Sungai Rindu

Sungai Rindu
Masih Di Sini


__ADS_3

"Halo."


"Halo Kak, aku di bawah. Mau masuk. Boleh gak?"


Sial! " Ya udah."


Aska menunggu di pintu dan membukakan pintu lift.


"Kakak, belum tidur?" Salwa langsung masuk ke dalam apartemen Kakak kembarnya. Matanya mencari-cari.


Aska melihat Salwa tidak sendiri. "Ngapain kamu ke sini? Ini siapa lagi?" Ia ikut masuk.


"Masa Kakak lupa? Rojak Kak." Mata wanita itu masih mencari-cari.


Aska mengerut kening. "Yang tukang AC itu?"


"Iya."


Aska melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala pria kurus di hadapannya dan pria itu hanya tersenyum padanya. "Keren penampilanmu sekarang ya? Sudah gak kucel lagi." Ledeknya.


"Alhamdulillah. Aku sekarang sudah kerja kantoran."


"Cih!"


"Kak!" Salwa memukul bahu Aska. "Jangan gitu sama orang. Mulutnya jahat, makanya gak punya teman."


Siapa yang mau berteman sama tukang AC? Aska mengusap bahunya yang di pukul adik kembarnya.


"Pembantumu yang punya anak kecil itu mana?"


"Mmh ... keluar." Aska menjawabnya dengan lidah keluh.


"Yaaaa ... padahal mau kenalan. Pasti mulutmu jahat lagi ya?" Salwa kembali memukul bahu Aska.


"Ck, jangan asal nuduh." Aska mengusap-usap bahunya dan pergi ke dapur. "Eh, sakit tahu."


"Kakak mau apa?" Salwa mengekor.


"Makan." Pria itu mencari-cari makanan yang bisa di makan. Ternyata ada gulai ayam yang tinggal di hangatkan. Ia kemudian menghangatkannya.


"Ini masakan siapa Kak?"


"Masakan Leka. Duh, kamu cerewet banget sih! Aku lapar nih!"


" Baru ya perginya Kak?"


Aska hanya melirik sekilas. Malas menanggapi. Salwa memeriksa nasi yang belum di sentuh. "Dari tadi Kakak belum makan?"


"Aduh, mumet aku, dengar kamu ngomong." Aska mengacak-acak rambutnya.


"Ya udah, Kakak di meja makan, nanti aku siapkan."


Aska menatap adiknya, lalu berlalu ke meja makan.


Tak lama Salwa menyajikan di meja makan, nasi, lauk dan piring. Ia juga menyajikan 2 cangkir kopi untuk Rojak dan dirinya. Mereka mengelilingi Aska yang sedang makan.


"Kalian kenapa bisa berdua-duaan lagi? Kalian jadian?" Aska menyendok nasinya.


"Dih, capek gua ngelamar gak di tanggepin." Tolak Rojak.


"Kebetulan ketemu Kak, di hotel."


"Kamu ngapain di hotel?"


Salwa diam.

__ADS_1


"Sst, lapor sono!" Rojak memberi tanda dengan matanya.


Aska melirik keduanya. "Ada apa nih?"


"Ngak. Udah aku hajar Kak."


"Evan?" Aska berhenti mengambil sendok gulai. "Sudahlah, kamu suka banget sih sama bule? Gak bisa yang lain apa?"


"Kayak gua." Rojak memberi saran.


"Enak aja, emang gue mau iparan ma elu?" Aska menatap Rojak tajam.


Salwa menyentuh lengan Kakaknya. "Jangan gitu Kak, dia juga kan becanda."


"Memangnya kamu suka sama si item ini?"


"Kakak, gak boleh gitu."


"Nanti kapan, gue ketemu gue hajar tuh cowok!"


"Udah Kak, lupakan aja cowok itu."


"Gak bisa gitu dong, kamu sudah suka sama dia, malah dimanfaatkan. Pria macam apa itu? Mau main-main sama gue, Aska?"


Rojak bertepuk tangan. "Keren pidatonya."


"Gue gak butuh pengakuan lu!" Aska kesal dengan candaan Rojak.


Rojak sangat kenal Aska, dia dari dulu selalu ketus dalam berbicara apalagi dengan dirinya, tapi karena hapal sifatnya, Rojak tak pernah berkecil hati bila dimarahi oleh Aska.


Tak lama Rojak dan Salwa pamit. Apartemen itu kembali sepi. Aska kembali naik ke lantai dua kembali ke kamarnya. Ia berusaha untuk bisa tidur, walaupun sulit. Ia terbiasa ada Leka di sampingnya. Ia terbiasa memandang wajah lelah wanita itu yang menunggunya seharian. Belum sehari, ia rindu bunyi tapak kaki Runi yang melangkah di lantai rumahnya, atau melihat betapa sibuk istrinya bolak-balik ke dapur mempersiapkan hidangan. Ia baru mulai menikmatinya. Menikmati mereka mengisi hari-harinya yang sepi dan ia baru sadar betapa sendirian hidupnya tinggal di apartemen itu.


Dulu ia tidak memikirkan itu. Yang di pikirkan, bahwa hidup sendiri adalah sebuah kebebasan dari aturan orang-orang dewasa karena ia sudah dewasa, tapi semenjak Leka dan Runi masuk dalam kehidupannya ia merasakan arti baru dari kedewasaan. Berbagi dan hidup bersama dengan keluarga kecilnya yang ia pimpin sendiri. Sangat bangga dan bahagia menjadi ayah dan juga suami. Ada yang memasakinya nasi, merewelinya soal anak, rumah, pendapat, dan di tengah-tengah ia mulai nyaman dengan keadaan, semua tiba-tiba musnah. Tak ada senyum manis dan tangis Leka yang mewarna malamnya. Kenapa jadi seperti ini? Bagaimana caranya untuk mendapatkan mereka kembali tanpa harus merusak rencana yang ada? Aska kesal dan mengacak-acak rambutnya.


"Kakak mau ke mana?" Leka segera membantunya berdiri dengan mengalungkan tangan Kenzo di lehernya.


"Mmh? Mau ke kamar mandi."


Leka membantunya berjalan hingga kamar mandi. "Kalau kakak butuh bantuan, bilang saja ya?" Leka menutup pintu kamar mandi.


Tak lama Kenzo keluar, setelah mendengar deru air di toilet. Wanita itu kembali membawanya ke tempat tidur. Setelah membaringkannya, Leka menyelimuti pria itu dengan selimut tebalnya.


"Maaf Leka, kau melihat sosokku yang buruk ini. Aku ...." Kenzo memiringkan kepalanya.


"Mmh?"


Sebentar kemudian pria itu telah tertidur. Dengkuran halus terdengar dari bibirnya yang sedikit mengering. Leka hanya bisa tersenyum memandangi wajah pria yang tengah berusaha terlihat sempurna di hadapannya. Padahal ia bukan siapa-siapa dan tak bisa menjanjikan apapun padanya. Andai ada sesuatu yang bisa merubah suratan ini, iapun ingin memperjuangkannya, tapi ia adalah istri orang. Suatu label yang tidak bisa ia hapus dengan mudah. Menghapusnya pun bisa melibatkan dosa di dalamnya bila niatnya salah. Leka hanya bisa menikmati hari ini. Entah, besok.


Pagi yang cerah. Leka kembali tidur setelah sholat Subuh karena sempat terbangun 2 kali di malam hari hanya untuk mengecek Kenzo.


Ia kembali terbangun saat Runi menarik bajunya. "Unda ... cucu."


"Oh iya, Bunda lupa ya Nak?" Leka bangun dan mengucek-ngucek matanya. Tidaklah mudah terbangun tengah malam lalu tidur kembali. Ia sampai harus melakukannya 2 kali dalam semalam dan sulit untuk tidur kembali sementara semua orang sedang tertidur, tapi tidak apa. Nanti malam mungkin hari terakhirnya ia mengecek Kenzo karena hari berikutnya, luka pria itu mungkin sudah mengering. Setelah membuatkan susu buat Runi, ia kembali ke kamar, tapi betapa terkejutnya Leka saat melihat tidak ada Runi di kamar. Pintunya telah terbuka dan gadis kecil itu tidak terlihat di mana-mana. Terdengar suara anak kecil tertawa dan suara pria bernyanyi dari kamar sebelah.


Leka membuka kamar Kenzo. Ternyata Runi ada di sana berbaring di atas tempat tidur bersama Kenzo. Gadis kecil itu tidur di atas lengan pria itu, dan pria itu sedang bernyanyi.


"Runi, ternyata kamu di sini. Bunda cari di kamar kamu tidak ada. Bunda sampai panik."


"Oh, maaf, tapi sepertinya kamu lupa menutup pintu hingga Runi mengetuk pintu kamarku. Aku mempersilahkannya masuk."


"Oh, benarkah? Aku tidak ingat." Saking ngantuknya Leka tidak ingat kalau ia lupa menutup pintu kamarnya saat keluar. "Tadi tertawa-tawa kenapa?" Tanyanya penasaran.


"Oh, tadi aku bernyanyi tentang binatang-binatang dan saat aku membunyikan suaranya, Runi tertawa. Seperti suara kodok atau sapi."


Runi berdiri dan mengambil botol susu yang di bawakan Leka.

__ADS_1


"Runi, kita ke kamar saja ya? Jangan ganggu Omnya istirahat," ucap Leka pada anaknya.


"Oh, tidak apa-apa, keberadaannya cukup menghibur. Aku bosan di kamar terus tapi tidak bisa keluar."


Leka yang hendak menggendong anaknya jadi bingung sendiri.


"Tidak apa-apa, biarkan ia sebentar di sini."


Runi pun seperti mengerti yang diucapkan Kenzo. Dengan dot yang sudah masuk ke dalam mulut, ia bersandar miring pada bahu pria itu sehingga jemari Kenzo bisa menyentuh telapak kaki Runi. Gadis kecil itu menginjak-injakkan kakinya pada jemari Kenzo dan pria itu kadang menangkap kaki kecil itu dan gadis kecil itu tertawa.


"Eh, jangan begitu Kak, nanti dia tersedak."


"Oh, begitu. Maaf." Kenzo kemudian menyanyikan lagu Nina Bobo yang membuat Runi mengantuk. Dengan beberapa kali pengulangan, Runi benar-benar tertidur di bahu Kenzo dengan botol susunya yang sudah kosong.


"Maaf ya Kak, aku angkat saja Runinya. Dia sudah tidur." Leka mengangkat gadis kecil itu pelan dengan botol susunya.


"Iya, iya."


"Kakak mau makan dulu atau mandi dulu?"


"Eh?" Kenzo terlihat bingung.


"Mandi ya?"


Wajah Kenzo memerah. Saat ini ia dalam keadaan sadar sehingga ia malu sebenarnya minta dimandikan oleh Leka.


"Sebentar ya, aku siapkan air mandinya dulu." Leka segera keluar.


Kenzo segera mencari hp-nya. Ia menelepon Ayahnya, Arya.


"Halo."


"Ayah ... kenapa Ayah bikin malu aku sih Yah?"


"Lho memangnya kenapa? Wanita itu butuh kerja dan ia mengurusmu, apalagi yang kau inginkan?"


"Iya, tapi memandikan aku itu ...." Kenzo tak bisa melanjutkan.


"O, ya sudah kalau kamu tidak mau, Ayah akan pindahkan Leka ke tempat lain."


"Ke tempat lain apa, bukan itu maksudku! Mama saja yang memandikanku." Jawab Kenzo kesal.


Arya menahan tawa. "Ya kerja perawat itu satu paket. Kalau dia tidak memandikanmu, terus kerjanya apa?"


"Eh ...." Benar-benar Kenzo tidak bisa menyebutkannya karena tidak tahu. "Ayah aku bingung!" Teriaknya.


"Perawat itu memang kerjanya memandikan. Kamu suka kan di mandikan Leka?" Arya tidak bisa menahan tawa.


"Ayah!" Teriak Kenzo kesal.


"Sudah nikmati saja, kenapa malu-malu sih!"


"Ayah ... Aku seperti pria mesum."


"Kamu itu laki-laki jadi tunjukkan kalau kamu ... suka." Arya kembali tertawa.


"Ayah ... aku sangat malu Yah."


"Terserah kamu. Kalau kamu tidak suka, Ayah akan pindahkan Leka ke tempat lain."


Telepon di tutup dan Kenzo masih bingung.


Tak lama Leka masuk. Ia membawa wadah berisi air dan handuk kecil. Seperti biasa, ia meletakkannya di atas meja nakas dan mulai memeras handuk itu. Ia menghampiri Kenzo yang sudah duduk di tepian tempat tidur.


"Wajah Kakak sudah lebih segar sekarang. Bagaimana perasaanmu Kak?" Leka mulai mengusap handuk itu di wajah pria itu. Tiba-tiba ia melihat wajah Kenzo bersemu merah. "Kakak demam?"

__ADS_1


__ADS_2