
Mmh. Kalau dia tidak jualan malam, apa dia jualan hanya siang saja? Pecel ayam jualnya biasanya kan malam? Apa terlalu banyak saingan malam? Kalau dia jualan siang, apa dia tidak jualan juga paginya, soalnya dia nasinya pakai nasi uduk, tadi. Apa dia juga jual untuk sarapan? Aduh, besok ke kantor lagi. Lihat besoklah Mudah-mudahan dia juga jualan sarapan pagi. Aska memutar mobilnya kembali pulang. Aku makan di rumah saja, mudah-mudahan masih ada yang bisa dimakan.
Di rumah ternyata makanan sudah habis. Ijah pembantu bagian masak kebetulan menyimpan mi instan untuk darurat.
"Jah, bikinkan aku mi kuah pakai telur, sayur, juga irisan cabe dan bakso."
"Baksonya habis Kak."
"Ya sudah, yang ada saja."
"Iya, Kak."
"Apa, apa, kamu masak apa?" Terdengar suara Chris dari belakang.
Aska menoleh. "Itu Pa, aku lapar mau makan mi instan."
"Mi instan seperti apa?"
"Masa Papa belum pernah makan?" Aska sudah merasa Chris bakal mencoba makanan ini.
"Belum. Coba buat, sepertinya enak."
"Oh, iya Pak." Ijah membuat dua untuk majikannya.
Chris dan Aska kemudian makan berdua di meja makan.
"Mmh, ini enak bumbu mi instannya, ditambah sayuran, telur dan ... daging mungkin."
"Biasanya di masukkan bakso Pa."
"Oh, begitu. Mmh, varian minya juga pasti banyak ya?"
"Ya memang begitu Pa."
"Biasanya di masukkan bakso apa? Sapi?"
"Kalau orang Indonesia lebih suka sapi Pa."
"Oh, begitu. Mmh, aku ada ide untuk frozen food(makanan dingin) kita."
"Uda, kamu makan apa?" Reina keluar kamar dan mendapati Chris makan dengan Aska.
"Ini honey(sayang), aku mencoba mi instan kuah, rasanya enak sayang."
"Oh, kamu belum pernah coba ya?"
"Iya, padahal aku sering lihat orang makan di kantin kantor. Aku pikir kalau makanan murah pasti tidak enak. Eh, ternyata enak. Aku penasaran karena Aska mencobanya. Cobalah honey, hangat di perut dan rasanya segar."
Reina mencoba kuahnya. "Eh, ini pedas. Uda harus kurangi yang pedas-pedas dulu, kan kemarin maagnya kambuh. Mi kuning juga tidak boleh, ini bikin kembung."
"Ayolah honey, sekali ini saja." Chris memelas.
Aska sudah menyelesaikan makannya. Ia tidak mau terlibat drama pertengkaran mereka jika mereka sedang bertengkar, karena yang menang selalu ... Mamap. Kecuali Mamap berbaik hati membolehkan.
"Rasanya enak sekali padahal." Chris terlihat sedikit menyesal, berharap istrinya memberi izin.
"Ya sudah, tapi kuahnya jangan di minum terlalu banyak."
"Oh, ya. Aku akan habiskan tanpa kuah." Chris segera memakan sisanya dengan gembira.
__ADS_1
"Dan pinggiri juga cabenya." Reina melihat cabe yang telah diiris di tengah mangkok.
Dengan segera Chris menepikan cabenya. Ia mengangkat jempol sambil makan.
"Ini yang terakhir ya? Setelah itu puasa dulu."
"I love you honey, so much.(Aku mencintaimu sayang, sangat.)"
Tak lama Aska pamit pulang ke apartemennya. Walau raga tak berdaya, ia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu, meletakkan kunci mobil dan jam tangan di atas meja nakas dan membanting tubuhnya ke atas tempat tidur.
Ini yang ia lakukan setiap hari, tapi sebentar lagi akan berubah saat menemukan Leka. Karena sudah ada di Jakarta, wanita itu bisa muncul kapan saja dan dari arah mana saja. Hanya masalahnya, saat bertemu dengannya, apa ia bisa mengontrol keadaan?
Biasanya kalau sedang stres seperti ini, ia gampang lapar. Untung bisa makan mi instan tadi, tapi besok pagi ia harus mendapatkan makanan enak agar mood-nya(suasana hati) kembali.
Ah rasanya, hanya sambal pecel ayam tadi siang saja yang bisa mengobatiku. Aku harus makan itu sekali lagi agar aku merasa nyaman. Kalau di pikir-pikir masakannya seperti masakan Almarhum Bunda dulu semasa masih hidup. Setiap kalah main bola atau habis kalah berkelahi dengan teman, aku makan makanannya dan langsung nyaman. Amarahnya reda, tidak tahu kenapa.
Dan sekarang mencari makanan favorit seperti yang dia suka seperti masakan Bundanya sangatlah susah karena di rumah selera makannya kebanyakan Internasional sekali. Yakiniku, Bimbimbab, Steak, kecuali saat Mamapnya masak di rumah, tapi Reina sibuk dengan toko bunganya. Lidahnya memang lebih suka makanan Indonesia tapi sulit sekali mendapatkannya, karena itu ia sering memburu makanan itu dengan rasa terbaik saat ia stres atau sekedar menyenangkan hatinya.
------------+++------------
Pagi itu Aska terbangun seperti biasa dan pergi mandi. Setelah sholat Shubuh ia bersiap berangkat kerja. Ia memburu, turun dari lift ke dalam mobilnya dan segera menuju ke tempat pedagang pecel ayam kemarin berada, dan ternyata ... ramai hingga memacetkan jalan yang cukup lebar itu.
Benar kan, dia jual sarapan juga. Makanya dia gak jualan malam. Ia turun dan mendekati antrian. Baru sekitar 15 menit antri, antrian di depannya membubarkan diri. "Ada apa?"
"Habis bang."
"Hahh ...." Aska menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya. "Memangnya sedikit bikinnya?"
"Kabarnya dia sendirian jualannya bang."
"Astaga, nekat banget tuh orang!"
Aska melihat kembali terpal lusuh di depannya yang di penuhi pembeli yang makan di tempat. Orang rela berdesak-desakan untuk makan pagi di tempat, itu pasti luar biasa. Makanannya pasti enak.
Aska mengeratkan genggaman. Ok, nanti siang aku harus bisa mendapatkan makanannya. Bagaimanapun caranya! Ia kembali ke mobil.
Leka masuk ke dalam rumah, sambil membawa wadah-wadah yang sudah kosong. Ia menatap Runi yang sedang berbaring di atas kasur tipis. Tadi pagi tubuhnya sedikit demam dan agar rewel diajak mandi jadi Leka belum memandikannya. Wanita itu mulai mencuci wadah-wadah itu.
Jam 10 di kantor, Aska sudah mulai gelisah. Ia ingin keluar dari kantor segera, tapi bagaimana caranya?
Ia kemudian memijit-mijit kepalanya sambil menyambar kunci mobilnya. "Aduh, aku ngak enak badan. Aku keluar beli obat dulu ya?"
Hanya Zaki sahabatnya yang berada di sudut yang lain tersenyum melihatnya. Ya, bukan sekali ini saja Aska mangkir demi mengejar makanan favoritnya, dan alasannya selalu sama, sehingga gampang di tebak ia mau pergi ke mana.
Di luar ia segera lari ke arah lift dan menunggu di sana. 5 menit kemudian mobil Aska sudah berada di jalan.
Leka sedang melayani pesanan untuk di bawa pulang. Ia mengangkat beberapa ayam goreng dan lele goreng ke sebuah wadah dan mematikan api kompor. Segera ia memasukkan ayam dan lele itu ke dalam bungkusan yang telah berisi nasi dan tempe goreng, satu-satu dan kemudian mengikatnya dengan karet. Ia menumpuknya di 2 bungkusan besar plastik dan menyerahkannya ke pelanggan.
Pelanggan itu menyerahkan uangnya. "Pas ya mbak."
Leka menghitungnya. "Iya mbak, makasih."
Ia kemudian masuk ke dalam rumah karena ingin memeriksa Runi yang sedari tadi belum mau bangun dan tergolek lemah di atas kasur.
Belum terlalu jauh melangkah, seseorang memanggilnya. "Leka."
"Candi? Kamu tidak kerja?" Leka memutar tubuhnya berdiri di pintu yang terbuka.
"Maaf, tapi aku benar ingin makan makanan buatan kamu. Kalau telat sedikit, aku bisa kehabisan seperti tadi pagi."
__ADS_1
"Oh, tadi pagi kamu ikut ngantri?"
"Begitulah kalau di Jakarta Leka, makanan enak diburu orang."
"Ya sudah, kamu mau makan apa?" Leka kemudian memasakkan pesanan Candi dan membuatkan minuman.
Tak lama, ada lagi pembeli yang membawa pulang. Ia pun melayani. Setelah itu Leka masuk ke dalam rumah dan memeriksa Runi. Panasnya belum turun dan wajahnya seperti ingin menangis tapi di tahannya.
"Kenapa nak, ada yang sakit?"
Runi menggeleng.
"Apa ada yang gak enak, mmh? Bunda bikinin susu mau?"
Gadis kecil itu mengangguk.
Leka segera berdiri, tapi belum apa-apa Candi memanggilnya. "Leka."
Wanita itu menghela napas. Ia segera keluar. "Kamu mau apa?"
"Bisa minta tambah sambalnya lagi?" Candi menyodorkan piringnya.
Leka mengambilnya dengan malas dan mengisikan dengan sambal yang tersedia di wadah. Ia kemudian mengembalikan piringnya pada Candi. Pria itu menerimanya tapi kemudian menahan lengan Leka.
"Kamu temani aku makan dong. Masa aku di sini sendirian."
"Candi, apa-apaan sih kamu ...." Leka berusaha menarik lengannya tapi Candi menggenggamnya lebih erat.
"Ya setidak-tidaknya jangan masuk ke dalam dulu. Aku di luar sendirian, seperti orang lain saja."
"Leka?"
Leka dan Candi menoleh ke sebuah sumber suara di depannya. Leka terkejut.
"Kamu, mau apa pegang-pegang tangan istriku?" Aska menatap Candi tajam.
Leka segera menarik tangannya cepat.
"Kamu juga. Oh, begitu. Kalau tidak ada suaminya, kamu enak-enakan bisa menggoda pelanggan dengan dalih jualan, begitu? Pantas saja kamu mau pindah ke Jakarta. Mau cari pria yang lebih banyak uangnya, iya?" Aska mengejek Leka.
Leka hendak membela diri saat Candi mengambil alih pembicaraan karena kesal. Ia berdiri. "Hei, aku tersinggung ya dengar ucapanmu! Aku ini teman sekampungnya, jadi tahu dia bukan perempuan yang kamu omongkan barusan. Dibanding kamu yang mengaku suaminya tapi tak pernah ada untuknya. Apa yang kamu bisa banggakan selain omong besar! Lelaki macam apa kamu, bisanya hanya menyalahi orang lain!" Ucap Candi dengan kasar.
Aska maju dengan garang menarik kerah baju Candi dengan kasar, tapi Candi bergeming. Leka datang berusaha melerai. Ia mendorong suaminya menjauh.
"Apa-apa sih bang, dia kan pelangganku!" Teriak Leka kesal.
Candi senang ia di bela Leka. Ia merasa dewi fortuna sedang berpihak padanya.
Aska tercengang. "Kenapa kamu membelanya? Aku kan suamimu. Apa kau begitu ingin bersamanya, iya?"
Leka memejamkan mata sesaat. Ia sudah lelah dengan semua ini. Tinggal tunggu pernyataan dari suaminya dan ini semua akan berakhir. "Kalau kau sudah tak menginginkan aku lagi, ceraikan saja aku Bang!" Teriaknya kesal.
Darah Aska serasa mendidih. Istrinya bukannya membela diri, malah minta cerai darinya. Padahal ia bersusah payah mencarinya sampai kekampungnya hingga tidak tidur, tapi malah tidak di hargai dengan kalimat ingin cerai. Apakah semudah itukah perkawinannya selama ini bagi istrinya? Semudah kata cerai itu? "Baiklah kalau itu yang kau mau. Kita ...."
Terdengar suara tangis anak kecil. Leka berlari ke dalam rumah. Aska mengikutinya pelan. Ia melihat seorang gadis kecil sedang di periksa oleh istrinya. Gadis kecil itu menangis minta di gendong dan Leka menggendongnya. Butiran air mata jatuh di pipinya yang mungil.
_______________________________________________
Ini visual Aiko, terima kasih dan terus dukung author receh ini dengan like, komen, hadiah dan vote. Salam, Ingflora.💋
__ADS_1