
"Kau jadi ke luar negeri?" Arya masuk tiba-tiba.
Kenzo menoleh ke pintu. "Eh, iya Yah."
Arya geram. Ia mengepalkan tangannya, tapi ... ia berusaha sabar. "Eh, apa tidak bisa di tunda?"
"Maaf Ayah, aku tetap harus pergi. Aku titip Leka ya Yah. Dia jadi mengambil rumah di samping rumahku. Perabotnya nanti ambil dari rumahku saja sementara, juga rumah, aku yang bayar sementara. Aku mungkin akan lama jadi beri kabar saja kalau ada keperluan apa-apa."
Arya melihat Leka yang berusaha ikhlas. Ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia sudah mengupayakannya untuk Kenzo tapi sepertinya anaknya berusaha mengelak. Mendustai hatinya tentang rasa. Memilih mundur teratur dengan prinsip yang dia punya. Arya ... harus menerima keputusannya dengan lapang dada, dan menghormatinya. Kini, ia juga yang harus menyambung kembali pecahan kaca yang terserak. Ia harus membantunya mengembalikan Leka pada suaminya, karena dialah yang membuat mereka terpisah. Sesak rasanya keputusan Kenzo berlawanan dengan keinginannya tapi ia harus menghormati itu. Sebab dengan begitu, Kenzo akan menjadi pria dewasa seperti yang seharusnya di umurnya yang sekarang ini dengan pemikirannya yang sudah matang dan bertanggung jawab. Tidak lagi jadi pemuda cengeng yang mengharapkan pendapatnya di setiap waktu. Bukankah itu yang diinginkannya selama ini?
"Eh, Ayah sudah menyelesaikan administrasinya. Kita bisa pulang sekarang. Apa Leka mau makan dulu, kebetulan kita masih di rumah sakit."
"Oh, ide bagus Yah, ayo kita ke kantin." Kenzo membantu Leka turun dari tempat tidur.
Tas besar milik Leka dan milik Baby Sitternya diberikan Arya pada bodyguard Kenzo di luar. Mereka kemudian pergi ke kantin.
Di sana, Kenzo memberikan es krim cup untuk Leka, sebelum makan. Runi juga ternyata mau. Akhirnya Runi dibelikan es krim yang mengandung sirup dan jus.
"Ahh ...." erang Leka.
"Kamu masih sakit?" tanya Kenzo khawatir.
"Tidak, dingin sekali ...." Leka menyentuh pipinya.
"Oh."
Runi terlihat tersenyum senang merasakan es krim pertama kali. Beberapa kali ia ingin menyentuhnya tapi Ani tak memberinya. Sensasi dingin yang membuat ia memamerkan giginya yang baru beberapa membuat wajahnya terlihat lucu. Kenzo ikut-ikutan menyeringai mengikuti Runi saking lucunya. Ia kemudian tertawa. "Lucu sekali dia kalau sedang begitu. Rasanya ingin bikin beberapa."
Semua orang di meja itu, menoleh ke arahnya. Kenzo tersadar akan ucapannya barusan. Ia benar-benar malu hingga merah padam wajahnya. Apalagi Leka. Arya tak bisa menahan senyum.
Setelah Leka makan, mereka pulang ke rumah Kenzo. Ternyata Mariko, Aiko dan Tama sudah menunggunya di sana. Mereka sudah membersihkan rumah mungil itu hingga siap di tempati. Leka sempat melihat rumah dengan 2 kamar itu dari dalam hingga ia bisa mengira-ngira, perabot apa yang cocok dibawa masuk ke dalam rumahnya kemudian ia bersama Kenzo memilih-milih perabot yang akan dibawa ke rumah Leka. Pemindahan perabot dilakukan oleh para pekerja di rumah Kenzo termasuk para bodyguard. Tidak butuh waktu lama, rumah siap berpenghuni.
"Terima kasih ya, sudah membantuku sampai sejauh ini. Aku tidak bisa bilang apa-apa selain berterima kasih. Maaf aku pernah membohongi kalian, aku menyesal. Seharusnya orang seperti aku ini tidak menerima perlakuan istimewa seperti sekarang ini. Maafkan aku." Leka bicara sambil menitikkan air mata. "Maaf, dengan sangat lancangnya, setelah membohongi kalian aku malah masih meminta pertolongan kalian."
Mariko menyentuh bahu Leka. "Kami tahu kok, kau punya situasi sendiri yang menyebabkan kamu harus berbohong. Manusia tempatnya alpa. Aku sendiri pernah berada di situasimu itu dulu. Bahkan sering. Situasimu itu masih lebih ringan daripada aku."
Ya, dulu Mariko hidup lebih parah dari Leka, yang mempunyai Ayah tapi tak berguna. Selain tidak bisa mencari nafkah, Ayahnya selalu pulang dalam keadaan mabuk. Di sisi lain, Ayahnya jarang pulang ke rumah dan juga hampir jarang memberi nafkah menyebabkan Mariko harus mencari makan dan uang sekolah sendiri dengan mencuri.(Senandung Cinta Jilbab Reina 2) Teman-teman sekolahnya tahu Mariko anak yang baik tapi kehidupan di Jepang sangatlah keras. Beruntung ia belum pernah tertangkap mencuri ataupun menjual diri. Satu-satunya kesalahan adalah tinggal bersama pacarnya yang seorang Yakuza yang baik hati hingga ia tak sengaja bertemu Ayah Kenzo. Pertemuannya dengan Arya dalam pelarian menimbulkan benih-benih cinta karena awalnya Arya dengan tulus membantunya bertemu dengan anaknya Tama di rumah Chris dengan menyamar menjadi laki-laki. Kebetulan Arya saat itu sedang mengerjakan proyek membuat rumah Chris.
Berbohong bukan hal yang aneh dalam hidup Mariko dulu karena kerasnya dunia dan ia harus bertahan hidup.
"Mungkin kamu bisa istirahat dulu dan merapikan barang-barangmu. Sehabis Magrib kamu kami undang makan malam di rumahku ya?"
__ADS_1
"Terima kasih Bu."
Arya dan keluarganya kemudian kembali ke rumah mereka, tinggal Leka dan Ani yang sedang menggendong Runi berada di sana.
"Aku minta maaf karena aku merepotkanmu. Aku memang egois, meminta tolong orang yang aku bohongi, tapi hanya kamu teman bicara yang mau mendengarkanku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih padamu karena begitu banyaknya hal yang kau bantu."
"Jangan begitu Leka. Ini hanya bantuan ringan saja dan tak seberapa. Kalau aku bisa aku pasti bantu. Itu kan yang namanya teman?"
Ucapan Kenzo membuat mata mereka bertemu. Lebih dari sekedar teman, itulah yang berusaha mata mereka ucapkan, tapi tak bisa. Begitu banyak pagar-pagar besi di sana yang harus mereka lewati. Sebuah kondisi yang memaksa mereka mengerti, mereka mungkin tidak di takdirkan bersama.
"Kakak berapa lama perjalanan bisnisnya?" Tiba-tiba saja kalimat itu menyeruak keluar dari mulut wanita itu. Ia ingin tahu, berapa lama pria itu akan pergi.
"Mmh, biasanya 2 minggu hingga 1 bulan." Kenzo belum pernah melakukan perjalanan bisnis hingga satu bulan tapi itu hanya perkiraannya bila ia merasa tak cukup berani untuk pulang.
"Apa aku boleh menunggunya?"
Kalimat Leka membuat Kenzo berpikir ulang tentang kepergiannya. Mungkin lebih.
"Eh, tidak perlu di tunggu. Di keluargaku itu sudah biasa." Kenzo berusaha sedikit tertawa untuk memecah kekakuan.
"Aku ... akan menunggumu."
"Eh?"
Leka, jangan tunggu aku, karena ... ini sangat membebaniku.
Leka mendatangi rumah barunya. Sebuah rumah mungil di samping rumah Kenzo. Sebenarnya perumahan di sana serupa dengan rumah Leka yang mungil karena perumahan milik Arya itu adalah perumahan untuk kalangan menengah ke bawah. Hanya rumah Kenzo saja yang termasuk rumah paling mewah di sana sedang rumah Ayahnya Arya, hanya besar tapi berkonsep minimalis.
Leka memasuki ruang tamu rumahnya dan melihat ke dalam. Agak aneh sebenarnya melihat rumah kecil itu berisi perabotan yang lumayan bagus karena sebenarnya Leka tidak ingin merepotkan orang dengan membeli barang baru untuknya. Entah kenapa Kenzo bisa menangkap maksudnya dengan mengisi rumah itu dengan barang-barang milik pria itu yang tergolong bagus. Jadi tetap saja rumah itu terlihat berbeda karena punya perabotan mewah di dalamnya.
Leka masuk ke kamar utama dan melihat tas besarnya sudah teronggok di depan tempat tidurnya. "Ani, biar Runi tidur sama aku saja."
"Iya Bu." Ani menurunkan Runi di atas tempat tidur Leka.
"Nanti sehabis Magrib, temani Ibu makan malam di rumah seberang ya?"
"Baik Bu." Ani pun keluar dengan menutup pintu.
Leka mengedarkan pandangan ke kamar kecilnya itu. Kamar yang sekarang jadi miliknya. Rumah yang sekarang jadi miliknya. Betapa bahagianya. Sebenarnya ini adalah hiburan baginya di balik kepahitannya yang kini telah menjadi janda.
"Bunda sekarang sudah menjadi manusia bebas. Tidak perlu ada orang yang menyuruhnya harus ini dan harus itu dan Bunda harusnya bahagia dan bisa menentukan jalan hidup Bunda sendiri." Leka menatap Runi, tapi tak ayal air matanya menetes. Ia menggendong Runi dan memeluknya. "Tapi tetap saja, Bunda tidak bisa mendapatkan apa yang Bunda inginkan." Ia menatap Runi dengan segenap kesedihannya.
__ADS_1
Gadis kecil itu memeluk leher Ibunya. "Unda ...."
"Hanya kau yang aku miliki yang membuat semangat Bunda meninggi."
---------+++--------
Rumah Arya terasa semakin ramai dengan bertambahnya Leka di rumah itu untuk makan malam. Adanya Runi pun semakin menghidupkan suasana.
"Mbak, sini Mbak, aku gendong. Aku sudah selesai makannya." Aiko yang buru-buru menyelesaikan makannya segera menggendong Runi. "Adek ...."
Namun Runi masih sedikit tegang di gendong Aiko. Ketika melewati meja Kenzo, Runi malah memanggilnya. "Papa ...." Ia merentangkan tangannya.
Kenzo tentu saja langsung menyambutnya. "Mmh, sini ... Sini, sini." Kenzo yang masih mengunyah menerimanya dari Aiko.
"Iya, susah nih anak 'Papa'." Aiko sengaja meledeknya dengan menyebut nama Papa sedikit aneh.
"Oh, ada yang cemburu." Arya kini yang meledek Aiko. "Ada saingannya ya, kesayangan Niichan."
Aiko cemberut dan yang lain tertawa.
Leka senang berada di tengah mereka, orang-orang yang memberinya semangat di tengah kegundahan hatinya akan statusnya yang sekarang. Mungkin tidak untuk selamanya, tapi paling tidak bisa menyembuhkan luka batinnya saat ini, yang telah berulang kali terluka.
Kenzo adalah sosok pria yang di inginkannya tapi pria itu seperti menghindarinya. Leka tentu saja tak bisa memaksanya karena dari awal ia juga telah membohongi pria itu. Mungkin saja, pria itu terluka karenanya.
Leka segera berdiri. "Aku pulang dulu ya?"
"Eh, kok cepat-cepat?" tanya Mariko heran.
"Mmh, aku ingin istirahat. Hari ini terasa sangat melelahkan."
"O iya, baru habis kecelakaan sih ya? Ya sudah, gak apa-apa." Mariko memaklumi.
"Oh iya. Karena hari libur panjang, bagaimana kalau besok kita tamasya ke pantai? Pantai pinggir kota saja yang lebih dekat." ucap Arya.
"Horeee!" Aiko melonjak.
"Setuju!" ujar Tama.
"Tapi aku ada janji dengan Nena." potong Kenzo.
"Ya sudah, ajak saja." Arya menepuk bahu Kenzo.
__ADS_1
"Yeiii ...." Aiko kembali melonjak-lonjak.
Nena, apa ia pacar Kenzo?