Sungai Rindu

Sungai Rindu
Cerai?


__ADS_3

Kenzo hanya bisa mengintip dari kursi depan. Air matanya mengalir. Arya yang mengambil alih menyetir mobil, hanya bisa melihat anaknya itu tanpa bisa berkata apa-apa. Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka baru meninggalkannya beberapa menit, dan ini terjadi. Sesuatu yang di luar prediksinya dan ini mungkin akan merubah segalanya tapi Leka, jangan sampai ia jadi tumbal keegoisan orang-orang terdekatnya.


"Tadi Aska bilang apa? 'Istriku'?" Reina terdengar syok.


"Iya, Tante. 'Istriku'. Aku pun syok mendengarnya," ucap Nena menyentuh bahu Reina.


Chris berlari keluar bersama Runi dan Ani, Baby Sitter Runi. "Dad, Nena, kalian di rumah saja. Biar aku, Reina dan anak ini yang menyusul ke rumah sakit."


Reina duduk di depan bersama Chris sementara Ani dan Runi duduk di belakang. Reina terlihat bingung. Sesekali ia melihat ke belakang. "Jadi selama ini kita sudah punya cucu?"


"Maaf, Honey." Chris akhirnya mengaku.


"Dan kau juga tahu?"


"A-aku berharap Aska mengaku pada kita, tapi ia tidak melakukannya."


"Kenapa dia menyembunyikan pernikahannya?"


"Aku tidak tahu Honey, aku sungguh tidak tahu."


Reina menengok ke belakang. "Kalau tidak salah namanya Runi ya?"


"Iya Bu." jawab Ani.


"Oh, my God.(Ya allah) Kenapa aku punya cucu, aku tidak tahu?"


Sementara itu, Runi terlihat gelisah karena tidak melihat Ibunya dan bersama orang-orang yang ia tidak kenal.


Mobil Arya akhirnya sampai ke rumah sakit. Petugas pria yang membawa tempat tidur pasien segera membantu mengangkat Leka dan membaringkannya di tempat tidur. Aska mengikuti ke mana tempat tidur itu di dorong.


"Jo, temani Aska. Ayah akan mengisi data-datanya."


"Tidak, Ayah saja. Aku yang akan mengisi data-datanya." Kenzo tahu, Aska pasti tidak suka ditemani olehnya.


"Ok."


Leka menjalani serangkaian pemeriksaan dan rontgen oleh dokter, kemudian ia di pindah ke ruang perawatan. Dokter kemudian datang dengan memeriksa hasil rontgennya.


"Bagaimana istri saya Dok?" masih ada sisa-sisa tangisan dalam suara Aska.


"Gusinya patah dua karena rahangnya kena hantaman benda keras. Untuk sementara ia tidak boleh bicara karena nyeri di bagian rahangnya itu, dan makannya mungkin masih di infus. Tubuhnya mungkin ada memar tapi baru besok ketahuannya."


"Terima kasih Dok." Aska bersyukur, tidak ada yang fatal terjadi pada istrinya.


"Tapi besok tetap akan kami pantau, melihat kalau-kalau saja ada perubahan mendadak yang kita tidak ketahui."


"Baik Dok, terima kasih," sahut Arya mewakili Aska.


Dokter itupun keluar bersama suster. Arya menatap Leka yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tangannya dipasang infus, dan hidungnya dipasangkan selang oksigen. Wanita itu sepertinya berada dalam keadaan sadar hanya tubuhnya masih lemah dan tidak bisa bicara. Pipi sebelah kirinya sedikit membiru. Mungkin gusi di sebelah itulah yang patah.


Aska menarik kursi dan duduk di samping istrinya. Ia menatap istrinya itu sambil menggenggam tangannya. "Leka," ucapnya setengah berbisik. "Kau salah paham padaku. Itu tidak seperti yang kau lihat. Aku ...."


Leka menarik tangannya dari genggaman suaminya.


Aska terkejut. "Leka ...." Ia mencoba meraih kembali tangan istrinya untuk meyakinkannya, tapi tangan istrinya tetap menolaknya. Dilihatnya kembali wajah istrinya yang terlihat sedih dengan bulir-bulir air mata yang mulai jatuh di pipi.

__ADS_1


"Leka ...." Aska kembali menitikkan air mata. Ia mencoba meraih tangan itu untuk ketiga kalinya tapi kali ini Arya menahan dengan tangannya.


"Walaupun dia istrimu, kau tak boleh memaksanya."


"Om ...." Air mata pria itu makin menjadi.


"Memangnya apa yang terjadi?"


"A-aku bingung saat itu bagaimana bicara dengan orang tuaku dan a-aku melihat Nena. Entah setan apa yang menggodaku, aku kembali teringat masa lalu. A-aku tadi hanya mempertengkarkan masa lalu dan tiba-tiba istriku muncul begitu saja di belakangku dan ia langsung salah paham." Terbata-bata Aska menerangkannya pada Arya tentang apa yang terjadi.


Leka memejamkan mata karena air matanya makin deras mengalir di sudut matanya.


"Oh, begitu, tapi bagaimana kalau Leka sudah tidak mempercayaimu lagi?"


"Om, jangan bilang begitu ...." Berderai air mata pria itu mendengar pernyataan Arya.


"Kau sendiri yang bilang, kalau tidak bisa membahagiakannya kau bersedia menceraikannya. Iya, kan?" Pelan-pelan Arya bicara dengan Aska agar penolakannya tidak besar.


"Tapi aku mencintainya, Om." Semakin deras air mata Aska hingga mengaburkan pandangan.


"Kamu mau dianggap pria yang bisa dipegang janjinya atau tidak? Kau sendiri yang bilang, kau harus bertanggung jawab! Kalau hanya masalah begini saja istrimu jadi seperti ini apa menurutmu dia bahagia? Apa kalau kau tetap mempertahankan pernikahan ini, tidak akan ada kejadian seperti ini lagi, hah? Sekarang ini nyawa istrimu selamat, tapi lain kali? Ingat Aska, saat aku membawa istrimu ke rumahku waktu itu, itu karena ia menabrakkan diri ke mobilku lho!"


Aska menundukkan kepala.


"Kau adalah pria Aska, yang bisa di pegang janjinya."


"Tapi, Om ...."


"Ceraikan dia, agar dia bisa tenang."


Aska menatap Arya, meminta dipahami, tapi Arya malah melipat tangannya dan menunggu.


Leka kembali memejamkan mata dengan air mata yang tak kalah deras. Walaupun tak tahan dengan sikap suaminya, diceraikan tetaplah juga menyakitkan.


"Hei, Aska! Apa yang kau lakukan? Kau menceraikan istrimu? Apa sudah tidak bisa di bicarakan baik-baik lagi?" Chris yang datang terlambat mendengar pernyataan Aska tadi.


Aska terkejut. "Apa aku bisa menarik kata-kataku tadi?" Ia panik dan mulai sadar.


"Itu sah! Kau telah menceraikannya," ucap Arya ringan.


"Papa, maaf ...." Aska kembali menangis saat didatangi Chris dan Reina.


Chris memeluk dan menenangkannya sedang Arya menyeringai senang. Kenzo yang datang belakangan tidak tahu apa yang terjadi.


"Karena mereka telah bercerai, biar Leka aku yang urus," terang Arya.


"Hah? Siapa yang bercerai?" Kenzo bingung.


Arya menunjuk Aska dan Leka. Kenzo membulatkan matanya. "Kenapa?"


"E, Arya. Soal Leka, nanti aku ingin bicara denganmu. Aku bicara dengan anakku dulu di luar," sahut Chris.


"Oh, silahkan Da ...." kata Arya senang.


Chris membawa Aska dan Reina keluar. Setelah pintu di tutup, Arya segera menarik Kenzo ke salah satu sudut ruangan dan berbisik. "Sekarang kau bisa mengurus Leka."

__ADS_1


"Hah? Tapi, bukannya dia dalam masa iddah ya? Aku berarti tidak boleh mendekatinya kan Yah?"


"Itu bisa diatur. Kembali ke rencana semula, dia tinggal di rumahku saja jadi kau bisa mengunjunginya. Kau hanya tidak boleh melamarnya atau bicara perkara cinta. Jadi temannya saja untuk sementara waktu."


Kenzo terdiam. "Tapi kenapa mereka bisa bercerai Yah? Bukankah mereka ...."


"Sudah ... kau terlalu cerewet. Mereka sudah bercerai, mau apalagi? Sekarang Leka, apa kita perlu panggil orang tuanya ya? Ah, sepertinya tidak perlu. Takut itu akan membuat kedua orang tuanya khawatir."


"Leka sudah tidak punya orang tua Yah."


"Apa?" Arya terkejut. "Apalagi ia sudah tidak punya orang tua. Ia bergantung pada kita sekarang. Beri ia pengobatan yang terbaik."


"Kami tadi juga mendengar tentang kondisi Leka dari dokternya saat aku cegat di depan kamar. Aku lega, kondisinya tidak seburuk yang dibayangkan." Dengan menitikkan air mata Kenzo tersenyum bahagia.


"Sudah, jangan cengeng. Kau mau Leka melihatmu seperti ini?"


Kenzo segera menyeka air matanya. Arya memeluknya. Tak ayal, Kenzo kembali menangis. "Aku tadi membayangkan hal yang buruk terjadi pada Leka dan rasanya aku tak sanggup untuk hidup."


"Aduuuh, hei ... sudah, sudah ...." Arya menepuk-nepuk lengan anaknya.


Di kantin, Reina menoleh pada Ani yang sedang menggendong Runi di meja berbeda. Ia kemudian melirik kembali pada Aska yang duduk di sampingnya.


"Mamap benar-benar kecewa padamu. Kenapa kau sembunyikan istrimu? Apa salahnya? Apa dia wanita tunasusila, atau kalian hamil diluar nikah?"


"Ti-tidak bukan itu Map."


"Lantas apa?"


Akhirnya Aska menceritakan bagaimana mereka menikah.


Reina terdiam sejenak. "Mamap tidak melihat ada yang salah dengan itu, malah Mamap merasa kau telah menzholiminya."


"Map, aku tidak seperti itu," rengek Aska.


"Menyebut istrimu pembantu, apa tidak menyakiti hatinya? Ingat Aska, kamu dan dia sama. Sama-sama manusia yang bisa tersakiti hatinya oleh lidah yang salah bicara."


"Map, aku tidak bermaksud seperti itu." Aska kembali merengek ingin dimengerti.


"Aska, kau menelantarkannya selama 2 tahun, apa itu bukan sikap pria yang bertanggung jawab?" Chris mulai bicara.


"Saat itu aku panik Pa. Aku memikirkan nama baik Papa! Waktu itu aku menikah tanpa cinta."


"Tanpa cinta ... tapi bagaimana caranya kamu bisa menghasilkan Runi?" Chris tak habis pikir dengan ucapan Aska yang mulai mengada-ada.


Aska terdiam. Air matanya menetes. "Aku tahu aku tidak bisa apa-apa. Aku berusaha jadi anak Papa tapi selalu gagal. Aku tidak bisa jadi anak kesayangan Papa seperti Tama."


"Tama? Kenapa dengannya? Aku selalu menyayangi semua anak-anakku sama. Zack, Lydia, Tama, Salwa dan juga kamu. Semua tanpa terkecuali." Chris cukup tercengang dengan pernyataan Aska itu.


"Tapi kenapa Tama pakai nama belakangmu sedangkan aku dan Salwa tidak? Padahal, Tama juga bukan anak kandungmu."


Chris tertawa. "Oh, itu. Itu karena akulah yang memberinya nama, bukan Mariko karena ibunya saat itu koma. Pertama Airlangga Jhonson, diambil dari namaku Christian Airlangga Jhonson, tapi Arya sudah menggantinya menjadi Pertama Wiraguna, memakai nama belakangnya." Chris mencondongkan tubuhnya dan mengusap pucuk kepala Aska. "Papa menyayangimu seperti Papa menyayangi anak-anak Papa yang lain, kenapa kamu sampai berpikiran begitu terhadap Papa?"


"Maafkan aku Pa." Aska kembali menangis.


Chris berpindah tempat duduk di samping Aska agar bisa memeluknya dan Aska sepertinya sangat membutuhkan itu. Lama Aska di bujuk untuk mengerti akan kasih sayang kedua orang tua angkatnya. Reina dan Chris menepuk-nepuk punggung Aska hingga akhirnya ia bisa percaya diri lagi.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan Leka Pa? Aku ingin kembali padanya," ucap Aska dengan nada menyesal.


"Kan ada masa iddah. Kau bisa membujuknya untuk rujuk kembali."


__ADS_2