Sungai Rindu

Sungai Rindu
Permintaan


__ADS_3

Chris menatap Rojak. Pria kurus, dengan kulit gelapnya menoleh pada Salwa. "Aku udah boleh ngomong belum?"


Salwa merengut, karena Chris masih terus menanyakan pada Rojak tentang hubungan mereka.


"Jawab saja pertanyaanku, jangan lihat ke Salwa." Chris terlihat serius.


"Oh, iya Pak." Rojak merapikan duduknya menghadap Chris. "Kami cuma berteman."


"Tuh, kan. Aku bilang juga apa," imbuh Salwa yang berada di tengah-tengah mereka.


"Terus, kamu masih pacaran sama Evan?" Chris beralih pada Salwa.


"Udah enggak Pa." Mata Salwa mulai menghindar.


"Mmh ... bukannya kalian dulu pernah pacaran ya?" Chris menopang dagunya dengan tangan kanannya di atas meja, melihat pada keduanya.


Mereka berebut bicara.


"Oh, gak Pa, cuma teman."


"Kami berteman tapi aku pernah melamarnya Pak."


Salwa membulatkan matanya pada Rojak, kesal. Ia menendang kaki Rojak yang berada di bawah meja.


"Aduh, duh, duuh ...." Rojak menunduk mengusap kakinya yang di tendang Salwa.


Chris malah tertarik dan melipat tangannya di atas meja lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lalu apa yang terjadi?"


"Dia menolakku Pak."


"Setelah itu?"


"Kami tidak pernah bertemu lagi karena kesibukkan masing-masing. Aku kuliah dan kemudian bekerja."


"Lalu, bagaimana caranya kalian bisa bertemu lagi?"


"Kebetulan ketemu di hotel Pak."


Salwa makin membulatkan matanya tapi Rojak tidak melihatnya.


"Hotel? Sedang apa kalian di hotel?"


"Eh, ketemunya pas mau pulang Pa," potong Salwa yang tidak ingin cerita tentang kejadiannya bocor. Ia mencodongkan badan ke depan untuk menghalangi Chris bertanya lagi pada Rojak.


Chris berusaha mencari wajah Rojak. "Di hotel kalian sedang apa?" Ia merasa ada yang di sembunyikan Salwa.


"Aku pergi seminar Pak, dan pulangnya bertemu Salwa." Lanjut Rojak.


"Dan kamu Salwa, bukannya kamu pergi sama Evan ya? Kenapa pulang sama Rojak?"


Salwa terkejut, ternyata Chris memperhatikannya. "Eh, itu Pa ... Eh ...."


"Evan brengsek, iya?"


"Eh, eh ...." Salwa tak bisa menjawabnya.


"Sudah Papa bilang, insting orang tua tuh, benar. Dari awal Papa tuh gak suka sama dia."


"Iya Pa." Salwa menunduk.


"Tapi, pagi ini, kenapa kalian masih berlanjut?"


"Apa Pa?"


"Mmh?"


Chris mencondongkan tubuhnya kembali pada Rojak. "Kalian berdua bertemu lagi."


"Eh, aku diajak Salwa olah raga tadi."


"Mmh, begitu."


"Apa kau masih suka pada putriku?"


"Papa ...!" Salwa malu mendengarnya.


"Perasaan saya gak akan pernah berubah Pak." Jawab Rojak jujur.


"Mmh, kamu kerja di mana sekarang?"


"Perusahaan Jelstar Pak, Manajer IT."


" Oh, perusahaan bagus itu."


"Papa mau apa sih, Pa ...." Salwa benar-benar malu dan menghentak-hentakkan kakinya karena Chris masih terus mengintrogasi Rojak.


"Sst." Chris meletakkan jari telunjuknya di depan mulut pada Salwa kemudian beralih pada Rojak. "Kenapa kamu tak lanjutkan?"


"Mmh? Maksudnya?"


"Kau masih menyukainya dan pernah melamarnya. Kini kalian bertemu kembali. Kenapa kau tak lanjutkan?"

__ADS_1


"Melamarnya maksud Bapak?"


"Iya."


"Saya tidak suka memaksa orang Pak. Lagipula, Bapak mungkin tidak ingin punya menantu seperti saya, yang tidak punya apa-apa yang bisa di tawarkan kepada putri Bapak." Rojak menjawab apa adanya dan berusaha tenang.


"Rojak, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Aku tidak pernah membeda-bedakan teman Jak," sahut Salwa lirih.


Chris menyatukan tangannya di depan mulutnya. "Bagaimana kalau ada hadiahnya?"


"Mmh, maksud Bapak apa?" Rojak terkejut.


"Kalau kau berhasil menikah dengan putriku, aku akan memberikanmu satu perusahaan atau modal, terserah. Aku akan mengabulkannya."


"Apa?"


"Apa, Papa ngomong apa?"


Keduanya terkejut.


"Itu penawaranku ... tapi kalau kau mau ya?" Chris bersandar ke belakang sambil menatap Rojak.


"Jadi Bapak ...?" Mata Rojak membulat tak percaya.


"Ya, kalau mau sih ... kalau tidak juga tidak apa-apa." Chris pura-pura melihat ke arah lain.


Rojak memajukan kursinya. "Wah Pak, semangat aku Pak. Ini tawaran, beneran kan Pak ya?"


"Masa saya bohong?"


Rojak terlihat senang. Ia berdiri dengan gugupnya dan bersemangat lalu menyalami Chris. "Terima kasih Pak, sudah diberi kesempatan ini. Aku tak akan menyia-yiakannya Pak." Janjinya pada Chris.


Tinggal Salwa yang terbengong-bengong melihat apa yang terjadi. Ia tak tahu harus berbuat apa. Senang atau malah kesal.


"Sal, besok aku antar kamu ke kantor ya?" Tawaran pertama Rojak meluncur dari mulutnya.


"Mmh ...."


"Sudah, jangan dipikir. Besok tinggal duduk aja di motor. Ok?" Rojak sedikit gugup lalu kembali menatap Chris. "Terima kasih Pak, saya pamit dulu." Pria itupun langsung menuju motor. Ia memang tidak bisa mengontrol kegugupannya tapi ia terlihat senang. Sebentar kemudian motor pria itu meluncur di jalan.


Salwa terlihat bingung. "Papa ... kenapa bicara begitu sama Rojak?" Ia berusaha bicara hati-hati pada Papanya karena ia tak tahu apa maksud Chris bicara begitu pada pria itu.


"Memang kenapa?"


"Dia sepertinya percaya lho sama omongan Papa. Papa gak bohong kan sama dia?"


"Kapan Papa pernah bohong?"


Chris menatap Salwa. "Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya dan Papa melihat Rojak termasuk anak yang baik. Sisanya ya ... terserah kamu saja. Papa gak akan campuri."


"Kalau aku misalkan gak berjodoh dengannya gak apa-apa kan Pa?"


"Tidak apa-apa. Orangtua hanya mencarikan, sisanya tinggal kamu yang memilih."


Salwa masih terlihat bingung.


Terdengar suara klakson motor seseorang. Ternyata di parkiran ada Tama yang baru datang dengan motornya. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi.


"Papa ...." Tama datang dan memeluk Chris. "Apa kabar Pa?"


"Baik."


"Mmh, kelihatan. Muka-muka orang yang kehabisan duit di ATM-nya."


"Kakak kok tahu?"


"Beneran habis apa di potong karena hukuman?"


"Ih, Kakak. Kamu bisa jadi peramal lho!"


"Kejahatan karena merokok dan membolos kelas."


"Kok bisa persis sama."


"Mau kakak viralin?" Ledek Salwa.


"Lah jangan dong Kak!"


"Habis ... bikin kesalahan berulang. Gimana gak hapal?"


Tama memperlihatkan gigi putih bersihnya.


"Ya sudah, sekarang minta berapa?" Tanya Chris pelan.


Tama mengangkat jari telunjuknya ke atas.


"Ok."


"Ih, baru kelas satu SMA, jajannya banyak banget!" Ledek Salwa.


"Biarin ah!"

__ADS_1


"Rokoknya kurangin ya?" Sahut Chris sambil mentransfer uangnya lewat hp-nya. "Kalau gak, Papa gak kasih lagi."


"Iya."


"Ntar laporin Ayah lho, kalo gak berhenti juga ngerokoknya," ancam Salwa.


"Eh, jangan Kak. Aku kurangin deh, janji."


"Bener?"


"Bener Kak. Udah, ya? Tama balik dulu ya, Pa. Takut dicari Ayah. Love you.(sayang kamu)." Tama memeluk Chris, kemudian Salwa. Ia kemudian kembali ke motornya.


"Heh, anak nakal. Kalau kehabisan uang aja, ke sini."


"Biarkan saja, dia kan adikmu juga," ucap Chris menoleh pada Salwa.


"Tapi itu tanpa sepengetahuan Om Arya lho Pa. Kalau Om Arya tahu, dia pasti dimarahi."


"Ya jangan diberi tahu."


---------+++--------


Seseorang mengetuk pintu. Arya membukanya. "Kenapa Sri?"


"Ada tamu Pak."


"Siapa?"


"Pak Aska, Pak."


Arya mengerut dahi. Datang ke rumahku? Padahal baru sehari. Mau tahu kabar istrinya atau mau mengambil istrinya? Mmh ....


Arya mendatangi ruang tamunya. "Eh, Aska. Mau juga main ke rumahku ya?"


"Ah, maaf Om. Baru ada waktu luang."


"Iya, tidak apa-apa."


Arya kemudian duduk di samping Aska. "Ada kabar apa nih? Apa kamu butuh pembantu baru?"


"Oh, bukan. Karena Om ambil pembantu yang pernah bekerja di rumahku, aku hanya ingin tahu apa pekerjaannya memuaskan atau tidak, soalnya aku gak enak sama Om. Pembantu gak becus malah Om ambil. Padahal Om kan bisa ngambil dari agensi, pembantu yang lebih profesional, gak seperti aku yang mengambil di pinggir jalan karena kasihan."


Aku tidak bisa membayangkan, apa pendapat istrinya kalau mendengar hal ini. Ia sangat merendahkan istrinya itu di luaran, seakan wanita itu tidak berharga di matanya, tapi aku masih tidak mengerti, kalau memang dia tidak peduli kenapa ia masih mencarinya sampai kemari? Apa yang sebenarnya disembunyikan Aska dari semua orang? Kenapa dia begitu takut orang tahu ia telah menikah? Padahal kalau ia begitu membenci wanita itu, ia kan bisa menceraikan Leka sehingga wanita itu bisa menikah dengan Kenzo. Apa ia takut, wanita itu menyebarkan ke semua orang bahwa ia pernah menikah dengan Aska? Ehtahlah. Menurutku, benar-benar aneh cara berpikirnya. Aku pun tak mengerti jalan pikirannya. "Oh, tidak apa-apa. Aku kebetulan butuh jadi langsung aku pekerjakan."


"Benarkah? Tapi aku tidak melihat dia." Mata Aska mencari-cari.


"Oh, aku mempekerjakannya di rumah Kenzo."


"Apa? Ru-rumah Kenzo?"


Arya melihat Aska yang gugup dan terkejut. Kenapa? Kau cemburu?


"Ke-kenapa di sana?"


"Oh, Kenzo baru selesai operasi jadi dia butuh perawat untuk mengurusnya. Aku mempekerjakan Leka sebagai perawat, bukan pembantu."


"Operasi? Operasi apa? Boleh aku menengoknya?"


Arya tersenyum simpul. Sebuah ketakutan atau cemburu, tapi lebih terlihat seperti cemburu .... "Kenzo operasi bekas luka bakarnya jadi butuh perawat."


"Lho bukannya itu bekas luka yang sudah lama sekali ya, kenapa operasi lagi? Boleh aku menengoknya sekarang?"


Sebuah ketertarikan yang sangat besar pada Kenzo, apa jangan-jangan dia tidak percaya Kenzo telah di operasi?


"Oh, boleh. Ayo ikut aku."


Mereka pun menyeberang jalan. Arya membawa Aska naik ke lantai dua dan langsung ke kamar Kenzo. Pria itu sedang tertidur pulas karena pengaruh obat. Arya merapikan selimut anaknya.


"Maaf aku tidak bawa apapun karena tidak tahu Kenzo habis dioperasi." Aska bisa melihat Kenzo yang tertidur di tempat tidurnya. Ia tadi hampir tidak percaya saat Arya mengatakan Kenzo habis dioperasi karena ia mengira Arya berusaha menutup-nutupi sesuatu.


"Oh tidak apa-apa."


Mata Aska masih mencari-cari keberadaan istrinya. "Kalau Leka merawatnya, ke mana dia sekarang berada? Kenapa orang sakit malah di tinggal-tinggal?"


Harus sebegitunyakah ia, berbicara tentang istrinya agar penyamarannya tak terbongkar? Benar-benar pria rendah!


"Dia di kamar sebelah. Karena punya anak kecil, makanya aku minta ia mengecek setiap 3 jam sekali. Kenzo minum obat di jam-jam segitu."


"Oh."


Leka yang baru tiba dari lantai bawah bersama Runi, melihat pintu kamar Kenzo terbuka. Ia segera masuk. "Oh, Pak Arya ...." Ia menggendong Runi.


"Papa!"


_______________________________________________


Halo reader, terima kasih atas dukungan sejauh ini lewat favorit hati, like, komen, hadiah, dan vote yang telah di kirimkan. Terus dukung author ya, agar authornya semangat nulis sambungannya. Ini visual Rojak, pria sederhana yang kocak. Salam, ingflora 💋



Ini ada rekomendasi cerita cinta yang tak kalah menariknya dari rekan author Lusiana Anwar. Kuy cekidot ...

__ADS_1



__ADS_2