Sungai Rindu

Sungai Rindu
Mencari Jalur Damai


__ADS_3

Aska datang sekitar jam 11 ke restoran. Ia menjemput Leka dan Runi pergi untuk memilih pakaian pengantin.


"Abang gak kerja?" ucap Leka yang duduk di samping pria itu di depan.


"Untuk apa memikirkan pekerjaan? Gampang itu ... Kita harus memikirkan masa depan kita dulu lah! Sekarang, kita mau menikah, ya urus itu dulu sampai tuntas!" Aska menghidupkan mesin mobilnya. "Aku sedang memikirkan bulan madu ke Hawaii. Bagaimana? Atau kita ke Malaysia saja. Ya, Malaysia saja lebih bagus soalnya bahasa Inggrisku kurang bagus," celoteh Aska.


"Terserah Abang saja. Aku ikut saja."


Aska melirik Leka dengan senyum bahagianya. Akhir-akhir ini wanita itu selalu menuruti apa yang dikatakannya hingga rasanya segala sesuatu berjalan mulus untuknya.


Mereka akhirnya sampai ke sebuah butik baju-baju pengantin. Pakaian di sana lumayan bagus dan indah-indah. Leka takjub melihat begitu banyak pakaian pengantin tersedia di sana. Mulai dari pakaian daerah semi modern hingga pengantin Eropa dan pakaian pesta.


"Coba kau pilih pakaianmu dulu, nanti pakaian untuk Runi belakangan saja disesuaikan dengan pakaianmu."


"Pakaian daerah?" Leka masih bingung.


"Pakaian untuk yang berjilbab kan terbatas, coba kau intip dulu. Kalau kamu tidak suka kita bisa cari di tempat lain."


Leka mulai mencari pakaian yang cocok untuknya. Pasti Ujung-ujungnya dia juga yang memilih, batin Leka.


Terdengar suara notif di hp Aska, pria itu segera mengeceknya. Brengsek, dia lagi dia lagi! Gak boleh orang seneng ya? Ia menemukan, Monique kembali mengiriminya pesan. Sudah dua hari ini ia tak membuka pesan Monique karena ia tahu, pasti ajakan yang sama. Ia kembali mendiamkan pesan itu.


Monique semakin gelisah. Aska, tolong buka. Tolong kita ketemu. Ayah Ibuku belum tahu siapa kamu, jadi tolong. Lebih baik kita bicarakan ini baik-baik. Aku sudah janji pada mereka kalau kita tidak bisa menemui jalan keluar yang baik, aku akan menyerahkan masalah ini pada orang tua. Jadi tolong, kita usahakan ini bersama. Namun rasanya pupus sudah. Pria itu bahkan tidak memberinya ruang untuk bicara dan berdiskusi sama sekali. Ia menutup jalan damai yang sedang ia usahakan, berharap pria itu berpaling sedikit saja mendengar keluh kesah, kekhawatirannya pada laki-laki itu yang mungkin bisa berimbas buruk pada kehidupan mereka berdua.


Monique masih membela pria itu. Itu yang Ibunya lihat karena sampai sekarang anak perempuannya masih menyembunyikan nama pria itu di hatinya. Ibunya berusaha bersabar sampai Monique sendiri yang mengatakannya pada mereka.


Dalam kesedihannya, Monique teringat pada sahabatnya Salwa. Mungkin sahabatnya itu bisa menjembatani keduanya karena mereka bersaudara. Dihapus air matanya dan mencoba menelepon Salwa. "Halo."


"Ada apa Say?"


"Mmh, ketemuan dong!"


Salwa menghela napas. "Lagi sibuk banget nih kantor. Pulang malam terus. Duh, gimana ya?"


"Ada lah. Ya? Aku suntuk nih," rutuk Monique manja.


"Kenapa lagi?"


"Jomblo," canda bule Perancis itu.


Keduanya tertawa.


"Come on ... pleaseeee ....(Ayo dong ... tolongggg ....)" Monique memohon.


"Haahh ...." Salwa menghela napas. "Jum'at deh. Insha allah."


"Pasti dong!"


"Ya ... iya, iya." Salwa masih bingung dengan janjinya.


"Kutunggu, sampai malam juga ...." rajuk Monique.


"Mmh."


"Friend's forever?(teman selamanya?)"


"Friend's forever."


"Thanks.(makasih)" Monique menutup teleponnya. Ia berharap bisa mengorek beberapa keterangan mengenai diamnya Aska.


Di tempat lain, "Cari di tempat lain aja ya?" ucap Aska pada Leka.


"Ini kan juga bagus." Leka mengangkat roknya ke samping.


"Sudah, ganti saja. Kalau aku bilang gak bagus, ya gak bagus."


Bener kan, ujung-ujungnya dia yang pilih. Aku sudah ganti baju berapa kali, dia gak suka. Aku capek ganti terus dari tadi. Leka kemudian keluar dari kamar ganti. Aska kembali membawanya ke butik lain sampai ke 2 tempat hingga jam makan siang. Pria itu membawanya ke sebuah restoran.


"Bang, pilih saja salah satu Bang. Kan dipakainya cuma sebentar."


"Kamu tidak ingin terlihat sempurna, gitu. Di acara pernikahanmu sendiri?"


"Ini kan pernikahanku yang kedua. Aku malah tidak ingin terlihat terlalu mencolok. Lagipula aku ingin kembali ke tempat kerja. Tidak enak rasanya meninggalkan tempat kerja terlalu lama."

__ADS_1


Aska mengangkat satu alisnya, kesal. Ia menggenggam tangan Leka. "Kamu kok gak serius gitu Yang. Ini kan acara pernikahan kita yang belum pernah kita lalui sebelumnya. Aku ingin terlihat sempurna. Lagipula, kau akan berhenti bekerja setelah menikah denganku kan, jadi tak usah dipusingkan soal restoran tempatmu bekerja."


Saat mereka bicara, Runi pindah tempat duduk dan ingin di pangku Leka. Wanita itu hanya menerima saja anaknya duduk di pangkuan, tapi kemudian Runi menarik tangan Leka yang di genggam pria itu. " Unda ...."


"Mmh?"


Aska merasa terganggu melihat Runi menarik tangan mantan istrinya itu dan menoleh ke arah Ani. "Kamu bisa gak sih, mengurus anakku? Aku sedang bicara, ini dengan calon istriku!" hardik Aska pada Ani.


"I-iya Pak." Ani mencoba mengambil Runi tapi gadis kecil itu tidak mau dan malah makin mempererat pelukannya pada ibunya.


"Abang ... jangan begitu. Kasar sekali bicaranya. Ini kan anakmu juga," ingat Leka kesal.


"Tapi ... ah!" Aska menendang kursi di sampingnya hingga terjatuh. Sekilas ia melirik Ani dengan kesal.


Ani yang sedikit takut, berusaha mengambil Runi dari Leka. "Biar sini sama saya saja Bu."


"Tidak apa-apa Ani. Kita pergi saja." Leka berdiri.


"Eh, eh, jangan begitu dong." Pria itu segera menahan Leka dengan meraih tangannya. "Gitu aja ngambek." Ia begitu takut Leka pergi hingga berusaha memperbaiki mood-nya. "Kita makan sekarang saja ya?"


Seusai makan siang, mereka kembali mendatangi butik berikutnya. Di butik inilah akhirnya mereka menemukan pakaian yang diinginkan Aska. Sebuah pakaian daerah semi modern gaun berwarna putih dengan semi rompi diluar berwarna merah. Aska terpesona melihatnya. "Wow, ini bagus kau pakai. Mirip baju betawi. Apa aku pakai jas berwarna merah saja ya, biar serasi." Ia mendekati Leka dan meraih pinggangnya. "Kamu terlampau kurus sih Sayang, terlalu banyak kerja." Ia menyentuh pipi Leka dengan punggung tangannya.


Wanita itu menepisnya. "Udah ah Bang, jangan di tempat ramai begini." Ia menjauh.


Namun Aska meraih tangannya dan berbisik di telinga. "Jadi kalau ditempat sepi boleh?"


Leka memperlihatkan wajah kesalnya.


Aska tertawa kecil. "Ngak, cuma bercanda ...."


------------+++---------


"Gimana Honey, bisa kau hubungi?" tanya Chris di telepon pada Reina.


"Gak bisa Da, kan memang Anna bilang kemarin kalau seminggu ini dia gak bisa dihubungi, karena itu dia menitipkan anaknya."


"Haahh ... bagaimana ini? Polisi mengumumkan bahwa Rafi adalah Gembong Narkoba dan akan dihukum mati. KE MANA KAMU ANNA saat RAFI MEMBUTUHKANMU???" teriak Chris di ujung sana. Ia berteriak-teriak sendiri di kantor karena stres. "Oh, my God ....(Ya allah)" Ia mengusap wajahnya.


"Mungkin Anna sudah tau Da dan terus menjenguknya."


"Itu tugas Ibunya, kita tunggu saja." potong Reina.


Chris kembali menghela napas.


-----------+++-------


"Besok kita coba katering ya?" ucap Aska sebelum Leka keluar dari mobilnya.


"Kenapa gak tadi sekalian?"


"Tadi katanya kamu mau kembali kerja."


"Ya tapi kalau setiap hari pergi keluar, mengganggu pekerjaanku Bang."


"Biar ada alasan untuk bertemu denganmu setiap hari, kan gak apa-apa." Aska tersenyum.


"Abang ...."


"Kenapa sih, di kunjungi tiap hari kok marah?"


Leka menatap Aska, sebal. "Besok Abang sendiri saja ya, sepertinya bisa diwakili kan?"


"Ya, jangan. Gak seru. Kamu ikut saja ya?" bujuknya menggenggam tangan mantan istrinya.


"Bang, ini kan paling, mencicipi makanan saja kan, setelah itu kamu yang bicara dengan pihak kateringnya. Aku gak perlu ikut, juga gak apa-apa."


"Kita kan pasangan yang romantis. Kita harus tunjukkan ke orang-orang."


"Itu tidak penting Bang."


Aduh, bakal lama nih di mobil, batin Ani yang sedang menggendong Runi menunggu di luar mobil.


"Ya, sudah." Leka akhirnya menyerah.

__ADS_1


Aska melirik rumah Kenzo. "Dan kamu, jangan biarkan Kenzo datang lagi ke rumahmu, ya?"


Sebelum membuka pintu, Leka memberi tahu. "Dia kecelakaan kemarin. Tangannya retak."


"Oh ... syukurlah." Aska tersenyum senang.


"Apa?"


"Oh, tidak apa-apa." Aska merasa beruntung, Leka tak mendengar ucapannya tadi.


Mobil Aska pun berlalu. Leka membuka pintu pagar tapi ia meminta Ani untuk pulang lebih dulu. "Aku menengok Pak Kenzo sebentar."


"Iya Bu."


Di kamar, Arya sedang memapah Kenzo kembali ke tempat tidur ketika terdengar ketukan di pintu. "Masuk!"


"Pak, ada Ibu Leka di bawah." ucap seorang pembantu yang datang membuka pintu.


"Suruh naik saja ke atas." Arya mendudukan Kenzo di tepian tempat tidur.


"Eh, Ayah. Bajuku berantakan gak? Wajahku? Ah, aku tadi lupa cuci muka. Gimana nih Yah?" Kenzo langsung panik.


Arya merapikan baju dan rambut Kenzo. Saat pria Jepang itu berbaring, Arya menyelimutinya.


"Wajahku bersih kan Yah?"


"Iya."


Terdengar ketukan di pintu.


"Oh Leka. Masuk-masuk. Aku baru saja mau ambil pakaian di rumah."


"Ngak ganggu kan ya, sudah malam. Aku hanya menengok sebentar." Leka membungkuk karena merasa sungkan tapi tetap masuk ke dalam kamar.


"Ngak, malah terbantu. Tolong jaga Kenzo sebentar karena Bapak mau ambil pakaian di rumah."


"Oh, gitu Pak."


"Tunggu Bapak kembali ya?"


"Oh, iya Pak."


Arya kemudian turun dan menemui pembantu tadi. "Tolong, buatkan teh untuk tamu dan anak saya, sekalian hidangankan sandwich yang tadi di beli istriku."


"Iya Pak."


Arya kembali pulang ke rumah dan menemui istrinya. "Ayo Sayang, aku rindu padamu. Ayo kita lakukan satu ronde saja." Ia meraih pinggul istrinya.


"Lho, Kenzo bagaimana? Kok di tinggal?"


"Kan ada Leka yang menemani. Aku puas-puasin di sini dulu sebelum balik ke sana." Ia menarik istrinya ke tempat tidur.


Mariko mengalungkan tangannya ke leher Arya. "Malam ini langit takkan begitu terang tanpa pijaran cintamu Mas Sayang." Mariko menggesekkan hidung mereka pelan tanda sayang.


"Mmh, mulai lagi sang penyair." Arya menatap bola mata indah milik istrinya yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali. "Mau kuterkam?"


Mariko tertawa geli. "Siapa takut?"


Arya merebahkan istrinya dan selanjutnya ... biarkan tempat tidur itu jadi saksinya.


_____________________________________________


Yang suka dengan novel mafia, coba sini lihat novel teman sesama author. Jangan lupa vitamin Author, like, komen, vote, hadiah dan koinnya. Salam ingflora. 💋


Maya Larasati seorang sekretaris yang sangat cantik dan mempunyai seorang kekasih. Kekasihnya ingin menikahinya agar tidak ada orang yang yang memilikinya dan menyuruhnya untuk berhenti bekerja.


Maya sebenarnya sayang kalau berhenti bekerja tapi karena sangat mencintai kekasihnya membuatnya berhenti bekerja dan mereka pun menikah.


Uang pesangon Maya sangat besar membuat suaminya menyuruh untuk membeli rumah yang besar dan Maya pun setuju.


Cobaan datang ketika keluarga suaminya ikut menumpang di rumahnya dan memperlakukan Maya seperti pelayan ditambah suaminya selingkuh membuat Maya mengajukan berpisah.


Di tengah keterpurukan Maya bertemu dengan sang mafia. Apakah sang mafia bisa meluluhkan hati Maya yang sudah membeku.

__ADS_1



__ADS_2