
Monique berusaha mengukir senyum semanis mungkin walaupun madunya sangat sulit ditelan. Mereka kemudian memesan makanan. Sambil menunggu makanan datang, Monique berusaha memancing Salwa agar mau bercerita tentang Aska. "Terus kamu mau duluan dari Kakakmu?"
"Aku? Wah, kamu telat. Kakakku sih udah nikah lama. Itu saja sudah cerai entah kenapa, terus mau nikah lagi dengan orang yang sama. Aneh! Kalau aku sih masih santai-santai aja dulu, belum kepikiran."
"Hah ... apa?" Monique terkejut mengetahui Aska sudah pernah menikah. Kenapa ia baru mendengarnya sekarang?
"Apa? Oh, Kakakku? Iya bener. Masih ingat gak, waktu kita makan di restoran terus ketemu Kak Aska yang bilang kalau ia datang bersama pembantunya itu? Itu ternyata istrinya lho, bukan pembantunya!"
"Yang bener?" Monique tak percaya. Jadi waktu itu ....
"Iya. Soalnya aku juga gak tau, kamu lihat sendiri kan? Aku juga gak ngerti kenapa dia menyembunyikan pernikahannya, sampai punya anak lagi ... Kamu lihat kan, anaknya sudah gede. Mungkin ... sudah ada 2-3 tahun ia menyembunyikan pernikahannya itu."
Monique terperangah tak percaya. Itu istrinya?
"Eh!" Rojak menyenggol lengan Salwa. "Segitunye ngomongin sodara sendiri. Itu sodara kembar lo lho, bukan orang laen."
"Biarin! Habis orangnya gitu sih, gak bisa dibilangin," gerutu Salwa.
Monique termangu. Ia tak menyangka Aska sudah punya anak dengan orang lain. Lalu, bagaimana dengan bayi ini? Apa pria itu akan mengakuinya? Tanpa disadari ia mengusap lembut perutnya perlahan. "Jadi dia sudah menikah?"
"Iya, tapi kemarin sempat cerai. Lalu tiba-tiba dia sekarang mau rujuk lagi sama mantan istrinya."
"Jadi sudah balikan sama mantannya?" tanya Monique sedih.
"Belum. Karena sudah lewat masa iddahnya, mereka harus menikah lagi. Kebetulan mereka akan menikah besok. Kau mau datang, kalau aku undang ke acara nikahnya?" Salwa tanpa sengaja mengundang Monique.
"Kapan?" kata wanita itu pelan sedikit murung.
"Pagi, jam 7. Eh ... kamu kuat gak ya lihatnya?" Salwa baru sadar, sahabatnya ini juga walaupun sudah sekian lama tapi masih menyimpan rasa suka pada Aska. Ia menyadari ia telah salah bicara. "Eh, maaf. Kalau kamu gak mau gak usah datang. Gak apa-apa kok." Ia mulai memelankan bicaranya.
Rojak kembali menyenggol lengan Salwa tanpa bicara. Salwa sedikit menunduk menyesal karena kelihatan sekali wajah kecewa dari temannya Monique yang duduk di depannya. "Maaf Monique ...."
"Maaf aku pulang dulu. Aku gak enak badan." Monique mengambil tas jinjingnya yang ia letakkan di kursi di sampingnya. Ia lalu buru-buru keluar dari restoran. Air matanya mulai berjatuhan. Ia tak sanggup mendengar berita yang baru saja di dengarnya. Sudah menikah ... cerai ... lalu menikah lagi? Lalu aku apa ... bagian dari permainan yang tertinggal? Kenapa aku bisa terlibat dengan pria macam ini? Kenapa aku begitu percaya laki-laki ini masih sepolos dirinya dahulu, ia menahan isaknya. Padahal pria itu hanya menganggapnya bunga yang hampir layu dan membutuhkan lebah yang membuatnya menjadi bunga yang sempurna. Ia terlihat seperti wanita kesepian yang butuh pria. Ia terlihat bukan siapa-siapa. Ia terlihat yang tak terlihat. Ia hanya selingan dikala pria itu resah dan gundah gulana. Toh, pada akhirnya ia kembali pada yang dicinta. Pikiran ini mulai merusaknya.
Monique berlari sejauh yang ia bisa, menuruni tangga agar tak ada yang melihatnya menangis, tapi sungguh. Ia tak hanya sesak napas karena berlari, ia juga sesak di dada karena nyeri hati tak terperih. Tak lama ia juga merasakan kram di perutnya. Setelah itu ia berusaha keluar dari tangga gedung mal itu dan mencapai tempat mobilnya di parkir. Sebelum ia meraih gagang pintu mobilnya, ia merasakan sekelilingnya gelap dan jatuh pingsan.
--------+++--------
Pelan, dibukanya mata itu. Kedua orang tuanya sedang bersama mengelilinginya di tempat tidur sebuah rumah sakit. Ibunya menggenggam tangannya hangat dengan wajah yang risau sedang ayahnya yang asli Perancis itu menatapnya dengan rasa khawatir.
"My Baby, what's wrong with you?(Sayangku, ada apa denganmu?)" tanya ayahnya pelan.
Ibunya menangis haru melihat anaknya telah bangun dengan selamat. Monique berusaha duduk di atas tempat tidur. Ibunya dengan lembut memeluknya dari samping. "Kau tak apa-apa Sayang?"
Akhirnya saat itulah deritanya ia tumpahkan. Segala kesedihan dan kerapuhan jiwanya. Ia menyebutkan nama pria itu dengan isak terhebatnya. Isaknya yang hingga beberapa saat lamanya belum juga terlihat akan berakhir.
-------------+++-----------
__ADS_1
Pagi yang indah, dengan kicauan burung menandakan hari yang ceria, tapi ... kita tidak pernah tahu rumah mana yang tadinya bahagia beralih rupa setelah mendapat bencana.
Leka sudah bangun pagi-pagi sekali. Setelah sholat Subuh, Perias Pengantin sudah datang ke rumah untuk mendandaninya. Iapun dibantu berpakaian oleh Perias itu.
Runi pun di beri pakaian pesta sederhana karena sulit mencari baju pesta untuk anak seusianya.
Walaupun Leka telah didandani secantik mungkin, tetap saja wajah tidak bahagia terpancar dari wajahnya. Sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh ahli make up manapun seberapa pun hebatnya dia.
"Mbak ...." Perias itu menyentuh lengan wanita itu karena tampak gusar. "Baca bismillah, semoga semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan Mbak."
"Terima kasih." Leka menggenggam tangan Periasnya.
Seorang pria terlihat sangat mengagumi dirinya yang sedang mematut diri di depan cermin. Pantulan bayangan seorang pria tampan dengan jas merahnya sedang tersenyum bahagia menanti saat-saat gembiranya tiba.
Leka pasti terpesona melihat wajahku yang tampan dengan jas berwarna merah mendatanginya di hari pernikahan. Aku tidak perlu bekerja keras untuk terlihat tampan. Iya kan? Pria itu mencoba tersenyum semenawan mungkin.
Di tempat Kenzo, pria itu duduk di tepian tempat tidur sambil memandang Ayahnya yang sedang mematut diri di depan cermin menggunakan baju batik, sedang dirinya dipakaikan baju kaos putih polos lengan pendek dengan jas berwarna putih di luaran. Ia tidak bisa memasukkan tangannya ke dalam lengan jas karena gips-nya yang besar.
"Ayah, bajuku tidak ada yang muat dan pantas untuk di bawa ke pesta pernikahan. Aku di rumah saja ya Yah?" Kenzo mencari-cari alasan.
Arya membalikkan tubuhnya. "Kita kan di undang Jo, jadi tidak enak kalau tidak datang. Lagipula sakitmu hanya sedikit, kan tidak parah. Aku sudah memakaikanmu baju yang cocok untuk ke sana, jadi jangan membantah lagi!" perintah Arya.
Kenzo hanya menunduk memandangi lantai. Karena tidak bisa lagi berkelit, ia berjalan mengitari tempat tidur dan memandang ke arah jendela luar. Tepat saat itu mobil pengantin sedang menjemput Leka. Kenzo melihat Leka keluar dari rumahnya dengan pakaian pengantin. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putih dipadukan dengan semi jas berwarna merah.
Leka, kau cantik sekali ... Tak sadar Kenzo terpesona memandangi wanita itu dari jauh.
Leka ....
Leka masuk ke dalam mobil dan mobil itu perlahan meninggalkan tempat itu.
"Ayo Jo."
"Ck, ah!" Kenzo berjalan menunduk mengikuti ayahnya.
Mobil Aska akhirnya sampai juga ke rumah Chris. Saking gembiranya Aska tidak menyadari ada mobil lain yang parkir di halaman rumah ayahnya hingga ia masuk ke ruang tamu. Di sana ada Monique dengan kedua orang tuanya, Chris, Reina ... dan juga Salwa menatapnya bersama-sama.
"Ada ... apa ini?" Wajah Aska terlihat pucat pasi. Ia berusaha menghilangkan groginya dengan tertawa pelan walaupun terdengar aneh.
"Di sini, kami yang membutuhkan penjelasanmu," ucap Chris memulai percakapan. Wajahnya tampak sangat serius.
Di tempat lain di mesjid Al Ahmadin, sudah banyak orang menunggu di dalam mesjid. Leka duduk bersama para kerabat sedang Kenzo dan keluarganya duduk di sisi yang lain. Leka duduk dengan menundukkan mata karena ia tak sanggup mengangkat pandangannya melihat ada Kenzo di sana sedang pria itu terlihat gelisah, antara melihat pesona Leka atau memikirkan wanita itu yang sebentar lagi akan jadi milik orang lain di hadapannya. Ia berusaha berbesar hati dengan apapun yang akan terjadi di depan mata.
Di saat ia sedang belajar ikhlas, Arya meletakkan sesuatu pada tangan kirinya. "Ayah?" Kenzo melihat, bahwa itu adalah kotak cincin miliknya. Bagaimana ia bisa mendapatkannya?
"Bukankah kamu hampir melakukannya?" ucap Arya setengah berbisik.
"Eh, itu ...." Kenzo terkejut. Bagaimana ia tahu?
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mencoba sekali lagi?"
Kenzo tampak bingung. "Eh, itu ... eh, itu ...."
"Lihat di sana," Arya mengarahkan pandangan Kenzo pada Leka. "Wanita itu, mungkin saja sedang menunggumu untuk direbut. Lagipula kau masih punya kesempatan untuk melamarnya," bujuknya.
"Ta-tapi ...."
"Lihat," bisik Arya di telinga Kenzo. "Apa Leka terlihat bahagia? Bagaimana kalau ia menunggumu untuk di selamatkan? Kau tahu kan Aska orang seperti apa? Pasti ia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan Leka. Dengan cara-cara liciknya ...."
"Ayah, kita tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain." potong Kenzo.
Arya kembali menegakkan tubuhnya dengan wajah kesal. "Kenapa kamu lugu sekali? Berjuanglah, agar kau tak menyesal!" omel Arya.
Sementara itu di rumah Chris, segala sesuatu berjalan tidak baik-baik saja. Salwa yang mulai murka, tanpa aba-aba menghampiri Aska dan menginjak sepatu pria itu dengan stiletto-nya.
"Agghh."
Menarik kerahnya agar segera berdiri dan melemparnya ke lantai. Ia menendang kakaknya berkali-kali karena kesal.
Semua orang di sana terkejut.
"Salwa!" tegur Reina.
Monique yang menangis dengan wajah pucat hanya bisa menyandarkan kepalanya pada bahu ibunya.
Rojak yang duduk di ruang nonton tv segera bergerak dengan menarik Salwa menjauh, berusaha memisahkan mereka.
"Lepaskan! Biarkan aku memberi pelajaran padanya dulu!!" teriak Salwa, masih dengan amarah yang sama.
"Sabar Sal, sabar." Rojak berusaha meredakan amarahnya.
"Kak, KALAU KAU TIDAK SUKA PADANYA kenapa KAU MERUSAKNYA??" Salwa mulai menangis. Monique adalah teman baiknya, dan selalu ada untuknya seperti ia yang selalu ada untuk Monique. Ia tak menyangka, kakaknyalah yang telah merusak hidup sahabatnya itu.
Rojak meraih dan mendekap Salwa untuk menghilangkan tangisnya.
Aska hanya diam meringkuk di lantai. Tentu saja kalau ia mau ia bisa melawan adiknya itu dengan mudahnya, tapi tidak. Ia tidak bisa. Ia menerima saja injakan dan tendangan yang dialamatkan untuknya dari adiknya itu. Ia tahu, adiknya pasti merasa malu, kakak kembarnya telah menghancurkan hidup sahabat baiknya itu.
Chris membantu Aska berdiri dan mendudukkannya kembali di kursi sofa. "Jadi, bagaimana caranya kau akan menyelesaikan masalah ini?" tanyanya dengan rahang mengeras.
____________________________________________
Ini ada visual Leka dengan baju nikahnya. Doakan yang terbaik untuknya ya? Jangan lupa, vote, like, komen dan hadiah untuk kerja keras author receh ini. Salam, ingflora 💋
ini ada rekomendasi novel baru lagi dari teman Author, dengan nuansa barunya. Cocok di baca sambil mager. Mmh ....
__ADS_1