Sungai Rindu

Sungai Rindu
Canggung


__ADS_3

Mobil pun meluncur ke jalan melewati mobil Candi.


Leka menatap Kenzo, takjub. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat wajah pria Jepang ini yang sangat bersahaja. Apa ... dia akan menetap? "Kakak baru datang ya?"


"Iya. Tadi pagi," jawab pria itu tanpa menoleh. Kenzo terlihat sangat fokus dengan menyetirnya.


Aku siapa, jangan berharap lebih, batin Leka. Ia sudah membantuku tadi saja, aku harus bersyukur. Ia memilih diam.


Sekilas Kenzo melirik Leka. Ia bingung. Sejak pulang tadi pagi, ia tak bisa beristirahat. Pikirannya resah membuat ia mondar-mandir di dalam kamar. Hati kecilnya ingin bertemu wanita itu, tapi ia tak sanggup. Ia terus dihantui kisah asmara orangtuanya yang membuatnya berusaha menghentikan setiap langkah menuju pintu rumah wanita itu hingga ia tanpa sengaja melihat ke jendela. Leka berusaha menjauhi seorang pria yang sedang menghadangnya. Tanpa pikir panjang, Kenzo turun sambil membawa kunci mobil dan membantu wanita itu menjauh dari pria itu.


Kini, mereka telah satu mobil tapi ia tetap bingung harus berbuat apa? Ia hanya bisa diam hingga mengantar mereka sampai di depan pintu restoran. "Sudah sampai." Sulit sekali bagi Kenzo dengan hanya menatap Leka lebih dari satu detik karena pesonanya. Tak memanggil pun rasanya terpanggil. Desiran jantung yang bergembira membuat ia menekan perasaannya sedalam-dalamnya. Ia tak ingin tergoda. Ia datang ke Jakarta untuk Ayahnya bukan untuk Leka. Ya allah, kenapa mahluk tuhan yang satu ini sangat mempesona. Ia menutup matanya dan berusaha memandang ke arah lain.


"Kenapa Kak?" Leka melihat keanehan pada tingkah laku Kenzo.


"Hah?" Saat itu mata Kenzo benar-benar menatap lurus ke arah Leka. Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... dan ia lupa menoleh ke arah lain. Kenapa mahluk ini sejak kutinggalkan semakin cantik saja. Allahuakbar!


"Makasih ya Kak ...." Dengan senyum manisnya Leka membuka pintu dan meninggalkan mobil.


Kenzo masih menatap wanita itu yang masuk ke dalam restoran lewat pintu depan kemudian hilang di balik pintu. Ia berusaha mengatur detak jantungnya. "Kenapa dia selalu membuat huru-hara di sini." gumamnya sambil menepuk-nepuk dada. Kenapa tuhan curang padaku? Kenapa ia tidak menciptakan seorang hamba yang tidak perlu harus cantik tapi dia bukan milik orang lain yang bisa kucinta? Kenapa harus Leka?


Ia hampir menangis kesal, karena itu ia segera keluar dari tempat itu.


Bayangan Leka terus mengusiknya, padahal ia harus konsentrasi pergi ke rumah Ayahnya hingga di tengah jalan ia hampir menabrak seorang pejalan kaki. Ia mengerem mendadak tepat di depan seorang pria tua yang sedang menyeberang jalan. Kenzo segera keluar. "Maaf Pak, maaf ...." Ia membungkukkan tubuhnya ke depan.


Pria itu hanya mengelus dadanya. Dua bodyguard Kenzo segera turun dari motornya yang membuntuti bosnya sejak tadi. Salah satunya memeriksa Kenzo. "Pak, gak apa-apa?"


"Iya, gak apa-apa."


"Saya supiri ya Pak?"


"Iya Dan."


Seorang pria berambut panjang lewat bahu yang di kuncir ke belakang berkulit sawo matang, kini mengambil alih kursinya di mobil. Kenzo kembali ke mobilnya bersama pria itu.


"Papa, Papa!" teriak Runi ketika dibawa masuk ke dalam restoran. Ia menunjuk ke arah luar.


"Iya ... Papa." Leka mengusap lembut pucuk kepala gadis kecilnya.


"Papa siapa Bu?" tanya Ani.


"Oh, pria tadi di panggil papa-papa oleh Runi karena dia pernah nyanyi begitu."


"Oh." Ani menoleh ke arah luar.


Mungkin dia takkan percaya. Biar saja. Dari pada aku berbohong padanya, toh ia akan mengetahuinya juga nanti.


Leka mengambil celemek dan memakainya. Terlihat wajahnya yang ceria dan bahagia. Ia bahkan bersenandung saat bekerja. Tentu saja kedatangan Kenzo membuatnya bahagia walaupun hanya bisa memandangnya saja.


Di rumah Arya, semua orang berkumpul di meja makan. Bukan sedang makan. Kenzo duduk di tengah-tengah memandangi anggota keluarganya satu-satu dengan kesal. Ia menyilangkan kakinya dan mengetuk-ngetuk meja makan kayu itu dengan sendok makan. Tentu saja yang dipandangi tidak terlihat takut tapi malah berusaha menyembunyikan tawa, pasalnya baru kali ini Kenzo marah dan ... ia gampang dirayu.


"Apa-apaan ini, hei, ini perkara serius!" Kenzo mengetuk-ngetuk sendok dengan lebih keras agar terlihat garang.


"Iya Kak," ucap Tama tanpa bisa menyembunyikan senyumnya.


"Kalian telah membohongiku!"

__ADS_1


"Aku rindu Oniichan," rengut Aiko.


"Aiko!"


"Tapi memang kami merindukanmu," Arya menjelaskan.


"Ayah, kenapa melindungi mereka, Ayah!"


"Memangnya salah kalau kami rindu padamu?" tanya Mariko.


"Mama, jangan memperburuk keadaan dong!"


Arya yang duduk di sampingnya berdiri. Ia sedikit membungkuk dan merengkuh bahu pria muda di hadapannya itu sambil mencium pucuk kepalanya. "Welcome home, we miss you.(Selamat datang di rumah, kami merindukanmu)"


Kenzo masih sempat mengetuk sendok di tangannya itu ke meja, tapi tak ayal ia menitikkan air mata. "Kalian ...." Ia merengut kesal.


"Kakak!"


"Oniichan!"


Mereka beramai-ramai mendatangi Kenzo dan memeluknya. Haru, yang membuat pria itu menghentikan kemarahannya. Setelah itu, mereka sibuk mengobrol bersama, menceritakan pengalaman mereka selama tidak saling bertemu yang penuh derai tawa dan senyum kesenangan. Kenzo pun rindu pada mereka.


"Ok, karena lama tidak reuni, bagaimana kalau kita nongkrong di restoran sambil bantu-bantu," usul Arya.


"Yeiiii, kita makan di sana juga ya Yah!" Aiko melompat senang.


"Boleh nih, aku lagi mood bantu-bantu." Tama mengangkat jempolnya.


"Eh, restoran? A-aku harus istirahat. Aku baru sampai." Kenzo panik memikirkan harus bertemu Leka lagi.


"Eh, tapi ...."


Arya meraih lengan Kenzo. "Anggap saja kamu tamu istimewa. Kau naik mobil Ayah dan adik-adikmu naik mobilmu sama bodyguardmu."


"Eh, tapi Ayah ...."


Arya tetap menarik Kenzo keluar. "Kau tidak perlu melakukan apa-apa, cukup duduk manis di kursi restoran."


Mau tak mau Kenzo mengikuti Arya.


Aska yang sudah rapi berpakaian dikejutkan oleh suara hp-nya. Telepon dari Chris. "Halo Pa."


"Oh, seperti janji Papa, Papa ada pertemuan dengan klien hari ini jadi kamu ikut Papa ya melihat cara berbisnis yang benar."


"Ah, Papa ... Ini kan Sabtu Pa, hari libur. Aku ingin menunggui Leka di restoran," kilah Aska kesal.


"Kamu kan tiap hari bertemu dengan dia, masa cuma sehari tidak bertemu tidak bisa, mmh?"


"Tidak ...."


"Aduh ... Di mana semangat juangmu anak muda? Lihat mantan istrimu. Dia rajin bekerja karena tahu punya tanggung jawab. Kamu bagaimana, sibuk bolak-balik mengganggu mantan istrimu saja tanpa berusaha memikirkan tanggung jawabmu. Kau punya Runi, Aska. Kau sudah jadi Bapak. Pikirkan itu!"


"Iya, iya, iya deh ...."


"Sekarang! Papa tunggu."

__ADS_1


Aska mematikan hp-nya. Ia kesal tapi mau bagaimana?


Zack yang sedang duduk di ruang nonton tv melihat Lydia melintas di depannya. Ia ragu-ragu untuk mendekati. Saat gadis itu melintas lagi dari arah dapur membawa potongan semangka di tangannya, Zack menghampirinya. Pemuda itu meraih tangan Lydia dan menariknya ke ruang nonton tv. Saking terburu-burunya, semangka Lydia jatuh ke lantai.


"Semangkaku!" teriak Lydia, tapi Zack tak peduli. "Zack ...." rengeknya.


Zack mendudukan gadis itu di kursi sofa dan ia sendiri di sampingnya. "Kamu kok sekarang suka main rahasia?"


"Rahasia apa? Aku gak main rahasia Kak."


"Tapi kenapa kalau di sekolah, kamu nempel terus sama Raka?"


"Raka kan anak baru Kak, tapi dia mau jadi temanku kok. Orangnya baik Kak."


"Dia cowok, teman sekelasku Lydi. Kalau kamu punya temen cewek sih gak apa-apa."


"Ih, Kakak gak tau sih ... Orangnya fun(seru) kok."


Zack memberi tatapan menyelidik yang sedikit banyak membuat Lydia gerah. Gadis itu tak punya pilihan lain selain berteman dengan Raka karena Aiko. Raka memang sedikit menyebalkan tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya.


"Sebaiknya kau tidak usah berteman dengan Raka, Lydi. Raka itu anaknya sombong. Di kelasku saja banyak yang tidak suka padanya."


"Udah ah, Kakak jangan berlebihan." Lydia berdiri dari duduknya. Ia segera keluar. Daripada disemprot Aiko terus, pikir Lydia, tapi Zack kembali menahannya.


"Lydi ...."


Lydia mendorong Zack hingga jatuh terduduk. Ia berlari ke arah tangga hingga menyerempet Chris. "Maaf."


"Eh, Lydi. Kamu kenapa?"


Namun Lydia terus berlari menaiki tangga hingga ke kamarnya. Setelah menutup pintu ia bersandar pada pintu itu. Walaupun ia tidak menangis, air matanya turun satu-satu. Ia bertahan untuk tidak menangis.


Chris melihat Zack di ruang nonton tv. "Ada apa?"


Zack hanya memperlihatkan wajah kesalnya.


Keluarga Arya sudah memenuhi restoran. Cukup mengejutkan Leka karena ia bertemu lagi dengan Kenzo. Pria itu apalagi. Ia semakin canggung, tapi ia bertemu Runi yang mengejarnya.


"Papa ...."


"Eh ...." Kenzo membungkuk dan menatap wajah Runi yang sedikit berubah. Ia baru memperhatikannya sekarang. "Udah gede ya kamu ...."


"Papa, main!" Runi memperlihatkan boneka Teddy Bear-nya pada Kenzo.


Kenzo takjub. "Kamu juga sudah mulai bisa bicara ya?" Ia mengangkat dan menggendong Runi. Dicarinya meja dekat ke dinding dan menarik salah satu kursi menempel ke dinding, ia duduk di sana. "Papa lelah. Bagaimana kalau Papa bernyanyi saja?"


"Nya-nyi?"


Kenzo tersenyum karena Runi masih sulit meniru kata itu. Pria itu mulai bernyanyi dengan suara lembut mirip bergumam. Tidak hanya Runi, yang lainnya juga ikut menikmati, tak terkecuali Leka. Wanita itu melihat ke arah Kenzo dan Runi yang menikmati waktu mereka berdua.


Leka meninggalkan mereka berdua karena ada kesibukan di dapur. Saat ia kembali, ia menemukan mereka berdua telah tertidur. Runi tidur di pangkuan Kenzo dengan bersandar tengkurap di tubuh pria itu sedang Kenzo juga tertidur di kursi dalam keadaan duduk memeluk Runi. Boneka Runi bahkan terjatuh di lantai.


Arya meletakkan jari telunjuknya pada mulut. "Sst, jangan dibangunkan. Jo baru turun dari pesawat jadi belum sempat tidur."


"Oh." Leka memberi tahu Baby Sitter-nya agar berjaga-jaga di samping Kenzo agar Runi tak terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2