Sungai Rindu

Sungai Rindu
Sudah Lama


__ADS_3

"Oh, kalian sudah saling kenal rupanya." Chris tersenyum senang. "Jadi berikutnya, kerja sama ini akan jadi lebih mudah kan ya?"


"Papa, ini kerjasama apa?" Aska meninggikan sedikit suaranya agar Candi tidak mudah merendahkannya.


Papa? Candi keheranan. Dia anak owner(pemilik) Famindo Grup?


"Oh, dia membantuku mencarikan produsen plastik baru buat kemasan Frozenfood perusahaan kita."


"Kenapa dengan yang lama?"


"Sebagai pembanding saja, tapi kalau harganya bersaing dan produknya bagus, kenapa tidak?"


Aska melirik Candi sekilas, malas melihat.


Kenapa tidak mirip ya? Apakah dia anak tiri? "Oh, jadi dia anak Bapak?" tanyanya pada Chris.


"Ah, ya. Dia anakku. Aku lupa memberitahu."


"Tapi wajahnya, maaf."


"Oh, iya. Dari istriku itu ...."


"Mmh ...."


Aska mengerutkan dahi. Ia paling tidak suka ada orang yang menanyakan asal usulnya. Apalagi Candi.


"Jadi, bagaimana kabar ...."


"Eh, masalah kerjasamanya jadinya bagaimana Pa?" Aska berusaha memotong kalimat Candi yang sekiranya menjurus ke Leka.


"Baru aku lihat brosurnya dan profil perusahaannya."


"Dan?"


"Belum tau."


"Kalau begitu, Pak Candi sampai di sini saja. Nanti akan kami beritahu kelanjutannya." Aska menarik Candi agar berdiri.


"Tapi ...."


"Tenang saja, pasti nanti akan kami beritahu hasilnya." Aska sudah mulai mendorong Candi keluar.


"Tunggu!"


Candi dan Aska menoleh.


"Perusahaan itu mengundang kita untuk hadir di acara ulang tahun pemiliknya dan aku minta kau hadir mewakili perusahaan." Chris menyodorkan undangannya pada Aska.


"Pa, itu tak penting."


"Kebetulan ownernya teman lama Papa."


Ah, sial! Aska terpaksa mengambil undangan itu. "Ah, biar Aska saja yang mengantarnya keluar Pa."


"Ah, ya, ya."


Aska mendorong Candi keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa tahu kantorku?"


Candi mengangkat satu sudut bibirnya. "Bukan aku, ayahmu. Dia yang mencariku."


Aska tetap tidak percaya. Ia terus mengawal Candi hingga lift.


"Kamu mau turun juga?" tanya Candi ingin tahu.


"Bukan urusanmu!" jawab Aska kesal.


"Bagaimana kabarnya ... aduh!"


Aska menendang kaki Candi sebab tiba-tiba Chris lewat di belakang mereka.


"Oh, kalian masih di sini? Aska kamu mau ke mana?" tanya Chris heran.


"Eh, mau ke kantin Pa. Papa mau ke mana?"


"Oh toilet." Chris menunjuk ruang toilet yang memang letaknya tidak jauh dari lift. Ia segera memasukinya.


Lift terbuka dan kebetulan kosong.


"Jadi kabar Leka bagaimana?" Candi masih saja menanyakan itu.


Demi melihat situasi di kiri kanannya yang sepi, Aska menarik Candi dengan cepat ke dalam lift. "Untuk apa dari tadi kamu menanyakan istriku terus, hah?" Kalimat itu terdengar sebelum pintu lift tertutup.


Chris keluar dari ruang toilet. Sambil bersandar pada dinding, ia menghela napas.


Jadi, kenapa sampai sekarang kamu masih menyembunyikan status istrimu, anakmu, Papa masih belum mengerti. Kenapa istrimu kau panggil pembantu? Itu juga Papa tidak mengerti. Sudah 2 tahun Papa menantikan ini dan saat kamu bertemu kembali dengan istrimu, Papa kira kamu akan menceritakannya tapi ternyata tidak juga. Apa kau tidak mencintainya? Kalau tidak, ceraikan ia. Papa akan menanggung mereka berdua, jangan malah membuat ia pindah ke rumah Arya. Pria itu juga tidak bodoh jadi dengan segera akan mengetahuinya. Apa yang kau lakukan malah akan membuat seluruh dunia tahu bahwa Leka adalah istrimu.


Papa sudah berusaha memancing kamu agar cepat bicara tentang keberadaan istrimu ini, dengan adanya Monique dan sekarang Candi, tapi kalau dengan adanya inipun kamu tidak mau menampilkan Leka sebagai istrimu, Papa sudah tidak tahu lagi harus bagaimana sebab harus kamu sendiri yang bicara pada Mamap. Papa tidak tega. Biarpun lembut, ibumu adalah wanita pembela hak-hak kaum perempuan dan kalau ia tahu anaknya malah berbuat sebaliknya, berarti kau benar-benar telah mematahkan hatinya.


Kalau ini tidak berhasil juga, aku harus bagaimana? Hal seperti ini cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga sehebat apapun menyembunyikan bangkai. Hanya ... aku tak tega melihat wajah Reina.


Candi merapikan kerah bajunya keluar dari lift. Ia berhasil meyakinkan Aska bahwa Ayahnya memang tertarik kerjasama dengan perusahaan yang ditawarkan oleh Candi. "Aku tunggu Pak di pesta nanti." Ia menatap Aska sebelum pintu lift di tutup kembali. Ia begitu senang. Sudah lama ia menunggu kesempatan bertemu kembali dengan Leka. Sepertinya pukulan Aska yang dulu tidak mempan pada Candi. Ia memang menunggu kesempatan itu datang lagi.


Aska melangkah ke kantin kantor yang masih sepi dan duduk di samping sebuah meja bundar. Pikirannya benar-benar kacau. Kalau sampai Candi memang benar akan kerjasama dengan perusahaannya berarti intensitas kedatangannya akan semakin sering. Hari ini ia bisa menutupi tentang Leka tapi bagaimana dengan hari lainnya? Ia menatap undangan di tangannya yang ia ketuk-ketuk ke atas meja.


Arya kembali ke dalam restorannya dengan menggendong Runi. Ia terkejut melihat Kenzo dan Leka yang sudah memakai celemek sedang membuat sesuatu berdua di dapur. "Kalian sedang apa?" tanyanya heran.


"Oh, Leka ingin mencoba salad buah dan ternyata salad buahnya habis. Jadi aku berinisiatif untuk membuatnya sekalian untuk stok kita." Kenzo sibuk mengaduk salad buah di wadah besar sedang Leka mencicipinya.


"Mmh, enak." Rupanya Leka membantu memotong-motong buah dan Kenzo membantu mengaduknya. Mereka begitu senang membuat salad buah itu bersama. "Runi mau coba?" Wanita itu menyendoki dan menyodorkannya pada anaknya.


"Eh, tidak boleh." Kenzo meraih tangan Leka. "Runi belum boleh makan yoghurt karena masih terlalu kecil. Biar aku saja." Ia menarik tangan wanita itu agar mengarahkan sendoknya pada mulut pria itu dan ia memakannya.


Tentu saja Leka terkejut, apalagi Arya yang sedari tadi melihat adegan keakraban mereka berdua yang terlihat gembira saat membuat salad buah. Mereka sampai lupa bahwa mereka harus menjaga jarak.


Kenzo menyadari kemudian saat Leka dan Arya menatapnya heran. Ia melepas genggaman tangannya segera pada Leka. "Eh, maaf ...."


Kalau bukan anak sendiri rasanya Arya mungkin akan geleng-geleng kepala, tapi ia coba menahannya agar Kenzo tak merasa malu.


Jam makan siang, Arya ternyata bukan Ayah yang canggung mengurus anak kecil. Buktinya ia berdua Runi bisa duduk akrab sambil menyuapi si kecil di meja kecil dekat dapur. Ia sendiri juga sibuk mengunyah makan siangnya sementara Kenzo dan Leka ia biarkan berdua bersinergi mengurus pembeli yang makan di tempat maupun yang membawa pulang pesanan.


Leka, walaupun dia masih baru dengan jualan restoran tapi ia sangat cekatan. Dalam beberapa kali melihat ia sudah bisa meniru dengan lebih efisien. Bahkan Kenzo yang mentrainingnya kagum dengan daya ingat Leka akan pesanan orang sehingga hampir tidak pernah tertukar dan salah pesanan. Seperti biasa jam makan siang, memang restoran Arya selalu penuh dengan antrian baik yang duduk atau yang membawa pulang. Sesekali bila di rasa perlu, Leka turun ke dapur untuk membantu memasak. Pegawai merasa sangat terbantu dengan adanya Leka terutama karena memang salah satu pegawai sedang cuti.


"Halo!"

__ADS_1


Kedatangan Reina cukup mengejutkan Leka, karena wanita itu adalah ibu mertuanya. "Oh, I-I-I-Ibu."


"Apa kabarmu Leka? Teruskan saja pekerjaanmu, tak usah gugup begitu. Aku hanya ingin memastikan bisa bertemu lagi dengan Runi. Entah kenapa wajahnya bikin kangen," katanya sambil tersenyum manis pada wanita itu.


Leka berusaha memberi senyuman terbaiknya pada ibu mertua karena mereka mungkin akan bertemu lagi di masa depan dengan cerita yang berbeda. Cerita yang mungkin tidak semanis diawal tapi akan berakhir bagaimana, ia sendiri tidak tahu. "Eh, I-Ibu mau makan di sini?"


"Oh, iya. Biasanya begitu. Saya makan di meja Pak Arya saja." Reina sudah mengintip ke dalam dapur di mana Arya dan Runi sedang makan.


Leka mencatatkan pesanan Reina dan membiarkan ia masuk dapur. Dilihatnya ketiganya langsung akrab, suatu pemandangan yang luar biasa. Mungkin juga karena Reina nenek Runi, pikir Leka.


Sekitar jam 2, pembeli mulai berkurang. Leka dan Kenzo mulai beristirahat bergantian. Reina tentu saja telah kembali ke toko bunganya.


Leka dan Kenzo mulai bisa mencicipi makan siang mereka. Terlihat wajah-wajah mereka yang letih.


"Bagaimana menurutmu Leka?" tanya Arya tentang pengalaman yang di dapat Leka.


"Aku belum pernah melihat antrian sepanjang ini."


"Tapi Leka hebat Yah, kerjanya cepat. Pesanan hampir tidak ada yang tertukar," ucap Kenzo jujur.


"Ah, Kakak. Tidak begitu. Aku juga berusaha Kak, konsentrasi." Walalupun begitu, pipi Leka merona merah karena dipuji Kenzo.


"Mmh ... kau tidak lihat sih, bagaimana dia jualan dulu. Jualan sendirian, dan jualannya selalu laris. Belum waktunya sudah habis," Arya memberi tahu.


"Bener Yah?" Tanya Kenzo lugu. Ia mengambil minumannya lalu meneguknya.


"Iya."


"Ah, tidak begitu, Pak. Kebetulan cocok seleranya sama yang beli." Leka merendah sambil terus mengunyah makanannya?.


"Kok Ayah tahu?"


"Kan ayah pernah coba cicipi jualannya, waktu dia jualan di pinggir jalan. Dia bikin sambel, enak."


"Oh." Kenzo seperti terhipnotis mendengar cerita Ayahnya.


"Ngomong-ngomong, aku ingin mengembangkan membuat beberapa menu dengan sambal berbeda, apa kamu bisa bantu?" Arya melirik Leka.


"Mudah-mudahan bisa Pak." Leka menyelesaikan makannya. "Bapak ingin membuat sambal apa?"


"Sambal apa saja yang kau kuasai?"


-------------+++----------


Arya mengantar mereka pulang. "Untuk hari ini, cukup pengenalan dulu. Besok kamu sudah bisa bekerja tapi kerjanya sampai jam 9 malam kecuali makanan habis sebelum waktunya."


"Oh, iya Pak, terima kasih." Leka menundukkan kepala.


Mobil Arya kemudian beranjak pergi menyebrangi rumah dan masuk halaman rumahnya.


Kenzo dan Leka sambil menggendong Runi menaiki tangga hingga masuk dalam kamar masing-masing dalam diam. Mereka begitu lelah hingga malas bicara.


Kenzo hampir saja tertidur, jika tak ada ketukan di pintu kamarnya. Leka masuk dengan membawa wadah air.


"Leka, kalau kau lelah, kau bisa melakukannya beberapa jam lagi."


"Tidak Kak, nanti kemalaman."

__ADS_1


"Leka, kau mirip Wonder Woman."


Mendengar itu, Leka tertawa.


__ADS_2