Sungai Rindu

Sungai Rindu
Kembali


__ADS_3

Salwa keluar dari lift bersama kerumunan orang lainnya yang pulang pada saat itu. Ia melangkah melewati lobi dan keluar lewat pintu kaca 2 pintu gedung itu yang terbuka lebar.


"Sal!"


Salwa menoleh ke arah asal suara. Rojak telah menunggunya dengan sudah menaiki motornya. Salwa terlihat acuh.


"Ya sudah ...." Rojak melewatinya dengan mendorong motornya pakai kaki.


"Eh, eh, eh, eh! Kok gak dibujuk sih?" Salwa menarik lengan jaket Rojak dari belakang.


"Gak hobi bujuk orang. Kalau orangnya gak mau aku gak bisa maksa juga."


"Iiih ...." Salwa mencubit pinggang Rojak.


"Aduuh, aku kan gak ngerjain apa-apa kenapa malah dicubitin sih!" Rojak mengusap pinggangnya. "Perempuan itu kenapa aneh banget ya? Dipaksa, ngambeknya bisa panjang, gak dipaksa, dibilang kita gak pedulian."


"Pokoknya perempuan selalu benar!" Salwa menaiki motor dan duduk di belakang Rojak.


"Iya, iya." Rojak memberikan ektra helmnya.


Di perjalanan, motor melewati arah yang tak biasa.


"Kita ke mana Jak?"


"Kita ke Mal yuk?"


"Lah kok baru bilang sekarang?"


"Pasti mau berarti kan? Udah kuramal."


"Iih, sok tahu!"


"Tapi suka kan?"


Rojak memarkirkan motornya di tempat parkir motor. Keduanya masuk lewat tangga darurat.


"Kita makan dulu ya?" terang Rojak.


"Jak, bukannya kemarin kamu habis traktir teman-temanmu? Kalau gak ada duit, makan di pecel lele kayak kemarin juga gak apa-apa Jak."


"Huah, kata siapa gua kemarin teraktir temen-temen gua? Wah, pitnah nih pitnah! Gua malah sebaliknya di traktir kantor karena naik jabatan. Gua gitu lho! Kalau gua di suruh traktir temen karena naik jabatan, gua sih ogah! Mending gua simpen tuh duit buat pengobatan Enyak gua."


"Oh."


"Ya udah, lo mau makan apa?"


"Yang sedikit kebarat-baratan boleh gak?"


"Kayak apa?"


"Steak."


"Boleh! Lu mau steak apa? Aussie steak, Japanese steak sampai stick golf juga kalau mau gua beliin. Kan bapak lu bule jadi gua beliin dah yang lu mau. Gua mah gak pelit mah kalo emang elu yang minta."


Salwa menyandarkan tangannya pada bahu Rojak. "Sebelah sana kayaknya Jak." Ia menunjuk ke arah depan.


Mereka menghabiskan malam berdua hanya dengan makan-makan di restoran dan kemudian pulang.


"Aduh, sudah senyum-senyum pulangnya. Sudah gak ngambek lagi sama Rojak kan?" Ledek Reina setelah melihat Salwa yang pulang dengan senyum cemerlang.


"Ya, gitu deh!" Salwa terlihat malu-malu.


"Rojak sudah pulang?"


"Iya Map."


"Ya sudah, cepat tidurnya."

__ADS_1


"Iya Map. Good night Map, Pa."


"Good night," ucap Chris singkat.


Salwa melangkah ke arah tangga.


-------------+++----------


Leka mengancingkan baju kemeja Kenzo.


"Jadi ini mandi terakhir ya?"


Leka menatap Kenzo dengan wajah bingung. Pria itu sadar merasa salah bicara hingga wajahnya memerah, malu. Lidahnya tiba-tiba keluh.


"Aku periksa sarapan dulu di bawah." Leka segera keluar. Sepanjang menuruni tangga wanita itu tak henti-hentinya tersenyum. Pria dewasa seperti itu masih minta di mandikan? Nantilah minta sama istrinya kalau sudah menikah. Wajah Leka memerah.


Tepat jam 10 pagi, Arya menjemput mereka. Kali ini bawaan Leka sedikit banyak. Ia membawa baju ektra buat Runi dan persiapan untuk membuat susu botolnya.


Arya datang tidak sendiri. Ia di dampingi istrinya yang duduk di belakang.


"Oh, Ibu ikut juga?"


"Sementara aku ke rumah sakit memeriksa Jo, kamu akan ditemani istriku di restoran. Ia dulu pernah kerja di restoran juga."


"Oh ... iya." Leka masuk ke dalam mobil bersama Runi.


Arya kemudian menurunkan Leka, Runi dan Mariko di restoran. "Sayang, kamu nanti ajari Leka memeriksa stok dan belanja ya?"


"Oh, iya Mas."


Mobilpun melaju meninggalkan mereka.


Untuk pertama kalinya, Leka belajar dari Mariko. Wanita itu walaupun lemah lembut ternyata seorang pekerja keras. Ia sangat teliti dalam menyetok barang dan membuat daftar belanja.


Mariko sangat ramah. Wanita yang terlihat masih cantik di umurnya yang sudah menginjak 32 tahun itu, masih tetap gesit melakukan tugasnya bekerja di restoran suaminya.


"Oh, begitu."


"Maaf ya, tapi apa boleh aku mengeritik caramu berpakaian. Sekarang kau tinggal di Jakarta jadi sesuaikan dengan cara orang sini berpakaian," ucap Mariko dengan senyum mengembang.


"Tapi aku kan berpakaian muslim dan pakaiannya sudah benar Bu." Leka mengerut dahi.


"Iya, tapi jangan terlihat seperti orang kampung, jadi tidak terlihat aneh. Maaf ya, mungkin terdengar kasar. Wajahmu cantik Leka, tapi alangkah baiknya bila penampilanmu juga bisa mendukung wajah cantikmu. Di aplikasi video viral kan banyak tutorial berpakaian muslim."


"Mmh? Aku tidak tahu. Aplikasi viral apa Bu?"


Mariko kemudian mengajarkannya membuka video viral dan Leka banyak melihat berbagai macam video pemakaian jilbab, padu padan baju muslim hingga make-up. Leka terkagum-kagum melihatnya.


"Aku rasa di hp-mu ada aplikasi ini jadi tinggal buka saja kapan saja kau sempat. Videonya juga pendek-pendek jadi tidak akan banyak menghabiskan waktumu."


Mariko juga memperlihatkan hasil foto-foto makanan Bento-nya yang dia buat dan memiliki banyak penggemar di dunia maya. "Kamu juga bisa mengirim ke video viral, kreasimu. Apa saja dan bila mencapai jumlah penonton tertentu kamu akan di bayar."


Leka terkagum-kagum mendengar pengetahuan yang dibagikan Mariko, tapi hari mulai menjelang siang. Leka mulai mengurus pesanan pelanggan yang datang dan Mariko menjaga Runi. Tepat jam 12 siang Arya datang bersama Kenzo memberi bantuan. Arya hanya membantu sebentar, kemudian makan siang bersama istrinya dan Runi sedang Kenzo membantu Leka. Sekitar jam 2 siang Kenzo dan Leka baru bisa makan siang.


"Ayah mau jemput Aiko dulu ya, dari sekolah sambil mengantar Mama dan Aiko pulang."


"Iya Yah."


Runi pun di serahkan kembali pada Leka dan Kenzo.


"Papa." Runi memperlihatkan boneka kainnya pada Kenzo.


"Mmh ...." Kenzo tersenyum. "Kau sudah makan ya?"


Runi mengangguk. Kenzo mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.


Makin hari, Runi makin lengket dengan Kenzo. Ini salah satu kekhawatiran Leka. Harusnya, Runi dekat dengan Aska bukan dengan orang lain. Rasanya ia gagal menjadi ibu.

__ADS_1


Di waktu senggangnya Leka mempelajari menu atau membuka video viral yang di beri tahu Mariko padanya. Banyak pengetahuan baru yang di dapatnya dari video viral itu.


Menjelang Magrib, meja-meja tamu di rapikan kembali. Setelah Magrib kembali pelanggan yang makan di tempat dan yang take-away mulai melakukan antrian panjang. Arya sudah kembali ke restoran.


"Aiko sangat antusias menunggu kau menginap di rumah malam ini. Ia tak sabar melihat Runi," terang Arya.


Leka tertawa. Saat Leka dan Kenzo bekerja, Arya menjaga Runi.


Tubuh Leka benar-benar lelah. Mereka bekerja mengurus pembeli hingga jam 9 malam, itupun masih ada yang datang tapi sudah tidak di terima dan bahan makanan juga hampir habis.


Runi sudah tertidur dengan menghabiskan susunya. Mereka kemudian pulang dengan Leka memangku anaknya yang telah tertidur di kursi belakang.


Namun ada tamu datang menunggu di rumah Kenzo terlihat dari mobil yang terparkir di depan rumahnya. Ketiganya mengenali mobil millik siapa itu. Leka berusaha mempersiapkan hati dan Arya, ia penasaran dan segera turun. "Oh, Aska. Apa kabar?"


Aska berdiri dari duduknya di kursi tamu. Ia melihat ketiganya masuk satu-satu ke dalam rumah.


"Ada apa Ka?" Arya melihat gelagat berbeda dari Aska.


"Maaf Om, tapi aku ingin membawa istriku pulang."


Ketiganya terkejut tapi yang paling syok adalah Kenzo. "I-istri?"


"Istri apa? Siapa yang kau sebut istri?" tanya Arya. Ia mulai geram, kenapa tiba-tiba Aska mengakui Leka secepat itu.


"Leka, Om. Maaf, aku baru bisa mengatakannya sekarang. Aku juga punya masalah tersendiri kenapa baru bisa mengatakannya sekarang," jawab Aska santai.


Kenzo benar-benar syok. Ia melirik Leka yang tertunduk. Apakah benar ia istri Aska, tapi bukankah Aska bilang dia pembantunya? Jadi sebenarnya Leka siapa?


"Kau punya surat nikahnya?" Arya terus menggali bagaimana caranya mereka bertemu dulu.


"Kami memang menikah tanpa mengurus surat-surat, tapi saksi pernikahan kami banyak. Kami menikah di kampungnya dan semua orang di sana tahu, aku adalah suaminya. Kalau Om tidak percaya, Om bisa menanyakannya langsung pada Leka. Iya kan Sayang?"


Seperti tertuduh, Leka mengangguk lemah. Saat itu Arya ingin sekali menghajar Aska. Sedang Kenzo dengan mata berkaca-kaca, harus menelan pil pahit itu. Wanita itu istri orang lain. Sesuatu yang sangat di hindarinya tapi ia ternyata kecolongan juga.


"Tapi kenapa kau mengatakan pada semua orang kalau Leka itu pembantumu bukan istrimu?"


"Ah, sudahlah Om. Yang penting Om sudah tahu dia istriku kan? Terima kasih sudah menjaganya, sebab aku akan sangat khawatir kalau ia berada di tangan orang lain."


"Tapi dia ...."


"Sudahlah Ayah ... Biarkan suaminya membawa istrinya pulang!" Ada nada kecewa dari suara Kenzo yang meminta ayahnya dengan lantang. Walaupun ia berusaha menyembunyikannya tapi terlihat jelas dan Aska seperti menikmatinya.


"Leka, cepat kemasi barang-barangmu. Sini biar Runi aku yang gendong."


Leka menurut. Setelah menyerahkan Runi yang tertidur pada Aska, ia segera bergegas naik ke lantai dua mengemasi barang-barangnya.


"Kenapa anakmu memanggilmu Om?" Arya gemas dengan masih banyak pertanyaan di kepalanya.


"Ayah!"


Runi terlihat sedikit terusik.


"Tapi mereka ...." Arya coba menerangkan pada Kenzo.


"Ayah, biarkan mereka pergi ...."


Arya bisa menangkap dari wajah Kenzo bahwa ia ingin menangis saat itu. Ia ingin masalahnya segera selesai agar ia kembali ke kamar dan menumpahkan segala sesak di dada. Arya akhirnya menyerah agar bisa bicara dengan Kenzo nanti.


Leka segera turun. Ia benar-benar tak sanggup menghadapi tatapan kedua ayah dan anak yang berada di hadapannya. "Maaf ...." Hanya kalimat itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.


Aska segera meraih lengan istrinya dan menariknya keluar.


"Tunggu!"


Aska dan Leka menoleh. "Kenapa kau membiarkannya saat aku membawa istrimu? Apa pernikahanmu ada masalah?"


"Ayah!" teriak Kenzo kesal. Ia menarik lengan Ayahnya ke belakang.

__ADS_1


"Pernikahan kami baik-baik saja. Kalau aku tidak bisa membahagiakannya aku pasti sudah menceraikannya ...." Aska melirik Kenzo setengah mengejek bahwa pria itu tidak akan pernah mendapat Leka bagaimanapun caranya karena Leka adalah istrinya.


__ADS_2