
"May we joined you? I'll buy your lunch. This pretty lady, is she your wife?(Boleh kami bergabung? Aku akan membelikan makan siangmu. wanita cantik ini, apa dia istrimu?)" Raffen melihat Leka menggendong seorang bocah kecil yang memakai jilbab dan wajahnya terlihat lucu.
"No, she's my future wife.(tidak, dia istri masa depanku.)"
"How lovely.(Indahnya)"
Future wife? Future kan masa depan, lalu wife, istri. Jadi ... istri masa depan? Hah? Leka menoleh pada Kenzo. Maksudnya aku?
"Sorry, I need a privacy. Could you just leave us alone?(Maaf, aku butuh privasi. Bisakah kalian meninggalkan kami sendirian?)"
Istrinya mulai beraksi. "Ibu, anaknya lucu sekali. Sudah berapa tahun usianya Bu?"
"Oh, baru satu tahun. Ibu orang Indonesia juga ya?" Leka bernapas lega.
"Oh, iya. Kami sudah menikah 3 tahun tapi belum di karuniai anak. Senang rasanya melihat putri Ibu yang lucu dan menggemaskan ini."
"Sorry, I came here for a family time, so I don't talk business in my free time. I already give you a time after I finished my lunch with my family and you didn't take it.(Maaf, aku datang ke sini untuk menghabiskan waktu bersama keluarga jadi aku tidak bicara bisnis saat waktu kosongku. Aku sudah memberi kamu waktu setelah aku selesai makan siang dengan keluargaku dan kau tidak menghargainya.)" Kenzo tetap menolak mereka makan satu meja, alhasil pria bule itu dan istrinya meminta maaf karena telah mengganggu acara makan mereka dan bersedia menunggu Kenzo selesai makan di meja yang lain. Pria bule dan istrinya itupun akhirnya pindah.
Leka yang kurang tanggap akan bahasa inggris mereka yang cepat, melongo melihat suami istri itu pindah ke mejanya semula. "Mengapa mereka pindah lagi?"
"Oh, mereka mau bicara bisnis sedang aku ingin makan sambil menikmati waktu bersamamu."
"Kakak ... jangan bercanda." Wajah Leka merah padam.
"Eh, kapan aku berbohong? Aku tidak suka memikirkan itu sebenarnya. Bisnis itu hanya soal angka. Angka yang berganti. Bagiku tidak penting perusahaanku naik atau turun labanya, yang terpenting aku telah menafkahi orang banyak hingga mereka bisa hidup layak. Cuma sejauh itu aku memikirkan tentang perusahaan yang aku miliki."
Leka terperangah. Baru kali ini ia bertemu orang yang tidak peduli dengan laba perusahaannya, padahal pasti ia punya perusahaan besar hingga pria bule itu ingin berbicara bisnis dengannya.
"Leka, kau mau makan apa?" Kenzo menyodorkan menu dengan gambar-gambar makanan pada Leka.
Runi yang duduk di tengah-tengah mereka berdiri dan ikut melihat gambar-gambar makanan yang lewat depan wajahnya. "Papa, uh ... uh." Ia menunjuk gambar makanan yang di lihatnya.
Kenzo tersenyum melihat tingkah Runi. "Oh, kamu juga mau ikut milih? Ok." Ia membukakan lembar demi lembar agar bisa dilihat oleh gadis kecil itu. Runi terlihat takjub dengan gambar-gambar makanan yang indah-indah, sampai-sampai terlintas sesuatu di pikiran Kenzo. "Runi punya mainan apa?"
"Mmh, hanya boneka kain dan kotak yang diisi mainan yang di beli adikmu, Aiko."
"Hanya itu?"
"Mmh? Iya."
"Coba kau pilih dulu makanan yang ingin kau makan, baru kita pesan."
Kemudian mereka memesan makanan dan makan bersama Runi. Seusai makan ternyata pria bule itu datang lagi bersama istrinya. "I already pay your bill.(Aku sudah membayar makananmu.)"
"What? Ok.(apa? Ok.)" Kenzo melirik pria bule itu. "Maybe you could help me find a book for kids?(mungkin kamu bisa membantuku mencari buku untuk anak-anak?)" Ia mengalungkan tangannya pada pria itu yang mungkin terpaut umur 2 atau 3 tahun lebih tua darinya.
"Oh, I can.(Oh, saya bisa.)" Raffen mengiyakan dengan mengerut kening. Tidak ada relevansinya tapi ia coba, karena diluaran Kenzo terkenal sebagai pemilik perusahaan yang nyetrik. Tidak suka bersosialisasi dengan orang banyak dan sangat menjaga jarak dan privasinya. Sukar ditemui karena ia jarang keluar tapi sekali ditemui, ia sangat ramah. Banyak yang ingin bertemu dengannya tapi ia sangat membatasi dengan siapa ia akan bertemu.
Mereka akhirnya sampai ke sebuah toko buku besar. Di bagian buku khusus anak-anak ada tempat permainan, sehingga Leka bisa menemani Runi bermain sambil mencari buku untuk anak-anak. Ia kurang mengerti cara mencari buku untuk anak-anak hingga istri bule itu membantunya mencarikan yang cocok untuk Runi.
"Oh, tolong ya, aku mau bicara dengan Raffen dulu di luar," ucap Kenzo pada istri bule itu.
"Oh, iya. Ditinggal saja," jawab istri bule itu yang sedang sibuk mencari buku berdua Leka.
Runi terlihat sangat senang di kelilingi banyak mainan dan para bocah-bocah yang datang bersama orangtuanya. Gadis kecil itu duduk di sebuah kursi dengan sebuah meja yang seukuran dirinya dengan mainan buku-buku seukuran telapak tangannya, tongkat yang digoyang mengeluarkan suara atau mainan bebek-bebekan yang di tekan mengeluarkan bunyi. Ia sendiri bingung mau memainkan yang mana, tapi kemudian ia mencobanya satu-satu.
__ADS_1
"Oh, kamu suka mainan rubber ducky?" Istri bule itu yang tinggi semampai mendekati Runi yang berusaha membunyikan sendiri bebek karet di tangannya dan tertawa.
"Rubber ducky?" Leka ikut duduk.
Wanita itu hitam manis itu menepis rambutnya yang sebahu ke belakang. "Ini lho Bu, boneka karet ini biasanya dipakai untuk mainan saat mandi."
"Oh, boleh juga. Aku akan beli satu untuk Runi. Sepertinya dia suka."
"Jadi bukunya yang mana Bu?"
"Mmh ...."
Tak berapa lama, Kenzo dan Raffen kembali bergabung dengan mereka. Kenzolah yang akhirnya memutuskan buku apa yang di butuhkan Runi. Ia kemudian membeli beberapa buku dan mainan untuk Runi.
"Eh, Kak. Ini terlalu banyak untuknya."
"Tidak apa-apa, kan pacarmu yang traktir."
Entah kenapa, Leka gelisah. Lelaki ini terlihat begitu sempurna untuknya. Bahkan terlalu sempurna. Apa ia tega mematahkan hati pria sebaik ini? Aska memang belum pernah memberikan Runi mainan, tapi aku juga tak bisa menutup mata bahwa ia ayah Runi. Aku akan merasa sangat bersalah membiarkan Kenzo terus tenggelam dalam khayalan yang membuat ia yakin ia akan bersama dengan diriku suatu saat nanti. Aku tak bisa. Aku memang marah pada Aska, suamiku, tapi aku tidak boleh melibatkan dirinya. Dia tak bersalah. Dia bukan pria pelampiasan amarahku pada duniaku, dia adalah penyelamatku. Biarkan ia menjadi bintangku, yang terus ada di atas sana. Sesuatu yang hanya bisa kupandangi saja tapi takkan bisa kuraih.
"Ok, ya?" Kenzo melambai pada pasangan suami istri itu. Mereka kemudian berpisah.
Setelah membayar, entah dari mana datangnya, dua orang bodyguard Kenzo tiba-tiba sudah berada di belakang mereka dan mengambil bungkusan belanjaan. Leka sampai terkejut melihatnya. "Eh?"
Kenzo tertawa. "Kamu kenapa? Seperti melihat hantu?"
"Apa dari tadi mereka mengikuti kita?"
"Iya. Apa kau baru tahu?"
"Iya." Wajah Leka terlihat benar-benar terkejut.
"Oh, begitu."
Tak jauh dari sana, seorang wanita cantik dengan rambut keriting yang tergulung indah tak sengaja melihat mereka berdua dan terkejut. Ia mengenali wajah Leka karena pernah melihatnya bersama Aska tempo hari.
Bukankah itu pembantu Aska? Kenapa ia bisa pergi dengan orang Jepang? Kelihatannya orang kaya. Wah, hebat juga pembantu Aska. Ah, aku panas-panasi saja, barang kali ia mau merespon teleponku.
Wanita bule Perancis itu mengambil gambar Leka dengan Kenzo beberapa kali dan mengirimkannya pada Aska dengan tulisan : Apa pembantumu sudah pindah majikan?
Aska sebenarnya mendengar ada pesan masuk, tapi melihat Monique yang mengirim, ia tak jadi membukanya karena sedang menyelesaikan tugas. Monique kesal, kerja kerasnya tak dilirik Aska, ia segera pulang.
"Kak, kita pulang saja ya?"
"Tapi kan kita belum lama sampainya."
"Tidak enak Kak, kita kan bukan mahram."
"Tapi kita kan pacaran?" Kenzo meyakinkan sesuatu.
"Harusnya tidak boleh pacaran."
"Kenapa tidak boleh?"
"Aku belum pernah pacaran."
__ADS_1
"Dengan suamimu yang sebelumnya juga begitu?"
"Iya."
"Apa karena itu, tidak boleh?"
Wajah sendu Leka membuat Kenzo akhirnya berhenti bertanya.
"Eh, iya iya."
Aska akhirnya melihat kiriman gambar itu dan darahnya mendidih, akal sehatnya sudah tidak lagi sempurna. Ia segera mengambil jaketnya dan pergi keluar tanpa bicara sepatah katapun. Ia segera menuju mobilnya.
Sementara itu di waktu yang sama, Leka dan Kenzo sudah di dalam mobil menuju ke rumah. Kenzo melihat air muka Leka berubah. Wanita itu terlihat tidak bahagia.
"Leka, kenapa? Apa aku ada salah bicara?"
"Tidak Kak, aku yang salah bicara."
"Lho kenapa?"
"Aku belum boleh keluar Kak, tapi aku malah pergi."
"Belum boleh keluar?"
Aku harus bicara apa, Leka kehabisan akal. "Mmh ... aku masih masa iddah kak." Ia memalingkan matanya karena sudah membuat kebohongan baru.
"Oh, suamimu, baru meninggalnya?"
"Maaf Kak, aku khilaf."
"Tapi kau bisa ke pasar?"
"Itu karena pekerjaan. Maaf Kak, aku jadi menyusahkan Kakak." Leka menunduk sambil mendekap Runi yang mulai kelelahan dan mengantuk.
"Oh, kamu tidak begitu. Kan hari ini aku yang mengajakmu? Itu bisa di hitung pekerjaan kan?" Pria itu coba menghiburnya.
Leka terdiam. Kenzo merasa bersalah. "Maaf, aku tadi mengajakmu." Pria itu tertunduk.
Leka melirik Kenzo. "Terima kasih Kak, hari ini menyenangkan."
Kenzo menatap wanita itu yang tersenyum manis padanya. Hati pria itu kembali berbunga-bunga. "Mmh, aku boleh tahu berapa lama lagi masa iddahmu?"
"Eh?" Leka panik dan menyebutnya asal. "Satu bulan lagi."
"Kalau begitu, apa boleh aku langsung melamarmu?"
"Eh?"
Begitulah, kebohongan satu pasti diikuti dengan kebohongan yang lain. Agar kebohongan pertama sempurna, tapi sampai kapankah kebohongan yang terus beranak pinak ini berhenti? Takdir selalu memainkan peran di setiap rencana.
Aska sudah sampai ke Mal yang dituju, tapi ia tak menemukan Kenzo dan Leka di sana. Ia begitu geram.
Ia tahu pasti, foto itu diambil di mal itu dan tampak sekali istrinya bahagia berjalan bersama Kenzo dan Runi.
____________________________________________
__ADS_1
Teman sesama author, author Ria Aisyah adalah penulis novel fantasi. Tiger Wu adalah salah satu novelnya. Kuy, cekidot!