
Kenzo mendekati tempat tidur di mana Leka berbaring. Ditatapnya wanita itu yang tengah mengusap sisa-sisa air matanya mengetahui Kenzo yang datang melihatnya. "Maaf, aku datang di tengah suasana hatimu yang tak menentu, tapi apa kamu bersedia tinggal bersama kami karena aku tahu kau tidak punya siapa-siapa di kota ini. Eh, tapi kalau kau tak bersedia dan ingin hidup sendiri, aku bisa menyewakan rumah untukmu di tempat lain. Katakan saja, aku akan bantu."
Arya yang duduk di sofa dekat situ menoleh, mendengar pilihan yang diberikan Kenzo pada Leka. Ia kesal kenapa kini anaknya memberi pilihan pada wanita itu, bukan malah mengiyakan apa yang di mintanya.
Leka mengedipkan matanya pelan.
"Mmh? Apa maksudnya? Oh ... begini saja. Kalau kau mengedip sekali berarti 'iya' dan dua kali berarti 'tidak'."
Leka mengedip sekali dan dua kali.
"Mmh? Jadi?" Kenzo semakin bingung. Kemudian ia teringat hp-nya. "Oh, Leka. Kamu punya hp?"
Wanita itu merogoh kantong celananya. Untungnya hp itu masih berfungsi dan tidak cacat sedikitpun. Hanya sebentuk goresan saja di belakang hp itu.
"Sebentar ya?" Kenzo mengambil hp Leka. Ia memasukkan nomor hp-nya ke hp wanita itu. "Ini nomorku." Ia menyodorkan kembali dan memberi tahu. "Coba ketik dan kirim padaku apa yang ingin kau beri tahu."
Leka melakukannya. Sebentar kemudian hp Kenzo yang masih di dalam kantong celana pria itu berbunyi. Ia segera memeriksanya. Aku akan memikirkannya, tulis Leka.
"Oh, ok. Tidak apa-apa. Kalau begitu, kamu istirahat saja." Kenzo meninggalkan Leka.
Arya yang sedang duduk di kursi sofa semakin kesal. Ia berdiri dan mencegat Kenzo. "Kenapa kau tidak menemaninya?" bisiknya sedikit marah.
"Ayah, kasihan Yah. Dia baru di tinggal suaminya. Aku tidak mau jadi pria yang mencari kesempatan di tengah kedukaannya."
"Jo!" Arya mencengkram lengan anaknya.
Tiba-tiba Chris masuk beserta Reina, Aska dan juga Baby Sitter yang mengendong Runi. Arya langsung melepas Kenzo.
Chris mendatangi Arya. "Bisa kita bicara empat mata di luar? Biarkan yang lainnya di sini saja."
"Oh, bisa Da."
Chris dan Arya pun keluar. Reina mendatangi tempat tidur Leka. Leka yang agak sungkan berusaha untuk duduk tapi kepalanya masih pusing.
"Sudah jangan dipaksakan. Kamu baru saja kecelakaan, badanmu masih lemah."
Leka akhirnya kembali berbaring. Reina bahkan merapikan selimutnya. Tak tahan, Leka meneteskan air mata.
Reina melihat wanita itu menangis dan iba. Ia mencoba menghapus air matanya. "Pertemuan awal kita memang tidak sebaik yang kita harapkan, tapi begini saja. Kita lupakan! Mari kita mulai lagi sebagai orang baik yang bertemu dengan orang-orang baik. Bagaimana?" tawarnya.
Leka kembali menangis. Ia mengedipkan matanya.
"Oh, katanya 'iya'." sahut Kenzo yang berdiri di sisi yang lain dari tempat tidur.
"Bagaimana kau tahu?"
"Oh, tadi aku mengajarinya bahasa isyarat." Kenzo mengusap belakang kepalanya.
"Oh."
"Unda ...." Runi akhirnya melihat Leka terbaring di tempat tidur, padahal Baby Sitter itu sudah duduk di sofa terjauh bersama Aska.
"Sini, gendong sama Ayah." Aska coba menggendongnya tapi gadis kecil itu menolaknya, bahkan menangis.
__ADS_1
"Eh, Runi jangan menangis," ucap Kenzo dari jauh. Ia ingin menggendongnya tapi tak berani. Ucapannya itu saja tak sengaja keluar dari mulutnya padahal ia sudah menahannya saat melihat Runi datang tadi bersama Aska dan Reina.
Namun Runi mengenali suara Kenzo dengan cepat. Ia juga telah melihatnya dari tadi tapi bingung kenapa pria itu tidak mengambilnya juga. Rasa tertekan di kelilingi orang-orang baru membuat ia menangis dan memanggil Kenzo. "Papa ...." tangis Runi.
Nalurinya membuat Kenzo datang menghampiri dan menggendongnya. "Iya Sayang, Papa datang."
"Papa?" Reina mendengar heran.
Setelah mengendongnya, Kenzo sadar tindakannya mengundang tanda tanya. Terlanjur .... "Eh, maaf." Ia menggaruk-garuk kepalanya. "Aku biasa bernyanyi papa-papa di rumah jadi Runi memanggilku 'Papa'."
Tapi dia tadi memanggil Runi 'Sayang'? Apa ada pertalian satu lagi yang aku tidak tahu? Reina melirik Aska yang mengerucutkan mulutnya menatap Kenzo dan Kenzo yang terlihat salah tingkah dipandangi banyak orang.
Runi terlihat senang di gendong Kenzo. Tangisnya berubah menjadi senyuman. "Uh, uh. Unda ...." Ia menunjuk ke tempat tidur Leka.
"Jangan ke sana dulu ya? Bunda lagi sakit. Kita jalan-jalan dulu yuk keluar." Kenzo segera membawa Runi keluar dibuntuti oleh Ani. Ia sedikit bingung bagaimana bersikap, hingga ia memilih keluar daripada diberi pertanyaan yang ia tidak bisa menjawabnya.
Mmh, sepertinya begitu, batin Reina.
Chris dan Arya sudah duduk berdua di Kafe rumah sakit. Chris yang lebih dulu memulai percakapan. "Maaf, masalah anak dan menantuku menyusahkanmu."
"MANTAN menantu."
Chris menatap Arya tanpa berkedip, sebentar. "Tapi aku akan mengurusnya."
"Dia kan sudah mantan. Sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi kan dengan kalian?"
"Apa ada hubungannya denganmu?"
Arya tertawa. "Uda, untuk apa lagi mengurusnya."
Arya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ini bukan pertama kalinya mantan menantumu itu menabrakkan dirinya ke mobil. Sebelumnya itu adalah mobilku."
"Aku tahu."
Arya terkejut. "Terus ... kau mau menunggu ia gila baru kau sadar mereka tidak cocok satu sama lain?"
"Ia anakku, aku harus memberinya kesempatan."
"Kau harus bisa pilih-pilih Da, mana anak yang bisa di beri kesempatan mana yang tidak."
"Aku berusaha adil pada semua anak-anakku."
"Ya tapi jangan yang merugikan orang lain dong." Arya terlihat kesal. "Apa karena itu anak Reina, kau tidak bisa berkutik?" Ia meledek Chris.
"Haahh ...." Chris mendekatkan tubuhnya pada meja di depannya. Ia memutar pegangan cangkir kopi yang ada di hadapannya tapi tak di minumnya. "Itu salah satunya. Aku ingin mendidiknya dengan caraku, tapi aku memikirkan perasaan Reina."
"Itu sebenarnya salahmu dari awal."
"Kenapa begitu?" Chris menoleh pada Arya.
"Apa kau tak ingat waktu kamu harus memilih melepas Tama atau tidak, kau pernah mengabaikan Reina, dan Reina ikhlas."
Chris termenung. "Iya, kau benar."
__ADS_1
"Dan sekarang saat kau mau mendisiplinkan Aska kamu jadi tidak berani."
Chris tersenyum simpul. "Iya." Ia kemudian menegakkan punggungnya. "Anyway,(lagipula) aku ingin membantu mantan menantuku itu. Aku tidak mau ia tinggal di rumahmu itu agar memudahkan Aska melalui proses rujuk itu tanpa gangguan dan rasa sungkan."
"Bagaimana kalau Leka tidak mau?" Arya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Chris tersenyum sambil melipat tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya ke muka. "Aku tahu anakmu Kenzo juga suka padanya kan?"
Arya ikut tersenyum. "Informanmu hebat juga ya?"
"Biarkan yang muda berjuang dengan usahanya sendiri-sendiri, kita orang tua hanya melihat saja."
"Bagaimana bila salah satunya ada yang curang?"
"Seperti Kenzo yang selalu mengalah pada Aska dan duduk di luar?"
"Uda ... sejak kapan kau mengetahuinya?" Arya kembali terkejut. Ia menegakkan punggungnya. "Kenapa kau membiarkannya?"
"Kebaikan tidak akan tertukar dengan kejahatan, biar bagaimanapun caranya. Aku mengagumi anakmu, Kenzo. Dia sangat sabar."
"Tapi Da ...."
"Kenapa aku tidak mencegahnya? Kan aku sudah bilang padamu, biar yang muda berjuang dengan usahanya sendiri-sendiri, kita orang tuanya hanya bisa melihatnya saja."
"Tapi kalau Jo aku tidak bisa."
"Karena itu dia tidak bisa dewasa dan membela dirinya sendiri." Chris mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk-nunjuk pada Arya.
"Tapi aku harus membantunya."
"Sampai kapan? Ada saatnya kita orang tua harus menepi dan membiarkan anak-anak kita yang sedang berjalan tertatih-tatih sendiri akhirnya bisa berjalan tegak mendatangi kita."
"Dulu Jo pernah di keroyok beramai-ramai ...."
"Itu dulu."
"Tapi kalau aku tak datang waktu itu mungkin nyawanya sudah tak ada!" Amarah pria itu kembali menggelora mengingat kejadian 12 tahun yang lalu.
Chris menyentuh tangan Arya, menenangkan. "Apa kau ingat bagaimana kita dulu memperebutkan Reina? Seperti itulah yang terjadi pada anak-anak kita sekarang. Just two of them, that's all!(Hanya mereka berdua, itu saja!)" Chris merendahkan suaranya.
Arya menghela napas panjang dan mencoba melihat apa yang di maksud Chris. Tak ada ancaman di sana kecuali sebuah kompetisi. "Jelas beda. Dulu, walaupun aku mengejar Reina, ia tidak pernah mencintaiku. Ia mencintaimu, pria konyol yang menggantungkan cintanya demikian lamanya."
"Well, itu memang salahku." Chris mengakuinya sambil mendengus dan menahan tawa. Ia akhirnya menyeruput kopi di depannya.
"Lain lagi dengan anak-anak. Kenzo karena sempat besar di Jepang, ia tipikal pria Jepang yang kaku dan pemalu walaupun ia sudah menyatakan cintanya pada wanita yang disuka sedang Aska beda, dia tipe anak yang berani melakukan hal yang dia inginkan."
"Tapi apa-apa yang Allah peruntukkan untuk anak-anak kita takkan tertukar. Itu sudah pasti kepemilikannya sebelum mereka lahir jadi kita tak usah bersitegang tentang apa yang harus atau tidak harus mereka miliki. Belajarlah jadi orang tua yang sabar Arya." Chris menepuk-nepuk lengan Arya.
Arya kembali menghela napas panjang. Sepertinya ia harus mulai membiarkan Kenzo berjalan dengan pemikirannya sendiri. Mulai hari ini.
Chris dan Arya kembali ke ruang perawatan Leka. Saat mereka datang Runi tengah duduk diatas tempat tidur di samping ibunya.
"Eh, tolong angkat dulu 'cucuku'." Chris menoleh pada Reina karena merasa aneh menyebut kata 'cucuku'. Reina tersenyum simpul.
__ADS_1
Ani menggendong Runi dan membawanya ke sofa duduk ruang VVIP itu.
Chris duduk di tepi tempat tidur. Leka yang mencoba duduk di stop pria bule itu dengan kode tangannya. Pria itu menatap Leka dengan senyuman. "Maaf dengan ketidaknyamanan yang terjadi. Seharusnya kamu bisa merasakan bagaimana menjadi bagian dari keluarga kami, tapi nasi sudah menjadi bubur. Sebaiknya masa lalu kita tidak usah ungkit kembali. Sebaliknya, kita bicarakan yang akan datang saja. Aku menawarkan padamu sebuah rumah yang akan aku sewa pada Pak Arya, Ayah Kenzo selama kamu tinggal di Jakarta. Kebutuhanmu juga akan aku penuhi, dan kamu bisa bekerja padaku di perusahaanku atau mungkin restoran Pak Arya tapi hanya sebagai uang tambahan atau mencari kesibukan saja. Selebihnya Aska mungkin ingin rujuk kembali, itupun kalau kamu masih berkeinginan. Kalaupun nantinya kamu memilih untuk pulang kampung pun, aku berniat tetap akan memenuhi kebutuhanmu di sana nantinya. Jadi tidak ada paksaan, bagaimana? Kau akan pilih yang mana?"