
"Terima kasih Pak."
"Ya, hati-hati nak." Pria itu menaiki mobilnya dengan berpakaian jas hujan sedang Aska tidak punya persiapan itu di dalam mobil.
Kepalang tanggung sudah terlalu malam dan rumah masih jauh hingga Aska mengendarai mobil sedikit ngebut. Ia kemudian mendengar hp-nya berbunyi dan melihat siapa yang menelepon. Leka? Ia mengangkatnya. "Halo."
"Bang, kenapa lama sekali? Dari tadi Leka telepon."
"Iya, maaf. Abang baru pulang lembur dari luar kota tapi tadi mobilnya terperosok di kubangan air, jadi lama. Ini saja ada yang bisa menolong, baru Abang bisa jalan pulang. Abang langsung pulang kok."
"Hati-hati Bang."
"Iya, iya." Aska mematikan telepon dan mulai fokus menyetir.
Leka meletakkan hp-nya di sampingnya. Ia sedang duduk di atas tempat tidur dan menghela napas. Hari ini hari yang membingungkan baginya. Ia hanya ingin dicintai suaminya. Semudah itu sebenarnya keinginannya tapi ternyata tak mudah meraihnya. Aska tipe pria yang tidak jelas keinginannya, sehingga Leka juga bingung mengikutinya. Sementara statusnya tidak jelas bersama Aska, ada pria lain yang menawarkan hatinya. Ia tidak bisa bilang pada Kenzo statusnya karena permintaan Aska, dan ia masih bimbang. Bagaimana kalau Kenzo tahu ia sudah menikah? Akankah ia terus akan mengejar dirinya? Terselip rasa bersalah karena sudah membohongi Kenzo, tapi mau bagaimana? Itu sudah keinginan suaminya yang menjadi kepala keluarganya.
Di tempat lain di depan kamar Lydia, Zack berdiri. Ia pelan-pelan membuka pintu kamar gadis itu. Dilihatnya Lydia sudah tertidur. Lydia tidur dengan memeluk boneka teddy bear pemberian Zack setahun yang lalu yang di berikannya saat Lydia berulang tahun yang ke sepuluh.
Zack tersenyum. Umur mereka memang hanya terpaut satu tahun, tapi Zack sangat menyayanginya seperti adik sendiri. Dari kecil mereka selalu ke mana-mana bersama berdua, melakukan kenakalan dan bermain bersama, juga saat membantu orang tua Zack. Reina dan Chris tidak pernah membeda-bedakan mereka, layaknya orang tua kandung, mereka di perlakukan sama oleh orang tua Zack. Itulah makanya Lydia betah tinggal di keluarga ini, juga mempunyai kakak yang menyayanginya.
Zack merapikan selimut Lydia dan kemudian pergi kembali ke kamarnya.
Di kamarnya Chris sedang termenung. Ia sedang duduk di atas tempat tidur menatap ke layar laptop yang sedang di pangkunya, tapi pikirannya sedang tidak di situ.
"Sedang apa Da, kok belum tidur." Reina terbangun dan melihat suaminya masih belum tidur.
"Oh honey, aku sedang memikirkan anak-anak kita."
"Mmh? Kenapa?"
"Mmh ... Aku sedang memikirkan Aska. Apa kita jodoh saja dia dengan seseorang?"
"Mmh?" Reina segera terduduk. "Kenapa kamu tiba-tiba memikirkan soal perjodohan? Mana ada anak jaman sekarang yang patuh soal perjodohan Da ...."
"Gayanya masih seperti dulu, kurang bertanggung jawab."
"Ya tapi tidak ada hubungannya Da ... Kalau soal jodoh, biarkan saja dia yang menentukannya sendiri. Itu lebih membuat ia bertanggung jawab dibanding ia menikah dengan pilihan kita. Ingat lho Da, menikahkan anak kita dengan orang lain karena permintaan kita juga sebuah tanggung jawab yang harus kita pikul karena karena mereka menikah mungkin terpaksa dan efek buruknya bisa merembet ke mana-mana. Aku sudah lihat itu teman sesama sosialita yang hidup anaknya hancur-hancuran demi menjaga sebuah gengsi."
"Iya honey, tapi ini kasusnya beda. Aku ingin menikahkan Aska supaya kepribadiannya berkembang menjadi lebih baik, lebih bertanggung jawab."
"Tapi itu bukan cara yang baik, kita ikut bertanggung jawab karena menikahkan dia dengan anak orang lain. Kalau sikapnya masih sama bagaimana, hubungan kita dengan keluarga yang perempuan bisa buruk."
Chris diam. Reina tidak menyetujui ini, padahal cuma pancingan. Bagaimana cara mendapatkan izinnya? "Eh, bagaimana kalau aku mengenalkannya saja pada beberapa gadis. Mungkin ia mau berkencan dengan mereka?"
Reina menatap suaminya. "Terserah saja, asal ia tidak merasa terpaksa." Ia kembali merebahkan diri.
Ok, Chris menjentikkan jarinya. Ia melipat laptopnya dan meletakkannya di atas meja nakas, kemudian berbaring di samping istrinya. "Aku juga memikirkan Salwa."
Reina memutar kepalanya menghadap suaminya. "Ada apa lagi sayang ... Kamu kenapa tiba-tiba terlalu khawatir dengan kehidupan anak-anak?"
"Tidak, hanya aku kurang suka dengan pacarnya yang sekarang."
"Evan? Kenapa?"
"Tidak, hanya dia ... Ah, kenapa Salwa selalu punya pacar orang bule sih?"
"Lah, Mamapnya suaminya orang bule." Reina menyentuh rahang berbrewok milik suaminya.
"Bukan itu maksudku. Budaya orang Indonesia lebih bagus dari pada orang bule, itu menurutku."
"Kamu sendiri orang bule."
"Tapi Ibuku orang Indonesia, aku lebih suka jadi orang Indonesia di banding jadi orang bule."
"Mmh, pendapatku beda." Reina mengelus rambut halus yang tumbuh di sekitar rahang suaminya.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku mencintaimu karena dirimu." Reina menatap Chris, manja.
"Mmh, kau mengganggu konsentrasiku bicara." Chris menyentuh hidung bangir istrinya.
"Yang pasti dia mengidolakanmu."
"Maksudnya?"
"Iya, dia mencari orang bule yang mirip dirimu. Yang baik dan sayang sama istrinya. Seperti aku. Dia ingin seperti aku."
"That's ridiculous.(Itu konyol)" Chris hampir tak percaya.
"Tapi Salwa yakin bisa menemukannya. Aku jadi merasa beruntung telah menemukannya lebih dulu," ucap Reina manja. Ia mengusap belakang kepala suaminya.
"Hei, don't do that!(Hei, jangan begitu!)"
"Why?(Kenapa?)"
"I can't stand it.(Aku tidak tahan.)" Chris meraih pinggang istrinya.
"Mmh ...." Reina menatap Chris dengan lembut.
"Your eyes, your lips ....(Matamu, bibirmu ....)"
"Mmh."
"Ok, let's start it.(Ok, ayo kita mulai.)"
"Ok."
-----------+++----------
Leka membuka pintu. "Abang basah kehujanan?" Ia melihat suaminya sudah basah kuyup masuk ke dalam rumah.
Aska tidak menjawab. Ia segera masuk dan naik ke lantai dua.
"Abang mau aku masakkan air panas untuk mandi?" Leka mengikuti suaminya.
"Eh, iya maaf." Sedikit kecewa tapi di tepisnya. Leka segera memasakkan air panas untuk membuat minuman hangat untuk suaminya. Ia kemudian membawanya ke kamar.
Tiba di kamar, suaminya belum keluar dari kamar mandi. Leka meletakkan minuman itu di atas meja nakas. Tak lama suaminya keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk di pinggang, seperti biasa. Tubuh kekarnya terlihat segar sehabis mandi, tapi wajahnya sedikit pucat.
"Abang mau makan?"
"Aku tidak berselera."
"Ini Leka buatkan minuman hangat."
"Minuman apa?" Aska menggosok-gosokan kepalanya yang basah dengan handuk kecil.
"Minuman jahe."
"Yang seperti waktu itu?"
"Mmh? Oh ... iya."
"Oh, ya sudah."
Leka sedikit malu karena suaminya pasti mengganti pakaiannya di kamar. Ia segera masuk ke dalam selimut dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga kepala. Ia berusaha cepat tidur.
Tak lama ia merasakan kasurnya bergoyang dan Aska sepertinya mulai naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Lalu kemudian kembali tenang. Leka hampir saja tertidur jika bukan karena sepasang tangan yang menjamah tubuhnya dari belakang secara tiba-tiba dan tidak itu saja, tangan itu juga berusaha menarik tubuh Leka hingga menempel ke dalam sebuah dekapan hangat pria tubuh kekar yang ia kenal. Leka terkejut.
Ia membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Bang, kamu ...."
"Leka, aku kedinginan."
"Mmh?" Leka menoleh ke samping.
__ADS_1
"Aku benar-benar kedinginan."
Di sentuhnya dahi Aska yang hangat. "Kau sudah minum teh jahenya?"
"Belum tapi aku ingin seperti ini saja. Memelukmu. Lebih hangat."
Wanita itu menyentuh leher suaminya. "Badanmu panas Bang."
"Tapi aku kedinginan Leka ...."
"Kau harus minum tehnya dulu, nanti dinginnya hilang."
"Aku tidak mau ...." Aska merengek. Ia mulai merasa tubuhnya tidak sehat dan ingin bergantung pada istrinya.
"Eh, minum sedikit saja, biar besok cepat sembuh."
"Tapi nanti aku tidur boleh memelukmu kan?" Rengek pria itu lagi.
"Iya, iya. Minum dulu." Leka duduk diikuti suaminya dan ia membantu suaminya minum. "Enakkan? Ayo habiskan," bujuknya lembut.
"Mmh, ngak ah!" Rengeknya lagi, tapi kemudian Leka berhasil membujuknya. "Sudah ...."
Wanita itu meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja nakas. Aska sudah berbaring dan ia menarik lengan istrinya agar mendekat. "Ayo ...." Ia masih merengut.
Pelan-pelan Leka kembali ke dalam pelukan suaminya. Aska menarik selimutnya dan merapatkan pelukannya pada istrinya. Selain perutnya mulai hangat, tubuhnya juga dihangatkan pelukan istrinya sehingga sebentar saja Aska sudah tertidur. Mungkin juga lelah karena seharian kerja dan lembur di tambah kerja keras menjalankan mobil dalam derasnya hujan hingga perjalanan yang jauh membuat ia kelelahan dan cepat tertidur.
Leka merasakan damainya hidup saat di peluk Aska seperti itu. Seakan semua masalah yang terjadi sebelumnya telah terhapus dengan pelukan hangat suaminya. Ia berharap suaminya bisa sehangat pelukannya. Selalu.
Pagi menjelang. Leka masak seperti biasa, tapi suaminya tak kunjung turun. Ia kemudian naik ke lantai atas dan menengoknya ke kamar. Suaminya masih tidur di atas tempat tidurnya.
"Ya Allah, belum sholat Bang?"
"Mmh, apa?" Aska terbangun. "Aku masih gak enak badan ...." katanya malas sambil menarik lagi selimutnya.
"Tapi Abang harus sholat."
Pria itu menatap Leka. "Tapi aku gak ke kantor ya?"
"Ya, terserah."
"Aku masih gak enak badan."
"Ya sudah."
Aska turun dari tempat tidurnya. "Aku mau makan di kamar."
"Iya, iya."
Aska segera ke kamar mandi sedang Leka turun ke lantai satu. Tak lama wanita itu kembali dengan membawa baki berisi makanan untuk suaminya. Karena Aska masih sholat, ia meletakkan makanannya di atas meja nakas, lalu kembali turun.
Ia memeriksa Runi yang sudah menghabiskan susunya dan menyerahkan botolnya pada Leka. " Duh, pintar anak Bunda." Ia menggendongnya.
"Lekaaaaa."
"Eh," Leka menoleh ke arah kamarnya dan bergegas ke sana. "Ada apa Bang?"
"Suapin."
"Ya Allah Bang, aku kira ada apa."
"Aku kan suamimu, aku sedang sakit. Wajarkan kalau minta disuapin."
Leka mendudukan Runi di atas tempat tidur, tapi saat Leka duduk, gadis kecil itu pindah duduk di pangkuan Leka. Runi masih asing dengan Aska.
Pria itu memanggil Runi. "Sini duduk dekat Om." Ia menepuk-nepuk kasur di sampingnya tapi Runi bergeming. Aska menyodorkan tangannya hendak meraih Runi tapi gadis kecil itu malah ketakutan memeluk ibunya.
_______________________________________________
__ADS_1
Rekomendasi author Kumi Kimut dengan novelnya Cinta Satu Malam Bos Mafia. Judulnya aja bikin greget, yuk!