Sungai Rindu

Sungai Rindu
Mal


__ADS_3

"Mmh?"


Arya menyungging senyum di bibirnya. Kenzo sudah mulai berani menyatakan perasaannya dan memperlihatkan pada semua orang dia suka pada Leka.


"Jangan begitu Kak." Leka mencoba menarik tangannya tapi Kenzo tak lepaskan.


"Gak apa-apa kan aku jujur," ucap Kenzo sambil menatap Leka yang berdiri di sampingnya.


"Oh, selamat ya? Mudah-mudahan bisa sampai ke pelaminan."


"Oh, iya Ra. Terima kasih doanya."


"Di jaga ya, pacarnya ya," ucapnya pada Leka.


"Eh? Mmh ...."


Rara melipat stetoskop dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar itu. Ia pun berpamitan. Arya mengantarnya keluar. Setelah mobil Rara keluar dari rumah itu, ada setetes air mata wanita itu yang jatuh mengalir melewati pipinya.


Wanita itu, pasti istimewa, yang telah membuat pendirian Kenzo selama bertahun-tahun untuk tidak menikah, runtuh. Padahal Kenzo tidak ingin menikah pasti karena trauma masa lalunya dan setelah bertemu wanita itu, trauma itu hilang dengan sendirinya. Mungkin inilah yang disebut jodoh. Walaupun tidak rela aku harus ikhlas. Dia lebih unggul dari aku karena telah menyembuhkan trauma yang di derita Kenzo selama ini.


Di dalam kamar Kenzo, Leka protes. "Kak, jangan bilang ke orang-orang begitu Kak, kita kan gak pacaran."


"Ya sudah, kita pacaran saja sekarang."


"Kak, aku bukan orang baik-baik seperti yang kau pikirkan."


"Kalau itu biarkan aku sendiri yang menilai. Tidak usah pusing dengan omongan orang lain."


"Tapi Kak ...."


"Maaf, aku mau kerja dulu. Nanti kita ketemu lagi jam sebelas ok?" Kenzo menarik laci meja nakasnya dan mengeluarkan laptopnya.


Leka menghela napas. "Iya Kak." Ia berjalan perlahan tertunduk keluar kamar.


Kenzo membuka laptopnya, dan menyungging senyuman melihat punggung wanita kesayangannya itu yang berjalan tertunduk keluar dari kamarnya.


Jam sebelas Leka masuk ke kamar Kenzo. Pria itu masih berkutat dengan laptopnya dan sepertinya sedang bicara sesuatu dengan seseorang dalam bahasa asing. "Oh, yes. Ok. I'll take all the risk. Tell me if you done it already.(Oh, ya. Ok. Aku terima resikonya. Katakan padaku jika kamu telah menyelesaikannya.)" Ia kemudian mematikan layar laptop saat melihat Leka masuk dan melipatnya.


"Kak kalau masih sibuk, gak apa-apa Kak, lain kali saja." Leka telah berpakaian rapi dan menggendong Runi.


"Oh, kalau ini aku tak akan lewatkan. Sudah bosan aku di dalam rumah terus seperti seorang penyakitan. Aku ingin menghirup udara segar, dan melihat sesuatu yang berbeda di luar sana." Kenzo memasukkan laptopnya ke dalam laci meja nakas. "Tunggulah di bawah, aku akan segera berganti pakaian." Ia menarik baju kaosnya ke atas.


Leka menutup pintu dan turun ke lantai bawah. Ada beberapa pembantu yang berbisik-bisik melihat kehadirannya di ruang tamu. Tak sengaja ia mendengar kata-kata mereka yang membuat dirinya gelisah.


"Eh, enak sekali ya, baru jadi perawat langsung bisa pacaran dengan majikan. Aku juga mau tuh, kan sama-sama orang kampung."


Kenzo menuruni tangga. Leka berdiri dan mendatangi pria itu. "Kak, aku jadi gak enak Kak. Banyak yang tidak suka kita pergi berdua Kak."


"Oh, itu. Siapa yang tidak suka pacarnya bisa jadi perawatnya, hah? Pasti banyak yang ingin seperti itu dan aku termasuk yang beruntung," jawab Kenzo dengan suara keras. Itu ia lakukan agar orang tidak salah sangka terhadap Leka.


Leka mengerucut mulut dengan pipi merah merona.


"Ayo, Sayang." Kenzo memberikan lengannya pada Leka.


Dengan malu-malu Leka meraih lengan pria itu dan berjalan keluar. Mereka menunggu mobil datang. Kenzo membukakan pintu untuk Leka dan juga membantu menutupkannya, kemudian ia berjalan melingkari mobil dan masuk di pintu yang satu lagi.

__ADS_1


Kenzo berdehem. "Maaf ya tadi aku sebut Sayang. Aku sebenarnya tidak biasa menyebut wanita dengan panggilan itu." Ia mengusap belakang kepalanya.


"Tidak apa-apa Kak." Leka menjawab dengan tersipu-sipu.


"Hah! Aku harus bagaimana? Hanya pria ini yang mampu memberiku bahagia saat ini. Aska!!! Jangan menyesal nanti kalau aku jatuh cinta padanya! Kau yang membuatku tersasar ke rumah ini dan selama kau masih belum bisa mengakuiku entah apa yang akan terjadi di antara aku dan dia. Apapun bisa terjadi. Aku terpercik api dan api itu bisa menjadi besar. Kau membiarkan aku tergoda olehnya, kau sendiri yang akan rugi.


Hah ... suatu saat suamiku pasti akan membawaku pergi karena pada dasarnya aku memang istrinya kan? Leka melirik Kenzo yang tersenyum manis padanya. Biarlah aku nikmati hari-hari indah bersamanya, agar saat ia tahu aku telah menikah, ia akan membenciku hingga ke akar-akarnya. Ya, bencilah aku sebenci-bencinya saat kau tahu aku telah membohongimu. Biarkan aku menikmati apapun yang kau tawarkan padaku sekarang. Sepertinya aku jatuh hati padamu Kenzo, akan tutur katamu yang lembut dan kebaikan hatimu padaku. Aku sepertinya akan susah berpaling, kalau terus-terusan berada di sampingmu.


Di kelas 5A, kelas Lydia, anak-anak heboh membicarakan Lydia yang tiba-tiba menjadi cantik. Banyak anak laki-laki yang sering menjahilinya sekarang gigit jari. Sekarang tidak ada lagi yang ingin menjahili rambut Lydia yang tergulung cantik.


Di kelas Zack juga ada anak baru yang bikin heboh. Pemuda tampan tapi sombong bernama Raka. Ia memilih teman yang bisa menjadi temannya dan teman perempuan yang bisa bicara padanya pun harus sesuai standarnya, kalau tidak ia tidak akan menjawab sapaannya. Itu di ketahui Zack saat makan siang.


Kembali Zack mencari Lydia. Kali ini ia menemukan Lydia kembali makan sendiri.


"Kenapa sih, cari Lydi terus. Apa kita tidak bisa makan berdua saja," protes Aiko yang kembali membuntutinya.


"Kalau kamu tidak suka makan dengan Lydi kamu bisa makan sendiri saja, aku tidak pernah memaksa." Zack yang sudah membeli roti dan susu kotak kembali meneruskan langkahnya tapi kemudian terkejut karena melihat Raka mendekati Lydia. "Hei, jangan dekat-dekat, itu adikku." Zack mendatangi mereka berdua.


Raka dan Lydia menoleh. Saat Zack duduk di samping Lydia, gadis itu segera merapat pada Zack.


"Oh, dia adikmu. Kenapa kalian tidak mirip?" Raka mengerut alis.


"Bukan urusanmu! Pergi sana, jangan dekati Lydi lagi."


"Oh, namamu Lydi. Ok, cantik. Nanti kita ketemu lagi. Susah bicara kalau ada kakakmu yang galak ini." Raka pun pergi.


"Makasih Kak."


"Iya gak apa-apa, ayo kita makan."


"Sudah ah, jangan bikin masalah. Aku suka kok dandanan Lydi yang sekarang. Lebih rapi," terang Zack.


"Iya Kak?"


"Pastinya dong. Rambutmu jadi gak maju-maju saat menulis kan?"


"Iya Kak."


"Nah itu." Zack membuka bungkus rotinya dan mulai menggigitnya.


Leka, Kenzo dan Runi telah sampai di Mal. Saat itu azan Zuhur.


"Ayo kita ke lantai paling atas dulu. Di sana ada tempat untuk sholat," terang Kenzo di dalam lift. Mereka sampai ke sebuah ruangan yang amat luas dengan di pisah oleh kain yang menggantung di tengah. Pintu masuk lelaki di kiri dan wanita di kanan. Tempat berwudhu pun terpisah hingga mereka berwudhu di tempat masing-masing dan masuk ke tempat sholat.


Banyak ibu-ibu yang tertarik pada Runi, gadis kecil yang berdiri di samping Leka saat wanita itu memakai mukena pinjamannya.


"Eh, adik kecil. Siapa namamu?" Seorang wanita muda menyentuh tangannya.


Runi langsung memeluk kaki ibunya.


"Runi, Tante," sahut Leka memberitahu. Ia membungkuk hingga Runi bisa memeluknya, malu.


"Oh, lucu sekali anaknya Kak," ucap wanita itu. Dua temannya juga ikut membungkuk melihat Runi.


"Ih, gemes!"

__ADS_1


Runi makin memeluk erat Leka.


"Ngak apa-apa Runi, mbaknya cuma bercanda." Beritahu Leka.


Runi menatap ibunya. "Oh, oh ...."


"Duduk di sini ya nak. Bunda sholat dulu." Leka menoleh pada ketiga wanita itu. "Maaf mbak, jangan digoda, anaknya panikan."


"Oh, iya iya. Saya gak ganggu kok."


Namun tetap saja, selama Leka sholat, ketiganya memanggil-manggil Runi walaupun tidak menyentuhnya.


Selesai sholat, ternyata Kenzo telah menunggunya di luar.


"Dag Runi ...." Ketiga wanita itu melambai pada Runi.


"Eh, siapa mereka?" Kenzo menatap ketiga wanita itu.


"Penggemar Runi," ucap Leka ringan.


Kenzo tertawa. "Iya Runi ya, untung kamu." Ia mengusap-usap kepala Runi. "Kalau ibumu, aku bisa mati karena cemburu."


"Kakak ...." Leka tertunduk tersipu.


"Ayo kita cari makan siang."


Mereka kemudian turun ke lantai berikutnya lewat eskalator. Lantai itu penuh dengan restoran dan konter penjaja makanan, tapi sebagian besar telah penuh karena pengunjung rata-rata sudah mendatangi restoran sebelum jam 12. Hanya ada satu restoran yang belum penuh yaitu sebuah restoran mewah masakan Jepang.


"Kita masuk di sini saja," ajak Kenzo.


"Tapi aku tidak tahu, apa aku akan suka," jawab Leka ragu-ragu.


"Masakan Jepang tidak jauh berbeda dengan masakan Indonesia. Kamu pikir, kenapa aku bisa makan nasi di rumah?"


"Oh, iya, ya?" Leka pun mengikuti Kenzo masuk ke dalam restoran.


Sedang mencari tempat duduk, sudah ada yang memanggilnya.


"Kenzo!"


Kenzo menoleh pada sebuah meja dengan 2 orang tamu yang duduk di sampingnya.


"Hei Raf!" Kenzo mengangkat tangannya pada pria bule dengan teman wanitanya seorang wanita asia. Ia mendatangi mereka. "How are you Raf?(Bagaimana kabarmu Raf?)"


"Fine. Actually I looking for this moment. I've been eating in several Japanese restaurant, just to met you. Finally I found you.(Baik. Sebenarnya aku menunggu saat ini. Aku sudah makan di beberapa restoran Jepang hanya untuk bertemu denganmu. Akhirnya aku menemukanmu.)"


"Oh, is this you wife?(oh, ini istrimu?)" Kenzo menunjuk wanita yang duduk di samping pria itu.


"Oh, yes, she is.(Oh, iya, dia istriku.)"


"Ok, I have my lunch first.(ok, aku makan siang dulu.)"


Kenzo segera bergerak meninggalkan mereka mencari tempat duduk yang bisa di bilang cukup jauh dari tamu itu padahal tamu di sana bisa di hitung dengan jari. Itu semata-mata karena ia membutuhkan privasi. Leka hanya mengikuti pria itu ke mana ia pergi. Setelah duduk ternyata kedua tamu itu mengikuti ke mana mereka duduk. Mereka pun duduk di sana.


"Eh, what?(Eh, apa?)" Kenzo terlihat bingung.

__ADS_1


__ADS_2