Sungai Rindu

Sungai Rindu
Pilihan Sulit


__ADS_3

Baby sitter Runi juga mengekor mengikuti Aska masuk ke dalam rumah, tinggal Kenzo yang berdiri tercengang sendiri.


Leka sudah bertunangan? Apa aku datang terlambat? Ah, kenapa aku bisa datang terlambat? Mata pria itu berkaca-kaca. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan lunglai.


Jadi kedatanganku sia-sia? Ia masuk ke dalam kamar sambil bersandar di pintu. Pria itu berusaha menghela napas.


Belakangan hidup Kenzo mulai tampak tenang, setelah bisa berdoa dan bersedekah atas nama orang tuanya. Mengingat ayahnya yang begitu banyak dosa pada banyak orang, ia merasa telah bisa meringankan dosa orang tuanya yang menyebabkan dirinya kini bisa berdamai dengan masa lalu. Setidaknya berpikir bahwa dosa orang tuanya bisa diampuni oleh Allah, Kenzo merasa bebannya mulai berkurang dan bisa menata kembali hidupnya.


Yang Kenzo tidak tahu, Leka dan Aska bertengkar kemudian dan Baby Sitter itu berusaha menyelamatkan Runi dengan membawanya ke kamarnya. Ani menatap Runi dengan kasihan. "Kenapa ya keduanya selalu bertengkar, heran aku. Kelihatannya memang keduanya punya sifat yang berbeda yang gak bisa di satukan. Biar bagaimanapun Pak Aska sayang sama Ibu Leka kalau Ibunya gak mau ya gak bisa. Pak Aska juga sih kadang kalau bicara suka kasar dan berbohong, lama-lama Ibu juga gak tahan sama dia. Aku juga kalau punya pacar ganteng kayak Pak Aska juga gak mau kalau mulutnya kasar." Ia memeluk Runi dan mengusap punggungnya karena gadis kecil itu terlihat gelisah. Runi juga tidak begitu suka pria yang ia panggil 'Om' itu dekat dengan ibunya. Selain sering bertengkar dengan ibunya, ibunya juga terlihat tidak bahagia. Ia tidak suka dengan orang yang membuat ibunya tidak bahagia.


"Leka, kenapa sih kamu belum mau rujuk juga denganku? Tiga bulan masa iddahmu sudah lewat. Kalau kamu ingin kita menikah lagi di KUA, tidak apa-apa, aku akan segera mengurusnya karena aku juga ingin kita melegalkan pernikahan kita biar tidak ada kejadian seperti kemarin, bilang cerai dan lantas langsung kita berpisah. Aku tidak mau lagi itu terjadi. Aku mau tetap utuh bersamamu." Aska menggenggam tangan mantan istrinya itu dengan penuh harapan. "Aku juga ingin mengadakan pesta keluarga ...."


"Bang, aku tidak ingin kembali padamu." Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Leka. Ia menarik tangannya dari genggaman tangan mantan suaminya itu.


"Leka, kau bicara apa? Aku mencintaimu. Bukankah kalimat ini yang kau tunggu selama ini dan akhirnya aku bisa pastikan itu padamu. Jangan buat jerih payah ini tak berguna. Leka, aku mencintaimu dan ingin yang terbaik untukmu dan anak kita. Apa kau ingin anak kita kehilangan ayahnya? Orang tua kandung tetap yang terbaik untuk lingkungan anak kita, apa kau tidak memikirkan itu?"


"Bang, anak itu butuh orang yang menyayanginya bukan keluarganya."


"Kata siapa?"


"Ibumu."


Air muka Aska berubah masam.


"Bukankah kamu juga hidup dengan keluarga yang tidak ada hubungan darah denganmu? Jadi jangan jadikan itu menjadi sebuah alasan ya Bang."


Aska merengut kesal. "Kau juga jadi manusia tidak tahu berterima kasih. Giliran aku dan keluargaku mengangkat harkat dan martabatmu kau malah melupakan kami."


Leka mengerut dahi. "Apa maksudnya?"


"Kau tinggal dengan fasilitas orang tuaku, mendapat uang dan pekerjaan dari mereka tapi kamu tidak mau menikah denganku itu curang namanya!" ucap Aska kesal. "Kau kan tidak bisa hidup tanpa bantuan mereka kan?" Ledeknya lagi.


Telinga Leka panas. Inilah yang dihindarinya karena Aska bisa menekannya sewaktu-waktu dengan membicarakan fasilitas yang diberikan orang tuanya pada Leka. Wanita itu benar-benar kesal. "Pergi kau dari sini ... pergi!!!" teriak Leka dengan nanar. Wanita itu membuka pintunya lebar-lebar.


"Leka tolong dengarkan aku. Aku melakukan ini untukmu agar kau mengerti perjuangan cintaku Sayang. Menikahlah denganku." Aska sadar ia telah salah bicara hingga Leka mengusirnya. Rasa kesalnya membuat ia tidak bisa mengontrol mulutnya yang terdengar kasar.


"Aku bilang pergi, pergiii!!!" teriak Leka lantang menunjuk arah luar.


Aska dengan malas keluar karena satpam juga telah menjemputnya ke dalam rumah. Setelah Aska pergi, Leka segera masuk ke dalam kamar. Lama ia mematung dalam diam hingga Ani mengetuk pintu kamarnya.


"Bu, Runi tidur sama Ibu kan?"


"Oh, iya. Maaf." Leka membuka pintu. Ia mengambil Runi yang mulai mengantuk. "Maaf ya Ani, aku menyusahkanmu terus."

__ADS_1


"Iya, ngak apa-apa Bu." Ani menutup pintu.


Leka kembali ke tempat tidur dan menidurkan Runi. Ia bingung. Masa iddahnya telah berakhir dan ia tidak ingin kembali pada Aska mantan suaminya itu, jadi sekarang ia harus bagaimana? Ia teringat pada Kenzo yang baru di temuinya itu. Tentunya ia tidak bisa minta tolong Kenzo untuk menikahinya tapi setidaknya bisa minta tolong padanya untuk pindah dari rumah itu. Ya, hanya Kenzo yang bisa ia mintai tolong.


Setelah menidurkan Runi, Leka keluar mendatangi rumah Kenzo. Walaupun mulai larut malam, ia yakin Kenzo belum tidur.


Ketika di persilahkan masuk, ia menunggu di ruang tamu. Ia melihat pria itu menuruni tangga dan mendatanginya. Ada suasana rindu yang mengudara seketika tapi ada yang lebih penting lagi menyeruak di antara mereka berdua. Nasib Leka.


"Assalamualaikum Kak. Maaf malam-malam datang ke rumah. Maaf ya? Apa Kakak terganggu?"


" Waalaikum salam. Oh, tidak."


Kemudian ada jeda di antara mereka. Kenzo dengan kerinduannya dan Leka dengan pengharapannya.


"Apa ... Kakak bisa membantuku?" Leka yang berusaha menundukkan kepala kembali melirik Kenzo, segan.


"Bantu? Membantu apa? Bukankah kamu punya mertua untuk dimintai tolong? Aku orang luar jadi sulit rasanya ikut masuk ke dalam masalahmu."


Leka terdiam. Mengingat ia pernah membuat Kenzo kesulitan karena posisinya, Leka terpaksa menyerah dengan jawaban pria itu. "Eh, maaf ya Kak, mengganggu." Ia segera berdiri dan pamit.


"Eh, Leka ...."


Namun wanita itu sudah keburu pergi. Kenzo kemudian menyesali kenapa ia tidak menanyakan dulu masalahnya karena pasti bukan hal yang mudah hingga wanita itu harus malam-malam datang ke rumahnya.


-----------++++------------


Pagi itu pagi yang cerah. Matahari bersinar cukup meneduhkan. Saat sarapan berdua Ani, Leka mengatakan rencananya.


" ... Maaf ya Ani, tapi aku sudah berniat kembali ke kampung saja karena aku merasa tidak cocok jadi orang kota."


"Iya Bu, tidak apa-apa."


"Nanti aku akan kasih gaji terakhirmu dan kamu akan aku titipkan pada Pak Kenzo."


"Iya Bu."


"Nanti sehabis sarapan, bereskan saja barang-barangmu, setelah itu kita ke rumah Pak Kenzo."


Setelah Ani selesai membereskan barang-barangnya, ia ikut Leka ke rumah Kenzo.


"Apa? Kamu pulang kampung?" Kenzo terkejut. "Tapi bagaimana kalau Aska ...."


"Beritahukan saja padanya." Leka menyerahkan kunci rumah pada Kenzo sekaligus kartu hitam milik mantan mertuanya Chris. "Ini milik Pak Chris, tolong kembalikan sekalian titip Baby Sitter Runi."

__ADS_1


"Eh, tapi Leka ...."


Leka menatap Kenzo. Ini mungkin untuk terakhir kalinya ia bisa bertemu dengan pria itu. "Tolong ya Kak ...." katanya lirih. Ia kemudian meninggal rumah itu dan mencari ojek.


Pemberitahuan yang mendadak dari Leka membuat ia bingung, ada apa dengan Leka dan Aska. Bukankah mereka telah bertunangan tapi kenapa Leka malah pulang kampung? Apa Leka ingin liburan saja atau memang mereka ada masalah?


Ia masih menimbang-nimbang apa yang terjadi dengan Leka dan berjalan ke arah pagar, saat itulah mobil Aska datang ke rumah wanita itu.


Sejak kedatangan Kenzo sebenarnya Aska sedikit takut Leka melirik Kenzo karena ia tahu mantan istrinya itu dekat dengan pria itu. Apalagi Monique kini setiap hari mengirim pesan untuk bertemu dengannya. Ia ingin segera menikah dengan Leka agar mempermudah jalannya untuk tetap bersama sebelum masalah Kenzo dan Monique muncul ke permukaan. Ini adalah bom waktu yang setiap saat akan meledak dan saat waktunya tiba, ia tidak akan menceraikan istrinya, apapun yang terjadi. Ia begitu takut kehilangan mantan istrinya itu.


"Eh, Leka pulang kampung," beritahu Kenzo.


Aska tercengang. Ia baru akan masuk ke dalam rumah Leka dan Kenzo memberitahukan itu. "Dari mana kau tahu?" Ia mendatangi Kenzo di pagar.


Kenzo memperlihatkan kunci rumah wanita itu pada Aska. "Ini kunci rumahnya. Ia baru saja memberikannya padaku."


"Baru? Dia baru pergi?" Aska memastikan.


"Iya, itu Baby Sitter-nya ada di rumah." Kenzo menunjuk Ani yang keluar rumah saat melihat Aska.


Aska semakin terkejut. Ia segera menaiki mobilnya dan memutar arah lalu meninggalkan mereka.


"Ada apa sebenarnya di antara mereka?" Dahi Kenzo berkerut.


"Mereka semalam bertengkar Pak." terang Ani.


"Bertengkar kenapa, bukankah mereka bertunangan?"


"Oh ... itu." Ani tertawa kecil. "Pak Aska bohong Pak, mereka belum bertunangan. Malah kemarin Ibu Leka mengusir Pak Aska karena kata-katanya sepertinya menyinggung perasaannya."


"Memang Pak Aska bilang apa?"


Ani jadi serba salah. "Wah, nanti aku di tuduh pengadu lagi Pak." Ia menggaruk-garuk kepalanya.


Kenzo menghela napas. Harusnya semalam ia mendengarkan Leka. Ia keburu kecewa mendengar dari mulut Aska bahwa mereka telah bertunangan hingga ia sibuk menata hatinya yang kehilangan kesempatan. Sekarang apa ia masih punya kesempatan lagi untuk bisa mengutarakan isi hatinya?


Sebuah mobil tengah membuntuti Leka hingga stasiun kereta api. Mobil itu berhenti saat ojek Leka menepi.


"Bu, ini kita sedang membuntuti wanita itu Bu. Dia sedang pergi ke stasiun kereta api sendirian bersama anaknya yang masih kecil." ucap pria yang menyetir mobil pada seseorang di telepon.


"Bagus. Culik saja dia. Sekap dia di sebuah gudang." ucap suara wanita di ujung sana.


"Baik Bu." Pria itu menutup hp-nya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menyergap wanita itu. Setelah melihat Leka mulai turun dan menuju stasiun, ia mengajak teman-temannya yang lain yang berjumlah 3 orang untuk turun dan menyergap wanita itu.

__ADS_1


Seorang dari mereka menghadang Leka di depan. "Mau ke mana mbak?"


__ADS_2