Sungai Rindu

Sungai Rindu
Restoran


__ADS_3

"Apakah kau merasa lebih baik?"


"Hah?"


"Biasanya orang rendah diri karena merasa kurang di banding orang lain."


Wajah Leka masih terlihat bingung. "Boleh aku tahu, kelas berapa terakhir Kenzo sekolah?"


"Oh, dia waktu itu baru kelas 1 pertengahan semester. Dia baru saja menjalani kehidupannya yang baru, eh malah tertimpa masalah. Padahal beberapa bulan sebelumnya dia kehilangan orang tua. Dia menyaksikan sendiri bagaimana orang tuanya di bunuh dan dia hampir saja mati kalau tidak karena pingsan menyaksikan pembunuhan itu. Juga saat rumahnya di bakar, ia selamat. Ia sempat kehilangan arah hingga beberapa kali mencoba bunuh diri, hingga bertemu dengan kami. Kami berusaha membantunya sembuh dari traumanya tapi sejak itu ia tidak ingin menikah. Jo kemudian berubah pikiran setelah bertemu denganmu."


"Tapi aku bukan wanita yang sempurna."


"Begitu juga dengan Jo. Sebenarnya tidak ada manusia yang sempurna. Yang ada adalah mereka-mereka yang berusaha sempurna dengan memiliki pasangan. Jodoh yang baik adalah mereka yang berusaha untuk saling menyempurnakan pasangannya. Bukankah benar begitu adanya kan?"


"Mmh? Aku tidak tahu Pak."


"Lho kamu kan sudah pernah menikah, pastinya mengerti kan?"


Leka menatap Arya dengan kebingungan dan tanda tanya besar di kepalanya. Kenapa pria ini mau menerimanya di keluarganya, padahal pria ini tidak tahu siapa dirinya, orang tuanya, dan asal usulnya. Arya seperti menerima saja apa yang diinginkan Kenzo padanya, padahal bisa saja kan Kenzo bertemu seorang penipu seperti dirinya saat ini. Leka benar-benar kehabisan kata-kata.


"Tapi aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja apa yang aku katakan. Katanya masa iddahmu tinggal 1 bulan lagi ya? Mungkin setelah itu kita bicarakan lagi."


"Ta-tapi ...."


"Mengenai pekerjaan baru, aku akan datang jam 10 menjemputmu." Arya langsung memotongnya dengan cerita yang lain. Ia melakukan itu agar Leka tidak membahasnya lagi. Ia yakin, Leka juga sebenarnya suka pada Kenzo karena itu ia membiarkan Leka berpikir, dan tahu bahwa keluarga Kenzo menerimanya tanpa peduli dengan masa lalunya.


"Aku di jemput?"


"Bukankah kamu masih dalam masa iddah? Kamu tak mungkin naik mobil berdua Jo kan, walaupun sebenarnya tidak karena Jo selalu diiringi dengan 2 bodyguardnya."


"Oh, iya."


"Mengenai tempat tinggal, sebaiknya kamu tinggal di rumahku saja. Indekost di Jakarta mahal kecuali kamu mau tinggal di lingkungan yang kurang sehat."


"Tapi aku tidak enak dengan Bapak apalagi karena rumah Bapak sepertinya sudah penuh dengan penghuninya."


"Gampang. Nanti kamu tinggal bertukar kamar dengan Tama, jadi dia yang akan tinggal di sini menemani Kakaknya Kenzo dan kau tinggal denganku. Aduh, aku jadi pria paling tampan di rumah." Arya melipat tangannya di belakang kepala sambil menyandarkan punggungnya. Ia membayangkannya dalam sekilas.


"Kenapa begitu?"


"Anggota rumahku jadinya istriku, Aiko, kamu, Runi, Sri pembantuku dan aku. Waw, surga wanita-wanita cantik."


Leka tertawa ketika menyadari itu.


"Ok, aku pergi ke kantor dulu. Kau boleh bawa Runi nanti ke restoran." Arya segera berdiri dan meninggalkan Leka.


Leka sendiri bingung dengan gaya hidup keluarga Kenzo. Ayah angkatnya, Arya terlihat sangat santai dan bergaya perlente karena pria itu selain tampan juga pintar memadu-padankan pakaian sehingga orang mengira ia masih single padahal istrinya Mariko, wanita Jepang yang sangat cantik. Kadang Leka merasa aneh memanggil Arya dengan panggilan Bapak karena gayanya yang santai dan wajahnya yang masih sangat muda.


"Ayah ke mana?" tanya Kenzo melihat Arya langsung pergi keluar lewat pintu depan.

__ADS_1


"Ayah ke kantor dulu sebentar." Arya melambai tanpa menoleh.


Leka datang menghampiri. "Aku jadi tak enak pada Ayahmu Kak, dia harus bolak-balik ke kantor dan menjemputku."


"Tidak apa-apa, kan kantornya dekat."


"Dekat?"


"Iya, hanya dua blok dari sini. Dia kan pemilik perumahan ini. Kadang kalau sedang bosan, Ayah berlari dari rumah ke kantor dengan menggunakan baju training."


"Eh, masa?" Leka semakin bingung di buatnya.


"Iya, atau kadang-kadang jarang ke kantor."


Orang kaya memang aneh-aneh saja kelakuan.


"Eh, tadi kamu bilang apa, ayahku menjemputmu?"


"Iya. Aku akan tinggal dengannya nanti."


Leka dan Kenzo saling bertatapan. Belum apa-apa hawa rindu sudah mengudara.


"A-aku bawa Runi dulu ke atas ya Kak? Kakak istirahat saja di kamar." Leka buru-buru menggendong Runi dan membawanya ke kamar melewati anak tangga.


Kenzo tak bicara. Ia hanya diam dan menyaksikan Leka menaiki tangga.


Waktu yang di janjikan tiba. Mobil Arya datang masuk hingga ke halaman rumah.


Wanita itu sambil mengendong Runi ia mengangguk. "Iya Pak." Satpam di rumah Kenzo membantu membukakan pintu mobil untuk Leka, dan menutupnya saat ia telah masuk, tapi mobil tak juga berlalu.


"Menunggu siapa Pak?" tanya Leka pada Arya yang duduk di kursi pengemudi.


Tiba-tiba Kenzo keluar dari pintu utama dan melintas di depan mobil Arya membuat Leka mengerti siapa yang di tunggu. Arya hanya menoleh dan tersenyum kecil pada Leka dan menunggu Kenzo masuk dan menutup pintu. Mobil kembali di jalankan.


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di restoran. Yang mengagetkan Leka, restoran itu letaknya tidak jauh dari rumah Chris, mertuanya. Chris tinggal di komplek perumahan mewah tak jauh dari pintu masuk sedang restoran itu berada di bagian luar komplek mewah tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, toko bunga milik Reina juga hanya terpisah 2 toko dari restoran tersebut karena memang terletak di komplek pertokoan yang sama. Itu ia ketahui dari mulut Arya sendiri.


Restoran yang di sebut Arya miliknya adalah sebuah restoran yang tempatnya terletak di dalam sebuah komplek pertokoan pinggir jalan yang cukup strategis. Tempat yang walaupun tidak terlalu besar dan letaknya di ujung pertokoan menjadikan bagian luar restoran itu juga dijadikan tempat untuk mereka yang ingin makan di udara terbuka bisa menikmatinya. Ada beberapa meja diletakkan di luar restoran menjadikan restoran itu terlihat teduh, akrab dan cocok juga untuk keluarga.


Arya turun dan membawa Leka ke dalam restoran sedang Kenzo yang juga turut serta datang ke sana, hanya turun dan mengikuti mereka dalam diam. Leka juga bingung kenapa Arya menbawa Kenzo serta ke restorannya.


"Nah, ini restoranku ya?"


Leka mengedarkan pandangan. Sebuah restoran bergaya minimalis modern berwarna putih sedang baru saja di buka. Pegawai restoran Arya sedang membersihkan meja dan kursi dan menyusunnya sesuai dengan banyaknya meja yang tersedia.


Arya juga membawa Leka ke dapur dan memperkenalkan Leka dengan pegawai yang lain. Para pegawai sedikit bingung melihat Leka yang menggendong anak karena cukup rumit bekerja di bagian manapun di restoran itu dengan menggendong anak kecil sedang Runi terlihat begitu antusias melihat banyaknya orang di tempat yang baru. Ada sebagian yang gemas melihat wajah Runi yang begitu lucu dan menggodanya.


Arya kemudian kembali ke bagian depan dalam restoran dan duduk di samping salah satu meja. Leka yang terus mengikutinya ikut duduk di sebelahnya. Pria itu memperlihatkan beberapa menu yang dijualnya. "Apa ada menu yang kamu tidak tahu?"


Tentu saja Leka terbentur dengan beberapa menu yang menggunakan bahasa asing. "Aku tahu bentuknya tapi tidak tahu rasanya."

__ADS_1


"Salad, salad buah, steak, french fries? French fries ini kentang goreng."


"Apa?"


"Eh, Jo." Arya memanggil Kenzo yang sedang berjalan-jalan di dalam restoran tak jauh dari mereka.


"Iya, Yah." Pria itu menghampiri.


Tiba-tiba Arya berdiri dan mengambil Runi dari gendongan Leka. "Sebentar."


"Eh?"


Runi pun terkejut. Ia berusaha menggapai kembali ibunya. "Unda ...." Katanya panik. Ia menangis.


"Ikut jalan-jalan sebentar keluar sama Bapak ya?" Arya mengangkat Runi ke atas. Runi terdiam tapi masih bingung.


Kenzo pun sama bingungnya. Kenapa Ayahnya tanpa aba-aba memanggilnya?


"Tolong berita tahu Leka cara baca yang benar agar dia tidak salah mengerti kalau ada yang pesan, juga beberapa menu yang dia tidak tahu tolong di cobakan padanya kalau ada stoknya. Aku mau jalan-jalan sama Runi dulu, ya Runi, ya? Usahakan saat aku kembali sudah selesai semuanya." Pelan-pelan Runi mulai menangis lagi. Arya segera menggendong dan mengajaknya keluar meninggalkan mereka berdua.


"Eh ...." Walaupun bingung Kenzo berusaha fokus dengan menatap Leka dan mulai duduk. "Kamu mau mulai dari mana?"


"Yang ini saja Kak." Leka menunjuk ke salah satu menu sementara pikirannya juga terpecah dengan Runi. Apa Runi tidak apa-apa dengan Arya? Ke mana Arya membawa pergi Runi?


Runi ternyata diajak berjalan-jalan hingga toko Reina. Setiap Runi menangis, Arya mengangkatnya ke atas. "Ba ...." Lama-lama gadis cilik itu berhenti menangis tapi ia sedikit tegang saat di gendong Arya. Pria itu membawa Runi ke dalam toko bunga Reina.


"Eh, Arya. Apa kabar? Ini anak siapa ya? Eh, ini kan anaknya pembantunya Aska." Reina yang menyambutnya mengenali Runi. "Leka bekerja padamu?"


Arya hanya tersenyum. Aku hanya membawanya ke sini Reina, ia cucumu.


"Aih lucunya. Selalu menggemaskan anak ini. Apa mau kalau kugendong?"


"Coba saja. Aku saja asal ambil saja dari ibunya karena Leka sekarang sedang di training Jo."


"Oh, begitu. Coba ya?" Reina mengambil alih Runi. Gadis kecil itu masih menampilkan wajah tegangnya dan ingin menangis. Reina membujuknya dengan suara lembutnya sambil mendendangkan sebuah lagu anak-anak. Praktis, perhatian Runi tertuju pada lagu yang dinyanyikan Reina dengan suara yang lembut hingga gadis kecil itu terpana. Sisa-sisa air matanya di hapus perlahan oleh Reina saat ia masih bersenandung.


Arya tersenyum melihat kelihaian Reina mendiamkan anak kecil. Sudah dari dulu ia adalah magnet yang di sukai anak-anak. Tama adalah satu contohnya. Dia yang saat lahir hingga umur 4 tahun di besarkan Chris, mau saja diurus Reina belakang saat masih menjadi sekretaris Chris. Padahal sekretaris-sekretaris Chris sebelumnya tidak ada yang tahan dengan kenakalan Tama.


Di kantor Chris, Aska masuk dan menemui asisten Chris, Awan. "Ada apa Wan? Aku di panggil lagi?"


"Oh, iya Pak. Pak PresDir memanggil Bapak di ruangannya. Kebetulan ada tamunya."


"Ok."


Aska mendatangi ruang kerja Chris dan mengetuk pintu. Ia kemudian masuk. "Iya Pak."


"Oh, dia sudah datang," ucap Chris pada tamunya. "Ini ada ...."


"Oh, kamu!" sahut pria itu.

__ADS_1


Candi? Ini bencana. Ini benar-benar bencana!


__ADS_2