
"Aku tahu apa yang aku lihat. Kamu sangat potensial menduduki jabatan itu."
"Tunggu dulu Pak. Bapak kan punya Aska?"
"Dia tidak cocok untuk posisi ini. Lagi pula ia sudah pindah kerja di perusahaan calon mertuanya."
Rojak terlihat bingung. Ia mencoba menelaah satu-satu apa yang baru saja didengarnya. Rasanya tidak mungkin, tak ada angin tak ada hujan ia akan mewarisi perusahaan bule Amerika yang berada dihadapannya itu, ini seperti mimpi. Tidak mungkin bule itu menyerahkan perusahaan begitu saja tanpa syarat atau keinginan lain dari dirinya. Jelas itu tak mungkin. "Pak, apa yang sebenarnya Bapak inginkan dari diriku ini Pak, karena jelas-jelas aku tidak punya sesuatu apapun yang bisa ditawarkan ke Bapak."
"Dirimu."
"Apa?"
"Aku kan tidak bicara soal Salwa, aku bicara soal dirimu."
"Maksudnya Bapak, aku harus bagaimana?"
"Aku bisa melihat kemampuanmu. Aku memang mencari orang sepertimu sejak lama."
"Tapi bagaimana dengan Aska?"
"Dia tipe pekerja yang hanya bisa bekerja pada orang lain. Selamanya. Kau beda. Kau tipe pemimpin. Kau bisa memimpin timmu bahkan perusahaan sekalipun." Chris bisa bicara seperti itu bukan tanpa alasan. Ia sudah mencari tahu sepak terjang Rojak di perusahaan tempatnya bekerja dan pria itu memang sangat diperhitungkan di perusahaan itu karena telah sering memajukan tim yang dipimpinnya. Persinggungan dengan orang asing di sana pun sangat baik. Malah ada beberapa yang menjadi sahabatnya. Begitu juga hubungannya dengan rekan kerja dan bosnya, semua Chris dapatkan dari informannya.
Eh, ini akan sulit buat Aska Pak, kalau aku masuk. Dia akan protes."
"Aku tahu itu. Biarkan aku saja yang memikirkannya."
"Tapi, mengenai Salwa ...."
"Aku kan tidak minta kau harus menikah dengannya."
"Tapi memiliki perusahaan itu hal lain. Aku sendiri, kemungkinan besar hanya bisa sampai taraf memimpin perusahaan semampuku Pak, tapi tidak mungkin sampai memilikinya. Iya kan Pak?" Rojak memastikan teorinya.
"Kau tidak percaya padaku? Setiap kali kau memajukan perusahaan, aku akan memberikan setengah persen saham perusahaanku padamu."
Rojak terbelalak. Ia hampir terlonjak dari kursinya. "Setengah persen itu banyak Pak, jangan bercanda!"
Chris tersenyum lebar. "Jadi, kapan kau akan pindah?"
----------+++----------
Malam itu, Kenzo akhirnya kembali bisa berduaan dengan Leka. Waktu yang di tunggu-tunggu tiba. Wanita itu kembali menggeser tubuhnya pada sang suami yang sudah menunggunya di atas tempat tidur dengan wajah penuh cinta.
Terdengar suara telepon berdering.
"Aduuh, siapa lagi sih ini?" Kenzo terlihat kesal.
Leka turun dari tempat tidur dan mengambilkan hp Kenzo yang berada di atas meja nakas. Kenzo membukanya. "Halo, Ayah."
"Ayah tak jadi tinggal. Besok Ayah pulang."
"Lho, kenapa?"
Terdiam sesaat.
"Halo?"
"Nanti Ayah ceritakan saat pulang."
"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan ya Yah." Kenzo mematikan hp-nya, padahal Arya belum selesai bicara. "Ok, kita sampai di mana tadi?"
Leka tersenyum simpul.
Arya sedang berada di dalam kamar hotel, makan malam bersama istrinya. Ia menatap Mariko sambil mengerut kening.
"Ayo Mas, kita makan." Mariko sedang melahap ayam gorengnya.
"Mmh." Arya terdiam. Ia masih berpikir.
"Kenapa?"
Arya kembali menatap Mariko. Ia kemudian berdiri. "Aku keluar sebentar. Tolong kunci pintu. Pastikan aku yang pulang, kalau tidak jangan dibuka pintunya. Apapun yang terjadi."
__ADS_1
"Oh, iya." Mariko mengantar Arya sampai ke pintu.
Arya turun ke lantai satu, mendatangi meja resepsionis. Ia meminta kertas dan pulpen dari resepsionis itu karena ingin meninggalkan pesan untuk seseorang. Ia mulai menulis.
'Kalau kamu membaca surat ini, Ayah minta kamu ....' Ia menyelesaikan suratnya. Pria itu kemudian melipat surat dan memberikan pada resepsionis di depannya. Arya menuliskan nama dan nomor telepon yang mesti di hubungi, di atas surat itu. "Please call him 7 days after I give this letter for you. That would be ... this date.(Tolong telepon dia 7 hari setelah aku memberikan surat ini padamu. Itu berarti ... tanggal ini.)" Ia menuliskan sebuah tanggal.
Resepsionis wanita itu mengangguk. Arya kemudian memberinya tips untuk bantuan kecil itu.
Ia kemudian pergi meninggalkan meja resepsionis itu. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa. Ya allah, tolong kami melewati ini semua dengan baik. Jauhkan kami dari orang-orang jahat, doa Arya dalam hati.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri di lobi hotel yang sedang ramai itu. Sulit mendeteksi sesuatu itu di keramaian seperti saat ini. Ia segera kembali ke kamar.
----------+++----------
Kenzo mendekap istrinya sejauh tangannya bisa. Apa yang baru saja mereka lakukan membuat ia semakin cinta. Leka dan Runi pelengkap kebahagiaan sekarang yang tidak bisa di tukar dengan apapun. Kebahagiaan yang ia harap bisa terus ada menemaninya hingga akhir hayat.
-----------+++----------
Pagi itu angin sepoi-sepoi bertiup lembut. Tidak ada tanda-tanda angin akan berubah arah, tapi begitulah angin. Ia takkan memberi tahu saat sebuah takdir akan menguji umatNya.
Seperti pagi sebelumnya, Kenzo mengecek adik-adiknya di kamarnya masing-masing. Setelah siap, mereka turun bersama-sama.
"Bagaimana?" tanya Kenzo pada Leka, saat ia menarik kursinya.
Leka menggeleng.
"Mmh ... aku lupa menanyakan pesawatnya biar bisa di jemput sopirku. Kalau dia sudah mematikan hp-nya berarti besar kemungkinan Ayah sudah naik pesawat terbang. Biar nanti ku cek penerbangan pagi yang dari Nagoya ke Jakarta."
Leka menarik piring Kenzo ke dekat wadah besar berisi nasi goreng. Ia menyendokkan ke piring Kenzo, beberapa sendok besar nasi goreng.
"Kamu berhenti saja ya kerja di restoran? Biar tak terjadi lagi kejadian seperti kemarin," pinta Kenzo pada istrinya.
Leka cemberut.
"Kamu kerjakan yang lain saja ya?" bujuk Kenzo.
"Memangnya kemarin ada apa Kak?" tanya Tama ingin tahu.
"Tapi kan bodyguard-ku sekarang tahu kalau ia tidak boleh mendekat." Leka terlanjur bicara.
"Sst." Kenzo menyentuh lengan istrinya.
Runi sampai-sampai terduduk karena mendengar Kenzo mendesis. Ia melepas dot di mulutnya.
"Siapa Kak? Kak Aska?" Tama bisa langsung menebak.
"Dia ... eh ...."
Pada saat Kenzo susah menerangkan, Aiko membantu menjawabnya. "Mengganggu mantan istrinya."
Semua orang menatap Aiko.
"Oh, gitu. Nanti aku kasih tau." Tama mengambil keputusan.
"Eh, tapi ...."
"Jangan takut Kak, biar Tama yang urus."
Kini semua orang menatap Tama yang dengan santainya menyelesaikan sarapannya.
----------+++----------
Kenzo terlihat gelisah. Ia mondar-mandir di antara meja tamu restoran.
"Kenapa Mas?" tanya Leka yang melihat perubahan itu.
"Mmh, entahlah. Aku merasa cemas saja sedari tadi."
Terdengar hp Kenzo berbunyi. Leka membantu suaminya mengambil hp itu dari kantong celananya. Nomor yang tidak di kenal.
"Halo."
__ADS_1
"Moshi moshi.(halo)"
"Ah, haik.(Ah, ya)"
Kemudian percakapan menggunakan bahasa Jepang mengalir sesudahnya. Namun ada yang berbeda. Tiba-tiba Kenzo terlihat pucat dan tanpa sengaja mundur ke belakang menabrak meja. Leka dengan sigap meraih tubuh pria itu yang limbung dan segera menarik kursi. Wanita itu mendudukan suaminya di sana.
Ia tahu, pasti ada berita buruk yang baru saja di dengarnya. Ia mengambil hp Kenzo dari tangan pria itu sebelum ikut jatuh dan menunggu. Terdengar suara pria itu mulai menangis. "Leka ... pesawat Ayah jatuuhh ...." Isaknya. Butir-butir air matanya menetes di pipi.
Leka yang berdiri tepat di depan, di dekapnya. Di pinggang wanita tercinta itulah ia menumpahkan segala duka lara. Kesedihan mendalam yang ia rasa saat itu. Entah bagaimana caranya ia akan hidup mulai hari itu. Bebannya kian berat.
-------------++++----------
"Mas, jangan pergi ...." Leka berusaha menghentikan Kenzo memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
"Aku mohon Leka, ini penting bagiku." Dengan tangan yang hanya sebelah ia mencoba memasukkan pakaian semampunya.
"Mas ...."
Mendung di mata wanitanya. Kenzo tak suka dengan pemandangan ini tapi ia harus hadapi. Ia harus pergi. "Tolong Leka ijinkan aku. Aku harus mencari jasad orang tuaku. Setidaknya aku bisa menguburkan mereka dengan layak agar rasa bersalahku dengan orang tua kandungku terbayarkan, walaupun mereka bukan orang tua kandungku yang sebenarnya."
"Tapi Mas belum sembuh," rengek Leka. Matanya mulai memerah.
"Inshaallah tidak akan ada hal buruk terjadi padaku. Percayalah. Aku kan membawa beberapa bodyguard bersamaku."
Mereka saling memberi tatap enggan melepaskan. Mereka baru di persatukan dan kini harus saling mengikhlaskan. Kenzo yang lebih dulu menghindar.
"Tolong Leka, jangan memberatkan langkahku."
Leka terpaksa menunduk menahan isak. Kenzo benar-benar tak tega melihatnya. Ia menyentuh jemari istrinya.
Leka langsung mengangkat kedua tangan dan menangkup wajah pria Jepang di muka yang amat ia cinta. Mengangkat wajah itu pelan dan mengecupnya. Ingatan akan kecupan ini mungkin akan menemani malam-malam tersunyinya.
Leka mengantar Kenzo turun melewati tangga disusul bodyguardnya. Di ruang tamu ada kedua adik Kenzo, Aiko dan Tama yang berurai air mata.
"Oniichan ...."
"Kakak ...."
Keduanya berlari dan memeluk Kenzo erat.
"Maaf Kakak tak bisa menemani kalian ya?" Kenzo menahan untuk tidak menangis tapi tak ayal sebutir air matanya jatuh tanpa diminta. "Kakak janji akan bawa mereka pulang jadi baik-baik ya kalian di rumah. Saling jaga dengan Leka dan Runi dan anggaplah mereka pengganti sementara Kakak di sini."
Aiko dan Tama melepas Kenzo dan saling mengangguk.
"Aku juga akan menjaga mereka, jadi kau jangan khawatir. Pergilah ...." Chris ternyata sudah ada di depan pintu muncul mendatangi mereka.
"Papa." Tama memeluk Chris. Pria bule itu mengusap pucuk kepala Tama.
"Jaga baik-baik dirimu Kenzo. Kami menunggumu pulang dengan selamat."
Kenzo tak dapat menahan tangis harunya mendapat dukungan dari pria bule itu karena sebenarnya iapun bingung meninggalkan anak, istri serta kedua adik tanpa perlindungan. Setidaknya ia bisa pergi dengan perasan lega karena ada yang melindungi keluarganya selama ia tidak ada. "Terima kasih."
Kenzo segera naik ke dalam mobil yang perlahan meninggalkan rumahnya. Ia tak berani menengok ke belakang. Segera ia mengangkat telepon dan meminta bodyguard-nya menyambungkan dengan pengacaranya di Jakarta.
"Halo Pak."
"Aku ingin membuat surat warisan yang menguatkan bahwa Runi dan Leka Rasmin adalah penerima waris setelah aku meninggal."
"Baik Pak."
Telepon di tutup. Kecelakaan pesawat adalah sesuatu yang akan di umumkan di media. Sehebat apapun ia menghindar, ia mungkin suatu saat harus memperlihatkan wajahnya di muka umum. Ia harus siap demi menemukan kedua orang tuanya. Bersiap untuk yang terburuk demi yang terbaik. Walaupun dengan itu ia akan bertemu lagi dengan musuh-musuh Ayah kandungnya.
T A M A T
_____________________________________________
Bagi pembaca yang lelah, boleh berhenti sampai sini, tapi kalau ada penasaran dengan kelanjutan kisahnya bisa menunggu sambungannya, Junior CEO and Bodyguard Mei. Author sedang menyiapkan sambungan novel ini dalam beberapa hari ke depan. Salam. Ingflora 💋
Ada lagi novel mafia tentang perseteruan 2 mafia oleh author Dee Hwang, Terjerat Ranjang 2 Mafia. Penasaran? Kuy ....
__ADS_1