Sungai Rindu

Sungai Rindu
Pasar


__ADS_3

Aska berlari menuruni tangga. Ia melihat istrinya di dapur sedang memasak. "Runi di mana, Leka?"


"Di tempat biasa," jawabnya tanpa menoleh.


Aska segera memastikan. Ia lega, Runi tengah minum susu botolnya di kursi sofa. Gadis kecil yang tengah berbaring itu terkejut melihat kemunculan Aska saat ia asyik meminum susunya sendirian. Kembali wajahnya menegang.


"Alhamdulillah." Ia mengelus dada.


Aska kembali ke dapur. "Kau masak apa?"


"Abang pasti belum sholat Subuh ya?" Leka masih belum menoleh. Ia sibuk dengan masakannya.


"Eh, iya. A-a-aku akan sholat sekarang." Aska berlari ke tangga dan menaikinya.


Setengah jam kemudian, Aska turun dengan pakaian kantornya. Di meja sudah tersedia makanan ala Indonesia, teri kacang dan telur balado. "Mmh ... sepertinya enak." Ia melirik Leka yang membawakan minum berharap hati istrinya mulai mencair.


"Aku mau belanja."


"Iya, nanti malam aku antar."


"Aku mau belanja sekarang, ke pasar."


"Oh," Aska yang sudah duduk di kursi melirik istrinya. "Kenapa tidak nanti malam saja, aku akan menyempatkan pulang cepat."


"Aku lebih suka belanja sendiri dekat sini. Pasar ada dekat sini kan?"


"Tapi kamu kan bawanya berat. Kalau ada aku, kan aku bisa bantu."


"Kalau ada yang lupa di beli bagaimana? Masa nunggu kamu pulang kantor?"


Aska sepertinya tak rela. Ia diam sejenak.


"Kenapa sih aku tidak boleh keluar sendiri? Aku kan juga bosan tinggal di rumah terus."


"Kau mau ke mana?"


"Kalau siang atau sore, aku ingin membawa Runi jalan-jalan keluar."


"Asal jangan pergi jauh-jauh ya?" Aska mengeluarkan dompetnya dan memberikan 2 lembar uang merah. "Tukang ojek di seberang apartemen tahu di mana letak pasarnya jadi bisa pergi dengan mereka."


Namun Leka masih menyodorkannya tangannya.


"Apa?"


"Kartu untuk masuk apartemennya bang."


"Oh ya."


Sementara itu di rumah Arya, pria itu baru keluar dari kamarnya saat terdengar bel rumahnya berbunyi.


Sri, pembantu rumahnya berlari-lari mendatangi pintu utama. Ia membukanya. "Oh Ras, Bosmu mana?" Tanyanya.


Aras, pria bertubuh tinggi tegap berdiri di depan pintu. Ia adalah bodyguard Kenzo. Pria itu membawa setumpuk bungkusan di tangannya.


Ya, Kenzo telah membeli rumah di seberang rumah Arya, ayahnya agar bisa hidup mandiri. Biasanya setiap pagi ia datang untuk sarapan bersama keluarganya agar bisa menyapa mereka, tapi hari ini berbeda, ia tidak datang dan di wakilkan bodyguardnya.


"Sedang jalan-jalan. Ini oleh-oleh dari Milan, untuk keluarganya." Aras menyerahkan bawaannya pada Sri.


Arya membuka lebar pintu rumahnya. "Jalan-jalan ke mana?"


"Tidak tahu Pak," Aras menggaruk-garuk kepalanya.


Arya sangat khawatir pada Kenzo, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. "Tapi pengawalan seperti biasa kan?"


"Iya Pak. 2 bodyguard, seperti biasa."


"Bagus!" Arya melipat tangannya.


Namun, ke manakah perginya Kenzo? Pria itu sedang berada di dalam mobilnya yang terparkir di seberang pasar. Ia sedang menunggu datangnya seseorang.


Sebuah mobil sedan berwarna coklat tua datang dan berhenti tepat di depan pasar. Seorang wanita muda berjilbab orange turun dengan mengendong seorang anak kecil. Setelah mobil itu pergi, barulah wanita itu masuk ke dalam pasar. Wanita itulah yang di tunggu Kenzo sedari tadi. Pria itu turun menyusulnya.


Ternyata perkiraanku benar, dia pergi ke pasar pagi-pagi. Kenzo mengikuti wanita itu dari belakang dan menemuinya. "Halo!"


"Eh, Kak Kenzo." Leka terkejut ketika Kenzo berdiri di hadapannya. "Kenapa Kakak ada di sini? Kakak tidak kerja?"


"Aku tidak punya perusahaan di sini. Mmh, tadi aku lihat kamu dari mobil, jadi aku ikut masuk."


"Perusahaan? Maksudnya tidak kerja?" Leka terdengar lugu.


Kenzo tertawa. "Kerjaku hanya menelepon saja."


"Oh." Walaupun tidak mengerti, Leka mengiyakan.

__ADS_1


"Kau mau belanja?"


"Iya."


"Aku temani ya?"


"Tapi pasar kotor Kak."


"Tidak apa-apa nanti Kakak bawakan belanjaannya."


Leka melihat ke bawah. "Kakak juga pakai sepatu. Nanti sepatunya kotor lho!"


"Kenapa mengakhawatirkan sepatu bukan aku?" Kenzo tertawa.


"Kakak ada-ada saja." Senyum leka mengembang.


Aduh, baru kali ini aku di beri senyuman oleh seorang wanita, begitu senangnya. Tak sia-sia aku datang kemari mengikutinya. Ia menoleh pada Runi yang berada di dalam kain gendongan Leka, melihat heran padanya. "Halo cantik."


Gadis kecil itu langsung menyembunyikan wajah pada tubuh ibunya.


Kenzo tertawa kecil. "Lucu sekali anak ini dari kemarin."


"Maaf Kak, aku buru-buru."


"Oh iya, ayo!"


Leka mulai menjelajahi pasar dan mulai belanja bumbu dapur hingga bahan mentah sedang Kenzo menumpuk belanjaannya di tangan. Sesekali ia merapikan kain gendongan Runi yang sedikit menarik bajunya. Setelah selesai mereka pun keluar.


"Kamu ingin duduk-duduk sebentar?" Tanya Kenzo.


"Tidak, aku ingin kembali."


"Kalau begitu naik mobilku saja."


"Aduh, jadi merepotkan."


"Tidak, ayo."


Mereka kemudian naik mobil Kenzo yang mengantar Leka sampai ke apartemennya. "Kakak mau mampir?"


"Oh, senang kalau di ajak sih ...." Kenzo kembali melirik Leka.


"Oh iya, boleh. Ayo masuk Kak."


"Salah kamu, hadap kartunya." Kenzo mengambil alih kartu dari tangan Leka. Ia membalik kartu dan menggesernya pada alat. Pintu terbuka.


"Oh."


"Ingat hadapnya seperti ini." Kenzo mencontohkan.


"Oh, iya Kak. Maaf orang kampung."


"Tidak ada orang kampung dengan orang kota. Mesin hanya mengikuti apa yang di perintahkan, tinggal kamu belajar apa yang di ketahui mesin." Kenzo mengembalikan kartunya pada Leka. "Coba kamu buka pintu apartemenmu sendiri."


Leka menggeser kartu itu pada pintu dan menekan tombol angka yang diingatnya. Pintu coba di buka dan terbuka .... "Makasih Kak," ungkap wanita itu senang. "Untung pergi sama Kakak, kalau tidak ...."


"Kan ada Satpam di bawah, kamu bisa tanya."


"Begitu ya?" Leka mengajak mereka masuk. Hanya bodyguard Kenzo yang segera kembali turun.


"Kakak mau minum apa? Kopi atau teh?"


"Teh boleh." Kenzo duduk di sofa ruang tamu.


Leka menurunkan Runi yang mulai berjalan-jalan di sekitar ibunya. Leka membuatkan minuman sementara Runi lari dari dapur ke ruang tamu hanya untuk mengintip Kenzo.


"Eh, ayo ke sini chibi(si kecil)." Kenzo memanggilnya.


Gadis kecil itu mendekat pelan-pelan tapi hanya hingga sampai meja di hadapan kenzo. Ia bersandar sambil meletakkan kepalanya pada meja menatap Kenzo. Entah kenapa, Runi tertarik melihat pria itu.


"Chibi, mau duduk di samping Om?" Kenzo menepuk-nepuk dudukan sofa.


Gadis kecil itu bergeming.


"Mau Om nyanyikan seperti kemarin?"


Runi segera menegakkan kepalanya. Ia berjalan mengitari meja dengan jarak terjauh karena masih malu pada Kenzo, hingga sampai di sofa di samping pria itu, tapi ia tidak segera duduk di sana melainkan hanya bersandar dan kembali meletakkan kepalanya di sana sambil menatap Kenzo.


"Mau nyanyi lagu apa?"


Runi hanya menatap pria itu bingung.


"Twinkle-twinkle little star(kerlap-kerlip bintang kecil) seperti kemarin atau ada lagu lain?"

__ADS_1


Runi hanya menatap pria itu tanpa suara.


"Ayo pegang tangan Om, kalau mau Omnya nyanyi." Kenzo menyodorkan tangannya.


Tangan mungil Runi segera menggenggam jemari Kenzo, ia tersenyum.


Kenzo kembali menyanyikan lagu Twinkle-twinkle little star yang dinyanyikannya semalam untuk Runi dan gadis kecil itu kembali terkesima. Bukan cuma Runi, Leka pun menyukai suara Kenzo yang merdu. Leka membawakan tehnya dan meletakkan di atas meja di hadapan Kenzo.


Runi seperti terbius. Ia mendengarkan suara Kenzo dengan mulut menganga. Awalnya Kenzo hanya menggerak-gerakkan tangan Runi, tapi kemudian ia menggendong gadis kecil itu ke pangkuan. Gadis kecil itu seperti tak sadar telah di pangku pria itu karena ia hanya melihat wajah Kenzo saat menyanyi. Saat lagu itu berhenti, ia terkejut telah di pangku Kenzo. Buru-buru Runi turun dari pangkuan pria itu dan pindah ke kaki Leka yang duduk di sofa lain. Kenzo dan Leka tertawa.


"Suaramu sangat merdu, kamu bisa jadi artis penyanyi sepertinya."


"Tapi ayah tak mengizinkanku jadi artis."


"Ayahmu?"


"Kemarin kan kamu bertemu dengannya, Arya Wiraguna."


"Oh, dia ayahmu? Wajah kalian tidak mirip ya?"


"Dia Ayah tiriku dan Mariko Ibu tiriku tapi Tama saudara kandungku."


"Mmh?"


"Mariko istri lain almarhum Ayah."


"Oh ...." Leka menatap Kenzo. "Maaf."


"Tidak apa."


"Jadi kamu sudah tidak punya orangtua lagi ya?"


"Tapi alhamdulillah, mereka sangat baik padaku."


"Aku juga sepertimu Kenzo, sudah tidak punya orang tua, tapi aku tidak seberuntung dirimu. Aku hanya sendiri dan harus membesarkan Runi sendirian."


"Oh, maaf aku tidak tahu, aku ...."


Leka menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Iya, benar juga ya? Kita tak boleh kecewa dengan apa yang tuhan telah takdirkan pada kita karena boleh jadi, ada orang yang lebih menderita lagi hidupnya dari kita tapi semangatnya tak pernah padam ... Seperti kamu Leka." Kenzo menatap Leka lembut.


Wajah Leka memerah. "Aku bukan orang hebat," katanya tertunduk malu.


"Semua Ibu pasti hebat. Aku sudah lihat perjuangan Mama padaku. Dia menerimaku walau aku bukan anak kandungnya, apalagi Runi anakmu. Ya kan?"


Leka menatap Runi yang bersandar pada pangkuannya.


Kenzo mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya. "Aku punya banyak alat musik di rumahku. Kalau kau mau mendengar aku menyanyi sambil main alat musik, mainlah ke rumahku lain hari."


"Alat musik apa?"


"Gitar dan piano, aku punya." Kenzo melirik Runi. "Ya Runi, ya? Mau lihat Om nyanyi lagi?"


Runi meloncat-loncat dengan sedikit malu di samping kaki ibunya. Seperti ia senang Kenzo menyanyi. Leka tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.


"Aku pulang dulu ya? Takut mengganggu pekerjaanmu." Kenzo berdiri.


"Terima kasih Kak, sudah menemaniku belanja."


"Sama-sama. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


------------+++-----------


Pintu di ketuk. Muncul kepala Kenzo dari balik pintu. "Ayah, Ayah sibuk?"


Arya menoleh ke pintu. "Kenapa?"


Tanpa diminta Kenzo masuk dan duduk dikursi dihadapan Arya. Wajahnya merengut. "Ayah aku ingin pengakuan dosa, Ayah." Ia sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan sikapnya masih terlihat seperti anak kecil bila berhadapan dengan Arya padahal usianya sudah 27 tahun.


"Memangnya kamu orang Kristen?"


"Aku bohong padamu, aku tidak ingin menikah."


"Apa?"


_______________________________________________


Hai reader, kali ini Author mau mengenalkan novel baru dari teman sesama Author, Author Zafa dengan novelnya berjudul Aku dan Masa Lalu. Masa lalu boleh kelam tapi tidak masa depan. Itu pesan yang ingin di sampaikan dari novel ini. Happy Reading. Salam, Ingflora 💋


__ADS_1


__ADS_2