Sungai Rindu

Sungai Rindu
Maaf


__ADS_3

"Untuk apa?" Leka mengernyit dahi.


"Lekaaa, aku ingin bersamamu. Seharian, pasti ini menyenangkan."


"2 minggu sekali mendapat libur dari restoran, pasti akan aku pakai untuk bersantai di rumah Bang, bersama Runi. Aku lebih suka beristirahat ketimbang berjalan-jalan."


"Apa kau tidak rindu padaku?"


"Setiap hari Abang selalu datang ke restoran."


"Kalau aku tidak datang, apa kau rindu?"


"Paling Abang absen sehari seperti senin lalu." Daya ingat Leka sangat kuat. Ia bahkan ingat Aska pernah satu hari tidak muncul dan mengingat harinya.


Aska panik, karena sebenarnya hari itulah ia dan Monique tidur di hotel bersama. "Eh, sudah. Tak perlu diingat lagi." Ia mengusap belakang kepalanya. "Apa Runi tak butuh jalan-jalan?"


"Tanya saja pada anaknya."


Runi kebetulan sedang bersandar pada kaki Leka sambil memeluk boneka Teddy Bear pemberian Reina. Ibunya sedang duduk di kursi sofa berhadapan dengan Aska.


"Itu boneka baru. Siapa yang belikan?"


"Ibumu. Ia tadi ke sini."


"Oh, Mamap sama Papa? Barusan?"


"Iya."


"Apa kamu menerima tawarannya, sebab kemarin kau menolaknya."


"Oh, sudah. Mereka sangat baik, tidak seperti yang kau ceritakan."


"Oh, kau tidak tahu saja. Papa sangat galak kalau sedang marah di kantor." Kemudian Aska berpikir sejenak. Ia pindah duduk di samping mantan istrinya. "Jadi rumah ini disewa oleh Papa kan?"


"Lalu?" Leka bergeser sedikit menjauh.


"Aku pindah ke sini bagaimana?"


"Apa? Aku belum memberi keputusan apa-apa lho Bang, aku tidak mau ...." Inilah yang paling Leka hindari. Aska akan semaunya karena itu fasilitas orang tuanya.


"Kenapa kamu sulit sekali sih padaku? Kita tinggal serumah dan selesai masalahnya."


"Aku tidak mau."


"Lekaaa."


"Aku tidak mau."


Aska bergerak ke depan dan mengecup bibir mantan istrinya itu.


Leka terkejut. "Abaang!!!" protesnya. Ia segera berdiri.


Aska ikut berdiri. "Ayolah Leka, aku ingin bersamamu. Aku sudah tak tahan ingin bersamamu," bujuknya.


Leka segera menggendong Runi yang masih bersandar pada kakinya dan meletakkannya sedikit menjauh. Ia kemudian kembali dengan menarik lengan Aska. Pria itu berpikir Leka sudah menyerah tapi ternyata wanita itu menariknya hingga keluar pintu depan.


"Kamu sudah keterlaluan, Bang! Sudah, jangan ganggu aku lagi!" Leka segera membanting pintu. Saking kerasnya ia membanting, Runi terkejut dan menangis. Leka lekas menggendong dan meredakan tangisnya dengan mengusap-usap punggung gadis kecil itu.


Terdengar suara pintu yang di ketuk Aska berkali-kali tapi tidak di gubrisnya. "Leka, tolong buka pintunya," pinta pria itu.

__ADS_1


Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamarnya, tak peduli akan teriakan Aska yang terus memanggil dirinya. Tak lama di luar senyap. Mungkin satpam di depan rumahnya telah memintanya untuk pulang.


Leka serba bingung menghadapi Aska. Ia merasa tidak punya sesuatu untuk menggiringnya kembali pada pria itu. Tidak juga cinta. Selama ini ia berusaha baik pada Aska karena pria itu biar bagaimanapun adalah ayah Runi, tapi Leka tidak melihat Aska berusaha dekat dengan Runi tapi dengan dirinya. Itulah yang membingungkan Leka ditambah pria itu tidak mau di minta menjaga jarak dulu dengannya membuat Leka semakin hari semakin kesal pada Aska. Belum lagi gosip-gosip di tempat kerjanya yang memusingkan kepala, tapi coba ia tepis karena ia sendiri tidak bisa ke mana-mana selain di lingkungan itu yang sedikit banyak membuat ia stres. Andai saja Aska bisa melupakan masa lalu mereka dan berusaha menjadi teman agar bisa bersama-sama membesarkan Runi berdua hingga masing-masing menemukan pasangannya, tapi rasanya sulit. Ia merasa sudah tidak bisa lagi kembali pada Aska.


Kenzo pun, Leka merasa bersalah kepadanya. Ia hanya bisa menyimpan kekaguman tanpa bisa melakukan apa-apa. Tentu saja, karena ia harus menjaga iddahnya. Ucapan yang terlontar ingin menunggu Kenzo, ia sesali karena itu kesalahannya yang bahkan telah membuat pria itu makin menjauhinya. Mungkin setelah 3 bulan itu, pria itu sudah menemukan cintanya yang baru. Mungkin, ia harus belajar melupakannya karena dari awal dia bukanlah siapa-siapa.


---------+++---------


Sehabis sholat Magrib, antrian kembali memanjang, kursi-kursi kembali penuh. Leka seperti biasa mencatat menu dan memastikan pesanan orang sesuai dengan permintaan.


Arya baru saja tiba. Ia membantu Leka melihat pesanan di dapur dan mengingatkan pesanan pada juru masak. Tak lama ia keluar dan tertegun. Dihadapannya, seorang wanita sedang menatap Leka dengan tanpa berkedip. Ia menyentuh bahu Leka agar ia melihat ke depan. "Leka, ada yang mencarimu."


"Mmh?" Leka menatap ke depan. "Eh, siapa namanya ... Salwa ya?" Ia pun kebingungan menanggapinya.


"Iya," sahut Arya.


"Mbak, eh ... apa Kakak eh ...." Salwa ragu-ragu. "Maafin ya, aku waktu itu."


"Oh, tidak apa-apa." Leka mulai tersenyum.


"Aku eh ... tidak tahu kalau waktu itu kamu istri Kak Aska."


"Iya, gak apa-apa."


"Maaf ya?"


Leka kembali memberi senyum. Seorang pria berkulit sedikit gelap berdiri di belakang Salwa. Pria itu memandang ke arah lain.


"Apa dia pacarmu?" tanya Leka menunjuk pria di belakang Salwa.


Salwa menoleh. "Oh, iya." Ia menarik pacarnya ke depan. "Kenalkan ini pacarku Rojak."


"Rojak."


"Leka."


"Pak."


Leka melihat Rojak menyapa Arya.


"Apa kabarmu?" tanya Arya pada Rojak.


"Baik Pak."


Leka terlihat heran. "Bapak kenal Rojak?"


"Oh, dia pernah kerja padaku." terang Arya.


"Restoran?"


"Bukan. Bangunan."


"Oh." Leka melirik Salwa. "Apa kamu mau makan di sini?" tanyanya ramah.


"Ah, gak kuat antriannya Kak," tolak Salwa sambil tersenyum.


"Kamu duduk di depan toko Mamapmu, nanti biar Leka yang antar," janji Arya.


"Oh, boleh. Sate ayam 2 sama teh botolnya ya Kak!" Salwa terdengar riang.

__ADS_1


"Duh, makanan aja nomor satu," ledek Rojak.


"Ih, enak tau, sate ayamnya. Cobain deh!" Salwa menggandeng Rojak ke luar restoran.


"Nanti buat 3 saja biar kamu bisa kenalan dengan mereka," saran Arya.


"Tapi Pak ...."


"Temani mereka. Dia bersusah payah datang ke sini pasti mau berkenalan denganmu. Bawa Runi juga. Soal di sini, biar aku yang urus."


"Eh, terima kasih Pak."


Leka melakukan saran Arya. Dia membawakan pesanan Salwa, Rojak dan makan malamnya. Ia juga membawa Runi dan Baby Sitternya untuk berkenalan. Tak lama, Reina juga ikut bergabung dan bertambah ramailah suasana pertemuan mereka. Arya melihat dari jauh dengan senang. Setidaknya Leka tidak sendirian. Ia kini punya keluarga baru yang mengelilinginya.


--------+++--------


Arya naik ke lantai 2 bangunan baru itu lewat sebuah tangga darurat yang di buat dari kayu sisa. Beberapa tukang menunggunya di lantai 3, tapi tiba-tiba seekor kucing melompat dari lantai 2 ke arahnya. Arya kaget hingga berusaha menangkapnya. Namun karena kondisi tangga yang dibuat asal, membuat tangga itu tidak kokoh melawan guncangan dan akhirnya ia terjatuh dan tertimpa tangga.


"Aaghh!"


Para pekerja bangunan yang berada di lantai satu segera mengerumuninya. Mereka berusaha menolong bos mereka.


---------+++----------


Notif hp berbunyi. Terdengar ******* seseorang karena terganggu tidurnya mendengar bunyi notif tersebut. Ia baru saja tidur beberapa menit yang lalu dan sudah mematikan lampu. Dengan malasnya ia menggapai-gapai meja nakas untuk mencari hp-nya yang ia letakkan di sana. Beruntung, lampu baca di atas meja nakas belum ia matikan sehingga ia masih bisa mengangkat kepalanya melihat lebih jelas letak hp-nya. Pria itu akhirnya meraihnya. Dibukanya pesan gambar yang diterimanya. "Ayah? Ayah kenapa?" Siluet wajah Jepangnya tergambar jelas dari sinar lampu meja baca di atas meja nakas yang menyinarinya dari samping. Pria itu begitu terkejut dan memperhatikan dengan seksama foto yang diterimanya dari Jakarta. Seorang pria sedang berdiri dengan kaki menekuk satu dan tongkat di kedua ketiaknya. Ia mengenali pria itu sebagai Ayahnya. Segera ia menelepon. "Halo."


"Oniichan video call aja," seru seorang gadis di seberang sana.


Pria itu segera merubahnya. Ia kini bisa melihat adik perempuannya melambai-lambai di seberang sana.


"Oniichan, apa kabar," ucap Aiko sambil tersenyum.


"Kakak, aku Kak," Tama ikut masuk ke dalam gambar kamera.


"Ayah bagaimana?" tanya Kenzo khawatir.


Aiko segera mengarahkan kamera ke arah meja pendaftaran. Sepertinya mereka berada di sebuah rumah sakit dan Arya bersama Mariko sedang berdiri di depan meja pendaftaran itu membelakanginya.


"Mereka sedang apa?" tanya Kenzo lagi.


"Ayah tidak betah di rumah sakit, jadi minta pulang."


"Eh, kok pulang?"


"Ayah jatuh di proyek tapi tidak mau istirahat. Katanya kerjaannya banyak di proyek yang baru ini, gak bisa di tinggal."


"Eh, kok gitu. Bilang Ayah, Ayah harus istirahat." Kenzo menasehati.


"Gak bisa, sudah ada jadwal katanya." Kini Tama yang menjawab. Wajah Tama terlihat di kamera.


"Berapa sih harga proyek itu? Sini biar Kakak yang ganti rugi proyeknya."


"Kakak bilang sendiri ke Ayah, aku gak berani."


"Ya sudah, tolong tahan Ayah agar Ayah gak kerja dulu. Kakak akan segera pulang." Kenzo segera mematikan hp-nya. Namun kemudian ia termenung. Ia kemudian menghidupkan lampu kamarnya. Pria itu sedang berada di hotel mewah sendirian. Ia menatap gorden-gorden di kamarnya yang telah tertutup.


Satu setengah bulan sudah ia dalam pelarian menepis bayang-bayang Leka, tapi bayangan wanita itu semakin hari semakin jelas dan nyata, ke mana pun ia menghadap. Lukisan wajahnya saat ia tersenyum, tertawa, menangis bahkan menunduk sedih terukir indah dalam khayalan. Tak bisa bayangan seorang hamba allah yang begitu sesempurna itu begitu saja pupus dari hatinya. Begitu tersiksa.


Perjalanan ini ia berteman sepi. Ke mana pun ia melangkah, ke tempat terindah mana pun di dunia seperti air terjun Niagara, menara Eiffel, Grand Canyon, menara Pisa yang miring dan yang lainnya ia selalu berpulang kecewa. Tidak ada yang seindah senyum Leka, selucu derai tawanya, sesedih tangisannya. Hanya Leka yang menarik baginya. Tanpa itu dunianya benar-benar sepi tak berwarna.

__ADS_1


Harus bagaimana lagi ia berusaha? Sudah begitu banyak pulau terlewati tapi magnet magis dari seorang Leka benar-benar telah mengikat erat dirinya dan membuatnya buta akan keindahan dunia. Ia terkurung rindu yang semakin hari semakin menyiksa. Terlalu banyak hingga tenggelam di dalamnya. Leka, haruskah aku menggapaimu agar rindu ini punya tempat untuk berlabuh?


__ADS_2