Sungai Rindu

Sungai Rindu
Jatuh, Sayang


__ADS_3

Arya tanpa sengaja melihat mobil Aska keluar dari rumah Kenzo. Ia tercengang. Bukan main! Ia kembali lagi? Wanita ini, apa yang di milikinya hingga membuat Aska kalang kabut mencarinya. Apa dia mengetahui sebuah rahasia milik Aska yang tidak boleh di ketahui umum ... atau hanya cinta? Mmh ... Kalau hanya cinta, pasti aku telah benar-benar mematahkan hatinya. Arya tersenyum lebar.


Aska mendatangi rumah orang tuanya. Mereka sedang kedatangan tamu.


"Oh, Tante Anna?"


"Oh, Aska. Masih sendiri saja?"


"Jangan gitu dong Tante."


"Ya tapi Tante bingung saja sama kamu, ganteng-ganteng begini masih belum punya pacar sampai sekarang." Anna menyentuh tangan Aska.


"Belum aja Tante."


"Mungkin dia mau kasih kejutan sama orang tua, bertemu seorang gadis dan langsung menikahinya," ucap Chris yang langsung disambut tawa oleh yang lainnya.


Papa kok bisa persis sama ya, sama omongannya. Aska mengusap belakang kepalanya.


"Wah, kalau itu boleh juga."


Aska memberi senyum di kulum. "Ah iya, aku mau ke atas dulu Tante."


"Oh, tolong panggil Lydi, Mommynya mau pulang."


"Oh, iya Tante." Aska segera ke atas. Ditemuinya Lydi di kamarnya. Ada Zack juga di kamar itu.


"Lydi, kamu ...." Aska tertegun. "Kamu cantik sekali ya Lydi ...." Baru kali itu ia melihat adiknya tidak lagi mempunyai rambut panjang yang kribo tapi rambut panjang yang tergulung indah.


"Ah, kakak. Jangan bercanda!"


"Kakak tidak bercanda, ya kan Zack?"


Zack yang duduk di atas tempat tidur Lydi, bergeser turun. "Aku udah bilang dia gak percaya Kak."


"Oh iya, Mommy mencarimu. Dia mau pulang."


"Oh iya." Lydia segera keluar. Ia mendapati ibunya sudah menunggunya di beranda.


"Jangan nakal ya Sayang, Mommy pulang dulu. Daddy akan datang beberapa hari lagi." Anna mencium kedua pipi anaknya.


"Iya, Mommy."


Anna memasuki mobil Chris yang mengantarnya ke bandara. Ia melambaikan tangannya pada Chris, Reina dan Lydia dan mobil pun melesat pergi.


Saat mereka masuk ke dalam rumah, Chris dan Reina melihat Aska di meja makan.


"Kamu belum makan siang Ka?" Sapa Reina pada Aska heran. "Bukankah di rumahmu ada pembantu?"


Aska melirik sekilas pada ibunya. "Map, aku lagi gak ingin ngomongin itu dulu ya Map."


"Oh, apalagi? Kamu membuat mereka gak betah?"


Aska langsung melepas sendok yang di pegangnya. Ia hanya diam.


"Kenapa? Ada apa?" Reina tertarik dan menarik kursi di hadapannya.


"Map ..." Aska menghentakkan kakinya kesal. "Aku juga sedih mereka pergi." Mulutnya mengerucut.


"Ya sudah," Chris ikut menarik kursi di samping istrinya. "kita bicara yang lain saja."


"O iya, tadi Uda bicara dengan Rojak di depan toko ya? Aku melihatnya dari dalam."


Aska melirik Chris, penasaran.


"Iya, Rojak cerita, katanya dulu dia pernah melamar Salwa."


"Eh, kapan itu?"

__ADS_1


Chris dan Reina saling berpandangan dan tersenyum.


"Mungkinkah ...." Reina masih menatap suaminya.


"Iya Map, Rojak itu laki-laki tidak waras. Masa baru jalan sama Salwa 2 kali, sudah ngelamar Salwa. Padahal Salwa waktu itu baru naik kelas 3 SMP Map," sela Aska.


"Ya, kan? Mamap juga berpikir begitu. Mereka baru kenalan belum lama terus gak pernah bertemu kembali. Saat itu Rojak baru lulus SMA, kalau tidak salah," imbuh Reina.


"Tapi dalam Islam bukannya lebih baik begitu? Berkenalan, beberapa kali jalan terus melamar." Chris menambahkan.


"Iya, tapi Salwa masih sekolah. Wajar dia nolak Rojak waktu itu Pa." Aska mulai menyendoki makanannya.


"Iya, kau benar."


"Memangnya dia mau melamar Salwa lagi Pa?" Aska menyuap makanannya.


"Mungkin."


"Mmh!" Aska buru-buru menyelesaikan kunyahannya dan segera minum lalu menambahkan. "Jangan diterima Pa, udah tua. Salwa kan masih muda."


Chris tertawa. "Kalau pasangan yang cocok itu tidak akan terlihat timpang walaupun mereka punya banyak perbedaan. Justru perbedaan itu membuat hidup mereka berwarna. Papa melihat itu pada mereka berdua."


"Aku pokoknya gak mau iparan sama Rojak," protes Aska.


"Lho kenapa? Anaknya baik kok. Pekerja keras lagi."


"Orang miskin biasanya cari keuntungan bila bisa dekat dengan orang kaya." Cibir Aska.


"Eh, gak boleh berburuk sangka begitu, Aska."


"Bener Map." Aska berusaha meyakinkan ibunya.


"Memangnya Mamap dulu siapa sebelum nikah dengan Papa?"


"Eh, bukan gitu Map." Aska jadi serba salah.


Seketika Aska terdiam mendengar Rojak kerja di perusahaan multinasional milik luar negeri sebab tidak terlihat dari penampilannya.


"Kakaknya Ipah, juga sukses membuat toko bunga Mamap jadi terkenal. Sayang sekarang Ipah sedang cuti melahirkan jadi Mamap harus sibuk ngurus toko bunga lagi."


"Jadi mereka akan menikah?" Tanya Aska pelan.


"Oh, kalau itu Papa tidak tahu. Kan mereka baru bertemu lagi."


-------------+++--------------


Runi terlihat senang. Ia menduduki kaki Leka sambil berpegangan pada tangan ibunya. Leka yang duduk di tepian tempat tidur menggerak-gerakkan kakinya naik turun membuat gadis kecil itu menikmati dirinya diayun seperti di ayunan. Sesekali ia berteriak kesenangan.


"Sst, Runi. Jangan teriak kencang-kencang nanti 'Papa' bangun." Leka mulai terpengaruh panggilan Runi.


"Unda, ah ... agih(lagi)" Runi minta diayun kembali karena ibunya tiba-tiba menghentikan ayunan kakinya.


"Iya, tapi jangan berisik ya?" Leka kembali mengayunkan kakinya.


Runi terlihat terpukau dengan ayunan kecil dari kaki ibunya itu yang kadang saat Leka menghentikannya dengan meluruskan kaki, ia bisa berbaring di kaki ibunya itu. Ia tertawa.


"Sst, jangan berisi Runi. Sudah ya, Bunda capek. Kamu makin berat sekarang."


"Undaaaa ...." Rengeknya.


"Sudah ya nak ...."


Tiba-tiba pintu di ketuk, dan di buka. Kepala Kenzo muncul melihat ke dalam membuat Leka panik. Ia tidak sedang memakai jilbabnya.


"Ada suara keramaian di sini?" Kenzo bertanya.


"Ah, Kak. Aku belum pakai jilbab." Leka menghalangi pandangan dengan tangannya karena Runi masih menduduki kakinya.

__ADS_1


"Oh, maaf ...." Kenzo menarik kembali kepalanya keluar. Ia terbangun dan mendengar keramaian di kamar Leka hingga ia tertarik datang padahal ia masih dalam pengaruh obat hingga sempoyongan mendatangi kamar itu. Walaupun telah menarik diri keluar, ia tadi sempat melihat wajah Leka tanpa jilbab yang sangat cantik. Ia kemudian berusaha mengintip kembali Leka yang sedang sibuk mencari jilbab instantnya dan telah meletakkan Runi di atas tempat tidur. Setelah wanita itu mendapatkan jilbabnya, Kenzo menutup pintu. Jantungnya yang berdegub kencang saat mengintip Leka tadi membuatnya bingung. Apa ia salah telah mengintip wajah asli wanita itu tanpa jilbab, tapi keingin tahuannya malah membuatnya makin terpukau kecantikan Leka, seolah ia ingin dunia berhenti berputar, jam berhenti berdetak, dan angin berhenti berhembus agar dunia, jam dan angin bisa bersama-sama dengannya melihat wajah cantik Leka lebih lama lagi. Sayang sang waktu tak begitu ramah padanya, membiarkan detik-detik itu lewat sia-sia. Padahal itu saat-saat berharganya yang entah kapan bisa ia nikmati lagi.


Kenzo termangu dengan pikirannya hingga lupa tangannya masih di ganggang pintu. Saat Leka membuka pintu itu dengan buru-buru, pria itu tertarik ke depan hingga tubuhnya yang sedang tidak seimbang jatuh dalam pelukan Leka.


"Oh, Kak!" Refleks Leka mendekapnya erat karena pria itu jatuh dalam pelukannya dan ia harus benar-benar mendekapnya karena Kenzo hampir jatuh. "Kak, kau masih pusing ya?"


Kenzo berusaha bertahan agar tetap berdiri, ia berusaha mencari pegangan agar tetap berdiri sebab biar bagaimanapun tubuh pria tetap lebih berat buat menahannya, tapi tak ayal mereka jatuh dan Kenzo menindih tubuh Leka.


"Aaah." Kenzo menahan sakit di dadanya.


"Aduh ...."


Leka melepas pelukannya tapi pria itu bergerak pelan.


"Kak?"


"Sebentar ya? Dada masih sakit."


Leka hanya diam tapi jantungnya tidak, dan itu membuatnya panik. Ya Allah jangan sampai pria itu tahu kalau jantungku berdetak seperti ini.


Pelan-pelan, Kenzo mengangkat wajahnya dan wajah mereka bertemu begitu dekat. Kenzo mengagumi semua hasil ciptaan tuhan yang terpampang di hadapannya. Alisnya yang terukir rapi, bibir tebalnya yang merekah, hidung bangirnya yang menggemaskan, lalu mata indahnya yang mengunci mata elangnya hanya padanya. Sesaat Kenzo lupa sedang apa hingga teriakan Runi menyadarkannya.


"Papa! Unda!"


Keduanya tersadar dari daya tarik lawan jenisnya yang mengunci mereka dalam khayalan.


"Eh, ma-maaf. A-aku eh, jangan bergerak dulu." Kenzo mengangkat tubuhnya dan menjatuhkannya ke samping agar Leka bisa cepat terbebas dari tubuhnya.


Leka memang terbebas dari tindihan Kenzo dengan sedikit malu karena tadi telah mendekap tubuh pria itu, tapi lengannya masih tersangkut karena pria itu meletakkan kepalanya pada lengannya.


Kenzo yang memejamkan mata karena telah melepas Leka dari tindihannya, terkejut saat membuka matanya karena wanita itu masih mendekatkan wajahnya padanya. "Mmh?"


"Tanganku Kak."


Kenzo memperhatikan tangan Leka dan ia menyadari kepalanya telah bersandar pada lengannya. "Oh, maaf." Ia mengangkat kepalanya.


Leka segera menarik tangannya. Kedua wajah mereka memerah. Leka yang duduk dan Kenzo yang masih terbaring di lantai sedang berusaha menenangkan detak jantung mereka yang sedang berdegung kencang tanpa diminta membuat keduanya canggung dalam sesaat.


"Oh, Kak. Jangan tidur di lantai, Kak." Leka lekas sadar dan berdiri, menawarkan tangannya pada Kenzo. Pria itu berusaha duduk perlahan dan menyambut tangan Leka. Ia berdiri di bantu Leka. Pria itu kemudian duduk di tepian tempat tidur dekat Runi.


"Papa ...." Runi mendekat dan memeluk lengan Kenzo. Pria itu mengusap kepala Runi.


"Ma-maaf tadi aku lancang memelukmu." Leka tertunduk.


"Oh, tidak. Maaf aku tadi menindihmu."


Mereka mulai bicara dalam keengganan.


"Eh ... apa tidak sebaiknya Kakak kembali ke kamar ?"


"Oh, ya. Eh ... sebaiknya begitu." Pria itu mencoba berdiri. Leka mengalungkan tangannya pada pria itu yang membuat Kenzo sedikit canggung.


Leka membantunya berjalan pelan-pelan ke arah kamar pria itu. "Maaf ya, tadi aku panik jadi Kakak jatuh. Sakit ya Kak?"


"Eh, sudah tidak."


"Maaf ya Kak?"


"Tidak apa-apa, bukan salahmu." Kadang ada rasa kesal di hati Kenzo karena Leka bukan istrinya. Ingin rasanya ia menenangkan hati wanita itu tapi ia tak kuasa. Sekedar membelai kepalanya pun ia tak berani.


______________________________________________


Halo Reader, maafkan author kalau hanya bisa up 1 bab sehari karena kesibukan di duta, tapi kalau ada waktu luang, author pasti up lebih. Kalau ada yang tidak suka cerita selain Leka, Kenzo dan Aska bisa di skip aja sebab author menulis karena ada keterkaitannya nanti di dalam cerita. Ini visual Reina, Mamap atau ibu sambung Aska. Jangan lupa vitamin author : like, komen, vote, hadiah dan juga koin. Salam, ingflora.💋



Adalagi dari author R. Angela, Satu Atap 3 Hati tentang perselingkuhan yang di pahami. Cekidot.

__ADS_1



__ADS_2