
Candi membawa Leka ke sebuah meja panjang berisi beraneka macam makanan prasmanan dan di sudut-sudut yang lain juga ada meja berukuran sedang yang berisi makanan dari jenis-jenis yang berbeda.
"Wah, ini mirip seperti acara kawinan di kampung kita ya?"
Candi tertawa kecil. "Iya, kau benar. Di kota juga sama. Acara kawinan memang seperti."
"Memangnya ini acara apa ya?" Keluguan Leka membuat Candi tak bisa menahan senyumnya.
"Ini acara ulang tahun Bapak tadi."
"Oh ... tapi kami tidak membawa kado?"
"Oh, Pak Chris sudah mengirim kadonya."
"Oh, begitu. Aku tidak tahu." Wajah Leka benar-benar lucu saat itu. Candi saja gemas mendengar pertanyaannya. Apalagi dandanannya sangat cantik malam itu.
"Kenapa aku tidak pernah lagi melihatmu keluar apartemen? Bukankah kau tinggal di Apartemen Orchid(Anggrek) itu?"
"Oh ... suamiku tak mengizinkanku keluar jika tidak bersamanya." Leka yang sudah mengambil piring, melihat-lihat makanan yang ingin diambilnya.
Ah, sayang sekali. Suaminya sekarang memantaunya.
"Tapi bagaimana kalau kamu mau belanja makanan?"
"Malam, belanja di supermarket sama suami."
"Oh, begitu." Susah juga ya? "Kenapa kamu gak buka usaha restoran saja? Aku lihat kamu berbakat dagang."
"Mmh ... Aku belum memikirkannya," ucap Leka sambil berpikir. "Mungkin aku akan coba tanyakan pada suamiku dulu."
"Eh, itu harus dari kamunya, jangan kata orang lain, jadi kerja tuh gak setengah-setengah." Candi membujuknya.
Aska mulai menyadari istrinya sudah tidak bersamanya, tapi saat ia melihat Candi bicara dengan istrinya, ia sedikit curiga.
Tiba-tiba seorang wanita cantik mendatangi Bapak tua yang sedang berbicara dengan Aska. "Ayah, Ayah sudah makan?"
"Oh, Rita. Belum. Ayah sedang bicara dengan tamu sebentar ya? Oya, ini Pak Aska anaknya Pak Chris pemilik Famindo Grup."
Mereka bersalaman.
"Rita."
"Aska."
"Tolong ambilkan saja makanan buat Ayah."
"O, iya Yah."
Rita melihat Candi sedang bicara dengan seorang wanita. Ia mengerutkan dahi. Sambil mendatangi Candi dan wanita itu yang kebetulan berdiri di dekat makanan prasmanan, Rita sedikit curiga dengan wanita itu. Dilihatnya mereka berdua tertawa dan Candi menyentuh tangan wanita cantik itu.
Apa itu wanita yang di sebutnya sebagai satu-satunya wanita di hidupnya yang ia cintai?Rita merasa gerah. Ia sudah lama mencari keberadaan wanita yang telah mengganggu rumah tangganya itu tapi tak pernah ditemukannya. Candi menutup rapi jejak wanita itu.
Rita adalah mantan istri Candi yang di cerai tanpa pernah menyentuhnya. Mereka memang menikah karena orang tua ingin memperluas kekuasaan usaha, tapi Rita menyetujuinya karena juga menyukai Candi. Namun pernikahan itu hanya seumur jagung karena Candi tak pernah mau menyentuhnya. Pria itu bahkan selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya hingga larut malam. Belakangan Candi mengakui bahwa ia mencintai orang lain karena itu sulit baginya menyukai wanita lain selain wanita pujaannya itu. Tak lama mereka bercerai.
Rita yang panas hatinya, mengambil minuman dan menyiramkannya ke wajah Leka. Leka tentu saja terkejut, juga Candi.
"Oh, ini toh ... wanita yang telah mengganggu rumah tangga kita, hah? Benar-benar wanita rendah!"
Aska yang baru saja pamit ingin makan melihat kejadian itu dan segera menyambanginya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Rita? Dia istri klien Ayahmu!" teriak Candi kesal.
Aska yang datang belakangan juga ikut marah. "Apa yang kalian lakukan pada istriku ... brengsek! Tahu begini, seharusnya aku tak datang ke sini. Sialan!" Ia menarik tubuh istrinya keluar dari rumah itu.
Tamu-tamu yang melihat kejadian itu saling berbisik.
"Ah, Rita ... itu klien besar yang aku carikan untuk Ayahmu, tapi kau malah mempermalukannya. Aku tak tahu lagi, bagaimana bicara dengan mereka." Candi segera meninggalkan tempat itu.
Rita yang bingung karena menuruti emosi, kini menyesal dan memandang Ayahnya yang kesal tapi tak bisa memarahinya.
Leka hanya diam dan menunduk. Ia dibawa suaminya masuk ke dalam mobil. Segera Aska meninggalkan rumah itu dengan mobilnya dan melaju di jalan. Sesekali ia khawatir dan melirik istrinya karena sedari tadi ia diam saja. "Leka, kau tak apa-apa?"
Tak ada jawaban.
Aska segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dilihatnya Leka sedang mengusap wajahnya yang basah kena siraman air minum dari wanita tadi. Ia seperti hendak menangis.
"Maafkan aku Leka, aku seharusnya tidak membawamu ke sana." Aska benar-benar menyesal. Ia membukakan seatbelt istrinya.
"Kenapa setiap aku pergi denganmu, aku selalu sial!" Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulut Leka.
"Leka, aku tak pernah berniat mempermalukanmu. Itu terjadi tidak atas campur tanganku. Hari ini, juga kemarin."
Leka tak menjawab. Ia segera membuka pintu, tapi tangan Aska tak kalah cepat. Pria itu segera memeluk istrinya dari belakang. "Jangan tinggalkan aku Leka, aku mohon."
"Lepaskan aku, aku butuh udara segar untuk berpikir!" Leka memukuli tangan suaminya.
Akhirnya Aska melepaskan. Leka segera keluar dan menepi. Ada sebuah bangku di pinggir jalan di mana ia bisa duduk. Aska pun ikut turun dan duduk di bangku itu walaupun tidak dekat. Ia sedang meraba-raba perasaan istrinya saat itu.
Leka hanya diam dan melihat ke jalan. Melihat mobil dan motor yang berlalu lalang di depannya.
Apa tuhan sedang memberitahukannya bahwa ia tak berjodoh dengan Aska? Atau tuhan ingin memberitahukannya bahwa hidupnya dengan suaminya itu penuh perjuangan? Ia benar-benar tidak tahu jawabannya. Semua seperti penuh teka teki yang tak terelakkan. Entah kenapa ia merasa lelah, lelah berpura-pura baik-baik saja padahal ia selalu sakit hati setiap kali berada di dekat suaminya. Memang kali ini bukan ulah suaminya, tapi rasanya ia sudah tak ingin lagi memperjuangkan pernikahan ini kedepannya.
"Mungkin benar katamu waktu kita berpisah dulu."
"Sebaiknya kita berpisah saja sebelum kita sama-sama menyesalinya."
"Tidak itu tidak benar Leka, aku mencintaimu. Aku masih ingin kita terus bersama."
"Tapi aku tidak." Air mata Leka jatuh menetes membasahi pipi. "Aku lelah."
Aska menggeser tubuhnya pelan mendekati istrinya. "Besok hari Jum'at, adalah hari libur. Aku berencana membawamu mendatangi orang tuaku, untuk memberitahukan pada mereka bahwa kita sudah menikah. Tinggal selangkah lagi, Sayang. Bisakah kau menunggu?"
Leka hanya diam. Tak lama ia menghapus air matanya sendiri. Pelan tapi pasti ia melangkah ke arah mobil suaminya.
Aska tak berdaya. Ia hanya mengikuti keinginan istrinya saja. Sebenarnya ia ingin menghapus air mata Leka dan memeluknya tapi ia takut istrinya marah dan meninggalkannya.
Saat mereka kembali ke apartemen, sudah ada yang menunggu mereka di lobi, Candi dan Rita. Leka berusaha menghindar tapi mereka memang mencari Leka untuk meminta maaf.
"Tolong, aku minta maaf padamu," ucap Rita pada Leka. "Apa aku harus bersujud padamu ...." Wanita itu segera membungkuk di hadapan Leka.
"Eh, maaf aku bukan dewa," Leka memberitahu dengan wajah sendu.
"Tolong tinggalkan kami!" suara Aska garang. Ia menunjuk Candi. "Kamu juga, teman sekampungnya pembawa sial!" Ia membawa istrinya menuju lift.
Rita membulatkan matanya mendengar ucapan Aska. Ia menoleh pada Candi. "Jadi benar kan wanita itu ...." Wajahnya terlihat kesal.
"Bukan urusanmu! Lagi pula kita sudah bercerai, kenapa kau masih saja mengungkit-ungkit masalah itu. Sekarang ini aku membantu Ayahmu untuk mendapatkan kembali klien terbesarnya, kau mau malah sibuk menghitung rasa sakit hati yang entah siapa yang berbuat. Kau sendiri yang menaruh rasa, engkau sendiri yang merasakan sakitnya," ucap Candi dengan sinis. Ia segera meninggalkan Rita.
Rita benar-benar kesal, tak sedikit pun juga Candi mengerti perasaannya yang sudah sekian lama ia pendam pada pria itu, sebaliknya pria itu malah mengejeknya karena sudah dengan rela jatuh cinta padanya. Ia benar-benar marah, marah pada Leka karena telah merampas semuanya. Pernikahannya dan pria yang dicintainya. Awas kau wanita jahat, aku akan membalasmu. Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Leka segera mandi. Setelah menyikat rambut dan memakai deodoran ia mengecek Runi di kamar sebelah.
"Unda ...." Runi terlihat rewel padahal sudah mengantuk.
"Susunya sudah habis Bu, tapi dia gak mau tidur. Mungkin belum ketemu Ibu," jawab Ani, Baby Sitter Runi.
Leka mengambil Runi dari tempat tidurnya. "Sudah, kamu tidur saja. Biar Runi aku yang tidurkan."
"Iya Bu." Ani pun keluar.
Leka menggendong Runi, menggoyang-goyangkannya pelan dengan bersenandung kecil membuat Runi sebentar tertidur. Damai rasanya melihat Runi tidur dengan lelap. Hanya dengan begini hatinya merasa tenang.
"Leka, kamu tidur di kamar kan? Aku tidak bisa tidur tanpamu." Kepala Aska muncul dari balik pintu meminta kepastian.
"Iya, Bang. Iya ...." Leka meletakkan Runi di tempat tidurnya dan menyusul suaminya ke kamar. Pria itu sudah berbaring di tempat tidur menunggu istrinya.
"Leka, aku ingin memelukmu boleh?" Aska menggeser tubuhnya ke arah istrinya yang sudah naik ke atas tempat tidur.
"Tidak."
"Leka ...."
Leka bergeming dan masih seperti itu hingga esok paginya.
Pagi yang hening pagi yang memberi tanda tanya bagi semua. Pagi itu akan ada pertemuan yang akan mengubah segalanya, tapi apakah akan berjalan semulus itu?
Pagi, seperti biasa Leka memasak sarapan pagi. Tidak biasanya Aska menyuruh Ani mandi terlebih dahulu karena ia ingin menunggui Runi minum susu. Runi masih sedikit canggung pada Aska tapi pria itu berusaha untuk mendekatkan dirinya pada anak semata wayangnya.
"Om, Om!" Runi memperlihatkan botol susunya yang kosong pada Aska.
"Bukan 'Om', 'Ayah'."
"Bu-kan ...."
"Aduuuh, bagaimana mengajarinya ya?" Aska menggaruk-garuk kepalanya.
"Bukan!"
"Ayah."
"Bu-kan A-yah!" Walaupun tidak cadel, Runi tidak tahu apa yang diajarkan Aska.
"Aduuuuh ...!"
Leka di dapur hanya menahan tawa.
"Kenapa jadi 'bukan Ayah' sih?"
Kenzo seperti biasa mendatangi rumah Ayahnya, Arya untuk sarapan.
"Apa Nena sudah datang?" Kenzo dihujani pertanyaan itu saat duduk di kursi meja makan oleh Arya. Yang lain mendengarkan.
"Sudah semalam."
"Bagus!"
"Bagus?" Kenzo terlihat bingung.
"Eh, baguslah. Kamu punya teman mengobrol."
__ADS_1
"Oh."
"Apa Ayah boleh ikut?"