
Arya menekan bel rumah Leka sambil melirik pada Kenzo. Tak lama pintu terbuka.
"Pak Arya, Pak Kenzo?" ucap Ani terkejut. Yang lebih mengejutkan lagi adalah melihat tangan Kenzo yang diberi gips karena Ani baru pertama kali melihatnya.
"Leka ada?" Langsung saja Kenzo menanyakannya.
"Oh, ada Pak. Silahkan masuk." Ani menggiring mereka ke ruang tamu.
Kenzo melirik Arya seolah mengintimidasi. Baru kali itu Arya merasa 'disingkirkan'.
"Ya sudah, Ayah juga ngantuk." Arya pura-pura menguap. "Pulang sendiri ya? Kalau tidak bisa, bisa minta tolong satpam depan." Ia kemudian pergi dan meninggalkan Kenzo sendirian.
Leka terkejut mendengar kabar dari Ani, tentang kedatangan Kenzo. Ia segera keluar dengan menggendong Runi.
"Kak, ada apa malam-malam ke sini?"
Kenzo hanya menatap Leka dari kursi sofa ia duduk hingga Leka duduk juga di kursi di sampingnya. Kenzo masih diam dan menunduk.
"Kakak kenapa?" tanya Leka lagi.
"Maaf ya, aku bikin kamu marah. Aku gak maksud bikin kamu nangis seperti tadi pagi," ucap Kenzo menyesal.
Leka tak tahu harus bicara apa sebab sebenarnya ialah yang telah lancang membantu Kenzo tanpa memikirkan dirinya yang sudah dilamar Aska. Ia harusnya fokus pada persiapan pernikahannya, bukan sibuk membantu pria lain bahkan mengkhawatirkannya. "Ngak Kak, Kakak ngak salah. Aku yang salah, mengurusi orang lain sementara seharusnya aku fokus pada persiapan pernikahanku."
Entah kenapa, hati Kenzo seperti tersayat sembilu. Bukankah ini yang ia inginkannya, Leka fokus dengan persiapan pernikahannya tanpa harus menghiraukan dirinya?
"Papa!" Runi mengangkat tangannya minta di gendong Kenzo.
"Papa sedang sakit. Tuh lihat tangannya sedang diperban." Leka menunjuk tangan Kenzo yang diberi gips pada Runi. Gadis kecil itu terlihat bingung.
"Sini, biarkan ia dipangku saja. Tidak apa-apa." Kenzo menginginkannya.
Leka meletakkan Runi di pangkuan Kenzo. Gadis kecil itu terlihat bingung dengan tangan baru pria itu. Ia menengadah. "Papa ... sakit?" tanyanya ingin tahu.
Runi memeluk tubuh pria itu dan menyandarkan kepalanya seolah mengerti. Kenzo tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala Runi.
------------+++----------
Sudah lewat tengah malam tapi mata Kenzo tak mampu terpejam. Entah kenapa hatinya gelisah. Ia kemudian terduduk dan turun dari tempat tidur. Arya terbangun tanpa sengaja dan memperhatikan anaknya membuka laci nakas yang berada di sampingnya. Sebuah kotak kecil diambil Kenzo dari dalam laci itu. Ia hanya menatapnya sebentar kemudian menaruhnya kembali pada laci nakas dan menutupnya. Pria Jepang itu kemudian pergi tidur.
Arya penasaran dengan isi kotak hitam yang berukuran kecil itu. Ia sebenarnya bisa mengira-ngira tapi ia ingin memastikannya. Apakah itu ....
--------------+++-----------
Pagi itu, di rumah Chris, ia kedatangan tamu. Seorang pria tua berkursi roda dan ia mengenalnya dengan baik.
"Handanu, apa kabar? Senang rasanya di datangi seorang teman. Silahkan, silahkan! Ayo masuk saja," ucap Chris mengarahkannya ke ruang tamu.
Kursi roda pria itu di dorong oleh seorang asistennya, tapi wajah pria itu terlihat tidak bahagia.
"Ada kabar apa nih, pagi-pagi mau ke rumahku?" Sebenarnya Chris merasakan ada yang berbeda dengan kedatangannya yang tiba-tiba tapi ia berusaha untuk menjadi pendengar yang baik.
"Maaf Chris, tapi apa kau tahu tentang permusuhan anakku dengan anakmu?"
"Apa? Tidak. Aku tidak tahu." Walaupun Chris sebenarnya tahu.
"Anakku anak perempuan satu-satunya, sepertinya ia bertikai dengan menantumu hingga ia melakukan konspirasi penculikan itu. Aku benar-benar minta maaf akan kesalahan anakku jadi aku mohon agar kau bisa membebaskan anakku dari penjara."
"Memangnya apa yang terjadi?"
__ADS_1
Pria itu kemudian menceritakan apa yang diketahuinya.
"Mmh, aku coba cross check(mengecek) dengan anakku dulu. Kalau dia yang membuat laporan, maka hanya dia yang bisa menarik laporannya."
"Aku mohon Chris. Perkawinannya yang sudah gagal itu sering ia ungkit-ungkit padaku. Rita, ia merasa ada orang ketiga dalam perkawinannya dan ia mencurigai menantumu itu, tapi tetap saja, ia bersalah dalam hal ini. Percobaan penculikan. Ini benar-benar pelanggaran yang serius yang telah ia lakukan dan aku benar-benar merasa bersalah padamu."
"Ya, aku akan melakukan yang terbaik tapi aku tidak dapat menjanjikanmu apa-apa. Kita lihat saja bagaimana kasusnya dan akan segera aku tangani." Chris menepuk-nepuk bahu pria itu.
"Terima kasih. Aku akan saat senang bila kau bisa membebaskan putriku dan mengampuninya." Mata pria itu mulai berkaca-kaca.
Chris tak tega melihatnya. Ia sebenarnya sudah menerima laporan dari informannya dan juga polisi tentang penangkapan Rita kemarin. Sekarang ia hanya mendengarkan dari sisi orang tua Rita. Kalaupun untuk menurunkan laporan, rasanya sangat sulit karena ia sudah bicara dengan Aska yang berkeras agar prosesnya terus berlanjut. Aska terlanjur sakit hati dan tidak terima kalau sampai Rita dibebaskan dari penjara karena wanita itu hampir saja membahayakan nyawa mantan istrinya dan anaknya yang sangat ia sayangi.
------------++++-----------
Di rumah Kenzo, pria itu banyak diam. Arya melihat perubahan itu sejak pulang dari rumah Leka. Bukan membaik tapi malah makin memburuk, walaupun kesehatan Kenzo mulai membaik. Saat Kenzo pergi ke kamar mandi sendiri, Arya membuka laci meja nakas tempat Kenzo menyimpan kotak kecil itu. Ia membuka kotak hitam itu. Sebentuk cincin sepasang dengan bentuk sederhana tersemat di dalam kotak itu. Jadi ia sempat ingin melamar Leka ....
Mendengar Kenzo keluar dari kamar mandi, Arya segera menutup meja nakas dan mengantungi kotak itu di kantong celananya.
"Ayah ...." ucap Kenzo dengan wajah serius.
"Ya?"
"Ayah pulang saja, aku bisa mengurus diriku sendiri." Walaupun tubuh Kenzo sudah pulih, tangannya masih di gips untuk waktu yang lama.
"Baiklah. Ayah hari ini kerja di restoran. Mama akan datang sebentar lagi memandikanmu." Arya mengambil handuk.
"Tidak usah, Ayah pulang saja aku ingin sendiri."
"Ayah kan juga pulang malam." Arya tetap memaksa tinggal di sana.
"Tidak usah Ayah. Tolong ...."
"Ayah, aku tak mau datang."
"Harus. Kalau perlu, ayah akan menyeretmu ke sana!" Arya meninggalkan Kenzo dan masuk kamar mandi.
Kenzo yang kesal, hanya sanggup menghempas kepalan tangannya. Ia tak berdaya. Kalau saja ia tidak kecelakaan saat itu, mungkin ia sudah berada di luar kota tanpa harus memusingkan apa yang terjadi di Jakarta. Ia sudah benar-benar pasrah. Mungkin ia akan menangis di acara pernikahan Leka, tapi ia bisa apa. Hadapi Kenzo, hadapi ....
-----------+++----------
"Sayang, ini gimana?" Aska menyodorkan makanan yang sedang dicobanya.
Leka menyendoki dari piring kecil itu. Setelah mengunyah ia mengangguk-angguk. "Rasanya sih cocok dengan seleraku."
"Apa kita coba di tempat lain lagi?"
"Ngak ah, nanti coba makanan lagi. Capek ah! Sudah, yang ini saja. Aku malas mencari-cari."
"Ya udah, Sayang. Aku ikuti kamu aja deh ...."
Leka melihat heran pada Aska yang tersenyum manis padanya. Biasanya dia mengatur, tapi kok hari ini mau saja mendengarkan pendapatku? Ada apa dengannya?
"Bagaimana Pak?" Seorang wanita berjilbab dengan tubuh sedikit gempal, bertanya pada Aska.
"Mmh, tapi kalau dalam jumlah sedikit, ibu bisa melayani? Eh, ibu siapa tadi, maaf?"
"Ingrid. Kalau di bawah seribu porsi tidak bisa Pak. Seribu porsi itu limit terendah kita."
"Ya sudah, saya pesan untuk seribu porsi saja. Bagaimana?"
__ADS_1
"Di bawah sepuluh ribu porsi, gak ada diskon ya Pak. Harga normal."
"Ya sudah."
Aska dan wanita itu akhirnya masuk ke dalam ruang kantor sedang Leka keluar dari dapur besar itu bersama Ani.
Setelah pembayaran, Aska membawa Leka ke tempat lain. Perias pengantin. Mereka mendatangi sebuah salon ternama dan menemui seorang perias wanita di sana. Banyak artis-artis ternama yang pernah ia dandani dan wanita itu juga senang bisa mendandani Leka karena Leka adalah calon menantu orang kaya. "Mau di sanggul atau biasa mbak?" tanyanya pada Leka.
"Di sanggul? Kan pakai jilbab?" jawab Leka heran.
"Ya, tapi ada juga yang minta kepalanya sedikit terisi."
"Oh, gitu. Saya, rambut saya cukup panjang. Gak di sanggul juga akan meninggi kalau digulung."
Wanita muda itu melihat bentuk kepala Leka. "Iya sih. Mau pakai hiasan kepala?"
Setelah selesai bernegosiasi dengan salah satu Perias salon, Leka pun kembali di antar Aska ke restoran tempatnya bekerja. Sebelum turun Aska mengajaknya bicara. Ani telah lebih dulu turun membawa Runi.
"Leka, hari ini kamu terakhir kerja ya?" Aska menyentuh tangan mantan istrinya.
"Kenapa? Kan besok aku masih ada satu hari lagi bekerja sebelum menikah?"
"Besok saudara dan keluargamu akan datang ke hotel yang dipesan. Juga baju pengantinnya. Urus saja persiapan pernikahan kita, ok?"
Dengan berat hati, Leka mengiyakan. Ia kemudian turun.
----------+++----------
Kenzo kembali mengintip dari jendela, kepulangan Leka ke rumahnya diantar Aska, tapi kali ini ia tidak turun untuk mengejarnya. Ia hanya bisa melihatnya dari jauh dan menyentuh wanita itu dari bayangan kaca di jendela. Leka, dari rindu yang terlarang kau akan kembali menjadi rindu terlarangku lagi. Kenapa aku tidak pernah bisa menggapaimu? Ya allah, bantu aku melewati ini.
Leka mendongak ke atas ke arah kamar Kenzo. Pria itu panik dan bersembunyi di dinding di sampingnya.
Leka, apakah kita akan terus hidup seperti ini? Bersembunyi setiap kali bertemu? Tak terasa air mata Kenzo menetes pelan. Ia segera menghapusnya.
-------------+++----------
"Monique!"
Wanita cantik blasteran Indonesia-Perancis itu menoleh. Sahabatnya Salwa, datang bersama seorang pria bertubuh atletis dan berkulit gelap. Tubuhnya tidak tinggi untuk ukuran orang Indonesia tapi sedikit lebih tinggi dari Salwa yang bertubuh sintal. Mereka entah kenapa terlihat serasi.
Salwa menghampiri meja yang sudah dipesan Monique, bersama pria itu. "Maaf ... lama nunggu ya? Kenalin, pacarku Rojak."
Pria itu tersenyum pada Monique dan menarik kursinya.
"Rojak yang ...."
"Iya, Rojak yang dulu itu. Aku balikan lagi sama dia."
Aduh, kenapa bawa pacarnya sih? Tambah ribet aja deh! Ah ....
"Jadi aku gak jomblo lagi ...." Salwa terlihat senang.
"Mmh, kita pesan makanan dulu aja ya? Aku udah laper nih!"
"Boleh. Eh, sekarang kamu gemukan ya? Sorry, tapi beneran lho ini! Kamu lagi stres?"
____________________________________________
Ini rekomendasi novel terbaru dari Mama Reni. Kalau sudah pernah baca novelnya pasti penasaran sama yang ini. Cuss, jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah serta koin untuk Author. Author sempat nongkrongin Leka dan Aska di dapur tapi Askanya gak noleh ke aku😎 nasib. Salam, ingflora 💋
__ADS_1