
Aiko menarik Leka sampai ke dapur. Dilihatnya Kenzo sedang sibuk mencari posisi untuk memotret sebuah kotak di hadapannya. Mariko, ibu mereka yang berdiri di samping Kenzo menyadari kehadiran Leka. "Eh, ini bukannya pembantu yang di bawa Aska tempo hari ya?" Ia mendatangi Leka.
Tentu saja nyali Leka semakin ciut mendengar ucapan Mariko. Aku hanya pembantu, semua orang menganggapnya begitu. Kenapa aku lupa? Bukankah Aska, suamiku sendiri yang memperkenalkan pada dunia bahwa aku hanya seorang pembantu. Ya, orang miskin hanya cocok jadi seorang pembantu. Tidak lebih, tapi kenapa Kenzo yang mengetahui ini masih menyukaiku?
"Eh, ada chibi ya? Lucunya ...." Mariko hendak menyentuhnya tapi Runi segera memeluk ibunya erat dan menyembunyikan wajahnya pada tubuh Leka.
Aiko dan Mariko tertawa.
"Chibi ... apa?" Tanya Leka heran.
"Oh, chibi dari bahasa Jepang, artinya si kecil."
"Oh."
"Suaminya sudah berapa lama meninggal ya, maaf, tapi anaknya lucu sekali. Suamimu pasti tampan ya?"
Leka dengan susah payah menelan ludahnya. Kebohongan selalu akan di susul dengan kebohongan berikutnya yang membuat si pelaku kebohongan tak henti-hentinya berbohong demi kesempurnaan kebohongannya ini. Tentu saja ini membuat Leka sedih. Ia yang seumur hidupnya benci kebohongan malah melakukannya.
"Siapa namanya?" Tanya Mariko lagi.
"Runi Bu."
"Oh, lalu kamu? Ibu lupa ya?"
"Leka Bu."
"Oya. Kamu juga cantik, ada garis wajahmu juga pada Runi."
"Terima kasih Bu."
"Jangan sungkan begitu. Oh ya, kamu datang dengan Kenzo?"
"Iya, Bu."
"Selamat datang di keluarga kami ya?"
"Iya, Bu."
"Bu, saya sudah selesai mencuci bajunya." Sri datang membawa ember dari taman belakang. Sri adalah pembantu di rumah Arya.
"Ya sudah Sri, kalau mau pergi, pergi saja. Kamu bisa libur sampai besok pagi."
"Makasih Bu."
Seorang pembantu saja di hargai di sini, kenapa Aska kepadaku yang jelas-jelas adalah istrinya saja tidak bisa. Benar-benar terlalu ... Andai saja aku benar-benar pembantu, aku akan minta berhenti darinya dan pindah bekerja di sini. Keluarga ini begitu hangat, begitu saling mengasihi satu sama lain. Bahkan mereka tahunya aku pembantu, tapi mereka menerimaku apa adanya.
Seseorang masuk dari pintu depan.
"Ayah ..."
Arya masuk diikuti anaknya Tama. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Kenapa Mas?" Sambut Mariko sambil mengambil tangan Arya dan mencium punggung tangannya.
"Ini Tama, ketahuan merokok di belakang sekolah sama anak-anak yang lain membolos kelas."
"Astaghfirullah alazim."
"Ayah, aku kan cuma ngerokok aja, ngak nakal. Kenapa sih gurunya usil sekali?" Kilah Tama.
Arya langsung menjewer telinga Tama.
"Aduh, aduh Yah!" Tama kesakitan.
"Heh, peraturan tetap peraturan. Gak boleh di langgar."
Aiko tertawa. "Ra-sa-in."
Tama berusaha menendang Aiko tapi gadis itu telah pergi menjauh. Ia masih tertawa.
Leka pun ikut tertawa. Arya menyadari keberadaan wanita itu. "Kamu pembantunya Aska kan?"
Buru-buru Leka menganggukkan kepala. Ia memperbaiki raut mukanya menjadi lebih serius.
__ADS_1
"Siapa namanya, Leka ya?"
"I-iya Pak." Leka terlihat gugup.
"Sudah berapa lama kerja dengan Aska?"
"Ba-baru 4 hari Pak."
"Jangan gugup begitu, aku bukan polisi." Seru Arya lagi.
"Iya."
"Ini Ayahku ...." Aiko tiba-tiba melompat dan bergelayut di leher Arya.
"Aduh ini kamu, katanya udah gede tapi masih gelayutan kayak anak-anak." Arya menyentuh lengan anak perempuannya yang bergelayut di leher. "Udah dong, Ayah sakit ini!" Ia mulai protes. Aiko pun melepaskan diri.
Leka senyum di kulum melihat keluarga yang begitu dekat satu sama lain. Mereka begitu saling menyayangi. Rasanya ingin sekali tinggal dengan mereka, walaupun hanya sebagai pembantu saja.
"Sudah Ma." Kenzo mengembalikan hp milik Mariko.
"Eh, iya. Makasih."
"Kamu mau makan malam di sini?" Tanya Arya pada Leka.
"Oh, tidak Pak saya mau pulang. Nanti su eh, Pak Aska cari saya." Hampir saja Leka salah bicara.
Namun Arya melihat kesalahan itu. Mmh, akhirnya .... "Ya sudah. Kenzo, kamu antar dia pulang."
"Iya, Yah."
"Permisi." Leka pamit pada semua.
"Sini, aku gendong saja Runi ya?"
"Jangan, tidak usah Kak."
Namun Kenzo telah mengambilnya dari tangan Leka padahal mereka berdua belum begitu jauh berjalan keluar dari rumah orang tua Kenzo sehingga yang lain melihat apa yang terjadi. Leka benar-benar malu karena saat itu posisinya adalah pembantu, tapi Kenzo malah menggendong anaknya. Runi pun terlihat tidak rewel di gendong oleh Kenzo.
"Iya Ma. Tadi aja manggil Niichan 'Papa'. Katanya sih karena Niichan nyanyi papa-papa." Terang Aiko.
"Mmh, masa sih?"
Keluarga Kenzo memang terkejut, melihat pria itu membawa Leka ke dalam rumah karena biasanya teman wanitanya hanya bicara di beranda rumah saja. Itupun kalau ingin mengobrol panjang, ia membawanya keluar dan jarang di perkenalkan pada keluarga.
Arya bisa melihat betapa Kenzo nyaman dengan Leka dan ingin mendekatkan diri dengan semua yang wanita itu punyai termasuk anaknya. Ia benar-benar mencintainya dengan tulus.
Sekarang bagaimana caranya mencari cela agar Aska tak berkutik, bila aku mengambil istrinya? Mmh, tapi sebenarnya, alasan apa sampai Aska merahasiakan pernikahannya?Ada apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka?
"Mas, kok aku merasa Jo memperlakukannya beda? Mas tahu sesuatu?" Tanya Mariko heran.
"Jo naksir pembantu itu." Arya menatap Mariko. "Menurutmu bagaimana?"
"Aku setuju Yah, Dedenya buat temen Aiko di rumah." Aiko menyahut lebih dulu.
"Aku terserah Kak Jo saja." Tama memberi pendapat. "Yang penting sayang Kak Jo sama kita semua."
Sebenarnya dari mulut Tamalah semua orang memanggil Kenzo, 'Jo'. Hanya Aiko saja yang memanggilnya 'Niichan'.
Mariko tersenyum. "Kalau dia senang, aku juga senang. Asalkan ia benar wanita yang baik."
"Ok, votenya selesai. Ok, sekarang hukuman buat Tama." Arya memanggil Tama dengan jarinya.
"Ah, Ayah ... Sudah dong Yah!" Tama mulai merengut. Aiko dan Mariko tertawa.
Di mobil Leka tak nyaman melihat Runi dekat dengan Kenzo, sedang pria itu bukanlah ayah biologis Runi dan ia tak enak hati pada Kenzo yang merasa terlalu berharap padanya yang nota bene adalah istri orang. Ia menyesali dirinya telah membuat pria itu berharap banyak padanya.
Tiba-tiba di cuaca sore itu hujan. Hujan yang cukup deras.
"Ya ... hujan." Kenzo melihat keluar jendela mobil lewat kaca yang memang sedikit gelap.
Leka segera mengambil Runi. Ia menatap Kenzo yang sibuk mencari payung di dalam mobil. "Payungnya di mana Dan?"
"Di bagasi belakang Pak."
__ADS_1
"Oya."
"Kak," panggil Leka pada Kenzo.
"Ya?"
"Besok jangan cari aku lagi."
"Kenapa?"
"Aku cuma pembantu. Aku tak pantas untukmu."
Kenzo terkejut. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk gedung apartemen. Leka membuka pintu dan segera keluar membawa Runi di dalam hujan deras yang begitu lebat itu. Kenzo menyambar jaketnya yang bersandar di belakang kursi bodyguardnya dan berlari keluar. Ia menutup kepalanya dengan jaket itu dan mengejar Leka dan Runi. Masih sempat ia memindahkan jaket itu ke kepala Leka hingga ia sampai ke depan lobi gedung itu membuat Leka terkejut karena tidak menyangka Kenzo akan mengejarnya.
"Kak, kenapa kamu ke sini?" Tanya Leka heran. Ia melihat pria itu sudah basah kuyup mengejarnya. Jangankan dia, dirinya sendiri bersama Runi juga basah kuyub karena terguyur hujan.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa?" Tanya Leka bingung.
"Aku ingin memberitahu semua orang aku menyukaimu." Ia berjalan mundur dan menggenggam jaketnya hingga hujan membasahi tubuhnya.
"Kak, hujannya deras." Leka memperingatkan.
"Kalau kamu mengizinkan, aku ingin jadi pacarmu." Hujan benar-benar telah mengguyur tubuh Kenzo. "Dan kalau tuhan mengizinkan, aku ingin MENIKAH denganmu dan memberi tahu DUNIA bahwa KAMU ISTRIKU!" Teriak Kenzo di dalam lebatnya hujan. Ia sengaja berteriak agar Leka mendengarnya karena rintik hujan yang deras membuat suaranya tidak terdengar jelas.
Leka melihat ke kanan dan ke kiri, malu kalau sampai ada yang mendengarnya dan untung saja tidak ada orang.
Kenzo segera masuk ke dalam mobil dengan wajah puas. Mobil itupun langsung pergi meninggalkan gedung apartemen itu.
Leka terlihat syok dan menahan tangisnya, tapi ia ingat Runi hingga buru-buru masuk ke dalam gedung.
"Bu!" Satpam apartemen memanggilnya.
"Iya?" Leka menyeka wajahnya yang basah kena air hujan.
"Ada paket lagi Bu."
"Mmh?"
Satpam itu memperlihatkan sebuah dus berukuran besar.
"Dari siapa?"
"Aku tidak tahu Bu. Ini tolong ditanda tangan."
Leka memberikan tanda tangan. "Tapi aku bawanya bagaimana?" Ia memperbaiki gendongannya pada Runi.
Satpam itu kemudian membantunya membawa ke atas. Leka membiarkan dus itu di lantai sementara ia membawa Runi ke lantai dua untuk mandi karena sudah mulai bersin-bersin. Ia pun juga mandi bersama Runi. Setelah itu ia memeriksa paket itu.
Nama dan alamat di paket itu di tulis dengan tulisan tangan yang sama seperti pengirim keranjang buah kemarin dan dengan tulisan pesan yang sama : Semangat. Leka membukanya. Isinya berbagai macam makanan ringan seperti keripik, puding dan permen. Ini kan bisa di makan bersama Runi? Berarti orang ini juga tahu keberadaan Runi, siapa dia? Kenapa dia mengirimkannya kepadaku bukan kepada Aska? Apa dia memperhatikanku? Tapi siapa?
Leka benar-benar dibuat bingung oleh si pengirim misterius ini.
"Unda ...." Runi yang ikut berjongkok bersama ibunya memeriksa dus itu dan menyodorkan puding.
"Kamu mau ini?"
Runi mengangguk.
"Sebentar Bunda ambilkan sendok." Leka berdiri.
-------------+++-----------
Sudah larut malam tapi tak ada tanda-tanda Aska pulang ke rumah. Saat itu sudah pukul 9 malam. Hujan mulai reda dan Leka berinisiatif menelepon suaminya.
Di saat yang sama ternyata mobil Aska terperosok di kubangan air, satu rodanya sehingga ia sulit untuk menjalankan mobil. Padahal ia masih jauh dari rumah. Tempat itu juga jauh dari rumah penduduk sehingga ia harus mengusahakan sendiri agar mobil bisa jalan. Hujan pun masih cukup deras dan ia mengakalinya dengan mencari batu-batu di sekitar situ untuk mengganjal dan memenuhi kubangan air tersebut. Sudah beberapa kali ia mencoba menjalankannya tapi belum bisa terangkat rodanya sedangkan tubuhnya sudah basah kuyup di terjang hujan yang begitu deras. Sudah sejam ia melakukan itu hingga sebuah mobil berhenti di persimpangan sepi itu dan supirnya membantunya mendorong mobil hingga berhasil terlewati.
_______________________________________________
Ada lagi novel karangan Author Nophie berjudul Rebith : Pembalasan dendam tuan muda bercerita tentang sebuah reinkarnasi.
__ADS_1