
Leka melihat ke arah pintu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Malam semakin larut. "Pak Arya kenapa lama ya?"
"Eh, tidak apa-apa. Kau pulang saja. Sudah terlalu malam juga. Aku tidak apa-apa ditinggal sendiri," bujuk Kenzo. Pria itu kasihan melihat Leka yang sudah terlalu malam masih mengunjunginya, sedang mungkin ia sudah lelah seharian bekerja.
"Oh, tidak apa-apa. Aku akan menunggu." Leka mendekati Kenzo dan merapikan selimutnya. "Kakak yang seharusnya lebih dulu tidur biar cepat pulih Kak."
"Iya sih, tapi ...."
Wanita itu menyentuh gips di tangan Kenzo. "Ini katanya berapa lama sembuhnya Kak?"
"Sebulan."
"Oh, lama ya?" Wanita itu menatap gips yang ia sentuh. Mengusapnya lembut dan memainkan jarinya di sana.
Maafkan aku yang pernah membohongimu ya Kak, aku tiada niat membuatmu terluka hingga kamu terus-terusan kabur setiap melihatku.
Sedang Kenzo sedikit gerah dengan gerak Leka yang sedang dilakukannya tanpa sengaja. Terlihat sangat feminin, seksi dan manja yang Leka sendiri tak menyadarinya.
Kenzo berusaha menggeliat menghindari jantungnya yang berdetak tak karuan. Aku harus menghadapinya ... aku harus menghadapinya ....
Wanita itu melihat sedikit ada yang aneh dengan gerak-gerik Kenzo. "Ada apa Kak?"
"Mmh? Hanya pegal di leher." Kenzo menjadikan kain pengikat tangan ke lehernya sebagai alasan.
"Oh, sini Kak, aku urut lehernya." Leka mencondongkan tubuhnya ke depan dan tangannya sudah berada di belakang leher pria itu. Wajahnya terlihat dekat. "Yang mana Kak? Ini?"
Ini terlalu dekat. Aku tak bisa bernapas karena takut napasku membuat ia berpikir yang macam-macam. Aduh, jantungku .... Mata Kenzo seperti membeku. Khawatir, deg-degan dan bingung menjadi satu. Ia bahkan tidak bisa merasakan sentuhan tangan Leka di belakang punggungnya. Hadapi ... hadapi ....
"Udah agak enakan Kak?"
"Eh?" Kenzo seolah tersadar dari kuatnya pesona wanita yang ada di depannya.
"Mau yang sebelah lagi?" Kini Leka menggerakkan tangan kirinya untuk bersama-sama tangan kanannya mengurut sekitar leher Kenzo.
Ya allah, ia seperti akan menerkamku, memelukku. I-ia tersenyum manis padaku. Kenzo memandangi wajah Leka yang begitu dekat dengan kedua tangannya sedang mencoba mengurut bahu dan lehernya, membuat wanita itu terlihat sedang ingin memeluknya, apalagi ia tersenyum manis di depan wajahnya. Ya allah ... ia benar-benar cantik sekali. Aku bisa merasakan napas hangat keluar dari mulutnya. Ingin rasanya aku memeluknya, mencium keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya. Kenzo menelan ludahnya. Ya ampun, aku benar-benar tak tahan godaan ini. Kalau aku tidak sedang menderita karena kecelakaan itu, aku mungkin sudah kabur menghindar dari godaan ini. Ia kan akan menikah dengan orang lain. Aku tidak boleh memikirkannya ... Namun melihat bibir Leka yang terlihat sangat seksi dan matanya yang sangat indah, ia kembali menelan ludahnya. Hadapi ... hadapi ... Ya allah aku harus bagaimana ini? Kenzo benar-benar panik dengan tubuhnya yang kaku karena merasa di sudutkan oleh wanita itu membuatnya terpaksa memandangi mata dan bibir seksi wanita di hadapannya itu dengan tak berdaya. "A-a-aku ... eh, aku ... ingin... a-a-aku ...." Kembali ia menelan salivanya.
"Ya ...?"
Pintu tiba-tiba terbuka. "Eh, maaf aku terlambat."
Leka menarik tangannya.
"Eh, dia kenapa?"
"Lehernya pegal." Leka segera berdiri dan melangkah keluar. "Assalamualaikum." Ia menunduk dan kembali melangkah ke luar.
"Ya, Waalaikum salam." Arya menoleh hingga melihat wanita itu menutup pintu. Ia kembali menatap anaknya. "Nakal sekali kamu ya? Apa yang kamu kerjakan?"
"Ayah ... kenapa Leka ke sini terus Yah? Apa besok pagi, ia akan ke sini lagi? Dia sudah mau menikah lho Yah, tolong beri tahu dia agar tidak ke sini lagi." Rengut Kenzo kebingungan.
"Kalau tidak suka ya usir saja sendiri. Jangan libatkan ayah di sini," elak Arya.
__ADS_1
"Ayah tolong ...."
"Tidak bisa!"
"Ayah ...."
Arya hanya meletakkan tas besarnya di lantai dan mulai membongkarnya.
Besok aku harus bagaimana? Sport jantung aku tadi, Kenzo menyentuh dadanya.
Arya melirik wajah Kenzo yang khawatir dan hanya tersenyum menahan tawa.
-----------++++----------
"Ayah, bangun! Sholat Subuh Yah, sebentar lagi." Kenzo membangunkan ayahnya.
Arya terbangun dengan sedikit menyipitkan matanya. Menggeliat dan menguap. "Kamu tumben membangunkan ayah lebih dulu."
"Ayah kita harus cepat bangun Yah, nanti takut Leka datang pagi-pagi."
Arya melirik Kenzo yang terbaring di sampingnya. Ia sudah bisa menegakkan kepalanya sendiri.
"Kepalamu sudah tak pusing?"
"Iya, tapi itu tak penting. Kita harus siap-siap. Aku ingin ke kamar mandi untuk cuci muka Yah. Wajahku pasti sangat mengerikan karena sudah 2 hari tidak mandi."
"Minta di mandikan Leka saja," ucap Arya yang sedang menahan tawa melihat kepanikan Kenzo. Ia turun dari tempat tidur.
"Lho, siapa yang bercanda? Sama Suster kamu tidak mau, kalau sama Leka pasti mau kan?" ledek Arya.
Wajah Kenzo merah padam. Ia berusaha turun dari tempat tidur sendiri. Sedikit limbung tapi ia sepertinya bisa berjalan sendiri ke kamar mandi. "Aku sepertinya bisa mandi sendiri, ini."
"Oya?" Arya menatap Kenzo sambil melipat tangannya di dada. "Lalu, bagaimana caranya kamu memegang sabun?"
Tangan kanan Kenzolah yang di beri gips jadi akan sangat sulit untuknya beraktifitas karena ia bukan kidal. "Eh, iya ya. Ayah, bagaimana ini?"
Arya mengedikkan bahunya.
----------+++---------
"Maaf ya merepotkanmu." Kenzo menatap Leka yang sudah siap dengan handuk kecilnya di tangan.
Wanita itu mulai mengusap wajah Kenzo. "Gak apa-apa Kak."
Kembali wajah Kenzo memerah. Selain karena kulit putihnya terkena air hangat dari handuk yang di pegang Leka, wajah wanita itu selalu mendekat saat membersihkan wajah pria itu yang membuat Kenzo sedikit tersipu-sipu.
"Kakak tidak demam kan? Atau handuknya kepanasan?"
"Oh, ti-tidak." jawab Kenzo gugup. Leka, apa yang harus kulakukan? Kau tak pantas ada di sini, kau akan menikah. Kau ... Aku juga takut kehilanganmu. Akhirnya Kenzo bisa mengakui keberatan dirinya. Ia menatap wanita di hadapannya yang sibuk memandikannya. Apa ... kalau ... aku melamarmu, ah tidak. Tidak mungkin. Dia sudah menerima lamaran Aska. Jadi ... dia ke sini karena merasa teman.
Leka selesai dan memakaikan baju pria itu dengan yang lebih longgar agar tangannya yang di gips bisa di keluar masukkan dengan mudah kemudian membebat kembali tangan Kenzo dengan kain baru.
__ADS_1
"Leka ...."
"Mmh ...."
"Apa kamu ke sini sudah bilang Aska?"
Wanita itu menatap Kenzo dengan pandangan bingung.
"A-aku hanya tidak ingin salah paham saja dengannya." Kenzo berusaha menerangkan agar wanita itu tak salah paham dengan maksudnya.
"Kakak tak ingin aku di sini?"
"Eh, a-aku tak bermaksud begitu."
Namun terlanjur. Leka terlihat cemberut dan langsung meninggalkan Kenzo. "Iya, baik. Aku pergi!" Ia langsung berlari keluar kamar.
"Leka! Bukan begitu maksudku ...!" teriak Kenzo, tapi sia-sia. Leka lari ke luar rumah dalam keadaan menangis.
Arya yang berada di lantai satu melihatnya. Ia segera naik ke lantai dua menemui Kenzo. "Sudah kau usir dia?" ledek Arya.
"Ayah, jangan cari masalah!" Kenzo tak kalah galaknya.
"Oh, sedang sensitif rupanya." kembali Arya meledek anaknya.
"Ayah, bisa diam tidak!!!" teriak Kenzo kencang. Baru kali ini pria itu benar-benar berang seperti hendak meledakkan sebuah kapal. Wajahnya mulai terlihat seram. Leka telah sanggup membangunkan sisi gelap seorang Kenzo yang terkenal sangat lembut. Arya pun terkejut karena belum pernah melihat ini sebelumnya. Kenzo yang garang. Terlihat sangat dewasa dan maskulin.
"I-iya." Arya kemudian terdiam.
----------++++---------
Seharian Kenzo mengunci mulutnya dan diam mematung. Sedang Leka, ia bad mood seharian.
"Sayang, kenapa sih mulutmu di gulung begitu seharian? Apa makanannya tidak enak?" Aska terlihat bingung dengan tingkah wanitanya.
"Aku kan sudah bilang, aku malas mencoba-coba makanan. Hari ini semua terasa salah, jadi jangan coba-coba menanyakan pendapatku!"
Leka yang hari itu terlihat galak membuat Aska ciut. Ia sudah berusaha membujuknya tapi ternyata sia-sia. Akhirnya Aska mengembalikan Leka kembali ke tempat kerjanya di restoran.
"Besok saja ya Sayang, kita coba lagi."
Leka tak menjawab. Ia segera masuk ke dalam restoran bersama Ani.
Setelah jam makan siang usai dan tamu mulai mereda, ia mendapati Runi telah tertidur. "Sini Runi sama aku aja. Kamu makan dulu saja," katanya pada Ani. Ia mencari tempat duduk agak menyudut di mana ia bisa bersandar duduk memeluk Runi. Ia mendekapnya lembut sambil mengingat apa yang terjadi tadi pagi.
Iya, aku tau aku salah, mengkhawatirkan pria lain saat aku sebentar lagi ingin menikah, tapi aku tidak bisa melawan perasaan ini. Air matanya menetes pelan. Aku hanya mencintainya. Walaupun aku tahu takkan ada yang akan terjadi di antara kita tapi setidaknya saat ini, aku tidak merasa bersalah melakukannya. Mengkhawatirkannya, mengunjunginya, membantunya mandi hingga saat pernikahan itu tiba. Tidak akan ada yang akan menyalahkanku untuk itu. Maaf, Kak Kenzo. Aku memang wanita yang egois. Masih tetap mendatangimu walaupun merasa bersalah. Jauh di lubuk hati masih mengharapkanmu walaupun kamu tak sudi. Aku senang, pernah mengenalmu dalam hidupku. Biarlah aku mengenangmu begini saja, biar aku tidak mengganggumu esok atau di lain waktu.
Malam mulai larut. Kenzo berjaga-jaga di jendela menatap ke luar. Ia melihat mobil Aska berhenti di depan rumah Leka dan melihat wanita itu turun dari mobil beserta Baby Sitter-nya. Pria itu segera berbalik dan melangkah menuju pintu sambil berpegangan ke dinding karena tubuhnya masih limbung.
"Kamu mau ke mana?" Arya yang sedang berbaring di tempat tidur segera duduk. Ia tahu ke mana Kenzo ingin pergi karena sejak setengah jam yang lalu pria itu sudah berjaga-jaga di jendela mengintip rumah Leka. Ia pasti menunggu wanita itu pulang.
Kenzo tak menjawab. Ia terus saja berjalan melewati pintu sambil satu tangannya mencoba berpegangan ke samping.
__ADS_1
"Ck!" Arya terpaksa mengikuti kekeraskepalaan Kenzo kali ini dengan tak bicara. Ia menuntun Kenzo menuruni tangga.