
"Evan, jangan bercanda. Katanya kita mau dinner, kenapa kamu mengajakku masuk ke kamar ini?"
"Lho, kamu lupa? Kau sendiri yang bilang ingin kejutan dan tak ingin hubungan yang begini terus selamanya. Kini aku datang padamu sebagai hadiah yang bisa kamu nikmati saat ini." Evan sudah meraih pinggang Salwa dalam pelukan. Kancing baju pria itu sudah setengah terbuka, bermaksud menggoda wanitanya.
"Evan, ini tidak lucu sama sekali ya?" Salwa berusaha melepaskan diri tapi pria itu merengkuhnya lebih kuat lagi.
"Mengapa kau menghindar? Bukankah ini yang diinginkan olehmu selama ini."
"Apa? Apa kamu sudah gila?" Salwa mulai marah.
"Hei, ayolah. Bukankah semua wanita menginginkan ini? Semua wanita yang dekat padaku melakukannya. Kenapa kamu tidak?"
"Apa?" Hati Salwa benar-benar sakit dan marah mendengarnya. Jadi selama ini dia menjadi pacarnya juga tak ada istimewanya bagi Evan karena ia melakukan hal yang sama pada hampir semua wanita yang datang memujanya, yaitu tidur bersamanya. "Kau pikir aku semurah itu?"
Yang Evan tidak tahu, Salwa juga pintar Pencak Silat dan Wushu sama seperti kembarannya Aska. Ia memutar tubuhnya dan menghajar wajah Evan dengan sikutnya. Saat pelukan di pinggang melonggar, Salwa menangkap lengan pria itu untuk dijadikan tumpuan memutar tubuhnya kembali dan mengangkat kakinya ke atas lalu menendang wajah pria itu dengan keras. Beberapa kali hentakan cepat membuat pria itu roboh seketika. Rok Salwa yang sedikit span terpaksa robek di samping karena gerakan itu. Bukan itu saja, saking kesalnya Salwa menginjak-injak perut Evan beberapa kali dengan sepatu stilettonya.
"Aagh, aagh ...."
"Aku benar-benar kecewa padamu Evan. Sangat!" Teriak Salwa sambil meninggal tempat itu. Ia berlari hingga ke depan lift. Air matanya jatuh perlahan. Pria yang selama ini ia percayai ternyata sama saja dengan pria bule lainnya yang ia kenal. Sangat menggampangkan semua wanita, tapi kenapa ibu sambungnya bisa mendapat pria bule tampan yang sangat menjunjung tinggi nilai budaya di Indonesia? Kenapa ia tidak bisa? Apakah sulit mencari orang seperti itu di dunia? Betapa beruntung hidup Mamapnya itu.
Pintu lift terbuka. Ada beberapa orang di dalam lift itu tapi ia tak peduli. Ia segera masuk dan menghapus air matanya. Ada beberapa orang yang berdiri dekat wanita itu melihat heran padanya tapi mereka diam saja. Saat berhenti di lobi, Salwa segera keluar. Ia tak bisa berjalan normal karena ia ingin buru-buru keluar. Ia ingin menangis. Tanpa melihat arah dengan benar ia berjalan tergesa-gesa hingga menabrak seorang pria yang berada di pintu luar lobi yang juga baru keluar dari hotel dari pintu di sampingnya. "Eh ... copot, eh copot-copot."
"Eh, maaf Mas."
"Eh, iya gak apa-apa. Eh, Salwa?" Pria itu memperhatikan wanita di depannya.
Salwa mengangkat wajahnya karena terkejut. Ia tak mengenali pria di hadapannya hingga ia mengerutkan dahi.
"Rojak, ini Rojak Sal!" Teriaknya.
"Rojak ... tetangga Kak Kenzo?" Ia tak percaya penglihatannya. Pria itu telah berubah. Walaupun kulitnya yang sedikit gelap masih sama seperti dulu tapi pria itu sudah jauh dari tubuh gempalnya itu, sekarang yang terlihat hanyalah seorang pria bertubuh ramping dengan pakaian kantornya.
"Iya, apa kabar?"
Namun kalimatnya tidak di jawab kecuali tangisan. Salwa memeluknya dan menangis di dadanya.
Teman Rojak yang baru datang menyusul terkejut melihatnya. "Jak, ada apa lagi ini?"
"Eh, enggak. Ini tetanggaku ...."
"Mmh! Ya sudah aku pulang duluan."
"Awas lo ya, ada gosip macem-macem di kantor!" Rojak mengancamnya dengan kepalan tangannya.
"Ya tergantung ...." Temannya tertawa dan meninggalkannya.
"Eh, eh, eh ... gua lempar sepatu gua, baru tau rasa lu!" Rojak tak bisa bergerak karena Salwa masih memeluknya.
"Kakak ...." Salwa menengadahkan kepalanya.
"Iya, ada apa?"
"Pacarku jahat ...."
"Iya, sekarang kamu pacaran sama bule mana lagi ini?"
"Jerman."
"Hahhh ...." Rojak menghela napas. "Nape sih lu doyan amat ama bule? Keteknya aja masih wangian orang Indonesia. Die bau keju kita bau kenanga."
Salwa memukul lengan Rojak.
"Aduuuh ...."
"Keren lagi punya cowok bule."
"Kite ini sama-sama orang Betawi, napa pengen jadi orang bule sih?"
Salwa mencubit lengan pria itu.
__ADS_1
"Aduuuh, sadis banget deh ah! Udah lu lanjutin aja kalo lo doyan." Rojak meninggal Salwa.
"Kakak ...." Salwa mengejarnya. Ia memukul bahu Rojak karena meninggalkannya.
"Aduh, salah lagi." Ia menyentuh bahunya yang di pukul Salwa. Sakit. Pukulan salwa memang sakit.
"Rasain, kenapa Salwa lagi ngadu di tinggalin."
"Ya lu, maunya apa sih? Lu mau pacar ma tuh orang juga gua kagak larang. Go a-head.(teruskan!)"
"Cieh, elu Kak. Sejak kapan bisa bahasa Inggris?"
Rojak merapikan bajunya dan mengusap rambutnya. "Sejak keju gua sambelin, ya sejak dulu lah. Gue gak gitu goblok-goblok amat, kali ...."
Salwa terpingkal-pingkal.
"Dah ah, gara-gara elu Betawi gue keluar. Gue dah rapi-rapi ngomong bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lu suka iseng dah!"
"Ya, gara-gara Kakak aku juga ikut ngomong ketelepasan."
"Cie aku ...." Ledek Rojak.
"Cie bahasa inggris ...."
Mereka berdua tertawa.
"Dah ah, gua gak mau lama-lama deket pacar orang, ntar gua kena labrak lagi."
"Lah, kata siapa aku pacar orang?"
"Emangnye lo udah putus ma tuh Jerman?"
"Ya pasti udah lah!"
"Alah ... ntar kalo die sujud mohon-mohon, kamu terima lagi."
"Ah yang bener ...." Goda Rojak.
"Cape ati gue pacaran ma bule lagi."
Rojak tepuk tangan perlahan. "Wah, bagusnya di viralkan ini."
Salwa kembali memukul bahunya.
"Aduh ... Dah ah capek gua. Ngobrol ma elu bahu gua bisa bengkak-bengkak nih." Rojak menyentuh bahunya.
"Eh, ntar dulu. Kakak hibur aku dulu." Salwa mencoba menahannya.
"Lu kagak sedih ngapain gua hibur lu." Rojak meninggalkannya.
"Kakak, aku bener-bener sedih ini." Salwa menarik lengan pria itu dengan kuat hingga tubuh Rojak berbalik menghadap Salwa dengan berbenturan. Rojak melihat wajah Salwa yang cantik dari dekat hingga susah menelan ludah. Ia segera menghindar. "Dah ah, gua bukan mahram lu, lu ngapain deket-deket gua? Bukannya gua dulu udah ngelamar lu, lu gak mau." Kembali Rojak meninggal Salwa.
Salwa tetap memaksa dengan mencengkram lengan Rojak. "Aagh ... ampun ...."
"Anterin gua pulang gak!"
"Gak ah! Ntar gua naksir lagi ma elu, gua repot."
"Anterin!" Kini Salwa menarik kemeja Rojak dari belakang.
Pertengkaran mereka ini di saksikan banyak orang dan mereka kebanyakan tersenyum melihat cara mereka bertengkar. Mereka mengira Rojak dan Salwa adalah sepasang kekasih.
Akhirnya Rojak mengalah, dengan mengantar Salwa pulang dengan motornya.
"Kakak tadi ngapain di hotel?"
"Wes, jangan salah ya, gua gini-gini habis pulang kerja. Seminar." Rojak memberikan helm ektra pada Salwa.
"Iya, percaya." Salwa memakai helmnya.
__ADS_1
Rojak melihat rok Salwa yang robek. "Lu habis tendang tuh bule ye?"
"Iya, mau bilang apa. Terpaksa."
"Makanya, jadi cewek jangan pake baju yang nyiksa diri."
"Ini fashion Kak."
"Lah bedanya kaki lu di masukin di karung ape? Sama kan ribetnye?"
"Ya enggak lah Kak." Salwa tertawa terpingkal-pingkal.
"Heran cewek. Maunye ade ... aje."
Mereka kemudian naik motor. Salwa terpaksa duduk miring karena roknya yang sedikit sempit.
"Ntar lu jatoh, gimana?" Rojak khawatir.
"Ngak nih, gue peluk." Salwa mengeratkan pelukannya di pinggang Rojak.
"Eh, busyet. Gua lakik ini." Rojak berusaha protes.
"Pokoknya gue pulang ma elu!" Salwa mendekap tubuh Rojak dari belakang.
"Ampun dah. Iya, iya." Rojak menyerah. Ia tahu bagaimana keras kepalanya Salwa.
Rojak mengenal Salwa dari Kenzo tetangganya, di salah satu pom bensin, saat Kenzo mengisi bensin motornya. Sejak itu mereka sering bertemu karena Rojak pernah bekerja pada Arya yang sedang membangun rumah Chris. Juga sering di panggil Chris membetulkan AC rumahnya. Mereka sempat dekat hingga Rojak melamarnya, tapi di tolak Salwa. Wanita itu ingin jadi wanita karir dan menikah dengan pria bule. Karena dari keluarga tidak mampu, Rojak di bantu Arya bekerja lepas di perusahaannya sehingga bisa menabung untuk kuliah. Setelah selesai kuliah, ia malah di terima di perusahaan multinasional sebagai staff IT hingga kini menjadi Manajer di posisi tersebut. Ini pertemuan pertama kalinya setelah sekian lama tidak bertemu.
Mereka kemudian berhenti di sebuah warung pinggir jalan dan makan di sana.
"Kak kenapa kurusan?"
"Pusing mikirin elu. Ya enggak kali ... Berat badan gua turun sendiri pas kuliah. Mungkin karena kagak nongkrong di warung Enyak lagi, sejak warung itu di tutup."
"Mmh. Enyak sehat?" Salwa menyuap nasi terakhirnya.
"Sehat. Mau ke rumah?"
"Enggak ah, ntar lo lamar lagi." Keduanya tertawa.
Gua pingin ngelamar lo lagi, apa lo akan nolak gua? Capek deh ....
Leka baru saja masuk ke dalam kamar ketika Runi menunjuk-nunjuk meja nakas.
"Uh ... uh ... Unda."
"Apa nak?"
Terdengar hp Leka berbunyi di atas meja nakas. Leka melihat siapa yang menelepon. Aska. Ia tidak jadi mengangkatnya dan membiarkan saja hp itu berbunyi hingga selesai.
"Uh ... uh ... Unda," ucap Runi lagi kembali menunjuk-nunjuk.
"Itu Om, biarkan saja."
"Papa?"
"Oh, bukan."
Runi kembali bermain dengan bonekanya.
Aska kesal. Sudah berkali-kali ia menelepon Leka tak diangkat. Ia ingin membujuk mereka pulang karena sepi sekali rumah tanpa mereka. Hah, ia membanting hp itu di tempat tidur. Kepalanya serasa pusing tak ada mereka. Padahal ia berusaha menyembunyikan anak istrinya hingga kondisi memadai tapi yang terjadi adalah, kedua-duanya pergi dari genggamannya di depan matanya sendiri. Mereka pindah dan sekarang ada dalam naungan orang lain. Ini diluar rencana, yang seharusnya ia bisa mengatur istrinya, sekarang malah berbalik ia yang akan memohon padanya. Ini benar-benar diluar kuasanya dan ia benci dirinya saat ini.
Ah, aku mulai lapar. Ia memperhatikan jam di dinding kamarnya. Oh, sudah jam 8 malam, pantas saja. Padahal aku belum makan siang. Aska turun dari tempat tidurnya yang sudah acak-acakan. Bantal dan guling berserakan di lantai. Baru saja ia akan keluar kamar, hp-nya berbunyi. Leka? Ia mengejarnya.
_____________________________________________
Kembali Author menyapa dengan semangat 45. Dukung terus novel ini ya, dengan like, vote, komen, hadiah dan koin yang sangat-sangat berharga buat Author. Ini visual Salwa yang cantik. Salam, Ingflora 💋
__ADS_1