
Aska melirik hp miliknya yang berada di atas meja kerjanya. Siapa lagi ini yang mengganggu? Ia terpaksa meletakkan pensil dan berkas-berkas di tangan ke atas meja lalu mengecek notifikasi, ia terkejut. Monique?
'Ka, bisa kita ketemu?'
Sial! Aska kembali mengingat kejadian 3 bulan yang lalu saat ia mabuk. Pasti ada hubungannya dengan itu. Apa ... ah aku tidak mau memikirkannya. Aku hanya mau Leka dalam hidupku, kenapa ia sampai sekarang belum juga memberikan jawaban sih? Bagaimana nanti kalau keduluan Monique? Monique ... apa dia hamil? Ck, ah!
Monique menatap hp-nya yang di letakkan di atas tempat tidur. Sudah setengah jam ia menunggu tapi pria itu belum juga menjawabnya. Hah ....
Wanita itu merebahkan dirinya di atas tempat tidur agar ia bisa meluruskan kakinya yang tadi ia lipat saat duduk. Ia masih mengenakan baju piyama tidurnya dan malas mengganti karena ia tidak ingin ke mana-mana, ia hanya ingin menunggui pesan atau telepon dari Aska.
Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu saat ibunya menyadarkannya bahwa tubuhnya sedikit berisi. Memang nafsu makannya belakangan ini meningkat jadi wajar ia sedikit gemuk dari yang biasa tapi ia sering mual di pagi hari. Walaupun ia mencoba memuntahkan tidak ada yang keluar selain cairan bening atau angin saja.
Namun ibunya merasa tubuh Monique berbeda dari biasanya. Dengan mengandalkan feelingnya(perasaan) ia meminta Monique melakukan tes kehamilan. Hasilnya, dua garis yang mempertegas dugaan Mamanya.
"Jadi siapa dia Sayang." Mama Monique mengusap pucuk kepala anak semata wayangnya dipelukan.
Monique terisak. "Aku mencintainya tapi dia tidak Mama." Ia tertunduk ragu.
"Lalu bagaimana caranya kalian berhubungan?"
"Kecelakaan Ma, ia mabuk. Aku membantunya mengusir orang-orang yang membuatnya mabuk tapi ia malah memaksaku untuk tidur dengannya." Tangis wanita itu makin menjadi membuat ibunya memeluknya erat. Di usapnya punggung anaknya itu pelan hingga tangisnya mereda.
"Apa aku gugurkan saja anak ini Ma, tidak ada yang menginginkannya," ucapnya sedih.
"Apa kau tidak suka pada anakmu?"
"Bukan begitu Ma, tapi kalau ayahnya sendiri tidak mau ...."
"Kalau anaknya ingin hidup, bagaimana? Kau tidak pernah menanyakannya kan?"
"Heh?" Monique menghentikan tangisnya.
"Anakmu tidak salah Sayang, ia tidak berdosa. Orang tuanyalah yang berdosa. Jangan menambah dosa lagi dengan membunuhnya."
"Tapi aku harus bagaimana Ma, kalau aku minta pertanggungjawabannya ia pasti tidak akan mengakuinya."
"Kan bisa tes DNA, ia pasti tidak bisa mengelak."
"Kalau ia tetap tidak ingin bertanggung jawab, bagaimana Ma?"
"Kita akan datangi keluarganya. Mungkin kalau orang tua yang bicara, kita mungkin akan mendapatkan kata kesepakatan."
"Apa kita akan menekan keluarganya untuk bertanggung jawab padaku?"
"Kalaupun pada akhirnya nanti tidak terjadi kesepakatan tidak apa-apa, kau tetap harus melahirkannya karena ia adalah satu-satunya pewaris perusahaan milik keluarga Le Blanc. Kita akan membesarkannya bersama-sama, apa kau mengerti?"
Monique menatap ibunya yang begitu membesarkan hatinya. Air matanya kembali menetes membasahi pipi. "Mama, kau memang yang terbaik." Ia kembali memeluk ibunya erat. Pelukan ibunya pun tak kalah hangat.
Kenzo baru selesai sholat Jum'at di sebuah mesjid di kota Roma, Itali. Mesjid yang terbesar di dunia di luar negara Islam ini di desain dengan sangat megah. Desain bangunannya mengikuti struktur desain bangunan Arab dengan sentuhan Eropa.
Walaupun agama Islam belum diakui di sana, penduduk muslimnya sangat banyak dan sebagian besar kaum imigran.
Kenzo sangat betah berlama-lama di mesjid karena mereka sangat ramah pada kaum pendatang. Ia bisa bertemu dan berteman dengan beberapa orang kaum imigran di sana.
__ADS_1
"Eh, Pedro. Apa kabarmu?" ucap Kenzo menyapa sahabatnya yang datang menyambanginya seusai ceramah Jum'atan selesai. Pedro adalah keturunan Indonesia-Portugis yang beristrikan orang Rusia.
Pria tinggi tegap berbadan kekar dan berkulit putih itu duduk bersebelahan dengan Kenzo di atas karpet mesjid dengan melipat kakinya. Rambutnya yang bergelombang dan hidungnya yang mancung makin mempertegas wajah Portugisnya.
"Kenapa kamu masih di sini, hah? Betah sekali. Orang lain sudah mulai pulang." Pedro sangat fasih berbahasa Indonesia karena masih sering mengunjungi kerabatnya di Indonesia.
"Ya, begitulah." jawab Kenzo lemah, tanpa semangat.
"Mmh ... pasti masalah perempuan ya? Kenapa sih kamu gak mau cerita?"
"Rumit masalahnya ...."
"Hei, kenapa takut rumit? Allah bersama kita."
Akhirnya, karena tak tahan memendamnya sendirian, Kenzo mulai bercerita. Sahabatnya itu mendengarkan dengan seksama.
"Kau dan ayahmu orang yang berbeda," ucap Pedro kemudian.
"Aku tahu itu."
"Lalu masalahnya apa?"
"Aku tadinya tak ingin menikah karena trauma dengan masa lalu orang tuaku tapi sejak bertemu dengannya aku berniat menikahinya. Lalu aku mengetahui kemudian kalau wanita itu masih terikat pernikahan dengan orang lain."
"Oh, wanita itu istri orang?"
"Sudah cerai sih ...."
"Nah, kalau itu, tidak apa-apa kan?"
"Kamu orang Islam, kamu pasti tahu hukum-hukum pernikahan dalam Islam dengan benar kan, dan hukum-hukum itu memisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Jadi tidak pakai perasaan tapi pasti. Kalau wanita itu sudah bercerai dan melewati masa iddahnya, kamu sudah boleh melamarnya. Itu dibenarkan dalam Islam."
Kenzo terdiam. Ia seperti masih meragukan langkahnya.
"Apa lagi?"
"Ayahku. Kenapa aku bisa punya jalan hidup yang sama dengannya?"
"Kenzo, tadi kan aku sudah bilang, kau dan ayahmu berbeda. Sudah 3 bulan kita berteman aku bisa lihat kau pemuda yang sopan jauh dari ceritamu tentang ayahmu. Aku memang tak mengenal sejauh apa kejahatan ayahmu, tapi aku yakin kau tidak sama dengannya. Kau menikahi janda bukan menikahi istri orang yang kau rebut dengan cara paksa. Apa status jandanya itu yang membuatmu ragu?"
"Bukan itu."
"Lalu apa?" Pedro melihat pria ini sepertinya menyalahkan dirinya sendiri karena punya kisah hidup yang mirip dengan orangtuanya. "Kenzo, takdir kita sudah ditulis sebelum kita lahir dan kalau ia memang di takdirkan untukmu lalu bagaimana? Kau ingin menolak takdir Allah?"
Kenzo mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah temannya itu dengan mata lebih terbuka.
"Jodoh itu mirip dengan kematian. Kalau ia jodohmu, seberapa besar kamu menolaknya ia tetap akan datang padamu dan sebaliknya bila ia bukan jodohmu seberapa keras kamu menahannya ia akan tetap pergi darimu. Kenapa kau tidak coba peruntunganmu, barangkali saja kau berjodoh dengannya. Usaha dan doa itu penting, karena mungkin saja Allah melihat usaha dan doa kita lalu mengubah takdirnya. Mengenai mirip atau tidaknya kisah hidupmu dengan orang tuamu, kamu bisa apa? Itu sudah takdirnya, ikhlas saja menerimanya. Semakin kita ikhlas semakin kita tenang. Mungkin kamu bisa menulis kisah berbeda walaupun nasibmu sama dengannya. Mungkin disitulah letak berkahmu. Memperbaiki jalan cerita yang sudah dirusak oleh ayahmu. Kamu mungkin bisa membersihkan nama orang tuamu dengan menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa dibanggakan oleh kedua orang tuamu. Bahkan banyak-banyaklah bersedekah atas nama orang tua atau mendoakan mereka, itu juga bisa membersihkan nama mereka apalagi kau anak laki-lakinya."
"Apa dosa-dosa orang tuaku akan diampuni?"
"Ikhtiar saja, kita berusaha. Selebihnya itu tuhan yang punya kuasa."
Kenzo tafakur mendengarkan nasehat temannya ini, ada setitik sinar cerah dari balik netranya yang mulai jernih.
__ADS_1
"Mungkin kamu mau coba sholat istikhoroh untuk memastikan niatmu itu , mmh?" Pedro menepuk-nepuk bahu Kenzo.
"Terima kasih." Kenzo menyentuh tangan temannya itu di bahu.
--------------++++-------------
Kenzo menatap sebuah kotak kecil di telapak tangannya. Ia kemudian menggenggamnya erat, lalu di masukkannya ke dalam saku celananya. Malam itu Leka belum pulang dari tempat kerjanya di restoran. Ia mengumpulkan tekad ingin memberi surprise(kejutan) pada wanita itu dengan melamarnya. Bukankah 3 bulan itu sudah berlalu dan tanda-tanda Leka kembali pada Aska sepertinya tidak ada. Ia baru saja datang tadi sore dan siapa pun belum ada yang tahu tentang kedatangannya.
Namun di rumah Arya ada keramaian. Apa Ayahnya tidak menemani Leka bekerja di restoran? Pria itu kemudian mendatangi rumah Ayahnya.
Sri membukakan pintu untuk Kenzo.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikum salam, Jo?" Arya terkejut.
"Mmh?"
"Kakak ...."
"Oniichan!"
"Kenzo kun ...." Seorang pria tua tersenyum saat melihat wajahnya.
"Ojiichan ....(kakek ....)" Ya, Ayah Mariko datang menjenguk anak dan cucu-cucunya. Ia begitu senang mendapati Kenzo juga ada di Jakarta. Walau Kenzo bukan cucunya, sikap Kenzo yang sopan membuat ia akhirnya bisa menerima keberadaan pria itu.
Kenzo mendatangi Ayah Mariko. "Ojiichan, o genki?(Kakek, apa kau sehat-sehat?)"
"Genki desu yo.(sehatlah)"
Aiko dan Tama datang memeluk Kakaknya dari samping sedang Ayah Mariko mengusap pucuk kepalanya.
Mariko dan Arya terlihat sangat senang dengan kepulangan anaknya yang tiba-tiba itu. Mereka berharap Kenzo sudah memulihkan hatinya.
"Kapan Oniichan pulang?" tanya Aiko dari samping.
"Tadi sore."
Malam itu, perbincangan semakin ramai saja. Tiga generasi bertemu dan saling berbincang mengenai masa lalu dan masa sekarang. Sebenarnya Arya merasa ada yang aneh dengan kedatangan Kenzo ke rumahnya karena pria itu sering melihat ke arah jendela luar dan melirik jam tangannya seperti menunggu seseorang datang. Mungkinkah ia sedang menunggu Leka pulang? Apa yang ingin di lakukannya pada wanita itu? Apa ... Aku harap kabar yang menyenangkan. Arya tersenyum.
"Apa kamu ingin makan malam?" tanya Arya.
"Ah, nanti saja Yah."
Sekilas ia melihat mobil Aska datang. Buru-buru Kenzo berdiri. "Ah, aku pulang dulu." Segera ia keluar rumah dan berjalan pura-pura hendak pulang ke rumahnya.
Bertepatan dengan itu, Leka keluar dari mobil Aska. "Kakak?"
"Oh, halo Leka." jawab Kenzo sedikit gugup.
Aska yang berada di dalam mobil sebenarnya berniat untuk pulang tapi melihat kedatangan Kenzo, ia merasa ketar-ketir. 3 bulan masa iddah Leka sudah lewat dan wanita itu masih mengelak untuk memberikan jawab. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang boleh memiliki Leka selain dirinya. Ia segera keluar mendatangi Leka dan meraih tangannya. "Hei, jangan ganggu tunangan orang ya?"
"Apa?" Kenzo tercengang.
__ADS_1
"Aska ...." Namun sebelum Leka selesai bicara, Aska sudah menarik Leka ke dalam rumah.