
"Aaah ...." Kenzo menahan perih, tangannya menggapai-gapai di atas meja nakas. Obat yang ingin diraihnya agak jauh letaknya di sudut meja, tapi akhirnya jemarinya dapat meraihnya juga. Secepat kilat ia membuka tutup botol obat itu dan menelannya sebutir. Dengan tangan gemetar ia meneguk air mineral dari botol di sampingnya agar cepat tertelan. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya sambil menghela napas. Ia tetap harus menahan perih di bagian dadanya dan menunggu rasa sakit itu perlahan-lahan menghilang.
Leka, kenapa semenderita ini merindukanmu. Aku baru mengerti kenapa seseorang rela melakukan apapun agar bisa bertemu dengan yang di rindukan. Aku hanya bisa menumpuk rindu ini, tapi sungainya adalah kamu. Tanpa izinmu aku tak bisa mengalirkan rindu-rindu ini padamu. Memberi tahumu bahwa aku sesak di sini, terlalu lama merindukanmu.
Setetes air mata Kenzo jatuh melintasi telinga. Perlahan matanya meredup karena obat dan mulai tertidur.
Arya baru sampai di rumah Kenzo. Setelah menekan bel rumahnya, pintu itu kemudian di bukakan oleh seorang pembantu wanita yang menunduk sopan pada Arya. Pria itu segera membawa Leka ke lantai atas. Ia menatap jam tangannya. "Mungkin saat ini dia sudah tertidur."
"Tidur?"
"Iya, dia operasi kemarin dan masih belum sembuh lukanya. Jadi dia sering kali kesakitan. Tiap 3 jam dia harus minum obat untuk menghilangkan rasa sakitnya. Saat dia bangun kadang dia sadar kadang tidak. Jadi jangan kaget."
"Tidak sadar karena apa?"
"Obat."
"Oh."
Tiba di lantai atas, Arya segera membuka pintu pertama yang di temuinya. Sebuah kamar yang cukup besar dengan sebuah tempat tidur King size di samping kirinya. Kenzo, sosok pria itu tidur dengan selimut yang berantakan di atas tubuhnya tertidur dengan lelapnya. 2 buah botol minuman air mineral berserakah di lantai juga botol obat.
"Papa!" Runi langsung memanggilnya ketika mereka mendekat.
"Coba kau turunkan dulu anakmu dan rapikan dulu kamarnya."
"Iya, Pak." Leka menurunkan Runi. Ia mulai memunguti barang-barang yang jatuh.
"Kamu akan menempati kamar di sampingnya bersama anakmu untuk memudahkan kamu memeriksanya hingga tengah malam. Kata dokter, dia akan seperti ini dalam 2 hari ini. Kamu akan mengurus dia dalam 5 hari ke depan. Setelah itu aku akan menempatkanmu di tempat lain. Apa kau bisa melakukannya?"
"Insha Allah."
"Bagus. Rapikan dulu kamar ini dan setelah itu, temui aku di bawah." Arya kemudian keluar dari kamar itu.
Leka merapikan kamar itu. Tidak banyak yang perlu dilakukan karena kamarnya sudah rapi. Ia kemudian merapikan selimut Kenzo dan merapatkannya ke tubuh pria itu.
Apa dia tertidur atau pingsan? Kenapa ia tidak terbangun saat orang lalu lalang di depannya? Apa pengaruh obat seperti itu?
Tiba-tiba tubuh Kenzo bergerak, saat Leka memperhatikannya dari dekat. Karuan saja Leka terkejut. Mata pria itu terbuka dan melihat Leka yang sedang memperhatikannya. "Oh, kamu." Namun kemudian matanya kembali tertutup. Setelah itu terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
Leka benar-benar bingung di buatnya. Dia kembali tidur secepat itu?
"Papa!"
"Sst, Runi," bisik Leka meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.
Untung saja Kenzo tidak terbangun. Segera ia menggendong Runi dan membawanya ke lantai bawah.
"Sudah selesai? Ayo kita makan siang di rumahku."
Mereka kemudian menyebrang jalan dan memasuki rumah Arya. Di meja makan sudah tersedia berbagai macam makanan. Tama dan Aiko sudah duduk mengelilingi meja makan sedang Mariko datang membawa setumpuk piring makan.
"Eh, kok Mama gak di bantuin?" Arya menatap Aiko.
"Oh, sini Bu, saya bantu bawakan." Leka berinisiatif.
"Oh, sudah selesai kok. Ayo makan sama-sama." Mariko tersenyum ramah.
"Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa."
Mereka kemudian duduk dan mulai mengambil makanan. Runi di pangku Leka dan makan berdua. Runi mulai terbiasa bertemu banyak orang karena selalu ikut ibunya ke mana-mana. Belakang Leka banyak berinteraksi dengan banyak orang baru yang mengikut sertakan Runi membuat gadis kecil itu mulai mudah beradaptasi.
"Ma, Leka akan menggantikanmu mengurus Jo." Beri tahu Arya.
Mariko terlihat senang. "Oya? Terima kasih ya, mau mengantikanku menjaga Jo. Cukup repot juga buatku, mondar-mandir ke rumah Jo mengurusnya." Ia beralih pada suaminya. "Leka tinggal di rumah Jo kan?"
__ADS_1
"Iya, dia jadi perawat dulu."
"Eh, tapi pekerjaan sebelumnya bagaimana?"
"Oh, dia sudah berhenti kerja dengan Aska."
"Oh, syukurlah. Jadi tidak akan bermasalah dengan majikan sebelumnya."
Mudah-mudahan, tapi apa bisa begitu?
"Asyik! Jadi kalau mbak Leka kerja sama kita aku bisa main sama chibi." Aiko terlihat senang.
"Main terus pikirannya, tugas sekolah sudah di kerjain belum?" Ledek Tama.
"Sudah. Memangnya Kakak, wek." Aiko menjulurkan lidahnya pada Tama.
"Eh, sudah. Bertengkar terus deh kalian. Gak malu ada tamu ya?" Ledek Arya.
"Kakak tuh Yah!" Lapor Aiko.
"Ih, bantu mengingatkan aja, marah."
"Berisik!"
"Ih, tuh kan Yah. Cewek ngomongnya kasar."
"Bawel!"
"Tuh, tuh, tuh, tuh."
Leka tak henti-hentinya tersenyum melihat keluarga ini yang begitu ramainya. Sampai-sampai Runi pun ikut bicara. "Ah!" Runi menggebrak meja.
Semuanya melihat ke arah Runi.
"Tuh, kan lihat. Ada yang marah ...." canda Arya.
"Aduh, lucunya ...." Mariko masih menatap Runi sambil menyuap makanannya.
"Nanti kita main ya Dek!" Aiko sudah tak sabar ingin bermain dengan gadis kecil itu.
Leka tak kalah gembira, keluarga itu begitu ramai dan mengajaknya bicara.
"Maaf ya Leka, walaupun hari sabtu, tapi kamu tidak bisa terlalu santai karena pekerjaanmu overload," sahut Arya yang duduk di sampingnya.
"Overload?"
"Penuh. Karena mengurus Runi dan Jo seharian ini."
"Oh, tidak apa-apa."
"Pintar-pintar saja membagi waktunya karena ini mungkin agak melelahkan."
"Oh, iya Pak."
"Nanti aku kenalkan dengan semua pembantu dan penjaga rumah di sana. Kau tidak perlu mencuci atau memasak. Cukup mengurus Jo saja. Yang lain, mereka yang akan melakukannya untukmu."
"Eh, iya Pak."
Sehabis makan siang, mereka kembali ke rumah Kenzo. Arya memperkenalkan Leka pada para penjaga, bodyguard dan pembantu di rumah itu, kemudian ia pamit. "Ok, sekarang kamu bisa istirahat di kamar. Kalau butuh bantuan, kau bisa minta tolong mereka."
"Iya Pak." Leka mendatangi kamarnya. Sebuah kamar yang cukup besar baginya berdua Runi. Ia menurunkan gadis kecilnya di lantai dan duduk sambil merapikan baju Runi.
"Kau suka kamar kita Nak?"
Runi tersenyum gembira. Rupa si kecil pun tahu di mana tempat yang lebih menggembirakannya. Ia tidak suka pria yang sering mengajak ibunya bertengkar. Di sini juga dekat dengan pria yang di panggil 'Papa' itu, yang bisa bernyanyi sambil memainkan piano. Juga banyak orang ramah yang berbicara pada ibunya dan dirinya. Ia merasa ibunya kali ini benar dengan membawa mereka tinggal dengan orang-orang yang sangat ramah.
__ADS_1
Leka memeluk Runi. Air matanya menetes perlahan. "Maafkan Bunda nak, yang memisahkanmu dengan ayahmu." Ia mengusap punggung Runi.
Leka melepas pelukan dan menghapus air matanya. "Bunda masukin baju-baju kita dulu ya nak ya?"
Sementara Leka memasukkan baju-baju ke dalam lemari, Runi sibuk melihat-lihat kamarnya. Ada meja rias yang cantik, sebuah pintu menuju ke balkon, jendela yang diberi gorden dan tempat tidur yang besar sekali yang bisa memuat dirinya dan ibunya. Ia kemudian kembali mendekati ibunya yang sedang menyusun baju dan Leka memberikannya boneka kain mainannya sehingga ia menepi mencari tempat untuk bermain dengan boneka itu. Ia ingin bermain di atas tempat tidur tapi tak bisa menaikinya. Leka yang melihatnya langsung membantunya naik ke atas tempat tidur.
Ruangan itu juga di lengkapi dengan kamar mandi sehingga Leka bisa langsung shalat. Setelah itu ia memeriksa Kenzo.
Leka melihat pemuda itu telah duduk di atas tempat tidurnya.
"Leka?"
"Oh, maaf aku lancang masuk ke dalam kamarmu tanpa mengetuk pintu."
Kenzo masih bingung dengan kedatangan Leka ke dalam kamarnya. "Ka-kamu kenapa ada di sini?"
"Oh, maaf aku belum memberitahu ya? Aku sudah tidak dengan Bapak Aska lagi jadi Ayahmu membawaku ke sini." Masih aneh di lidah Leka menyebut suaminya 'Bapak'.
"Ayah?"
"Iya, dia memintaku untuk merawatmu."
"Aduh, Ayah ...." Kenzo menyentuh kepalanya. Ia segera menepikan selimutnya dan turun dari tempat tidur, tapi ternyata ia limbung hingga hampir jatuh. Untung saja Leka dengan sigap menangkap tubuh pria itu dan mendudukannya ke tepian tempat tidur. "Eh ... Kakak mau ke mana?" Tanya Leka pelan.
Kenzo melirik Leka sekilas, khawatir. Ia mencari-cari sesuatu di tempat tidur.
"Kakak cari apa?"
"Hp-ku."
Leka mencarikan hp Kenzo yang ternyata berada di bawah bantalnya. Pria itu segera mengambilnya dan menelepon Arya, ... tapi tak di angkat.
Arya sendiri melihat hp-nya berbunyi, malah tersenyum tapi tak diangkatnya. Ia sedang bersama istrinya di kamar.
"Mas, kok ada telepon gak di angkat?"
"Itu pasti Jo. Sudah, biarkan saja."
"Lah, kok begitu?"
Arya tertawa. "Dia pasti malu. Sudah, biarkan saja. Nanti juga lama-lama terbiasa."
"Terbiasa apa?" Mariko mendekati tempat tidur tempat Arya berbaring. "Mas, jahilin Jo lagi ya? Iseng nih!" Mariko menusuk-nusuk pinggang suaminya dengan jemarinya yang membuat suaminya tak bisa menahan geli dan menghindar darinya.
"Eh ... eh ... jangan ah!" Arya menangkap jemari istrinya itu dan menggenggamnya. "Aku bingung saja, sudah seumur itu pikirannya masih sangat lugu. Apa orang Jepang seperti itu?"
"Lebih baik lugu, berarti ia orang yang jujur. Dibanding pintar tapi suka memanfaatkan?"
"Oh, aku juga pintar. Pintar memanfaatkan istri sendiri." Arya meraih pinggang istrinya mendekat.
Sementara itu, Leka sudah kembali ke kamar Kenzo dengan sebuah baki berisi sepiring makanan dan segelas jus apel. "Mau kusuapi?"
"Eh, a-aku bisa sendiri."
Leka meletakkan piring itu di pangkuan Kenzo tapi itu sulit karena tidak rata dan makanan bisa terguling keluar piring. "Susah Kak, aku suapi saja ya?" Ia akhirnya duduk di samping Kenzo.
"Eh?"
"Kenapa Kak?"
"Aku tidak suka terlihat lemah."
____________________________________________
Jangan lupa ya reader, tekan like agar kamu tidak ketinggalan dengan kelanjutan ceritanya. Ini visual Mariko. Mama muda Kenzo. Salam, Ingflora💋
__ADS_1