
"I-ini siapa?" Tanya Aska bingung melihat Runi. Suaranya mulai reda.
Leka tak menjawab. Ia segera mengambil tas tangannya dan segera keluar. Sudah sedari tadi ia ingin membawa anaknya ke dokter tapi tertunda kesibukan dan Runi pun sama. Gadis kecil itu seperti tahu kesibukan ibunya hingga menahan rasa ingin di peluk oleh Leka sampai keributan itu terjadi. Itulah puncak kesabaran mereka. Runi menangis melepas rasa tak nyamannya dan Leka sudah tak perduli lagi apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. Pikirannya cuma satu, membawa Runi ke dokter.
"Kau mau ke mana?" Aska mengikuti istrinya keluar, tapi tak sepatah pun kata keluar dari mulut Leka. Ia meraih lengan Leka. "Aku tanya, kau mau ke mana?" Ia bicara lebih pelan.
Candi tiba-tiba muncul di antara mereka. "Hei, jangan memaksa wanita dong."
Aska mendorong pria itu. "Aku peringatkan ya? Jangan ganggu rumah tangga kami lagi, mengerti?" Ia menunjuk pria itu dengan jarinya dengan menahan amarahnya.
Aska kemudian menoleh pada istrinya. "Leka, biar aku antar. Biar suamimu yang antar, ok?" Ia berusaha bicara lembut pada istrinya.
Leka tak punya pilihan. Ia ingin naik kendaraan umum, tapi tak ada yang lewat sana sedang tukang ojek di tempat pangkalannya sedang kosong. Ia akhirnya mengikuti permintaan Aska karena ia menyebut kata 'suamimu' pada Leka. Sebenarnya ia hampir menangis terharu tapi coba di tahannya.
Aska membawa istrinya ke mobil, di dudukkan di depan dan segera ia naik mobilnya. Sepanjang perjalanan ia ingin bertanya soal Runi tapi melihat Leka yang cemas, ia menahan diri, hingga sampai ke klinik. Mereka membawanya ke UGD dan langsung di tangani. Runi segera di beri obat. Aska mengurus semua administrasinya.
"Sejauh ini tidak berat ya Ibu, mudah-mudahan hanya demam biasa."
"Ah, iya. Terima kasih."
Dokter itu meresepkan obat dan menyerahkannya pada Leka. Mereka kemudian menunggu obat di apotik. Di tempat itu sepi, tak ada orang lain selain mereka.
"Anak ini anakku kan?" Dari menunduk Aska melirik Leka.
Wanita itu tak menjawab. Ia hanya menggendong Runi yang begitu nyaman di pelukan ibunya.
"Apa aku tak boleh tahu?"
"Apa itu penting?"
Aska seakan kehilangan suaranya. Ia mengganti topik pembicaraan. "Apa kamu lapar?"
Leka tak peduli.
Aska menyentuh lengan istrinya. "Temani aku makan ya?" Pintanya pelan.
"Ny. Irfan."
"Oh, itu obatnya." Aska berdiri. "Biar aku yang urus." Ia mengambil obat dan membawa Leka ke mobil. Sepanjang perjalan pria itu tak bicara apa-apa dan fokus menyetir hingga ke tempat tinggal Leka.
"Oh, Ibu ke mana?" Nizam yang berpakaian sekolah putih abu-abu berdiri menyambut Leka. Ia memperhatikan wanita itu datang dengan diikuti seorang pria di sampingnya.
"Oh, Runi demam. Kamu pulang cepat?"
"Eh, iya Bu." Nizam tak enak hati karena wanita di hadapannya itu punya tamu. "Permisi."
"Eh Nizam, kamu mau makan?"
"Tidak Bu, terima kasih."
"Makasih ya, Nizam."
Nizam kemudian pamit dan pulang ke rumahnya.
Runi yang telah tidur dibaringkan kembali di kasur tipisnya. Sementara Leka keluar, Aska duduk menemani gadis kecil itu di sampingnya.
Leka menengok ke dalam rumah melihat Aska dari pintu yang terbuka. Sekarang aku harus bagaimana dengannya?
__ADS_1
Tak lama Leka masuk lagi sambil membawakan sepiring nasi dan ayam serta tempe tahu. Aska yang menunggui Runi sambil menundukkan kepala, segera melirik makanan yang di bawa Leka. Matanya seolah bicara, dia suka.
Wanita itu juga membawa piringnya, tapi belum sempat ia makan, seorang pembeli sudah datang memanggilnya. Ia terpaksa melayani pembeli. Karena sudah jam makan siang, pembeli yang lain mulai berdatangan. Wanita itu akhirnya melayani pembeli sambil sempat ke dalam memberikan Aska segelas es teh manis.
"Makasih," sahut Aska senang.
Leka hanya meliriknya sekilas lalu melanjutkan melayani pembeli. Sempat Aska mendatangi tempat jualan Leka di depan, tapi hanya untuk menambah sambal pada piringnya. Banyak yang memperhatikan Aska tapi pria itu tak peduli.
"Bapak suaminya?"
"Iya, memang kenapa?" Jawab Aska ketus.
"Eh, tidak apa-apa," sahut seorang pria kecewa.
Aska kembali ke dalam rumah dan meneruskan makannya. Setelah selesai, ia mencuci piringnya sendiri. Kembali ia menemani Runi yang masih tertidur.
Di perhatikannya gadis kecil itu. Wajahnya sangat lucu. Jilbabnya dilepas Leka saat tidur. Badannya yang sedikit gempal dengan pipi tembamnya yang sedikit kemerahan membuatnya seperti malaikat kecil yang sedang tertidur. Aska menyentuh tangannya yang mungil, ia hampir tak percaya sudah mempunyai anak dari Leka di saat ia sibuk memikirkan rasa bersalahnya.
Sudah dua tahun. Ya, sudah dua tahun berlalu ia habiskan dengan hanya memikirkannya saja, sedang gadis ini sudah terlahir ke dunia. Ia tidak sadar sudah dua tahun berlalu.
Aska mencoba mengusap kening Runi yang tertidur. Rambut di keningnya yang basah oleh keringat, mulai mengering. Demamnya sepertinya sudah turun.
Leka masuk ke dalam rumah. Dilihatnya suaminya mengusap rambut anaknya.
Runi. Apa yang harus kulakukan demi Runi?Leka kembali duduk dan mulai makan.
"Siapa namanya, Runi?" Aska melirik istrinya.
"Iya, Runi. Arunika Rasmin."
"Kenapa pakai namamu, dia kan ...."
Aska berdehem. "Maaf aku tadi kasar padamu." Ia menunduk. Aska mulai sadar, tadi dia emosi kenapa? Kan dia tidak mencintai Leka.
Leka hanya meneruskan makannya tanpa bereaksi apa-apa.
"Aku tidak bisa menawarkan apa-apa padamu, tapi kalau kamu mau ikut tinggal denganku, silahkan."
Leka menghentikan makannya. Pria macam apa yang kunikahi ini? Ya Allah, tidak ada sedikit pun niatan untuk memperbaiki yang sudah salah.
"Bu ...."
"Iya." Leka segera berdiri. Ia mencuci tangannya dan segera melayani pembeli. Yang lain ternyata mengikuti. Dagangan Leka seperti biasa habis sebelum waktunya. Ia membawa wadah-wadah kosong ke dalam rumah. Dilihatnya suaminya tidur di samping putrinya.
Apa aku mengalah saja? Demi Runi agar ia punya ayah. Toh, pria ini sepertinya bisa menyayangi anaknya. Lagipula Bapak juga pesan hal yang sama.
Leka mulai mencuci wadah-wadah itu. Ia membersihkan tempat dagangannya.
"Sudah habis ya Bu. Lagi ...." Wanita itu datang terlambat. Ia melihat Aska yang tidur dengan Runi, anaknya. "Eh, sudah ketemu sama suaminya Bu. Alhamdulillah. Akur-akur ya Bu." Ia menepuk bahu Leka, kemudian pergi.
Leka melihat lapak dagangannya. Baru dua hari dia tinggal di situ sudah menemukan suaminya. Alhamdulillah. Harusnya ia bersyukur. Entah apa yang akan terjadi dengan perkawinannya nanti, insha allah, mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Toh, ia menikah karena Allah. Niat beribadah.
------------+++---------
Aska terbangun karena tangis Runi. Gadis kecil itu kaget karena bangun dan melihat Aska.
"Oh, ma-maaf." Aska mulai sadar apa yang terjadi. Ia tidur di kontrakan Leka. Dilihatnya Leka sudah duduk dengan sebuah tas besar di sampingnya. Wanita itu segera mengambil Runi dan menggendongnya.
__ADS_1
Aska berusaha mengingat kembali apa yang terjadi. Oh, ia tadi menawari Leka tinggal dengannya. "Eh, jadi kau memutuskan untuk ikut denganku?"
"Iya."
"Oh, ok." Aska tampak bersemangat sekaligus gusar tapi ia tepis rasa itu. "Adalagi yang mesti di bawa?"
"Barangku hanya segini." Leka menepuk-nepuk tas besar di sampingnya. Ia memasangkan anaknya jilbab kecil menutupi rambut sebahunya.
"Ok." Aska berdiri. Ia pergi ke dapur untuk mencuci muka setelah itu ia mengambil tas besar milik Leka. Entah berapa lama ia tertidur, wanita itu dengan cepat telah merapikan ruangan itu hingga bersih kembali.
Mereka keluar dan Leka mengunci pintu. Wanita itu kemudian menyerahkan kunci itu pada pemiliknya di rumah sebelah yang kebetulan menunggu di beranda.
"Baik-baik ya berdua," sahut Bapak pemilik kontrakan sambil tersenyum.
"Terima kasih ya Pak."
"Iya, iya. Tidak apa-apa."
Aska menganggukkan kepala pada bapak itu yang diangguki balik bapak itu dengan ramah.
Mereka segera naik ke mobil. Sepanjang perjalanan Runi melihat Aska dengan pandangan aneh. Setiap Aska melirik padanya, gadis itu segera memeluk ibunya. Aska tersenyum melihat tingkah Runi yang lucu.
Mobil sampai ke perparkiran sebuah gedung apartemen. Leka melihatnya bingung. "Kamu ke kantor?"
"Oh, bukan. Aku tinggal di apartemen sini."
"Apartemen?" Leka rasanya pernah melihat gedung apartemen di dalam tv tapi tak menyangka akan tinggal di sana kelak.
Ia mengikuti Aska masuk ke dalam gedung apartemen dan menunggu lift. Melihat lift saja Leka takjub. Berarti benar ada gedung-gedung yang indah di kota Jakarta ternyata.
Saat pintu lift terbuka, tiga orang keluar dari sana. Mereka segera masuk dan naik hingga puncak teratas. Ia juga heran melihat Aska membuka pintu dengan kartu, juga pintu ke apartemennya dengan nomor kode yang ditekan di sebuah kotak. Pintu kemudian dibuka dan ia melihat apartemen yang sangat besar dan mewah walaupun di tata dengan gaya minimalis.
"I-ini rumahmu?"
"Iya, ayo." Aska naik ke lantai dua dengan melewati anak tangga dan Leka masih mengekor. Mereka kemudian masuk ke kamar pertama yang ditemuinya. Sebuah kamar yang besar dengan beranda berpintu kaca. Tempat tidurnya besar dan juga lemari.
"Ini kamar kita." Aska meletakkan tas besar milik Leka di lantai.
"Apa? Kamar kita?" Leka melirik Aska yang berpenampilan biasa saja. Berkemeja putih dan celana abu-abu, penampilan orang kantoran biasa hingga Leka tidak mengira ia anak orang kaya.
Aska melirik Runi, dan mengangkat kedua tangannya. "Mau Om gendong," tanyanya lembut.
"Om?" Leka segera menarik Runi menjauh. "Kau ayahnya!"
"Mmh, ada sebuah situasi yang mesti kau ketahui."
"Apa?"
"Kau duduk dulu di sini ya?" Aska mendudukkan Leka di tepian tempat tidur. "Aku masih gamang soal pernikahan kita. Aku memikirkan itu selama 2 tahun ini. Apa kau juga memikirkan itu? Kita menikah tanpa cinta dan mendadak pula."
"Jadi maksudmu bagaimana, aku tidak mengerti."
"Aku juga sepertimu, tidak punya orang tua dan diangkat anak oleh orang yang menikah dengan Ibu sambungku. Jadi sampai sekarang aku belum bicarakan ini dengan mereka."
"Lalu?"
"Aku ingin kita memperbaiki ini. Pernikahan kita. Bagaimana kalau kita coba tinggal sebulan bersama. Setelah itu kita bisa putuskan ingin meneruskan atau pisah secara baik-baik."
__ADS_1
"Lalu kenapa Runi harus memanggilmu Om?"