Sungai Rindu

Sungai Rindu
Menyerah


__ADS_3

Leka tak mengubris. Ia menghindar karena dipikirnya hanya orang iseng saja, tapi pria itu makin menghalanginya berjalan ke muka. "Kau mau apa?"


"Mau dirimu." Pria bertubuh tegap itu mendekati Leka. Wanita itu menyadari ada teman pria itu yang lain yang mulai mengepungnya.


"Ka-kalian mau apa?" Leka mulai takut dan mendekap Runi yang berada di kain gendongan di depannya.


"Ikut saja kami, kau tak akan apa-apa." Kepungan itu mulai mengecil dan membuat Leka sulit bergerak.


"Tolong! Tolong ...." teriak Leka dengan cerdiknya.


Stasiun yang ramai itu langsung teralihkan mendengar suara teriakkan wanita itu yang mengundang penasaran. Para penculik itu langsung beraksi. Salah satu dari mereka menyergap Leka dari belakang.


"Lepaskan aku!"


Namun orang itu menarik Leka ke pinggir jalan.


Beberapa orang dari dalam stasiun datang berusaha membantu, tapi ada seseorang yang lebih cepat dan cekatan menumpas mereka. Mulai dari pukulan, tendangan, hingga cengkraman tangan yang menyebabkan penculik itu terpaksa melepas Leka.


"Abang?"


"Leka, minggir!" Aska kembali menghajar orang itu habis-habisan dengan kemarahan yang tak tentu arah hingga orang lain yang ingin membantu hanya bisa menjadi penonton kemarahan pria itu kepada keempat penculik itu. Melihat aksinya pun cukup mengagumkan tapi lama kelamaan menjadi sadis karena si penculik sudah tak berdaya.


"Sudah Bang, sudah ...." Leka memohon hingga menitikkan air mata. Ia menyentuh tangan mantan suaminya. Seketika Aska berhenti dengan napas yang tersengal-sengal. Keringat mengucur di dahi dan bajunya mulai kusut karena banyaknya gerakan yang ia lakukan.


Aska menatap Leka dan meraih tangannya. "Leka, tolong jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu." Ia bersimpuh di hadapan mantan istrinya. "Aku mohon, menikahlah denganku."


Dengan berat hati, Leka menganggukkan kepalanya. Ia menitikkan air matanya. Demi Runi.


Orang-orang yang melihat adegan romantis itu bertepuk tangan. Mereka bersorak dan ada yang juga memberi semangat. Aska serasa memenangkan sebuah undian. Ia akhirnya mendapatkan persetujuan dari Leka. Pria itu berdiri dan mendekap mantan istrinya itu penuh haru. Ia bahkan mengecup pucuk kepalanya. "Terima kasih Leka, aku janji aku akan membahagiakanmu." bisiknya dekat di telinga wanita itu.


Leka hanya bisa pasrah. Mungkin memang ini jalan hidupnya, kembali kepada mantan suaminya. Ia harus berkorban demi kebahagiaan Runi dan biduk rumah tangganya. Bukankah mantan suaminya sangat mencintainya? Air mata Leka menitik deras tak tertahan.


Aska meminta orang-orang di stasiun menahan penculik sementara ia memanggil polisi. Petugas keamanan di stasiun kereta api itu juga membantu mengamankan penculik. Aska ingin supaya para penculik diinterogasi agar di ketahui siapa dalang dari penculikan itu. Ia geram ada yang berusaha menculik mantan istrinya itu, dan menginginkan dalang itupun di jebloskan ke penjara.


Polisi akhirnya datang. Leka dan Aska memberi keterangan seputar kejadian bersama dengan orang-orang yang berada di tempat kejadian saat terjadinya penculikan itu. Kemudian polisi pun membawa para penculik itu untuk diinterogasi.


"Leka, kau lelah? Kita beristirahat di kafe di seberang sana ya?" Aska menggandeng wanita itu sambil membawakan tas besarnya ke sebuah kafe di depan stasiun. Mereka masuk dan memesan minuman, lalu memilih tempat duduk di dinding dekat pintu keluar. Leka duduk di sebelah kiri dan Aska ... di sampingnya. Pria itu kembali menggenggam tangan mantan istrinya.


Leka hanya diam. Mulai hari ini ia harus lebih banyak menahan bicaranya, karena ia harus mulai belajar mengalah. Untuk kebaikan semua.


"Leka, terima kasih kau mau menerimaku kembali."


Wanita itu mencoba mendengarkan.


"Aku ingin kita segera menikah. Kali ini di depan penghulu dengan surat-surat yang bisa melegalkan pernikahan kita. Bagaimana kalau kita menikah minggu depan? Setelah itu kita mengadakan pesta keluarga saja. Aku pastikan itu adalah pesta yang mewah yang akan membuatmu seperti putri raja."


Sebenarnya kata-kata itu hanya membuat Leka merasa ia hanya punya kebebasan seminggu lagi. Ia sendiri bingung harus bereaksi apa sebab ia belum tentu bisa membahagiakan suaminya. Ia sudah tak punya cinta yang bisa ia berikan pada pria itu, apa Aska akan bisa menerima dirinya apa adanya? Bukankah ini berarti, kedua-duanya akan sama-sama menderita? Entah kenapa Aska belum juga mau mengerti.


"Leka, aku sangat mencintaimu." Aska mencium punggung tangan mantan istrinya itu dengan lembut. "Aku sangat bahagia."


Atau kau akan menderita Bang ....


"Jadi ... apa yang terjadi?" Arya mendekati Kenzo yang datang sarapan ke rumahnya pagi itu.


"Apa?"


"Aku lihat semalam kau bicara dengan Leka dan Aska."


Kenzo menatap sarapan paginya dengan lesu.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aska bilang mereka sudah tunangan."


"Dia pasti berbohong karena aku pasti mengetahuinya kalau ia bertunangan."


"Aku tidak mengetahuinya hingga aku menolak Leka yang datang malam mencariku."


Arya mengerut dahi. "Untuk apa?"


"Aku ... aku tidak tahu. Ah!" Kenzo menunduk.


"Lalu apa yang terjadi?" Arya terlihat bingung.


"Paginya Leka menitipkan Baby Sitter-nya dan kunci rumahnya karena ia ingin pulang kampung."


"Pulang kampung?"


"Aska kemudian datang lalu aku beritahukan saja padanya sesuai permintaan Leka tapi kemudian Baby Sitter itu cerita kalau mereka tidak bertunangan." Kenzo masih menunduk.


"Aska pasti akan membawanya kembali karena setahuku Leka belum memberi jawaban apapun padanya."


Kenzo melirik Arya.


"Kau mungkin masih punya kesempatan. Oya, kau bisa jaga rumah karena Ayah dan Mama akan mengantar Ojiichan pulang ke Jepang."


"Mmh ...." jawab Kenzo lemah.


"Jangan gak bersemangat gitu dong, kesatria bersayap."


"Bersayap?"


"Sayap kapal terbang." Arya tertawa.


Ayah Mariko turun melewati anak tangga dan langsung bertemu Kenzo. "Eat more ... you too skinny.(Makan lebih banyak, kau terlalu kurus.)" Ia menepuk-nepuk bahu Kenzo. Ayah Mariko pernah tinggal di Amerika dengan menjual senjata ilegal, tapi akhirnya tertangkap dan di kembalikan ke Jepang. Karena itu ia juga fasih berbahasa Inggris.


Arya tersenyum. "Cepat habiskan sarapanmu Kenzo."


Sehabis sarapan, Kenzo kembali ke rumahnya. Tinggal 3 langkah lagi sampai ke rumahnya, mobil Aska datang. Pria itu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Leka. "Sayang, jangan lupa, minggu depan kita MENIKAH ya?" sahutnya melirik Kenzo berusaha pamer.


Leka tahu, untuk siapa kalimat itu ditujukan. Ia berusaha melihat Kenzo datar karena hatinya amat sakit. Toh, kenzo takkan mau menolongnya lagi mengingat kejadian kemarin malam.


"Oh, iya. Baby Sitter-nya masih ada kan? Kami masih membutuhkannya."


"Eh, ya ...." Kenzo meminta satpam rumahnya memanggil Baby Sitter Runi. Tergopoh-gopoh, wanita itu mendatangi mereka.


"Mana barang-barangmu, kau kerja lagi dengan CALON ISTRIKU." ucap Aska kembali pamer di depan Kenzo. Ani segera kembali ke dalam rumah.


"Oh ya, minggu depan, hari Sabtu, aku akan menikah dengan Leka di mesjid Ayahku di pagi hari jadi karena aku baik, aku mengundangmu." Aska begitu senang memamerkan kebahagiaannya terang-terangan pada Kenzo. Ia ingin Kenzo tahu, ia sudah mendapatkan Leka hingga pria itu harus melupakannya.


Pria Jepang itu hanya diam. Leka muak mendengar ucapan Aska yang berlebihan, hingga ia merapikan gendongan Runi lalu melangkah ke dalam rumahnya.


Arya melihat semuanya dari depan rumahnya. Ia bisa mengira-ngira reaksi apa yang akan di tunjukkan Kenzo kemudian.


Kenzo pura-pura masuk ke dalam pagar rumahnya. Setelah mendengar mobil Aska pergi, ia kembali ke luar. Ia mendatangi rumah Arya di mana pria itu sudah berdiri menunggunya di depan rumah.


"Ayah, aku mau ...."


"Tidak!"


"Ayah, apapun yang kau mau akan kubelikan. Izinkan aku mengantar Ojiichan."


"Kan Ayah bilang tidak."

__ADS_1


"Sepatu mahal, katakan saja merk apa, akan kubelikan." Kenzo telah sampai di depan Ayahnya tapi pria itu hanya diam dan menatapnya dalam.


Arya menyentuh kedua bahu Kenzo. "Kau mau melarikan diri lagi?"


"Eh, tidak Ayah. Aku akan mengantarkan Ojiichan langsung ke rumahnya."


"Dan setelah itu, ke mana lagi? Kau akan menghilang selama ... berapa? 2 bulan?"


"Ayah ...." Kenzo menunduk dan menggerutu.


"Jo, kamu laki-laki. Kamu harus hadapi ini. Memangnya apa yang kau dapat selama pelarianmu itu, hah? Setiap pulang kau tetap sama. Menghindari masalahmu. Menghindar itu tidak menyelesaikan masalah, Jo. Malah masalahmu semakin rumit. Kau tinggal pilih, antara kau mengejar Leka atau mengikhlaskannya."


"Aku mengikhlaskannya." jawab Kenzo dengan suara rendah. Matanya berusaha menghindari sorot tajam Ayahnya.


"Benarkah, tapi kenapa harus pergi keluar negri?"


"Aku kan punya banyak uang, main ke luar negeri kan tidak masalah."


Arya menatap Kenzo dengan menyipitkan matanya, mencari tahu. "Berarti kau berani datang di pernikahan Leka?"


Kenzo terlihat gelagapan. "Eh, itu ...."


"Ck, dasar! Berbohong saja kau tidak bisa. Bagaimana? Kau yakin bisa mengikhlaskan Leka?"


"Eh, mmh ...."


"Pokoknya aku tak izinkan kau ke luar kota. Titik."


"Ayah ...." Kenzo merengut.


Aska sudah sampai di rumah Chris, ayahnya. Kebetulan Reina dan Chris masih ada di rumah karena ada Anna sedang bertamu. Sudah sebulan ini Anna ada di Jakarta dan ia masih mengurus masalah suaminya yang masuk penjara. Hingga saat ini pengadilan masih belum mengeluarkan pengumuman apa-apa karena masih dalam tahap penyelidikan. Chris dan Reina menemani Anna duduk melingkari meja makan.


"Kenapa kamu tidak membawa anakmu menjenguk ayahnya?"


"Oh, itu nanti saja. Aku takut Lydia jiwanya masih sensitif dan malah terguncang melihat ayahnya di penjara."


"Setiap hari kau pergi menjenguk Rafi?"


"Iya."


Chris merasa heran, sikap Anna tidak tampak stres walaupun mengunjungi suaminya setiap hari. Apakah hubungan suami istri ini bermasalah atau memang Anna sengaja tidak menampakkannya?


"Kau tidak membawakannya makanan? Apa dia terlihat kurus?"


"Ada."


"Kenapa tidak tinggal bersama anakmu, Lydia dan memilih tinggal sendiri?"


"Kan aku sudah bilang, aku takut Lydia menanyakan ayahnya terus. Untuk sementara aku titipkan saja di sini. Kan ada Zack yang yang menghiburnya. Aku tidak bisa karena sedang fokus dengan Rafi. Aku minta tolong, sepertinya mulai minggu depan aku tidak bisa mengunjungi Lydia. Tolong jaga dia."


"Kau mau ke mana?"


"Tidak ke mana-mana, aku sedang fokus dengan kasus Rafi dulu," ucap Anna menyesap tehnya.


"Ok." Mungkin aku terlalu berlebihan melihat Anna yang bersikap santai.


"Percayakan saja pada kami, Lydia pasti baik-baik saja," sahut Reina menyentuh tangan wanita itu.


"Papa ada kabar baik Pa, aku dan Leka akan menikah minggu depan." Aska datang dengan wajah semringah.


"Benarkah? Syukurlah ...."

__ADS_1


__ADS_2