu dan meletakkan kembali hp-nya di atas meja nakas. Ia bukan Leka yang polos dan bodoh seperti dulu, ia sudah tidak bisa di bohongi dan di rayu lagi. Wanita itu sudah cukup tahu siapa suaminya hingga ia membulatkan tekad dengan keputusannya. Perkawinan ini harus di akhiri.
----------++++---------
Acara yang paling Runi sukai di pagi hari adalah sarapan bersama 'Papa'. Ia sarapan bersama pria yang baik pada ibunya dan dirinya itu sambil memandangi wajah Jepang pria itu. Ibunya beruntung sekali bisa menemukan pria yang membuatnya sering tersenyum, dan iapun juga suka pada pria itu.
"Nanti habis makan Papa akan bacakan buku untukmu. Mau?" Tanya Kenzo pada Runi.
Walaupun gadis kecil itu tidak mengerti apa yang di tawarkannya, ia terlihat senang.
Sehabis sarapan, Leka membawa Runi ke ruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa kamu ke ruang tamu? Apa ada tamu yang bakal datang?" tanya Kenzo heran.
"Kakak kan gak mungkin main ke kamarku Kak." Leka menurunkan Runi di dekat sofa.
Kenzo mulai mengerti maksudnya. "Oh, iya. Maaf aku lupa."
"Titip Runi Kak, aku ambilkan bukunya dulu." Leka menaiki tangga. Dilihatnya Kenzo menaikkan Runi ke sofa dan pria itu duduk di samping anaknya.
Tak lama Leka turun. Ia membawa 2 buah buku tebal. Yang satu terbuat dari kertas karton tebal dan yang satu lagi terbuat dari kain. Buku dari kain itulah yang pertama kali di buka. Leka memperhatikan baik-baik cara memainkannya. Ada bantal gambar yang bisa di lepas dan di pindah, ada gambar yang di tarik bergerak, ada juga menyusun gambar dan mengenal abjad dan angka. Semua sangat menarik. Tidak saja Leka, Runi juga sangat takjub melihatnya. Gadis kecil itu juga ikut mencoba menarik dan memindahkan bantal.
Belum lagi buku yang satunya. Buku itu bisa bernyanyi saat menekan tombol yang ada di buku itu.
"Kakak tidak bekerja?"
Tiba-tiba suara Leka membuat Kenzo menoleh. "Hah? Oh, aku bekerja sesuka hati. Juga tidak tiap hari."
"Oh." Leka duduk di sofa yang berbeda dari Kenzo dan Runi.
Kenzo ingin sekali bicara dengan Leka tapi ia sungguh takut salah bicara. Ia mencobanya. "Bi-bisa potongkan aku buah mangga?"
"Oh, bisa." Leka baru saja berdiri ....
"Dan segelas air dingin."
"Iya."
Sejurus kemudian, Leka telah kembali membawa sepiring potongan buah mangga dan segelas air dingin. Kini Kenzo bingung karena mereka baru saja makan, tapi ia sudah meminta buah potong pada Leka. Di meja makan tadi juga sama. Mereka hanya bisa berbicara basa basi saja dan membuat pembicaraan mereka menjadi canggung.
Ia menusukkan potongan mangga dengan garpu dan mengarahkan potongan itu ke dalam mulutnya, tapi kemudian berhenti. Kenzo kemudian meletakkannya kembali.
"Lho, kenapa?"
"Leka, kalau aku ada salah, bisakah kamu berterus terang kepadaku, agar aku bisa memperbaikinya?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya ... tidak ingin kau diam. Aku takut ... kau marah padaku. Aku takut ... kau pergi tanpa sebab ... dan aku belum sempat memperbaiki kesalahanku."
Ya Allah, kata-katanya yang jujur keluar dari hatinya membuatku semakin merasa bersalah dengan apa yang kuperbuat. Ini tidak sebanding. Kenapa pada orang sebaik ini aku harus berbohong? Takdir malah mengepungku untuk berbohong pada orang-orang yang menolongku. Kenzo dan keluarganya, sedang aku malah melindungi suamiku, si pembohong besar itu. Aku benar-benar malu, harus di taruh di mana wajahku ini. Sebelum mereka menyadarinya, aku harus sudah menyelesaikan masalahku dengan Bang Aska agar aku bisa segera pulang kampung dan tak perlu bertemu mereka lagi. Aku tak tega melihat wajah-wajah kecewanya. "Aku rasa Kakak terlalu berlebihan. Aku tidak pernah melihat Kakak melakukan kesalahan."
"Eh, benarkah?"
"Iya Kak."
Kenzo menatap Leka, seperti masih ingin bertanya, tapi kemudian ia urungkan. Ia berusaha puas dengan jawaban Leka yang masih di rasa mengambang.
"Papa ... Papa ...." Runi menarik baju kaos Kenzo. Pria itu menoleh dan kembali bermain bersama Runi.
"Kak ...."
"Mmh?"
"Kakak tidak istirahat?"
Pria itu baru menoleh ketika Leka tiba-tiba datang dan menggendong Runi. "Tapi aku ...."
"Kak, aku tidak enak. Aku di sini bekerja, tapi kelihatannya aku merepotkan Kakak dengan Runi."
"Eh, aku tidak merasa begitu." Kenzo mencoba menerangkan.
Bel pintu depan berbunyi. Seorang pembantu tergopoh-gopoh datang untuk membukakan pintu depan.
__ADS_1
"Ayah ...."
"Halo, sedang apa?" Arya datang dan melihat mangga potong. Ia mengambil garpu yang sudah ada potongan mangganya dan memakannya. "Mmh, enak."
Kenzo dan Leka menatap Arya yang sedang menikmati makan mangganya. Arya tak tahu kenapa ia di tatap seperti itu oleh keduanya.
"Ada apa? Apa aku salah makan?"
"Oh, gak apa-apa Yah. Ayah sudah sarapan?" Tanya Kenzo berusaha mencairkan suasana.
"Ayah sudah makan, Ayah mau bicara dengan Leka."
"Aku Pak?" Tanya Leka heran.
"Iya." Pria itu melihat Leka menggendong Runi. "Tolong berikan dulu Runi pada Jo. Kita bicara di gazebo belakang."
Leka menurut. Ia mengikuti pria itu ke taman belakang.
Rumah itu punya taman yang luas di belakang dan di tengah-tengah di pasang gazebo berbentuk bulat dari kayu tempat yang bisa di pakai untuk segala kegiatan ataupun hanya untuk tempat memandang-mandang taman yang sangat luas di sana. Di sampingnya ada kolam ikan kecil dengan berbagai macam ikan menambah sejuk pemandangan mata.
Di dalam gazebo itu ada meja berukuran sedang di kelilingi kursi. Arya mengajak Leka duduk di sana.
"Apa kamu ada masalah dengan Jo?" Arya langsung saja bertanya pada pokok persoalannya.
"Eh? Ah, tidak ada Pak." Leka tidak mengira ia akan di tanya soal Kenzo.
"Jo orangnya sangat sensitif. Bila kau berubah sedikit saja, ia akan mengetahuinya."
Leka bingung bagaimana menjawabnya. "Dia seperti ... suka padaku."
"Jo memang suka padamu."
"Eh?" Leka tidak mengira Arya mengetahuinya. Apakah hubungan ayah dan anak ini begitu dekat hingga ia juga tahu hal-hal seperti ini?
"Lalu kamu bagaimana?"
Kembali ia bingung menjawabnya. "Pak, aku hanya pekerja di sini. Tak pantas rasanya aku menerima sesuatu yang lebih dari itu."
"Kalau dia serius bagaimana?"
Leka menatap Arya dengan pandangan bingung. Kenapa pria ini seperti hendak melamarku untuk anaknya Kenzo? Padahal ia kan bisa mencarikan anaknya jodoh yang lebih baik dari aku. Lebih cantik, lebih kaya, lebih berpendidikan dan lebih segalanya dariku, tapi ini .... "Pak, aku hanya orang kampung yang tidak berpendidikan Pak."
"Pendidikan terakhirmu apa?"
"SMA."
"Lulus?"
"Lulus Pak."
"Jo tidak pernah lulus SMA."
"Hah?"
"Waktu pertama kali ia datang ke Jakarta, ia tidak bisa bahasa Indonesia, jadi aku sekolahkan dia di sekolah khusus online tapi ia begitu ingin sekolah di sekolah umum. Jadi saat ia sudah bisa berbahasa Indonesia, aku masukkan ia ke sekolah yang dia inginkan. Sialnya, dia terlibat perkelahian yang menyebabkan dia geger otak. Dokter melarangnya berpikir hal-hal yang sulit selama 10 tahun dan baru 2 tahun yang lalu ia dinyatakan sembuh dari penyakitnya."
Leka benar-benar terkejut mendengar cerita tentang Kenzo. Ia tidak menduga pria yang ia lihat setiap harinya itu mempunyai kehidupan pribadi yang tidak mulus, berbanding terbalik dengan jumlah kekayaannya yang terus mengalir menghampirinya.
______________________________________________
__ADS_1
Halo reader, terima kasih sudah membaca novel ini sampai sejauh ini. Author paling suka membaca komen kalian baik atau buruk karena itu menjadi acuan author untuk menulis sambungannya. Jangan lupa terus memberi semangat author dengan like, vote, komen, hadiah dan koin agar author tetap semangat menulis. Maaf, mungkin dalam beberapa minggu ke depan, Author sedikit slow meng-up date bab di karenakan Author baru mengalami kecelakaan yang menyebabkan salah satu jari tangan di sebelah kanan retak hingga cukup kesulitan untuk menulis tapi Author akan usahakan up date tiap hari. Ini visual Chris, ayah angkat Aska. Salam, Ingflora. 💋