Sungai Rindu

Sungai Rindu
Tak Sengaja


__ADS_3

Aska ikut duduk dengan mereka di samping Reina.


"Wah, kabar bagus ya? Selamat!" ucap Anna pada Aska.


"Makasih Tante."


"Jadi kamu sudah mengurus sampai ke KUA?" tanya Chris.


"Eh, belum."


"Lho, bagaimana sih? kamu sudah menentukan hari pernikahan tapi belum KUA? Kalau tidak dapat penghulunya bagaimana?"


"Eh, gitu ya Pa?" Aska mengusap belakang kepalanya.


"Ya iya dong, Aska. Orang yang mau menikah kan banyak. Kalau waktunya dekat begitu, biasanya sulit mendapatkan penghulunya karena sudah penuh jadwalnya. Kamu mau nikah di mana?"


"Al Ahmadin, mesjid Ayah." Al Ahmadin adalah mesjid yang di bangun oleh Chris mengenang almarhum suami Reina, ayah Aska dan juga sahabatnya karena pernah dekat dengannya.


"Mmh, kau juga harus memeriksa ke mesjid, mungkin juga ada yang sudah memesan tempat di hari yang sama."


"Ya ... gimana dong Pa?"


"Ya langsung di cek dong Aska, aduhhh ... Ayo ikut Papa. Kita periksa satu-satu." Chris berdiri dan melangkah keluar diikuti Aska. Reina dan Anna tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh selamat ya, kamu akan punya menantu." Anna menyentuh tangan Reina.


"Eh, itu mantan istrinya."


"Oya?"


Lalu mengalirlah cerita tersembunyi itu.


Leka terbaring di tempat tidur. Pikirannya buntu. Ia membiarkan Runi duduk dan main di atas tempat tidur. Dia masih sama, tidak memperbolehkan aku keluar tanpa persetujuannya.


Wanita itu kembali teringat apa yang di katakannya Aska di kafe tadi. "Sudah, kamu tidak usah kerja. Untuk apa kamu kerja kalau hanya untuk membuat lelah dirimu saja. Aku saja yang laki-laki sebenarnya malas bekerja kalau saja ada uang mengalir untuk diri sendiri. Kamu perempuan, calon istriku. Aku ingin kau berada di rumah saja dan mengurusi Runi. Ada Baby Sitter yang bisa membantumu belanja ke pasar jadi kau tak perlu keluar dan kau juga jangan keluar bahkan ke tetanggamu itu tanpa izinku, ok Sayang?"


"Hah ...." Ia menghela napas.


Runi menoleh ke belakang. "Unda ...."


"Iya, nak."


"Mau itu ...." Runi menunjuk mainannya yang lain yang berada di sudut kamar.


"Mau yang mana, nak?" Leka bangkit dan duduk di tepian tempat tidur.


"Yang itu ...." Runi menunjuk mainan yang di beli Kenzo di luar negeri. Mainan belajar menulis.


"Yang ini?" Tunjuk Leka pada mainan itu.


"Iya ...." Runi tersenyum senang.


Kenzo sedang memainkan hp-nya di kamar. Ia sedang memeriksa badan-badan sosial yang memerlukan dana untuk kegiatan sosialnya. Mmh ... WHO(Organisasi kesehatan dunia). Boleh juga ini. Tranfer. Mmh ... berapa US(mata uang Amerika) ya? Mmh ... segini saja. Atas nama, Kenji Aratami dan Michiko Anoda. Sip beres! Kemudian ia mentransfernya.


Setelah itu ia bingung. Ia yang berbaring di tempat tidur merasa bosan hingga menggelantungkan tangannya di tepian tempat tidur.


Apa Leka ada di rumah ya? Atau sudah pergi bekerja? Apa aku intip dulu? Kenzo bangkit dari tempat tidurnya. Ia segera turun dari lantai dua melewati anak tangga dan langsung keluar. Satpamnya membukakan pagar untuknya. Dengan sedikit kebingungan ia mengintip ke samping rumahnya. Tiba-tiba kepala seseorang muncul dari balik pagar. Satpam rumah Leka. "Oh, Pak Kenzo. Silahkan masuk!"


"Eh, em ... itu. Eee ...." Kenzo jadi salah tingkah.


Satpam itu membukakan pintu. "Silahkan Pak."


Kenzo menggaruk-garuk belakang kepalanya karena bingung, tapi mau tak mau ia masuk dan melangkah ke arah pintu utamanya. Namun ia masih ragu. Ia harus bilang apa kalau masuk ke dalam. Pria itu melirik satpam tadi.

__ADS_1


"Tinggal di tekan saja Pak, belnya."


"Eh, iya." Kenzo melakukannya.


Terdengar suara langkah kaki menuju ke pintu. "Eh, Bapak. Masuk Pak." Ani mempersilahkan Kenzo masuk. Pria itu masuk dan duduk di sofa.


"Siapa?" teriak Leka dari dapur.


"Pak Kenzo Bu."


Leka segera keluar dari dapur untuk melihat. Ia hampir tak percaya melihat siapa yang datang. "Kakak?"


"Eh, apa kamu sedang sibuk. Maaf aku mengganggu." Kenzo berdiri dan melihat Leka masih menggunakan celemek masaknya. Ah, betapa rindunya aku padamu.


"Oh, tidak Kak. Sebentar, aku sedang masak. Sebentar lagi selesai Kak." Leka segera kembali ke dapur. Eh, ada apa ya dia ke sini? Ia tersenyum senang.


Selagi memasak, tiba-tiba Kenzo muncul di dapur. "Lho Kak?"


"Aku pamit saja, takut mengganggu. Eh, kamu masak apa?" Kenzo menatap masakan Leka yang sedang diaduk oleh wanita itu.


"Tempe kecap." Leka mematikan kompornya. "Mau coba?" Ia mengambil sendok dan menyendokkan makanan itu dari penggorengan. Ia kemudian meniupnya dan menyodorkannya ke mulut Kenzo. "Mmh?"


Kenzo mau tak mau mencobanya, hati-hati. "Mmh ... enak."


"Ini sebentar lagi jam makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama?"


"Eh, mmh ...."


Belum selesai pria Jepang itu bicara, Leka sudah mendorongnya hingga meja makan. Wanita itu menarik sebuah kursi di sana dan memaksa pria itu untuk duduk. "Kita makan sekarang saja bagaimana? Aku siapkan dulu makanannya." Ia segera kembali ke dapur.


"Tapi masih ... 15 menit lagi ...." Sia-sia Kenzo bicara karena wanita itu sudah berada di dapur. Ia menghela napas.


Leka segera kembali, dan menyiapkan makanan dalam sekejap sedang Kenzo memperhatikan semuanya. Kemudian wanita itu melepas celemeknya dan duduk di samping Kenzo dengan antusias. Pria itu hanya terperangah tak bisa berbuat apa-apa.


"Mmh." Kenzo hanya memperhatikan wajah Leka.


"Mau ini Kak?"


"Mmh."


"Sama yang ini?"


"Mmh."


"Minumnya apa Kak?"


"Mmh."


"Kak?"


"Eh?" Kenzo tersadar. "Oh, apa tadi?"


"Minum."


"Oh, air putih saja."


Kebetulan di meja sudah ada air putih di gelas. Leka mengambil bagiannya untuk makan. "Kakak kemari ada apa?" Ia tidak berharap yang muluk-muluk. Kedatangan pria itu di sana saja sudah cukup menggembirakan untuknya karena ia bosan di rumah dan yang datang adalah Kenzo.


"A-aku hanya-hanya ... mau mengucapkan selamat. Iya, selamat. Seminggu lagi kamu akan menikah." Aku bicara apa? Kenzo sendiri hanya mencari alasan karena alasan yang sebenarnya, ia sendiri tak tahu.


Ada setitik kecewa yang menimbulkan embun di sudut matanya, tapi Leka pasrah. Setidaknya ia senang pria itu datang dan mau makan berdua dengannya. Kenangan semasa pergi ke mal dulu biarlah melekat erat dalam ingatan. Itu satu-satunya saat-saat bahagia yang ia punya bersama dengan pria di sampingnya. Bukan berarti hari ini tidak tapi andai saja pertemuan kita tidak dimulai dengan kebohongan ... apakah akan tetap berakhir seperti ini?


Kenzo menepuk-nepuk perutnya. "Aduh, Leka. Masakanmu padahal sederhana tapi kenapa terasa enak ya?" Wajahnya terlihat puas.

__ADS_1


Leka tersenyum dengan pujian Kenzo "Terima kasih."


"Mungkin ada sesuatu di tanganmu sehingga ...." Kenzo sudah meraih tangan wanita itu untuk sekedar bercanda tapi kemudian ia ragu. "Eh, maaf." Ia melepaskannya.


Kemudian suasana canggung kembali menerpa. Terdengar suara Runi menangis. Leka mengejarnya ke kamar. Di bawanya keluar Runi yang baru saja terbangun. "Eh, lihat itu siapa?" tanya Leka lembut pada gadis kecilnya.


Runi menatap Kenzo. "Papa!" Ia merentangkan tangannya pada pria itu. Kenzo menyambutnya.


Baby Sitter Runi mengintip dari kamarnya. Padahal mereka cocok ya? Mana Runi panggil dia Papa lagi, tapi kok mereka susah bersatu ya? Padahal mereka terlihat saling tertarik satu sama lain. Mungkin karena Pak Aska terlalu menguasai keseharian Ibu Leka jadi mereka sulit bertemu. Mmh, sayang ya?


Terdengar suara azan.


"Eh, sudah azan Zuhur. Aku pulang dulu ya?" ucap Kenzo pada Leka, tapi kemudian Runi merajuk.


"Pa-pa ...."


"Nanti Papa main ke sini lagi, iya kan?" tanya Leka pada pria itu. Mau tak mau Kenzo mengiyakan walaupun ragu. Leka mengambil alih Runi.


Sambil menggendong Runi, Leka mengantar Kenzo hingga keluar pagar. Namun bertepatan dengan itu, mobil Aska datang. Ia benar-benar meradang melihat Kenzo keluar dari rumah mantan istrinya. Segera ia keluar dan menghadangnya. "Hei, enak saja kamu mendatangi calon istri orang ya? Ngak tahu malu, kamu itu!" Aska mendorong Kenzo hingga ke dinding.


"Eh, Abang. Jangan salah sangka. Kenzo datang mengucapkan selamat!" teriak Leka membelanya.


Sementara Chris juga ikut keluar melerai keduanya. "Aska, kamu gak boleh begitu. Asal menyerah orang saja tanpa basa basi!" Chris menarik tubuh anaknya mundur ke belakang.


Yang membuat ketegangan makin runyam adalah tangis Runi yang ketakutan. "Pa-pa ...." Ia menyodorkan tangannya pada Kenzo. Aska semakin membenci pria Jepang itu.


"Sudah, Kenzo. Pergilah!" Melihat Kenzo yang tidak berusaha membela diri membuat Chris meminta Kenzo untuk pergi, tapi tak ayal, ia sendiri curiga dengan kedatangan Kenzo.


Kenzo kembali ke dalam rumahnya sementara Chris menarik Aska masuk ke dalam rumah Leka.


Saat masuk ke ruang tamu, Chris sempat memperhatikan meja makan yang sempat di pakai 2 orang. Apa Kenzo tadi makan siang di sini?


Chris dan Aska kemudian duduk di sofa ruang tamu. "Aska, sudah waktunya sholat Zuhur. Sebaiknya kita sholat dulu."


Leka memberi tahu kamarnya agar sholat di sana setelah itu ia kembali menemani Chris di luar. Chris melipat lengan kemejanya untuk bergantian wudhu dengan Aska sementara ia menatap Leka. Wanita itu menundukkan matanya karena sedikit malu dengan kejadian tadi di depan mantan mertuanya yang begitu baik padanya.


"Leka, apa kamu yakin pada pernikahan ini?"


Leka terkejut dengan pertanyaan Chris.


"Papa, jangan bilang begitu." Ternyata Aska waswas meninggalkan Leka dengan Chris. Ia gusar wanita itu akan menyatakan hal yang tak penting yang akan menyebabkan rencana pernikahan ini kembali ke angka nol.


"Lho, kau sudah wudhu?"


"Papa, kami ingin menikah. Jadi jangan di tanya hal-hal yang aneh-aneh lagi."


"Lho, Papa memangnya tidak boleh bertanya? Ini menyangkut hidup kamu ke depannya nanti."


"Papa ...." Aska mendekat.


"Memangnya bagaimana awal mulanya kalian memutuskan menikah?"


"Bang Aska menolongku dari orang yang mau menculikku," beber Leka.


Chris melirik Aska.


"Orangnya masih di proses di kantor polisi," terang Aska dan duduk di samping Leka.


"Lalu?"


"Aku melamarnya saat itu juga dan Leka menerimanya."


Chris mencoba melihat keduanya. Kenapa Leka baru memberikan jawaban itu setelah selesai masa iddahnya? Bukankah lebih mudah kalau masih masa iddah ia menjawab rujukan Aska sehingga mereka tidak harus menikah lagi? Apalagi ada orang ketiga yang masuk rumah dengan mudahnya. Apa aksi kepahlawanan Aska adalah jawaban dari keterpaksaan?

__ADS_1


__ADS_2