Sungai Rindu

Sungai Rindu
Mencari tahu


__ADS_3

Aska terbangun karena suara dering telepon. Ia baru sadar ia masih di dalam mobil. Semalam itu ia tidak tidur demi untuk sampai di desa tempat Leka tinggal dan hasilnya, ia telat sampai karena Leka sudah lebih dulu berangkat ke Jakarta. Di tengah jalan arah pulang, Aska sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya dan akhirnya berhenti di sebuah area peristirahatan yang ada di pinggir tol.


Ia mengangkat hp-nya. "Halo."


"Aska kamu sakit? Kenapa tidak datang mengajar hari ini?"


Aduh, Om Arya. Aku lupa memberitahunya kalau aku tidak bisa mengajar wushu hari ini. Hah! "Maaf Om, aku lupa. Aku mendadak keluar kota. Aku bahkan belum tidur karena semalam langsung berangkat. Ini saja aku bangun karena telepon dari Om."


"Kamu menyetir sendiri?" Selidik Arya.


"Iya."


"Ya, kalau begitu hati-hati di jalan. Kalau masih ngantuk tidur ya? Jangan menyetir saat mengantuk. Ok?"


"Iya Om." Ia menutup teleponnya. Untung saja Om Arya sangat pengertian. Tidak usil seperti orang-orang di rumah. Kecuali satu, Mamap.


Aska merapikan duduknya. Hari menjelang sore, bias kemerahan mengganti sinar mentari yang mulai meredup. Ia kemudian membuka pintu mobil dan keluar.


Di rest area(area peristirahatan) ini, ada beberapa restoran cepat saji, toko pakaian, mini market dan tempat pengisian bensin. Aska memilih mendatangi sebuah restoran dan memesan makanan dan minuman. Ia kemudian mencari tempat duduk dan makan di sana.


Tempat itu mulai ramai menjelang Maghrib. Aska hanya menatap lalu lalang orang di pintu masuk. Ia sendiri masih bingung menentukan hatinya, sebab ia hanya melakukan tindakan spontan tadi malam yang kini otaknya perdebatkan. Yang lebih mengerikan lagi adalah kedatangan Leka ke Jakarta. Apa yang akan wanita itu tuntut darinya. Harta? Aska sendiri takut menceritakan perkawinannya pada ayahnya Chris yang terkenal galak, apalagi kalau Leka sampai menuntut macam-macam.


Padahal ia hanya ingin memastikan hatinya dulu pada Leka dan setelah itu memutuskan apakah ingin melanjutkan perkawinan ini atau tidak.


Ia dengar dari Zaki istri pertama dan keduanya mengajukan banyak tuntutan termasuk harta dan inilah yang ia ingin hindari. Ia tidak ingin Leka tahu ia anak orang kaya karena sebenarnya ia takut perkawinan ini membuat namanya di coret dari daftar keluarga Jhonson, ayah angkatnya. Ia merasa seperti itu karena dari pertama diangkat anak oleh Chris, namanya tidak berubah mengikuti nama belakang Chris melainkan masih memakai nama belakang orang tua aslinya, Irfan. Itu yang membuat Aska merasa tidak aman. Bisa saja sewaktu-waktu Chris mencoret namanya dari daftar keluarga karena kesalahan kecil.


Chris termasuk orang yang disiplin tidak hanya di rumah tapi juga di kantor dan sekarang ini GM(General Manager) di kantornya akan di ganti dan nama Aska masuk dalam daftar kandidat yang dipromosikan. Ini membuat Aska ketar-ketir dengan tawaran posisi ini, dan kedatangan Leka bisa dibilang tidak tepat pada waktunya. Aska bersyukur mengetahui lebih awal kedatangan Leka jadi setidaknya ia bisa menyusun strategi lebih dulu, apa yang mesti ia lakukan terhadap wanita itu. Mungkin ia akan membujuknya entah dengan apa.


------------+++-----------


Leka terbangun. Ia mendengar sesuatu. Di malam yang gelap itu, ia memang sulit tidur karena lingkungan baru. Lampunya sengaja di matikan agar bisa menghemat listrik.


Dari arah pintu depan terdengar seperti suara orang yang berusaha membuka pintu. Leka yang panik, memakai jilbab instantnya dan segera mengambil penggorengan untuk bersiap-siap di samping pintu. Saat orang itu berhasil membobol pintu, Leka segera memukulinya dengan penggorengan yang ada di tangannya bertubi-tubi.


"Aaah, ampuun!" Pria itu berusaha menghindar tapi Leka terus mengejar dan memukulinya karena takut. "Aaagh, aww ... aduuuh!!"

__ADS_1


Runi terbangun dan menangis, tapi Leka membiarkannya. Ia lebih fokus pada penjahat yang masuk rumahnya agar di beri pelajaran.


Tak sampai di situ saja Leka bertindak pada penjahat yang masuk rumahnya itu, ia juga berteriak minta tolong. Hanya dalam hitungan menit, warga disekitar sudah berdatangan dan menangkap pria itu. Leka tentu saja tidak mengenal pria itu. Tapi bapak pemilik kontrakan segera mengenalinya yang merupakan salah satu warga di sana.


"Oh, rupanya kamu to, yang sering membobol kunci. Aku pikir juga begitu ada orang lain yang sengaja membobol kunci tapi anak perempuanku tak percaya."


"Jadi dia sering ke sini Pak?" Tanya Leka bingung. Ia sudah menggendong Runi yang ketakutan dan bingung melihat banyaknya orang yang datang memasuki rumah kontrakan satu kamar itu.


"Dia itu pemabuk. Mungkin dia takut pulang ke rumah dan bertemu istrinya makanya dia cari tempat lain untuk tidur. Aku tidak tahu seberapa sering dia ke sini tapi kontrakan ini sudah sebulan kosong. Maaf ya Bu, baru sehari tinggal di sini sudah harus menghadapi ini."


"Tidak apa-apa. Yang penting masalahnya sudah selesai." Leka sendiri juga takut, tapi demi anaknya ia berusaha menjadi ibu yang berani. Pilihan hidupnya kini memang tidak banyak, karena ia hidup di lingkungan itu. Untung saja orang itu bukan penjahat yang ingin mencuri di rumah itu, karena wanita itu seorang diri tinggal di situ.


Warga siskamling langsung membawa pria itu keluar. Banyak warga yang melihat Leka karena warga baru kampung itu. Sebagian ada yang berkenalan, dikenalkan bapak pemilik rumah dan sebagian yang lagi langsung kembali ke rumah mereka masing-masing.


Satu-satu mereka pulang. Leka segera menutup pintu dan berusaha untuk tidur kembali. Runi memeluk ibunya erat karena bingung dan takut. Leka mengusap punggungnya hingga gadis kecil itu tertidur kembali. Walaupun susah untuknya kali ini memejamkan mata, ia berusaha agar bisa cepat bangun dan menyiapkan jualannya.


Pagi-pagi sekali Leka sudah mengukus nasi, kemudian sholat Subuh. Setelah itu ia kembali masak. Setelah siap ia kemudian mandi dan juga memandikan Runi. Ia membersihkan tempat jualannya dan mulai menata dagangannya. Tak lama pembeli mulai datang dan melihat-lihat makanan yang di jual Leka. Orang-orang mulai membeli dan sebagian ada yang makan di tempat.


Runi sibuk dengan bonekanya di dalam rumah. Sesekali ia mengintip ibunya ke luar rumah yang sedang melayani pembeli. Karena sudah terbiasa Leka sangat cekatan melayani pembeli. Sebentar kemudian dagangannya habis untuk sarapan. Ia kemudian memasak lagi nasi untuk makan siang.


Di depan rumah Leka juga jalanannya cukup lebar walaupun bukan jalan raya. Motor dan mobil yang bisa parkir di pinggir jalan karena ingin makan di tempat Leka juga memuluskan jalannya hingga jualannya laris.


Ia kemudian menyiapkan jualan untuk makan siang. Setelah selesai ia kemudian ke pasar dengan menggendong Runi dengan naik ojek. Ia harus belanja untuk kebutuhan dia jualan besok. Karena masih sendiri, ia harus berlelah-lelah mengerjakan semuanya sendiri. Hanya Runi, bocah kecil ini yang bisa menyemangatinya berjualan. Memang sangat melelahkan tapi demi sebuah impian. Membahagiakan Runi.


"Pak, Bapak yakin wanita itu bukan janda?" Ita anak Bapak pemilik kontrakan itu bertanya. "Jangan-jangan dia diusir lagi dari kampungnya karena berani dekati suami orang." Ia sibuk menyapu di ruang nonton tv tapi juga sangat penasaran.


"Astagfirullah alazim. Jangan membicarakan sesuatu yang kita tidak tau nak, itu fitnah namanya." Bapak itu sibuk menyesap kopinya sambil menonton tivi. Pembicaraan barusan sempat membuatnya menoleh.


"Ya seperti tidak percaya saja, ada wanita secantik itu malah di sia-siakan suaminya."


"Malah kamu harusnya bersyukur, suami kamu tidak begitu. Segala sesuatu di dunia ini ada untuk menjadi pelajaran untuk orang lain agar bersyukur. Jadi jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain yang lebih dari kamu karena tiap orang punya kesulitannya masing-masing. Boleh jadi orang yang kamu lihat kaya dan memiliki segalanya itu tidak bahagia, sebaliknya orang yang tidak punya apa-apa bisa jadi karena syukurnya ia bahagia."


"Ayah kalau sudah ngomong sudah seperti ustad yang ngasih ceramah di mesjid. Panjaaang ...." Ledek Ika. Ia selesai dengan menyapunya dan meninggalkan bapaknya sendirian di ruang nonton tv. Tinggal Bapak itu hanya geleng-geleng kepala.


Leka kembali dari pasar dengan naik ojek. Setelah menyimpan barang belanjaannya, ia mulai makan. Ia juga menyuapi Runi. Kemudian sebelum berjualan lagi siangnya, Leka pergi tidur.

__ADS_1


Itu siklus ia berjualan tiap hari di kampungnya. Bedanya kali ini ia tidak punya orang yang bisa membantunya. Karena itu ia harus mencuri-curi waktu untuk bisa istirahat dan tidur.


Tubuh Leka sudah sangat kurus, berbanding terbalik dengan dirinya dulu sebelum menikah. Tubuhnya sintal, padat berisi. Kulitnya juga kuning langsat. Sekarang selain kurus, kulitnya sedikit pucat karena kelelahan berjualan makanan.


Leka hanya tidur sebentar sekitar sejam tapi cukup untuknya memulihkan kekuatan tubuhnya.


Ia kemudian merapikan etalase jualannya dan duduk-duduk di luar. Runi datang menghampiri Leka dan minta duduk di sampingnya. Wanita itu mengangkat dan mendudukkannya di samping. "Runi, kamu apa sudah lapar?"


Gadis kecil itu menggeleng.


Nizam kebetulan lewat dan hendak pulang ke rumah.


"Eh, Nizam. Sudah pulang, habis dari mana? Sudah makan siang belum?"


"Baru mau Bu."


"Sudah, makan tempat Ibu saja."


Nizam menghentikan langkahnya. "Jadi gak enak sama Ibu."


"Tidak apa-apa. Sini." Leka memanggilnya. Ia segera masuk ke dalam rumah dan menggoreng ayam.


Nizam mencoba duduk di samping Runi. Kelihatannya Runi mulai terbiasa dengan Nizam dan membiarkan pemuda itu duduk di sampingnya. Pelan-pelan mereka saling bicara. Nizam suka pada gadis kecil itu karena ia tak punya adik. Ia hanya bersaudara berdua dengan kakak perempuannya.


"Ini." Leka memberikan sepiring nasi dan ayam goreng dan segelas es teh manis ke tangan Nizam.


"Ibu ini berapa?"


"Gratis."


"Jangan begitu Bu."


"Untuk hari ini saja."


Nizam melirik Leka dengan malu. "Ya sudah." Katanya dengan sedikit berat.

__ADS_1


"Leka, kamu di sini?" Seorang pria dengan tubuh tinggi menghalangi sinar matahari yang masuk di balik punggungnya. Apalagi terpal dari penutup atap tempat dagang Leka membuat wajah pria itu menjadi gelap. Wanita itu harus mengangkat tangannya guna menyaring sinar mentari yang mulai menyilaukan matanya.


__ADS_2