
Mariko mengeliat. Ia terbangun dan melihat suaminya belum juga tidur. "Mas, kenapa ...."
"Aku tak bisa tidur. Aku ingin Jo menikah dengan Leka."
"Memangnya tidak ada wanita lain?"
"Apa kamu tahu, kenapa setiap kali kita meminta Jo menikah, dia hanya diam saja? Dia tidak ingin menikah karena trauma tapi saat bertemu Leka, ia malah ingin buru-buru menikah."
"Begitu ya? Hahhh ... susah juga. Leka kan istri orang, tapi Jo sepertinya sudah tidak mengejarnya lagi kan?"
"Aku tidak tahu cara berpikirnya karena dia tipe pria tertutup tapi aku takut saja ada efek buruknya nanti yang malah berakibat fatal pada dirinya."
"Mudah-mudahan tidak, kan Jo sudah menyerah."
"Aku tetap merasa, Leka adalah wanita yang cocok untuk Jo."
"Kita kan tidak tahu siapa Leka, keluarganya, masa lalunya ...."
Arya menoleh pada Mariko. "Lalu dirimu? Aku menutup mata akan semua masa lalumu, karena aku mencintaimu."
"Lho, bukan begitu Mas. Maksudku gak jahat." Mariko melingkar tangannya pada lengan suaminya. "Aku juga ingin yang terbaik buat Jo, mengingat dia bukan anak yang nakal di banding Tama dan Aiko, tapi Leka? Dia sudah milik orang lain. Apa tidak sebaiknya kita carikan dia wanita yang baik dari keluarga baik-baik, bukankah itu lebih baik bagi Jo? Jo juga pria berpenghasilan fantastis, aku rasa tidak akan ada yang menolaknya menjadi menantu."
"Ini masalah hati Mariko. Apa dulu kau bisa mencintai Ayah Jo, pria kaya raya yang jatuh cinta pada dirimu? Kan tidak, kan?"
Mariko teringat lagi Ayah Jo, pria paruh baya yang tampan rupawan itu. Di umurnya yang tidak lagi muda itu, masih saja ada wanita yang mau pacaran dengannya. Selain tampan dengan wajahnya yang bule itu, pria ini kaya raya dan bekerja di parlemen Jepang sebagai ketua parlemen. Sayangnya, kekuasaannya ini dipakainya untuk menindas orang lain, perusahaan lain bahkan sering bertindak semena-mena terhadap orang lain. Mariko yang waktu itu berpacaran dengan seorang Yakuza diculik dan dijadikan wanita simpanannya, padahal waktu itu umur Mariko belum genap 20 tahun. Pria itu bahkan menyiapkannya untuk menjadi istrinya karena berniat untuk menikah dengan Mariko dan menceraikan istrinya. Untung saja tuhan menolongnya, istri pria itu mengetahuinya dan mengusir Mariko dari tempat persembunyiannya. Mariko kabur ke Indonesia dan tinggal dengan seorang teman hingga ia menyadari ia sudah berbadan dua.
"Persoalan hati kah ...." Mariko menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. "Tapi Leka istri orang Mas. Bukankah dosa memisahkan sepasang suami istri demi ego kita?"
"Aku rela mati di sambar petir demi bisa menikahkan Jo dengan Leka."
"Dan aku rela mati bersamamu saat itu juga."
Arya menoleh pada istrinya yang masih menyandarkan kepalanya di bahunya. Ia mengusap pucuk kepalanya pelan.
----------+++---------
Pagi yang indah. Setidaknya itu yang Aska rasakan. Ia terbangun sendirian, tapi tak apa. Istrinya pasti di lantai bawah sedang memasak sarapan untuknya. Ia mencoba turun untuk memastikan.
Pagi itu Runi sedikit rewel. Ia tidak mau di gendong Baby Sitter-nya sambil minum susu.
"Letakkan saja di sofa depan. Ia biasa minum susu sendiri di sana," pinta Leka.
"Baik Bu."
"Leka, kau masak apa?" Aska tiba-tiba muncul di dapur.
Leka memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Eh, iya. Aku belum sholat Subuh. A-aku sekalian mandi saja." Aska yang mengusap belakang kepalanya, segera berlari ke lantai atas dengan gembira. Rumahnya serasa ramai lagi dengan adanya Leka dan Runi. Ia sangat bahagia.
Di rumah Arya, sarapan pagi di kagetkan dengan kedatangan Kenzo untuk sarapan pagi di sana. Sebenarnya ini bukan hal yang mengagetkan, karena Kenzo memang biasa sarapan pagi di rumah Ayahnya. Yang tak biasa adalah karena ada tragedi pulangnya Leka yang membuatnya jadi pembicaraan di antara keluarganya semalam.
Semua orang terdiam walaupun terkejut melihat kedatangan Kenzo. Pria itu duduk di kursi kebesarannya di samping Ayahnya.
"Jo, mau makan apa? Roti selai?" tanya Mariko ramah.
"Iya." Terlihat sekali Kenzo berusaha mengusir kegelisahannya dengan pura-pura tak terjadi apa-apa.
Arya tidak suka kepura-puraan tapi karena itu Kenzo, Arya hanya diam. Ia melanjutkan makannya.
"A-a-aku akan keliling Eropa lagi." Kalimat itu meluncur saja dari mulut Kenzo. Ia tertunduk.
__ADS_1
Arya kehilangan selera makannya. Diletakkan kembali roti yang di makannya di atas piring. "Pulangnya?"
Hening. Aiko, Mariko dan Tama tak berani bicara saat Arya sedang mengintrogasi Kenzo.
"Kau takkan pulang kan?"
Kenzo tak menjawab.
"Ayah tak izinkan!"
"Ayah, aku sudah besar Ayah, aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri." Masih menunduk, ia tak berani menatap Arya.
"Pengecut! Kau menghindar itu pengecut!"
"Maaf, Ayah. Aku pulang dulu." Kenzo langsung berdiri, berbalik dan pergi.
"Hei, Ayah belum selesai bicara!"
Mariko buru-buru memberikan piring yang berisi roti yang telah diberi selai untuk Kenzo pada Arya dan anak-anak memberi semangat dengan berbisik.
"Go, go, go!(Pergi, pergi, pergi)" ucap Tama mengepalkan tangan.
"Go, Ayah, go!" Aiko juga mengepalkan tangan.
Arya bergegas mengejar Kenzo dengan piring berisi roti selai di tangannya. Ia menyebrang karena Kenzo sudah sampai di depan pintu rumahnya.
"Jo!" panggil Arya lagi.
Pria itu menoleh. Arya mendatangi anaknya dan menyodorkan piring berisi roti selai itu pada Kenzo dan pria itu menerimanya.
"Jo, kau tidak salah kenapa harus pergi?" Arya mengganti nada bicaranya agar lebih lembut. Ia merasa kata-kata kerasnya hanya akan membuat Kenzo lari.
"Mmh ... terlalu banyak kenangan di sini. Sesak rasanya. Aku hanya ingin mengganti suasana baru." Kenzo masih menunduk.
"Sudah Ayah, jangan mengungkit itu lagi." Kenzo coba mengangkat matanya ragu-ragu.
"Apa karena ia istri orang?"
"Ayah itu kan tidak baik dalam agama kita."
"Tapi bagaimana kalau kau berjodoh dengannya?"
Kenzo menatap Ayahnya dengan pandangan bingung.
"Aku melihat perkawinan mereka itu sudah diambang kehancuran. Bagaimana kalau kau menunggu?"
Kenzo diam sejenak. "Aku tidak akan menunggu. Biarkan aku pergi Ayah. Mungkin dengan begitu hatiku akan tenang."
"Kau tidak ingin menjaga adik-adikmu? Bagaimana bila sesuatu terjadi dengan Ayah dan Mama?"
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Ucapan adalah doa. Aku tidak suka Ayah bicara seperti itu!" protes Kenzo.
Sepertinya sulit menahan Kenzo pergi. "Kamu tahu, bagaimana Ayah bisa membawa Leka ke rumahmu? Dia hampir menabrak mobil Ayah sambil menggendong Runi. Ia sedang menangis. Harusnya bila seseorang menangis, ia bersembunyi di dalam rumah, tapi tidak, Leka, ia berlari keluar rumah. Bila seseorang sudah harus menangis keluar rumah, berarti rumahnya bukan lagi tempat yang nyaman baginya. Mungkin, sudah jadi neraka yang menyesakkan."
Kenzo, kembali ia ingat pertemuan keduanya dengan Leka di depan apartemen Aska, juga sedang menangis. Ia kemudian membawa wanita itu ke sebuah taman dekat situ untuk meredakan tangisnya. Pada waktu itu ia hanya mengira Leka telah di marahi oleh majikannya.
Aska segera turun dari lantai dua dengan menuruni anak tangga. Ia melihat Leka sudah menghidangkan sarapan untuknya di meja makan. "Sayang, temani aku sarapan ya?" ucap Aska bersemangat.
Leka kemudian menyediakan piringnya.
"O iya Sayang, dompetku mana?"
__ADS_1
Tanpa bicara sepatah kata pun, Leka naik ke lantai dua. Ia kemudian turun ke lantai satu dengan membawa dompet suaminya.
"Di lemari es tidak ada apa-apa jadi aku harus belanja." Leka menarik kursinya.
"Kamu jangan duduk jauh-jauh, aku ingin melihat wajah istriku," ucap Aska sedikit manja. Pria ini sedang di awal-awal mabuk cintanya.
"Abang, jangan bilang begitu di sini. Malu Bang ... Kan ada Baby Sitter Runi di depan," bisik Leka pada suaminya. Pipinya memerah. Baby Sitter itu sedang menunggui Runi di sofa ruang tamu.
"Biarin Ah! Aku lagi senang." Aska menggenggam tangan istrinya.
Leka menarik tangannya. "Uang belanjanya gimana?"
"Nanti malam saja. Rencananya besok, aku ada pesta yang mesti aku hadiri. Aku mau membawamu ikut ke sana."
"Aku tidak mau ikut pesta seperti itu."
"Eh, kali ini aku akan memperkenalkan kepada semua orang, kau istriku. Masa kamu tidak mau?"
Ada rasa senang dalam hati Leka, tapi .... "Aku hanya orang kampung Bang, tidak mengerti pesta-pesta seperti itu."
Aska tertawa. "Kau hanya perlu jadi istriku saja, tidak lebih."
"Tapi Bang ...."
"Nanti malam kita cari baju buat pesta, bagaimana? Sekalian belanja di supermarket."
"Tapi makanan kita sudah habis Bang," protes Leka.
"Tidak apa-apa. Nanti siang aku belikan kamu makan siang delivery. Cukup ingatkan aku lewat telepon. Ok?" Aska sengaja tidak ingin Leka pergi keluar apartemen karena ia takut, Leka bertemu Arya atau Kenzo yang ingin berusaha membujuk kembali Leka agar mau meninggalkannya. Ia tidak ingin itu terjadi lagi untuk kedua kalinya.
Mereka kemudian sarapan berdua.
Lydia baru saja keluar dari toilet sekolah dan bertemu Aiko. Gadis itu tiba-tiba menariknya ke sebuah lorong sepi.
"Aduh, kita ke mana Kak?"
Aiko mendorong Lydia dengan kasar ke salah satu dinding.
"Ah!"
"Jangan sok cantik kamu ya? Mentang-mentang sudah pintar dandan, selalu saja cari perhatian Zack terus. Zack itu punyaku! Jangan kecentilan kalau dekat-dekat Zack, tau!" Aiko bertelak pinggang menasehati Lydia.
"Enggak Kak, aku gak gitu ...."
"Eh, di bilangin ...." Aiko mulai menarik rambut Lydia, tapi sebuah tangan mencengkram lengannya.
"Hei, ini namanya perundungan. Mau kulaporkan guru?"
Keduanya melihat siapa yang bicara itu. Raka, anak baru di kelas Aiko dan Zack. Aiko segera menghempas tangan itu, kesal.
Tangan Raka malah meraih pergelangan tangan Lydia dan menariknya. "Udah, ikut Kakak aja yuk!"
"Eh, Kak kita ke mana?"
Raka membawa Lydia hingga ke kantin. "Sebentar lagi makan siang. Kita makan siang duluan aja yuk?"
"Kak, aku mau ke kelas dulu."
Namun Raka tidak melepaskan tangan Lydia. "Aku kan tadi sudah menolong kamu. Sebagai rasa terima kasih, mau dong temani aku makan siang. Nanti aku traktir deh, beres."
"Bukan gitu Kak, aku mau beresi mejaku dulu. Dompetku juga lupa bawa."
__ADS_1
"Sudah ... Aku kan sudah bilang traktir."