
Aska kembali ke mejanya. "Ah, sudah selesai," gumamnya. Ia merapikan meja. "Sudah ya, aku duluan," serunya sambil berlalu ke arah pintu. Tiba-tiba hp-nya berbunyi. "Oh Papa." Aska mengangkatnya. "Iya, Pa."
"Kamu tidak lupa kan?"
"Eh, apa ya?"
"Kamu lupa ya? Ya Allah ...."
Aska sudah berdiri di depan lift. "Iya. Apa ya Pa?"
"Adikmu Zack berulang tahun hari ini. Kita mau mengadakan Surprise Party(pesta kejutan) untuknya karena dia tidak suka pesta. Acara keluarga, makan-makan di rumah, masa kamu tidak ingat? Papa kan sudah bilang dari minggu kemarin."
Astaga, aku lupa. Bagaimana ini? Aku belum beli kado lagi. Aduh ....
"Jangan lupa datang nanti malam, kalau tidak nanti Mamap tanya ke Papa, dipikirnya Papa lupa bilang ke kamu."
"Eh, iya Pa, iya ... iya." Aska menutup hp-nya. Aduh, berarti aku harus beli kado dulu nih, hah ...!
Di dalam lift yang kosong Aska berfikir keras, mungkin ini waktu yang tepat. Ia menelepon. "Halo."
"Iya."
"Leka, kita ke rumah orang tuaku."
Tak ada sahutan dari seberang sana.
"Ingat, kau panggil aku 'Pak'."
"Iya."
"Ganti pakaianmu dan Runi. Nanti aku jemput." Aska menutup hp-nya.
Sejam kemudian Aska datang menjemput. Ia terpana melihat Leka. "Aku tidak minta kamu berdandan secantik ini!" Sahutnya kesal.
Leka terlihat bingung. Dia memujiku atau benar memarahiku?
"Ya sudah, kita naik ke mobil saja." Mereka turun dengan lift dan menaiki mobil. Sambil mobil melaju di jalan, Aska mulai bercerita. "Papaku bule, Amerika-Indonesia, dan Mamapku orang Padang. Keduanya orang tua angkatku. Aku punya saudara kembar perempuan namanya Salwa, serta adik dari orang tua angkatku, Zack. Dia ulang tahun hari ini. Ada lagi satu anak perempuan yang dititipkan pada Papa, namanya Lydia. Hanya itu saja keluargaku."
"Pasti orang tuamu sangat baik ya?"
"Mmh?"
"Dia membesar anak orang lain."
"Oh." Sekilas Aska melirik Leka lewat cermin di atasnya, ia sedikit kesal karena dandanan istrinya terlalu cantik. Ia tidak mau satpam atau bodyguard di sana menggoda Leka. "Nanti kalau di sana, jangan gabung sama satpam dan bodyguard ya? Gabung saja di dalam dengan pembantu-pembantu di sana."
Ada kemarahan yang di tahan di dalam rahang Leka. Aska melihatnya. "Aku minta maaf, tapi posisiku rumit. Untuk sekarang aku minta kamu mengerti."
Mobil memasuki pekarangan sebuah rumah besar dengan gaya minimalis. Pintu yang dibuka oleh satpam saat mengenali mobil Aska, membuat Leka bisa melihat lebih jelas bentuk rumah itu. Mobil masuk tak jauh dari pintu pagar karena ada satu mobil lagi yang terparkir dekat pintu garasi.
"Oh, ada Om Arya," gumam Aska.
"Ommu?"
"Oh, bukan. Tante Mariko dulu pernah koma saat melahirkan Tama. Tama sempat dititipkan ke Papa sampai umur 4 tahun, tapi itu dulu sebelum Tante Mariko menikah dengan Om Arya."
"Jadi mereka siapa?"
Aska tersenyum. "Hanya teman tapi sudah seperti keluarga."
Mereka turun. Leka yang menggendong Runi terlihat gugup, apalagi Aska. Pria itu akan memainkan sandiwara terbesar dalam hidupnya.
Lewat pintu utama yang terbuka lebar, mereka masuk. Leka berusaha berjalan di belakang Aska berharap tidak menjadi pusat perhatian. Segala rasa berkecamuk di dada melihat rumah mewah sebesar itu dan wanita itu yakin, ia akan kesulitan beradaptasi.
Orang-orang yang sedang berkumpul di meja makan menoleh pada kedatangan Aska.
__ADS_1
"Oh, Aska. Ayo sini. Kok lama sekali sih," sapa Chris senang. Ia kemudian menyadari kehadiran seseorang di balik punggung anaknya. "Kamu bawa siapa Ka?"
"Oh, ini kenalkan, takut ada yang salah paham. Aku menyewa pembantu di apartemenku sekarang." Aska memperkenalkan istrinya. "Namanya Leka."
Leka tertunduk saat semua mata tertuju padanya.
"Oh, aku pikir kamu mau memperkenalkan pacarmu." Chris tersenyum, ia kemudian sedikit terkejut. "Punya anak?"
"Oh, suaminya ... meninggal." Astaga, kenapa aku tidak menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini. Hah .... Ia melirik Leka sekilas. Ada rasa bersalah yang kini mulai menggelayutinya.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un."
Arya yang duduk berhadapan dengan Chris kaget. "Bukankah dia yang jualan pecel ayam dekat rumahku itu?"
"Eh, iya Om. Aku ke sana lihat dia jualan sendirian jadi kasihan. Lalu ku tawari dia kerja jadi pembantu di rumahku agar bisa mengurus anaknya ini, eh dia menerimanya. Jadi begitulah ...." Bagus Aska, skenariomu lancar.
"Eh, ada Dedek." Aiko keluar dari ruang nonton tv. Ia masih mengingat Runi. Ia mendatanginya.
Runi yang sedari tadi hanya melihat sekelilingnya dalam gendongan Leka, terkejut melihat Aiko dan memeluk ibunya.
"Iya, anaknya lucu ya," sahut Chris. "Maaf ya, di sini banyak yang suka anak kecil."
Leka hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Mariko dan Reina pun ikut memperhatikan Runi hingga harus berdiri dari kursinya karena terhalang pandangannya dari tubuh suami mereka.
Zack keluar dari ruang nonton tv diikuti Lydia.
"Zack, Kakak bawa kado untukmu." Aska menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang yang diberi hiasan pita disampingnya pada Zack. "Kakak harap kamu suka."
"Makasih Kak." Zack menerimanya.
Aska mengusap pucuk kepala Zack. "Kamu cepat tinggi ya sekarang." Kini Zack sudah setinggi bahu Aska.
Bukankah tadi waktu aku pergi ke tempat jualannya, Bapak itu bilang bahwa wanita ini pergi dengan suaminya? Apa Bapak itu tidak salah bicara? Atau ... Aska berbohong?
Arya melihat Aska sedikit kaku dan sesekali melirik Leka. Wanita itupun demikian. Arya semakin penasaran.
"Ah, Leka kamu bisa bergabung dengan yang lain di taman belakang." Aska menunjuk arah ke dalam rumah, kemudian ia berusaha untuk tidak peduli dan bergabung dengan yang lain di meja makan.
"Iya Pak." Leka melangkah ke taman belakang.
"Katanya sekarang kamu dipromosikan jadi GM(General Manager) ya?" Arya bertanya pada Aska. "Selamat ya!" Ia menepuk-nepuk bahu pria itu.
"Iya, doain aja Om." Aska tersenyum sambil mencuri-curi pandang ke mana Leka pergi.
"Ayo makan dulu, kan kamu belum makan malam. Iya kan?"
"Iya, makasih Om." Aska segera mengambil piring.
Arya melirik sekilas ke arah taman belakang. Apa ... Aska berbohong? Melihat gerak gerik mereka berdua yang aneh, instingku mengatakan 'iya'. Ia melirik Aska yang mulai mengambil lauk di hadapannya. Kalau benar, sejak kapan mereka saling kenal? Apakah itu anaknya? Apa mereka sudah menikah? Mmh ....
"Hebat juga bisa cari pembantu yang cantik. Hati-hati lho kalau jalan berdua, nanti dikira pacaran," sindir Arya.
"Oh, iya betul itu. Papa saja sampai kaget waktu kamu bilang pembantu, sebab dia terlalu cantik untuk jadi seorang pembantu." Chris mengangguk-angguk.
Reina yang menggenggam bahu suaminya, menyentuh wajah pria itu dengan telunjuknya. "Oh, ada yang tertarik rupanya ...."
"Tidak honey, kamu yang tercantik." Chris segera menyanggahnya.
Reina tertawa. "Iya, tahu. Aku kan cuma bercanda."
Yang lain tertawa.
Sementara di taman belakang, Leka sudah mengobrol dengan pembantu di rumah itu, Ijah dan Dahlia.
__ADS_1
"Kalian cuma berdua saja mengurus rumah sebesar ini?" Tanya Leka bingung.
"Oh iya, tapi tidak semuanya kami kerjakan. Ada perusahaan yang bisa membersihkan rumah yang datang sebulan 2 kali untuk membersihkan rumah seluruhnya jadi tugas kami ya jadi tidak berat." Ijah menerangkan.
"Oh, gitu. Hebat juga ada perusahaan seperti itu." Leka takjub mendengarnya. Sementara ia berjongkok di dekat kolam menemani Runi yang kagum melihat ikan-ikan yang berenang di dalamnya.
"Oh mbak belum makan ya, aku ambilin di dapur ya mbak ya?"
"Oh iya, terima kasih."
Zack sudah naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Ia menumpukkan kado itu bersama dengan kado lainnya.
"Ayo masuk aja." Ia naik ke atas tempat tidur yang kebetulan bersandar ke dinding sehingga ia bisa langsung duduk dan menyandarkan punggungnya pada dinding.
Aiko yang masuk, ikut naik ke atas tempat tidur dan bersandar di samping Zack sedang Lydia hanya masuk dan duduk di kursi dekat meja.
"Kamu gak mau duduk di sini?" Zack mengajak Lydia duduk di sampingnya dengan menepuk-nepuk ranjang yang berada di sebelahnya.
"Oh, mungkin dia takut rambutnya kusut." Aiko tertawa.
"Kamu sudah dong, jangan meledek rambut Lydi terus. Dia biar begitu, sayang lho sama rambutnya! Ya kan Lydi? Sini, kamu jangan di sana." Zack masih mengajak Lydia duduk di sampingnya.
Lydia menurut. Ia turun dari kursinya dan duduk di samping Zack.
Anak laki-laki itu menyentuh rambut Lydia. "Rambut kamu bagus Di, Kakak suka."
"Rambutku juga panjang. Ini di kepang Mama." Aiko menyentuh kedua kepang rambutnya di bahu. "Mau lihat?" Gadis mulai membuka ikat rambutnya.
"Eh, jangan nanti Mamamu marah," cegah Zack.
"Biarin ah! Aku mulai bosan melihatnya." Aiko benar-benar melepas ikatan rambutnya. Ia ingin Zack juga menyentuh rambutnya. Gadis itu menggoyang-goyangkan kepalanya hingga kepangan rambutnya terurai. "Lihat, panjang kan?"
Zack menyentuhnya. "O iya."
Sementara itu, di meja makan, obrolan masih ramai. Tama yang duduk di samping Mariko masih sibuk bermain hp sementara makannya diabaikan.
"Tama, makan dulu." Mariko menyentuh lengan Tama.
"Iya Ma, sebentar." Mata Tama masih pada hp-nya.
Mariko segera mengambil hp Tama.
"Yah ... Ma. Belum selesai." Rajuk Tama.
"Makan," hardik Mariko lembut.
"Mmh ...." Tama menurutinya dengan enggan dan mengambil sendok.
"Eh, masih ada tamu lagi?" Chris memandang keluar rumah. Ia mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya.
"Mungkin Kenzo. Dia batal ke Perancis dan langsung pulang ke Jakarta. Tadi sih dia janji mau ke sini." ucap Arya ringan sambil melirik Aska. Arya sudah lama tahu, Aska tidak suka dengan Kenzo melihat dari cara anaknya menghindari Aska walaupun Kenzo sendiri tidak pernah bercerita pada ayahnya dan kali ini Arya bisa mengetahuinya dengan melihat gelagat Aska yang tiba-tiba kehilangan selera makannya.
"Om Chris, apa kabar?" Kenzo menyapa Chris.
"Oh, baik."
Sekilas Kenzo melihat Aska yang duduk memunggunginya.
"Ayah, Zack mana?" Tanya Kenzo pada Arya. Ia mencari di sekeliling ruangan.
_______________________________________________
Halo reader. Ini visual Lydia. Jangan lupa untuk dukung author dengan like, komen, vote dan hadiah. Juga koin. 😁 Salam, Ingflora💋
__ADS_1