
"Kau kenapa?" Arya keluar dari mobilnya dan datang mendekat.
"Tidak apa-apa Pak." Leka segera membersihkan sisa-sisa air matanya.
Arya bisa melihat mata wanita di hadapannya itu memerah dan sedikit sembab. Wanita itu juga hampir menabrak mobilnya, keluar dari komplek apartemen itu tergesa-gesa tanpa melihat kanan-kiri.
Ia sebenarnya ingin membeli roti di kafe depan apartemen itu sekalian ingin melintas di depan apartemen itu, barangkali ia beruntun mendapat informasi tentang Leka dan Aska, tapi sepertinya keberuntungan memang berada di pihaknya, bertemu dengan Leka langsung dalam keadaan seperti habis bertengkar dengan Aska. Ia tiba-tiba mendapat ide brilian untuk memisahkan mereka.
"Tapi kenapa kau tergesa-gesa keluar?"
Tiin, tiiin ....
Rupanya mobil Arya menghalangi mobil lain untuk masuk.
"Tunggu di sini sebentar, aku parkir mobilku dulu."
"Mmh?" Mengapa pria ini menyuruhku menunggu? Apa aku harus bicara sesuatu padanya? Aah, aku bingung, aku harus berkata apa padanya?
Leka terpaksa menunggu ketika Arya masuk kembali ke dalam mobilnya dan memarkir mobil itu di dalam area parkir apartemen. Pria itu kemudian kembali mendatangi Leka.
"Kau kenapa, dimarahi majikanmu?"
"Apa?" Aku harus bilang apa? Ah, Aska! Kau menyusahkanku saja.
"Kalau kau sudah tidak cocok bekerja dengannya, berhenti saja."
"Eh, itu ...." Aduuh, aku harus jawab apa? Leka benar-benar bingung memikirkannya.
"Kau takut tidak punya pekerjaan? Jangan khawatir, kau bisa bekerja denganku kok!"
"Eh, apa?"
"Ya sudah, sekarang kau mau bagaimana? Mau terus bekerja tapi hati resah atau kau mau berhenti bekerja dengannya dan pindah kerja padaku?"
Mata Leka membulat sempurna. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa karena ini semua serba tiba-tiba. "Aku ... aku ...."
"Ya sudah, aku temani kau bicara padanya. Kalau kau kesulitan, aku juga bisa bantu kau bicara." Arya menarik punggung Leka untuk kembali ke apartemen bersamanya.
Selama menunggu di dalam lift, Leka resah. Apa yang akan terjadi nanti, apa suaminya akhirnya akan membongkar cerita ini dan minta maaf pada Arya atau Arya akan melaporkan soal ini pada orang tua suaminya? Ia benar-benar bingung, harus senang atau malah takut pada pria ini.
Leka membuka pintu lift, juga pintu apartemennya. Tak di sangka suaminya menyambutnya. "Ah, Leka kau ...."
"Maaf Pak." Leka buru-buru memotong kalimat suaminya agar suaminya sadar, ia tidak datang sendirian.
"Eh?"
"Assalamualaikum." Arya ikut masuk ke dalam apartemen itu.
"Waalaikum salam." Aska benar-benar terkejut. "Om Arya?"
Arya melihat berkeliling. "Wah bagus juga interior apartemenmu. Baru kali ini aku masuk ke sini."
"Oh, iya. Silahkan duduk." Masih dalam keterkejutan, Aska menyilahkan Arya untuk duduk. "Oh, Leka. Tolong bikinkan minum."
"Oh, tidak usah. Aku hanya sebentar." Arya duduk di kursi sofa.
Aska benar-benar bingung melihatnya, ada angin apa sampai Arya datang ke apartemennya padahal mereka telah bertemu tadi di tempat latihan. Ia juga melihat ada gelagat aneh antara istrinya dan Arya.
"Tolong kau duduk sini Leka." Arya menepuk-nepuk kursi di sampingnya. Leka menghindari pandangan suaminya dan segera duduk di samping Arya. Ia sudah pasrah kalau nantinya ia akan bertengkar lagi dengan suaminya atau entah apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Aska terpaksa duduk di hadapan Arya. "Ada apa ya Om?"
Arya memperlihatkan wajah ramahnya yang penuh teka teki. "Bagaimana hubunganmu dengan pembantumu yang satu ini?"
Kalimat itu membuat mata keduanya saling memandang ragu, Aska dan Leka. Leka hanya menunduk bingung dan Aska, ia seperti kehabisan kata-kata.
"Aku baru saja melihatnya di bawah, hampir tertabrak mobilku."
"Oh, maaf. Pembantuku ini memang ceroboh."
Seketika Leka menatap suaminya dengan sorot mata menohok. Ia yang sudah kena tampar, sekarang di persalahkan dengan kalimat 'ceroboh'. Amarah Leka mulai memuncak.
"Tapi aku melihatnya seperti habis menangis."
"Oh, biasa. Ia memang agak sensitif. Tidak bisa kena marah sedikit, langsung ngambek, nangis."
Leka benar-benar kesal. Kenapa ia sekarang yang menjadi kambing hitamnya?
"Apa kerjanya kurang bagus atau bagaimana?"
"Ya, begitulah ...," ucap Aska sambil tersenyum.
"Kalau kau tak suka padanya, kau bisa memecatnya. Aku akan carikan yang baru. Oh, aku punya nomor telepon agensi yang bisa mencarikan pembantu. Mau?"
"Oh, tidak perlu. Aku masih memaafkannya. Pekerjaannya masih bisa di tolerir." Aska berusaha menepis kekhawatiran Arya.
Abaaaang ... Leka membatin, kesal.
Arya kemudian menoleh pada Leka. "Lalu bagaimana denganmu. Apa kau mau memaafkan majikanmu?"
Leka tertunduk dengan masih merengut.
"Sepertinya ia tidak menyukaimu." Arya menatap pria di depannya. "Atau begini saja. Kamu cari pembantu baru, biar Leka kerja padaku."
"Ayo Leka, cepat ambil barang-barangmu. Aku akan membawamu pergi sekarang."
"Sekarang?" Aska melongo. Leka juga tak kalah terkejutnya. Cepat sekali pria itu mengambil keputusan.
"Ayo Leka, tunggu apalagi." Arya mengingatkan.
"Eh, iya." Leka segera naik ke lantai atas. Di pikir-pikir ada baiknya mereka berpisah untuk sementara, karena iapun tak bisa berpikir jernih bila bersama Aska. Setidaknya bila pikirannya sudah tenang baru ia akan memikirkan lagi langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Toh suaminya hingga akhir tetap berusaha memainkan sandiwara ini.
Aska benar-benar panik. Pria di depannya dengan mudahnya akan mengambil Leka dari sisinya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Arya adalah teman ayahnya, Chris. Ia tak bisa sembarangan atau pria itu akan bicara dengan Chris. Di lain pihak, ia tidak bisa membocorkan sandiwara ini karena belum saatnya. Ia harus bicara dengan Leka.
"Eh, sebentar. Aku mau ke atas dulu."
"Mau apa?"
"Eh ... mau membayar gaji terakhirnya." Kilah Aska.
"Wah ... kamu baik sekali mau membayarkan gajinya yang baru beberapa hari, tapi tidak usah. Biar aku saja yang bayar."
"Eh ...." Aska benar-benar tak berkutik. Ia hanya bisa menelan ludah.
Arya bisa membaca kegelisahan Aska. Ia tahu pria ini seperti apa, karena ia melihat Aska sangat galak dengan hampir semua murid-muridnya di tempat latihan Wushu dan bagaimana tidak adilnya Aska pada Kenzo. Setidaknya, dengan mengambil istrinya sekarang ini, ia bisa membalaskan rasa sakit hatinya atas perlakukan Aska pada Kenzo. Pelan-pelan Arya mulai bisa tersenyum lagi. "Kapan kau butuh pembantu lagi, aku akan segera usahakan. Jadi kau tinggal katakan saja."
"Eh ... nanti saja Om. Aku ingin sendiri dulu." Aska menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya. Ia merasa hampir gila. Seseorang mencuri istrinya di depan matanya sendiri dan ia tak sanggup berbuat apa-apa.
Leka sudah membawa tas besarnya hingga sampai di ujung tangga.
__ADS_1
"Oh, biar aku bawakan." Arya segera berdiri dan mendatangi Leka. Ia membawakan tas Leka turun melewati anak tangga.
Leka dan Aska, pandangan mereka saling bertemu. Mereka harus berpisah karena Aska masih tetap ingin meneruskan sandiwara ini, walaupun ia tak rela Leka pergi darinya. Leka melengos dengan wajah dingin dan menyusul Arya karena ia tahu suaminya pasti tetap akan meneruskan ide gila ini entah sampai kapan hingga ia takkan mungkin mengakuinya sebagai istrinya. Mati sajalah kau dengan sandiwaramu itu! Umpat Leka kesal.
Arya mendorong Leka agar lebih dulu keluar. "Telepon saja ya, kalau kau butuh apa-apa."
"Oh, iya Om."
Pintu tertutup. Semua orang telah pergi. Tinggal ia di rumah itu kembali sendiri. Kenapa begitu cepat? Apa yang terjadi? Apakah aku baru saja berkhayal? Leka benar-benar pergi kan? Ini benar-benar terjadi?
Entah kenapa ada sesak di dada yang membuat air matanya berkaca-kaca. Ke mana semua kelembutan itu pergi? Runi yang berjalan mengitari ruang makan atau Leka yang menyiapkan sarapan untuknya tadi pagi. Sekarang hilang musnah di saat hatinya mulai ingin menetap pada keindahan hari yang di tawarkan keduanya setiap hari. Serasa khayalannya kini telah direnggut paksa, dan di biarkan terbalut sepi. Ya, sepi. Sepi yang tak berujung. Kenapa ia membiarkan ini terjadi? Kenapa? Kini ia sadar rencananya telah menghancurkan dirinya sendiri.
Arya menatap Leka yang terlihat gelisah. Mungkin juga ragu, ia tidak tahu, tapi ia sudah tak sabar ingin melakukan rencana berikutnya.
Terdengar seperti suara teriakan yang keras dari atas sana. Mungkin itu suara Aska yang sedang berteriak, Entahlah, tapi itu cukup untuk membuat Arya bisa menyunggingkan senyum di bibirnya.
Leka kemudian naik mobil Arya, dan mobil berjalan pelan.
"Ok, sekarang kamu bekerja padaku ya?"
"Ya?" Leka menatap Arya sekilas. Aku jadi pembantu sekarang. Aku kerja di bagian apa ya?
"Jadi kamu melakukan apa yang aku minta."
"Iya ...." Leka masih melirik Arya.
Runi juga sama. Ia kembali melihat pria itu lagi. Ingatannya kembali pada pria yang ia panggil 'Papa'. "Papa."
"Apa?"
Leka menjadi malu. "Ah, itu. Ia ingat Kenzo karena bernyanyi papa-papa."
"Oh, itu." Arya tertawa. "Tapi pekerjaan ini juga berhubungan dengan Kenzo. Aku memanggil Kenzo dengan Jo."
"Ya?" Leka terlihat gugup.
"Kau akan memandikannya."
"Apa?" Leka terkejut mendengarnya. "Pak, Bapak bicara apa?" Wajahnya merah padam.
"Oh, bukan itu maksudku. Hanya dari dada ke atas."
"Biarpun begitu ... Ah, apa bapak sudah gila? Aku bukan orang seperti itu!" Teriak Leka marah. Ia memukul bahu Arya.
Arya memiringkan bahunya. "Eh dengar dulu, Jo baru selesai di operasi."
"Operasi?" Mata Leka mendelik sempurna.
"Saat ia SMA di Jepang ia menyaksikan sendiri bagaimana orang tuanya di bunuh dan rumahnya di bakar tapi ia selamat dari musibah kebakaran itu. Hanya saja ada luka bakar disekitar bawah dadanya. Ia sudah dioperasi sekali untuk menyempurnakan tubuhnya, tapi ia butuh beberapa kali operasi lagi agar tubuhnya sempurna."
"Oh."
"Daripada aku menyewa perawat lagi kan, aku lebih baik memintamu memandikannya. Lagipula kalian kan saling kenal. Dulu istriku yang biasanya merawat Jo."
Leka kembali melirik Arya, prihatin. Ia tidak menyangka Kenzo punya masa lalu yang menyedihkan. Bahkan lebih menyedihkan dari kisah hidupnya. "Maaf Pak, tadi aku ...."
"Tidak apa-apa."
_____________________________________________
__ADS_1
Terima kasih reader yang masih terus membaca novel ini. Jangan lupa penyemangat author, like, komen, vote dan hadiah. Apalagi koin. Ini visual Arya, yang sayang anak dan istrinya itu. Salam, Ingflora 💋