
"Eh, dompetku!" Teriak Leka melihat seorang pria berpakaian kemeja kotak-kotak berlari menjauh setelah berhasil mengambil dompetnya yang telah diambil dari tas dengan cara menyiletnya. Orang-orang di gerbong riuh dan menengok ke arah pria yang lari itu. Seorang pemuda meletakkan kakinya dengan sengaja membuat pria itu melewatinya dan tersandung. Ramai-ramai orang-orang mulai menghakiminya dan pemuda itu memungut dompet wanita itu dan memberikannya pada Leka.
"Terima kasih."
Pemuda itu hanya tersenyum. Ia melihat Leka yang banyak membawa bawaan dan menggandeng anak kecil. "Mau duduk di mana Bu?"
"Aku tidak tahu." Leka sedang mencari tempat duduk. Gerbong itu sudah mulai penuh.
"Di tempat saya saja Bu, di dekat Bapak saya."
"Mmh?"
"Sini saya bawain Bu." Pemuda itu mengambil satu tas Leka yang paling besar. Ia membawanya ke kursi tempatnya duduk. Leka mengekornya. Seorang pria berumur sekitar 50 tahun duduk di kursi penumpang untuk 2 orang di depannya.
"Terima kasih Dek, Pak."
Bapak itu menganggukkan kepala diamini Leka dan wanita itu duduk di seberangnya yang kebetulan kosong. Ia juga mendudukkan Runi di sampingnya.
"Anaknya Bu." Tanya pria itu.
"Iya," jawab Leka singkat.
Pria itu menatap Runi dengan tersenyum. "Cantiknya."
Runi yang merasa asing, mengalungkan tangannya pada lengan Leka. Ia menyandarkan kepalanya yang berjilbab pada lengan ibunya. Leka hanya tersenyum.
"Makasih ya Pak kursinya."
"Sama-sama Bu."
Masih riuh orang-orang yang menangkap pencuri dompet Leka sebelum akhirnya di bawa keluar gerbong kereta api oleh petugas. Tak lama, kereta pun berangkat.
Runi bocah yang tak banyak gerak. Cukup dengan memandang ke jendela yang berada di samping ibunya, ia sudah senang. Ia cukup malu di perhatikan oleh dua orang yang tidak di kenalnya di depannya, sehingga ia banyak bersandar dan memeluk lengan ibunya. Padahal bocah itu memang punya wajah lucu yang membuat orang senang memperhatikannya.
"Mau ke rumah saudara Bu?"
"Oh, bukan. Saya mencari suami saya."
"Mencari?" Bapak itu terlihat bingung.
"Iya, suami saya di Jakarta, tapi saya tidak tahu alamatnya."
"Terus bagaimana cara mencarinya? Kenapa tidak tunggu di kampung saja."
"Bapak saya baru meninggal dan orang-orang menyarankan saya untuk mencari suami saya."
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, tapi terus rencana Ibu bagaimana?"
"Entahlah, mungkin mencari kontrakan."
__ADS_1
"Mmh, apa ibu mau ngontrak di sebelah rumah saya, tapi di depannya ada bekas tempat untuk orang jualan. Seperti warung makanan. Itu mau aku sewakan ke orang termasuk rumah itu karena aku pemiliknya."
"Oh, kebetulan pak. Saya juga punya warung makanan di kampung. Ingin buka juga di Jakarta. Ya Allah, alhamdulillah ketemu Bapak."
Bapak itu tersenyum.
------------++++-------------
Ika mematikan teleponnya. Ia menatap pria tampan di depannya. Pria bertubuh tinggi dan berbadan atletis itu adalah pria yang di tolong Leka saat hanyut 2 tahun yang lalu. "Jadi bagaimana?" Pria itu terlihat bingung. Ia bisa melihat Ika tidak bisa menghubunginya.
"Mas kenapa telat sih datangnya? Kasihan Mas, mbak Leka sendirian. Sudah mulai banyak yang meliriknya, tapi pas tahu masih bersuami, mereka mundur."
"Aku juga baru tahu ayahnya meninggal kan dari mbak." Ia mencoba membela diri. Kesal juga mendengar ada yang mengganggu istrinya.
"Makanya kalau pergi, tinggalkan alamatnya Mas, biar gak susah carinya. Kalau sudah begini, aku juga bingung. Teleponnya juga tidak di jawab. Apa Mas tinggalkan saja alamatnya pada saya biar saya kasih tahu mbak Leka."
Waduh, aku tak mau ia mencari sampai ke rumah Papa karena aku hanya ingin memastikan dulu. Aku tak mau orang tahu akan perkawinanku. "Eh, aku tinggal di asrama karyawan jadi tidak bisa aku berikan. Ini nomor teleponnya saja." Aska memberikan nomor teleponnya pada saudara Leka.
"Padahal dia sempat mau jualan pagi-pagi, tapi entah kenapa ia berubah pikiran dan pergi buru-buru." Ika bergumam.
Aska hanya mendengarkan dan kemudian pamit. Ia segera mengemudikan mobilnya ke arah Jakarta.
Jadi bagaimana ini? Ah, kenapa makin membingungkan! Aku harap gadis itu tidak bertemu dengan keluargaku sebelum bertemu denganku dulu.
Ika tiba-tiba teringat sesuatu. "Astagfirullah alazim, kok aku lupa memberitahukannya bahwa dia punya anak. Apa dia tau itu?"
Sementara itu Leka telah sampai ke rumah kontrakan yang bersebelahan dengan rumah Bapak itu. Setidaknya ia mengenal Bapak itu jadi ia merasa aman. Ia mulai membeli barang-barang untuk kebutuhan rumah tangganya diantar Nizam, anak bapak itu naik motor. Runi pun ikut digendong dengan kain gendongan karena belum kenal siapa-siapa.
"Hilang di mana Bu?"
"Aku tidak tahu. Mungkin pada saat dompetku dicuri pencopet itu."
"Jadi bagaimana?"
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Ibu juga tidak punya orang yang ingin ditelepon."
Leka kemudian menyelesaikan belanjanya dan pulang dengan belanjaan sedapatnya. Ia kemudian menurunkan barang belanjaannya di depan rumah sekaligus Runi, ia berterima kasih pada Nizam.
"Gak apa-apa Bu, sama-sama."
Leka membawa barang belanjaannya itu ke dalam rumah dan Runi mengekornya. Gadis kecil itu menunggu ibunya membukakan mainan yang dibelikan untuknya tadi di pasar.
"Ini buat kamu." Leka memberikannya ke tangan Runi, tapi kemudian ditarik lagi. "Bilang apa?"
"Acih, Unda."
"Pinter ...." Wanita itu memberikan pada anaknya boneka bayi dari kain yang langsung di peluk bocah kecil itu. Ia mengusap pucuk kepala buah hatinya.
Terdengar ketukan di pintu. Leka segera menghampiri.
__ADS_1
"Ini Bu panci dan penggorengan besarnya." Kembali Nizam datang membawa pesanan Leka.
"Terima kasih ya, Ibu pinjam dulu."
"Gak apa-apa Bu, ini memang jarang di pakai."
Nizam pun berlalu. Leka segera membuat persiapan untuk jualan besok. Ia mencuci daging ayam dan lele yang telah di potong dan membuat bumbunya. Sambil membuat persiapan, ia melirik Runi yang sedang bermain sendirian. Gadis kecil itu juga sesekali melihat ibunya. Ia senang dengan mainan barunya.
"Oh, kita belum makan ya, pantas aku lapar." Ia kemudian mencuci tangannya. Ia tadi sempat membeli nasi bungkus yang kemudian diambilnya dan makan berdua Runi. Setelah itu ia meneruskan pekerjaannya. Di sore hari ia menidurkan anaknya dengan sebotol susu.
Di sebuah restoran mewah di Milan, Itali, seorang pria bule yang bermata sipit sedang makan malam dengan rekan bisnisnya. Ia begitu santai sedangkan teman bisnisnya begitu antusias menerangkan bisnisnya pada pria itu. Teman bisnisnya itu ingin bergabung dengan pria bule yang masih sangat muda itu agar bisnisnya berkembang seperti perusahaan-perusahaan milik pria bule itu.
Pria bermata sipit itu terkenal sebagai pria bertangan dingin yang mampu menaikkan pendapat perusahaan yang hampir bangkrut sekalipun. Pria bule itu bernama Kenzo Wiraguna. (Senandung Cinta Jilbab Reina 2).
Tidak banyak yang tahu siapa Kenzo sebenarnya. Berdasarkan gosip yang beredar di luaran, Kenzo adalah orang yang membeli seluruh perusahaan Aratami's Group yang terdiri dari 2 perusahaan raksasa di Tokyo dan satu perusahaan besar di Milan. Kenji Aratami adalah pemilik sebelumnya perusahaan itu yang berdarah Itali-Jepang yang merupakan salah satu anggota Legislatif Jepang semasa hidupnya, tapi karena keserakahannya ia dan istrinya di bunuh oleh Yakuza tapi anaknya selamat dan di sembunyikan Mariko. Mariko sebenar adalah wanita yang pernah di culik Kenji karena jatuh cinta padanya hingga membuahkan Tama. Karena Kenzo dan Tama bersaudara itulah, Mariko menyelamatkan Kenzo. Ya, Kenzo sebenarnya anak Kenji Aratami. Karena Mariko menikah dengan Arya Wiraguna, ayah angkatnya mengganti nama belakang Kenzo mengikuti namanya untuk menyelamatkan Kenzo dari orang-orang yang ingin balas dendam karena kejahatan ayahnya, Kenji.
"Hei, I'm sorry I'm late.(Hei, aku minta maaf aku terlambat.)" Seorang wanita cantik berjilbab kuning dengan kulit kuning langsat menghampiri meja mereka.
"That's ok Nena, we're waiting for you.(Tidak apa-apa Nena, kita menunggumu.)"
Nena duduk di kursi di samping Kenzo. Mereka kemudian memulai pembicaraan bisnis mereka.
Nena kurang mengerti bisnis karena ia berpendidikan sekolah hukum dan sempat jadi pengacara di Amerika, namun sejak ayah angkat yang merupakan ayah Chris sakit-sakit sejak istrinya meninggal dan efek dari kecelakaan yang di alaminya, ia mulai mengambil alih bisnis ayah angkatnya itu. Jauh-jauh dari Amerika, ia berusaha belajar dari Kenzo cara berbisnis. Selain Kenzo pintar berbisnis dan ramah, Nena sudah jatuh cinta pada Kenzo sejak pandangan pertama. Nena tahu Kenzo trauma dengan kejahatan ayahnya sendiri pada banyak wanita hingga memutuskan untuk tidak menikah. Juga rahasia bekas luka di tubuhnya yang orang lain tidak boleh lihat, tapi Nena tetap menyukainya.
Pria asing itu akhirnya berdiri. Mereka belum mendapatkan kata sepakat tapi berjanji untuk melihat kemungkinan perusahaannya bekerja sama. Mereka berjabat tangan sebelum berpisah.
"Sudah mengerti kan?"
"Well ....(Ya ....)" Nena masih terlihat bimbang.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Bisnis itu jalankan dengan hati tapi bukan nafsu. Pelan-pelan kamu bisa meraba arahnya. Jangan takut gagal karena gagal itu ada setengah dari jalan menuju sukses."
"Kamu selalu yang terbaik." Nena menarik gelasnya maju ke hadapannya.
"Tidak juga. Orang selalu terbaik di bidangnya. Seperti kamu yang sudah menjadi pengacara, tentunya kamu sudah tahu apa-apa yang harus di lakukan berdasarkan situasi yang kamu temui. Lagi pula kau kan dulu guru bahasa Indonesiaku?"
Nena tertawa. "Tapi sekarang aku muridmu." Ia menatap wajah tampan pria di depannya. Akankah ia mengerti kenapa dirinya selalu mengejarnya ke mana-mana? "Kau tidak menghitamkan lagi rambutmu?"
"Sedikit lelah harus menghitamkan lagi rambut ini, tapi besok akan kuhitamkan." Ya, Kenzo saat menghitamkan rambut, lebih mirip orang Jepang di banding orang Eropa karena mata sipitnya. Kenzo yang semakin dewasa semakin terlihat tampan dan berwibawa.
"Kapan kamu pulang ke Jakarta, aku ikut ya?"
"Aku masih ada perjalanan ke Perancis untuk ketemu teman bisnis lagi, jadi mungkin sekitar minggu depan."
"Ya ... lama sekali." Keluh Nena. Ia ingin kembali seperjalanan dengan Kenzo.
"Ya, sudah duluan saja."
_____________________________________________
__ADS_1
Terima kasih reader yang sudah baca novel ini sejauh ini. Ini visual Nena. Salam, Ingflora 💋