
Sehabis sholat Zuhur, Kenzo segera mengepak barang-barangnya dengan tergesa-gesa masuk ke dalam sebuah koper kecil, lalu ia menutupnya.
Hah ... Aku bukan pria penggoda. A-aku tergoda ... Ah, Leka kamu ... Ck!
Kenzo duduk di tepian tempat tidur. Aku harus pergi ke mana, kepalaku pusing ini terus-terusan memikir wanita itu saja. Ck! Kalau bertemu dengannya aku tak bisa menghindarinya, selalu ingin bertemu dengannya makanya aku harus pergi. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri bila dekat dengannya, bisa-bisa aku lama-lama nekat. Ayah tak mengerti sih ... tapi Ayah tak mengizinkanku pergi ke luar negeri, bagaimana ini? Ck, aku harus ke mana?
Mmh ... bagaimana kalau ke luar kota? Ah, aman itu. Kenzo kemudian mencari di internet tempat-tempat yang bagus untuk menginap dengan pemandangan yang indah dan menyejukkan. Ia akhirnya menemukannya di daerah puncak. Ah, ini saja.
Pria itu kemudian menuruni tangga bersama seorang bodyguard yang membawakan kopernya hingga ke mobil. Ia lalu berangkat dengan kedua bodyguard itu.
Sementara itu di rumah Leka, sehabis sholat Zuhur Chris dan Aska kembali duduk di ruang tamu. "Ok, aku hanya ingin bertanya tentang keluargamu, Leka. Ada yang bisa menikahkanmu?"
"Ada. Pamanku di kampung."
"Oh, kalau begitu sekalian saja mengundang beberapa sanak saudara dekat untuk pesta kecil-kecilan di mesjid."
"Oh, iya."
"Coba kamu tuliskan alamat mereka kalau kau ingat atau mungkin arah ke rumahnya di kampung."
"Aku tahu alamat rumah Leka yang di kampung, aku bisa mengantarkan kurirnya kalau susah mencari alamatnya. Sepertinya rumahnya dekat dengan rumah Leka semua," sela Aska.
"Iya, betul. Kerabatku rumahnya tidak jauh dari rumahku."
Chris memberikan pulpen dan kertas untuk menulis. Sementara Leka menulis, Runi yang masih dalam gendongan Leka melihat kesal pada Aska karena Aska telah mendorong Kenzo ke pagar tadi, tapi tidak ada yang memperhatikannya. Chris malah memperhatikan wajah Leka dan Aska yang terlihat aneh. Aska terlihat bahagia sedang Leka terlihat ... datar.
"Kamu libur ya hari ini?" tanya Chris pada Leka.
"Eh, aku menyuruhnya berhenti kerja," sela Aska.
"Lho, kenapa?"
"Eh, itu ... Leka di pingit saja."
"Kalau dipingit berarti kamu tidak boleh bertemu dengannya juga, Aska!"
"Papa ...." Aska merengut.
"Kamu tidak bisa membuat aturan seenakmu. Kamu juga harus mengikuti aturan itu."
"Jadi aku harus bagaimana, Pa?"
"Terserah kamu. Kamu mau Leka di pingit, kamu tak boleh bertemu dengannya tapi kalau kamu ingin bertemu dengannya, kau harus membiarkan dia bekerja."
Leka tersenyum. Ternyata Chris membelanya.
"Pa, nanti kalau ada yang berusaha mengganggu Leka lagi bagaimana?"
__ADS_1
"Kan Leka kerja dengan Pak Arya, pasti tidak akan ada yang mengganggunya."
Sementara itu, hingga sore Arya masih di restorannya mengurusi pelanggan. Entah kenapa, hatinya tidak tenang. Pikirannya terus pada Kenzo.
Jo, kamu jangan coba-coba kabur lagi. Sudah cukup pelarianmu itu berkali-kali. Sudah cukup.
Namun tetap saja ia resah. Ia akhirnya memutuskan untuk menelepon Kenzo.
"Halo Jo, kau di mana?"
Kenzo kaget, ia merasa ketahuan. "... Mmh, pergi sebentar kok. keluar kota."
"Keluar kota? Kamu keluar kota untuk apa?"
"Ayah ... katanya aku tidak boleh keluar negri? Aku harus menenangkan pikiranku saja. Jadi aku keluar kota. Aku hanya pergi ke Puncak kok Yah, bawa 2 bodyguardku."
"Jadi kamu kabur lagi? Astaga ...."
"Ayah, aku ... Aahhhh ...."
Brukkk, baggh ....
"Jo, Jooo!!!" teriak Arya.
Semua orang menatapnya.
Telepon terputus. Jo ... kecelakaan? Dia ... Arya segera melepas celemeknya dan bergegas ke parkiran. Segera ia menaiki mobil dan pulang ke rumah. Di sana ia mengambil tas ransel daruratnya, mengenakan jaket, sarung tangan dan helm.
"Aku tidak tahu, doakan saja tidak terjadi apa-apa dengan Jo."
"Jo?"
Arya menaiki motornya. Mariko bergegas menghampiri dan menyentuh tangan suaminya, terlihat cemas. "Ada apa dengan Jo?"
"Oh, aku sedang menelepon dengannya lalu tiba-tiba putus. Aku hanya mencoba memastikan tidak terjadi apa-apa dengannya karena ia sulit dihubungi." Arya menenangkan.
"Oh." Namun tak ayal, wajahnya cukup cemas.
Arya segera menjalankan motornya menuju arah Puncak. Kenzo, bertahanlah. Jangan terjadi apa-apa denganmu, ayah cemas.
Sementara itu di tempat kecelakaan yang berada di jalan raya besar, mobil-mobil bergelimpangan dalam keadaan rusak parah dan rusak ringan dengan berbagai keadaan. Ada yang terperosok ke samping, terbalik, menaiki mobil yang lainnya, bahkan ada yang terhimpit di antara 2 mobil.
Saat mobil sedikit ramai dan berjalan sedikit lambat, sebuah truk tronton berukuran besar melaju sangat kencang hingga menabrak mobil-mobil yang memadat di depannya. Mobil Kenzo yang berada 2 mobil dari belakang ikut terhantam truk itu hingga rusak parah. Anehnya, walaupun pintu mobil di sebelah Kenzo rusak parah, pintu itu terlepas dan pria itu terpental dari mobilnya. Ia selamat tanpa kurang suatu apapun.
Kenzo yang jatuh tengkurap, segera bangun dan duduk di tepi jalan. Ia melihat tubuhnya hanya lecet-lecet saja dan hanya itu saja yang di perolehnya. Alhamdulillah, ya Allah, kau telah melindungiku. Oh, bodyguardku! Ia segera berdiri, tapi tubuhnya masih limbung efek dari kecelakaan itu hingga ia berusaha untuk berdiri tegak. Pelan-pelan ia berjalan ke arah mobilnya.
Aku tadi kan sedang menelepon Ayah tapi ke mana hp-ku? Tak jauh dari mobilnya tergeletak hp Kenzo yang sudah hancur tak berbentuk. Ah hp-ku ....
__ADS_1
Ia kemudian melihat ke arah Bodyguard-nya 2 di depan. Yang satu bergerak dengan dahi sedikit di aliri darah. "Pak, Fahmi sudah lewat," ucapnya.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un." Kenzo menghela napas. Ia berusaha membuka pintu untuk Bodyguard-nya yang masih hidup walau dengan tangan sedikit gemetar dan sedikit macet tapi ia berhasil membukanya. Ia membantu pria itu keluar dari mobil dan memapahnya ke pinggir jalan.
Kemudian pria Jepang itu melihat ke arah lain. Ia mulai mendatangi mobil-mobil lain yang mungkin butuh pertolongan.
"Tolooong, tolong ...!"
Sebuah mobil tertindih mobil lainnya dan mobil yang di atasnya itu meneteskan bensin ke bawah dan itu sangat berbahaya. Ada seseorang yang terjebak di kursi penumpang sendirian dan menyadari tetesan bensin sudah menetes ke aspal sedang ia terbaring di kursi dengan atap mobil yang turun hampir menimpanya. Sopirnya di depan meninggal di tempat karena kecelakaan dan dia butuh seseorang untuk menariknya keluar. Pria bersorban itu sepertinya seorang kiai muda yang mengangkat kedua tangannya menggapai-gapai mencari pegangan untuk bisa menarik tubuhnya keluar.
"Kenapa Pak?" sapa Kenzo yang lebih dahulu sampai ke mobilnya.
"Kakiku sepertinya patah. Tolong tarik aku agar segera keluar dari sini. Bensin itu takut sebentar lagi meledakkan mobil ini."
Kenzo segera membuka pintunya yang sudah koyak dan langsung lepas. Tiba-tiba api di trotoar menyala. Kenzo dengan sigap menarik pria itu.
"Pak!! Jangan di situ, bahaya!!" teriak Bodyguard Kenzo yang melihat bosnya dalam bahaya. Walau kakinya terluka parah ia berusaha berdiri.
Kenzo tetap menolong pria bersorban itu yang terseok-seok berjalan di bantu olehnya. Baru beberapa langkah mereka meninggalkan mobil, api membakar kedua mobil itu.
Orang-orang yang berada di tempat kejadian panik berusaha melarikan diri sejauh yang mereka bisa karena mobil mereka saling berdekatan sehingga bisa merembet ke mobil yang lainnya. Korban-korban yang masih berada di dalam mobil pasrah akan nasib mereka bila mereka ikut kena imbasnya. Ada pula yang ketakutan dan berteriak minta tolong. Suasana panik itu tidak membuat Kenzo ketakutan. Ia terus membantu pria itu walaupun Bodyguard-nya sudah memperingatkannya berkali-kali agar meninggalkan pria itu. Kenzo berhasil membawa pria itu hingga ke pinggir jalan tapi pada saat itu mobil meledak. Sebentuk kepingan besar mobil melayang ke arah Kenzo memukul tubuhnya hingga jatuh tengkurap di trotoar. Tangannya terhimpit benda itu.
"Pak Kenzo!!!" Wildan, Bodyguard Kenzo yang melihat kejadian itu terseok-seok berusaha mengejar bosnya. Airmatanya mengalir di pipi.
----------++++--------
Arya akhirnya sampai ke tempat kejadian menjelang malam. Banyak sekali mobil di sana sini yang tak berbentuk dan rusak parah. Truk tronton berada di ujung menghimpit sebuah mobil. Yang lebih mengerikan lagi, sepertinya ada mobil yang meledak yang merusak ke beberapa mobil di sekitarnya. Untung saja mobil yang meledak tidak menempel pada mobil lainnya sehingga tidak menyebabkan ledakan massal.
Arya begitu ketakutan melihat kecelakaan lalu lintas yang dasyat berada di depannya. Bagaimana denganmu Jo, apakah kau selamat?
"Eh, Pak. Gak boleh masuk. Ini area kecelakaan, tidak boleh di sentuh," ucap seorang polisi, menahannya.
"Saya mencari anak saya Pak, di sini. Kami sedang bertelepon dan terputus."
"Oh, korban seluruhnya di bawa ke rumah sakit, baik yang meninggal maupun yang masih hidup. Kalau Bapak ingin tahu dibawa ke rumah sakit mana, Bapak bisa datangi pos kami di sebelah sana." Polisi itu menunjuk sebuah pos jaga yang dibuat darurat untuk kecelakaan itu.
Arya segera mendatangi pos jaga itu dan mendapatkan 3 buah nama rumah sakit. "Kalau yang korbannya orang Jepang Bapak tahu ke rumah sakit mana?"
"Oh, itu. Seingatku ia di bawa ke rumah sakit yang pertama itu."
"Keadaan bagaimana ya Pak?" Arya berusaha mempersiapkan hati mendengarkan keterangan polisi itu.
"Aku tidak tahu, soalnya aku melihat pria itu di gendong seorang preman masuk ke ambulan dalam keadaan tak sadarkan diri. Preman itu menangis, jadi aku ingat pada mereka."
"Oh, terima kasih Pak." Arya segera keluar dan menaiki motornya. Ia melihat kembali nama rumah sakit dan alamatnya yang sudah ia catat di hp-nya. Jo, berjuanglah. Jangan sampai terjadi apa-apa denganmu, Ayah takut.
---------+++---------
__ADS_1
Di sebuah lorong rumah sakit, pasien korban kecelakaan bergelimpangan di sana karena saking banyaknya korban. Mereka mendapat tempat tidur tapi tidak bisa mendapat kamar karena penuh. Di salah satu sudut lorong seorang pria bersorban sedang berbincang-bincang dengan seorang pria Jepang karena tempat tidur mereka bersebelahan. Pria bersorban diberi gips kaki kanannya dan pria Jepang di beri gips tangan kanannya. Tangan itupun juga diikatkan ke leher agar tak banyak bergerak.
Pria bersorban itu tertawa. "Oh ... jadi begitu ceritanya."