Sungai Rindu

Sungai Rindu
Adaptasi Hati


__ADS_3

"Kamu belum pernah pergi ke supermarket?"


"Minimarket kan sama ya?"


"Supermarket beda. Lebih besar. Kalau supermarket besar dia ada jual daging dan sayuran."


"Bukannya sama saja ya? Ada yang seperti itu?" Dengan lugunya Leka bertanya.


"Bukan ada, tapi memang begitu."


"Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja. Sekarang saja sudah sore, nanti takut tutup."


"Ada yang buka 24 jam kok, gak usah kuatir."


"Kalau tutup bagaimana, besok kan Abang ke kantor. Kita pergi sekarang saja, ya?"


Aska menghela napas. "Iya, iya ...."


Tak lama mereka sudah berada dalam mobil menuju ke supermarket. Runi terlihat bingung. Kenapa pria itu selalu ada bersama mereka. Sesekali ia menatap pria itu.


Aska yang di tatap bingung oleh Runi, senang. Ia mencolek pipi Runi membuat gadis kecil itu kalang kabut memeluk ibunya.


"Itu Om, nanti kita tinggal sama Om ya?" Leka memberi tahu.


Gadis itu masih belum mengerti. Ia menatap ibunya sebentar kemudian memeluknya, tapi sesekali masih menoleh pada pria itu.


Mobil mereka mendatangi sebuah mal besar.


"Apa ini Bang? Mal ya? Besar sekali."


"Pasti belum pernah ke Mal."


"Iya Bang, belum. Leka hanya lihat di tv."


"Di sini lengkap, kita bisa ke mana saja."


"Maksudnya?"


"Ayo kita masuk."


Aska memarkir mobil di lantai bawah gedung di sampingnya, kemudian turun dan bersama-sama masuk ke sebuah pintu menuju ke dalam mal yang berada tak jauh dari tempat ia memarkir mobil. Saat masuk, Leka terkagum-kagum akan besar dan gemerlapnya isi gedung itu. "Bagus sekali Bang," katanya terpesona.


"Eh, kamu lupa apa yang harus kamu sebut." Aska melihat kanan dan kirinya memastikan tidak ada yang mendengar.


"Apa Bang?" Leka benar-benar lupa.


Aska mencengkram lengan Leka.


"Ah, ah ...."


"Diam, jangan berteriak," bisik Aska kesal. "Kau masih belum ingat?"


Sambil menahan sakit di lengan, Leka berusaha mengingat-ingat. "Maaf ... Pak."


"Bagus. Jangan sampai lupa." Aska melepas cengkramannya.


Leka ingin memukul bahu pria itu tapi ia sedang menggendong Runi hingga tak leluasa. Runi pun menatapnya dengan wajah bingung. Leka berusaha tegar dan menghapus air mata setitik yang terlanjur turun agar Runi tak melihat ia menangis. Ia kemudian mengikuti Aska.


Kesal, tapi mau bagaimana? Mungkin ia telah menikahi seorang monster.


"Kita naik ke atas, kita makan dulu."


Leka hanya diam. Dia mengikuti suaminya hingga ke eskalator.


Lengannya masih nyeri dicengkram pria itu. Benar-benar laki-laki jahat!

__ADS_1


"Eh, kamu bisa naik eskalator?"


"Mmh?" Leka tersadar. "Bi-bi-bisa."


"Coba?" Ledek Aska.


Untung saat itu tak begitu ramai orang, tapi walaupun begitu, mereka berdua menjadi perhatian banyak orang.


Leka naik anak tangga yang berjalan dengan pelan, memilih-milih pijakan dan akhirnya ia naik. Aska menyusul di belakangnya. "Bagus."


Leka tak mau menengok ke belakang melihat wajah pria itu, ia sudah terlanjur membencinya.


"Eh, lewat sini." Aska menunjukkan. Rupanya ia sudah tahu restoran yang dituju. Sebuah restoran makanan Indonesia. Mereka pun memesan makanan. Selama makan, Leka masih terlihat kesal dan itu jadi perhatian Aska. Runi yang di dudukkan di kursi khusus, tenang saja di suapi Leka.


"Kamu kenapa sih dari tadi wajahnya jelek sekali?" Aska yang tadinya tak peduli akhirnya mengeluarkan suaranya.


Namun istrinya hanya diam. Ia sepertinya malas bicara.


"Eh, eh, sini. Ada yang aku ingin kasih tahu." Aska memanggil Leka dengan jemarinya dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Tanpa sadar Leka ikut mencondongkan tubuhnya. Aska menoleh ke kiri dan kanannya dan tiba-tiba ia pindah ke sebelah istrinya dan cup ....


Sebuah cium singkat mendarat di pipi Leka. Sempat wanita itu membulatkan matanya, kaget.


Aska kembali ke kursinya dan berpura-pura seakan-akan tak terjadi apa-apa. "Jangan ngambek terus." Ia meneruskan makannya, kembali dengan wajah tak peduli.


Tak ayal pipi Leka bersemu merah. Lho, bukannya di depan umum katanya harus berpura-pura? Yang tadi apa? Ya Allah, benar-benar egois, maunya menang sendiri!


"Sudah ngambeknya. Aku lagi makan ini, lama-lama bisa hilang selera makanku," ucap Aska tanpa melihat wajah Leka.


Leka benar-benar kesal.


"Ayo makan, habis ini kita mau belanja."


"Tadi apa? Kamu curang!"


"Iya maaf, sekarang makan. Ayo!" Jawab Aska dengan mudahnya.


"Unda ...." Panggilan Runi bahkan tak didengar mereka yang sibuk bertengkar.


"Sudah ... segitu saja. Jangan dibikin panjang," dengan santainya Aska berbicara.


"Eh, tanganku sakit, tahu. Kasar sekali sama perempuan ...."


"Unda ...."


"Apa?" Aska dan istrinya kompak bertanya sambil menoleh pada Runi.


Wajah Runi berubah kemerahan. Ia seperti menahan sesuatu. Tercium bau yang tidak menyenangkan dari tubuh gadis kecil itu.


"Eh Runi, kamu ...." Leka segera mengangkatnya dari kursi. "Eh, kamar mandinya di mana ini?"


"Di sana," Aska menunjuk ke satu arah di belakang mereka. Mereka pun berlarian ke arah toilet yang berada di dalam area restoran itu. Leka membawanya ke toilet wanita. Aska yang menunggu di luar, menggaruk-garuk kepala.


Beberapa menit kemudian Leka keluar. "Bagaimana ini? Aku gak bawa celana gantinya."


"Kenapa gak dipakaikan pamper sih?"


"Pamper kan mahal. Beli celana saja untuk anak 2 tahun. Runi sedikit gemuk soalnya."


"Tunggu di sini, aku akan belikan." Aska segera pergi. Sepuluh menit kemudian ia kembali. Ia masuk ke dalam toilet wanita yang untungnya tidak ada orang. "Ini. Pakai pamper saja, cukup." Ia memberikan satu pada Leka.


Wanita itu mengambilnya. Beberapa menit kemudian Leka dan Runi keluar dari toilet.


Aska sebenarnya sudah terbiasa mengurus adiknya seperti Tama, Zack dan juga Lydia karena jarak umur yang jauh dan memang Aska suka anak kecil. Mereka bertiga ini bisa dibilang akrab dengan Aska hingga kini.


Runi terlihat canggung dengan celana barunya. Ia berjalan dengan sedikit aneh.

__ADS_1


"Ayo kita teruskan makannya, sudah makin malam ini."


Mereka pun meneruskan makannya. Setelah itu mereka berbelanja ke supermarket. Runi di letakkan di keranjang dorong. Sementara Leka mengambil barang yang di beli, Aska mendorong keranjangnya. Kadang pria itu membantu mengambilkan barang yang tinggi atau barang tak terjangkau. Runi senang melihat-lihat barang di supermarket itu. Ia pun di dorong keliling supermarket besar itu.


"Banyak sekali barang di sini ya?" Leka terheran-heran. Baru kali ini ia masuk supermarket besar yang barangnya tidak ada habis-habisnya.


Tiba-tiba Aska berhenti. "Kamu tidak pernah pakai bedak ya?"


"Memang kenapa?"


"Kamu tidak ingin?"


"Mau sih, tapi aku gak ngerti. Dulu waktu lulus-lulusan SMA saja pakai, itupun punya teman."


"Jangan kalah sama pembantu di Jakarta, mereka semua pintar berdandan masa kamu tidak? Pergi ke sana, ada konter kosmetik. Beli yang kau butuhkan. Kalau kamu tidak mengerti, kamu tanyakan saja pada mereka. Sekalian tanya bagaimana cara memakainya, biar kamu gak bingung." Aska menasehati sambil menunjuk konter yang dimaksud. Mereka kemudian pergi ke konter itu. Aska meninggalkan Leka dan Runi yang masih di keranjang dorong di sana, sedang ia berjalan memutari lorong yang berisi rak-rak itu hingga beberapa menit ke depan. Saat ia kembali, ia terkejut.


"Bagaimana eh, Pak? Bagus gak?"


Aska melihat Leka yang kini berdiri di hadapannya. Wanita itu tidak hanya terlihat cantik tapi sangat cantik.


"Eh, begitulah."


"Ini, aku beli ini saja." Leka memasukkan ke dalam keranjang, kosmetik yang dibelinya.


Setelah selesai belanja, mereka mengantri. Aska tak habis-habisnya menengok istrinya berulang kali, seakan tak percaya apa yang dilihatnya.


Karena banyaknya barang yang dibeli, supermarket memboleh Aska membawa keluar keranjang mereka. Leka terheran-heran. "Baik sekali mereka ya?"


"Oh, bukan begitu. Ini sudah servisnya begitu."


"Servis?"


"Supaya pelanggannya bisa dengan leluasa belanja banyak." Aska melihat sesuatu. "Tunggu sebentar di sini ya?" Pria itu memasuki sebuah toko elektronik. Tak lama ia keluar. Ia membawa sebuah bungkusan plastik kecil dan mendekati istrinya. Ia mengeluarkan isinya, sebuah kotak hp yang kemudian ia buka. "Ini aku belikan hp baru untukmu. Tidak boleh sembarang nomor kamu masukkan ya? Aku isi nomorku dulu." Ia mengetikkan nomornya ke dalam hp istrinya.


Leka melihat dengan mata terbelalak. "Itu yang layar sentuh ya? Aku lihat tetanggaku di kampung, punya."


Aska menatap istrinya, sekali lagi terkejut. "Hp seperti ini kamu juga gak tahu cara pakainya? Ini kan jaman teknologi, pembantu di Jakarta saja tahu cara memakainya."


"Makanya jangan belikan yang mahal-mahal, aku tak tahu cara pakainya." Seketika nyali Leka menciut.


"Aku tidak beli yang mahal, malah ini hp standar di sini. Bahkan ada ...."


"Pembantu yang punya hp lebih mahal dari ini." Potong Leka. Ia sudah tahu suaminya akan bilang apa. Wajahnya terlihat payah.


Aska kemudian memasukkan hp itu kembali ke dalam kotaknya. Ia tak tega melihat Leka menjadi rendah diri karena omongannya. "Nanti di rumah aku ajari." Ia memasukkannya ke dalam keranjang supermarket. "Ada lagi yang mau kamu beli?"


Leka seperti berpikir.


"Kau mau apa, bilang saja."


"Aku boleh beli baju?"


"Boleh."


"Tak perlu mahal, tapi ...."


"Boleh. Belikan juga pakaian untuk Runi."


Aska menepati janjinya. Sementara Aska menunggu di luar toko dengan keranjang dorongnya, Leka sibuk di dalam toko bersama Runi memilih pakaian. Setelah selesai, Leka memberi nota barangnya pada Aska untuk di bayar. Begitu juga saat pergi ke toko pakaian anak-anak hingga kemudian mereka pulang.


Aska harus bulak-balik naik turun lift karena banyaknya barang yang dibeli, sedang Leka memasukkan dan menyusun bahan makanan di lemari es. Runi terlihat mulai mengantuk dan menaiki sebuah kursi sofa di ruang tamu. "Unda ...."


"Apa nak?" Leka segera mencarinya. Gadis kecil itu sedang menyadarkan tubuh pada kursi sofa dengan mata yang hampir mengantuk. "Bunda buatkan susu dulu ya?" Leka segera ke dapur. Susu bubuk kaleng yang baru di belinya langsung ia buka. Ia menyeduh susu Runi dari air yang ia masak sendiri di tambah air dari galon yang ada di dapur agar tak terlalu panas. Segera ia memberikannya pada Runi. Leka merebahkan kepala Runi pada sebuah bantal dan gadis kecil itu menyusu sendiri dari botolnya.


 

__ADS_1


Terima kasih reader atas perhatiannya. Dukung terus Author dengan cara vote, komen, like dan hadiah. Syukur-syukur ada koin.😁 Ini visual Leka setelah mulai belajar berdandan sendiri. Salam, Ingflora💋



__ADS_2