Sungai Rindu

Sungai Rindu
Pesta


__ADS_3

"Eh, bukankah tanganmu masih di perban?" Leka mengalihkan pembicaraan.


"Itu tidak penting, tapi kalau kau bisa menghangatkan tubuhku ini malam ini, lukaku mungkin akan cepat sembuh."


Leka menunduk dan hatinya menolak. Ia kemudian mengangkat kepalanya dengan wajah bingung. "Maaf ... aku tidak bisa."


Aska menatap Leka dengan lembut dan memakluminya. "Bolehkah aku menciummu saja?" Ia mendekatkan wajahnya pada istrinya, tapi wanita itu memundurkan kepalanya.


"Bang ...."


"Sedikit saja." Aska membujuknya.


"Apa sebaiknya kita ...."


Aska segera melepaskan pelukan. "Kau akan baik-baik saja denganku, jangan takut. Aku tak akan memaksamu." Kembali ia menatap Leka. "Aku akan menunggumu hingga kau percaya padaku. Aku akan mendengarkanmu. Aku akan lakukan apa yang kau mau. Leka, aku akan menebus semua kesalahanku padamu, karena aku ... mencintaimu."


Leka merasa bersalah. Tak terasa air matanya jatuh. Suaminya kini berusaha untuk menahan perasaan untuknya sementara ia sendiri tidak bisa membalasnya. "Maafkan aku."


Aska memeluknya. "Tidak apa-apa. Aku akan menunggunya sampai kau benar-benar kembali seperti dulu lagi. Mungkin apa yang kulakukan terlalu menyakitimu hingga kau tak percaya lagi padaku. Biarlah kini aku yang menunggumu. Percayalah, cintaku hanya untukmu." Ia mengecup pucuk kepala istrinya.


Mereka kemudian tidur berdampingan. Aska merapikan selimut istrinya yang tidur memunggunginya.


Aska memang harus sabar. Dibanding istrinya mengajukan cerai, keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik. Ada Leka dan ada Runi di rumah itu. Perkara cinta, ia merasa istrinya lama-lama akan menerimanya kembali dan melupakan pria lain di luar sana termasuk Candi. Ya, Candi. Ia akan memamerkan Leka sebagai istrinya di pesta nanti.


Leka sebenarnya belum tidur tapi malu untuk membuka matanya. Ia sendiri pusing, tak lagi ingin tidur dengan suaminya. Padahal itu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebagai sepasang suami istri. Kalau ia tak lagi ingin tidur bersama suaminya, bagaimana kehidupan pernikahannya kedepannya kelak?


Zack kembali mendatangi tempat tidur Lydia. Ia merapikan selimutnya seperti biasa. Entah kenapa ia sangat kangen masa-masa dulu bersama adiknya itu. Bersendau gurau, bermain bersama. Kedewasaan membuat masing-masing mereka berubah dan menjauh. Ia seperti kehilangan sosok adiknya itu pelan-pelan.


Zack duduk di samping tempat tidur. Diusapnya kening Lydia pelan, lalu dikecupnya. Kakak sayang kamu.


Pagi itu, Leka kembali berkutat dengan panci dan penggorengan. Sebentar, masakannya sudah jadi. Kembali ia mengecek Runi yang masih asyik minum susu botol di temani Baby Sitter-nya, tapi Aska belum juga turun.


Tak lama, Aska tergopoh-gopoh turun dari lantai 2 di sambut istrinya di lantai bawah.


"Kenapa baru turun?"


"Pagi ini ada meeting di kantor, dan laporannya belum aku selesaikan kemarin karena aku gak mau lembur. Aku mau pergi denganmu." Aska menengok ke arah meja makan. "Ah, bodo amat! Aku lapar." Ia segera mendatangi meja makan dan duduk di sana. "Ayo, sini. Temani aku makan," ajaknya.


"Tapi Bang, apa tidak takut di pecat, belum membuat laporan pagi ini?"


Aska tertawa. "Perusahaan punya Papaku, takkan mungkin mereka memecat aku kan?" Ia menyendoki nasi goreng yang dibuat istrinya. "Aku sudah lama gak makan ini, nih."


Leka hanya mengeleng-geleng kepala.


"Kakimu ukuran 38 ya? Aku lupa kemarin membelikannya untukmu. Hari ini aku akan bawakan ya?"


"Tidak usah Bang, yang lama saja. Aku punya kok!"


"Tidak, yang lama tidak ada yang bagus, aku lihat tadi. Sudah, percaya saja. Nanti aku belikan yang bagus." Aska mulai mengunyah.


"Pesta kan cuma sebentar Bang, gak perlu bagus-bagus banget lah!" Gaya bicara Leka sudah mulai seperti orang Jakarta.


Aska tersenyum. "Justru kamu harus tampil sempurna di pesta nanti, agar orang tahu Nyonya Aska Gilang Irfan tuh seperti apa."


"Jangan bikin aku grogi Bang," keluh Leka yang membayangkan betapa sulitnya nanti ia bersosialisasi.


Aska kembali tertawa. "Ya sudah, diam saja. Nanti aku gandeng."


Leka mulai menyuap makanannya. "Bang minta kunci pas-nya dong."


"Buat apa?"


"Aku mau jalan-jalan di taman sama Runi."


"Gak usah, nanti sama aku saja, Sabtu Minggu kan bisa?"


"Lama sekali Bang, nunggu Abang ...." Leka merengut.


Aska melirik sekilas Leka. Rasa takut kehilangan membuat ia begitu overprotective( terlalu berlebihan melindungi).


------------+++------------

__ADS_1


"Honey, Daddy akan datang nanti malam. Kamu mau masak atau pesan makanan saja?" Chris datang meraih lengan istrinya dan mencium keningnya.


"Mmh, di lemari es ada bahan untuk soto daging sih. Biar aku pulang cepat saja, biar bisa kumasak."


"Mau kubantu? Terakhir kan kita masak itu berdua."


"Boleh ... tapi apa kamu bisa pulang cepat?"


"Itu pasti kuupayakan."


"Ok, jemput aku jam lima ya?"


"Ok honey." Chris menarik kursinya dan mulai menyendoki nasi goreng untuk sarapan sementara Reina duduk di sampingnya menunggu giliran.


Kembali suasana senyap saat Kenzo datang sarapan ke rumah orang tuanya kembali pagi itu.


"Oniichan pesawatnya siang?" tanya Aiko memberanikan diri, tapi itu malah membuat kakinya di tendang Tama. "Aduh ...."


"Aku tunda hingga Senin karena Nena datang dari Amerika."


"Nena?" Arya, Mariko, Aiko dan Tama bertanya berbarengan.


"Eh, kenapa?" Kenzo terlihat bingung.


"Oh, tidak."


"Tidak apa-apa."


Mereka semua menjawab sekenanya. Kenzo terlihat makin bingung.


Nena? Bagus. Bagaimana membalik dadu ini menjadi angka enam?


"Jo, kamu mau roti selai?" tanya Mariko sambil tersenyum.


Sore pun berganti malam. Udara terlihat cerah. Bintang bertaburan di langit kota ini. Aska yang sudah pulang dari kantor, memperlihatkan sepatu yang dibelinya. Sepatu sendal tumit rendah berwarna perak polos yang terlihat elegan.


"Sepertinya mahal?"


"Iya Bang."


Leka berganti baju dan berdandan sedang suaminya mandi dan berganti pakaian. Saat keluar dari kamar mandi, Aska terpana melihat kecantikan istrinya yang semakin melangit. Seperti magnet, ia mendatangi Leka dengan decak kagum yang tak berhenti. Melihatnya bagai bidadari yang sedang tersesat di taman hati. "Mmh ...."


Leka yang baru saja berdiri, kaget dengan kedatangan suaminya yang langsung merangkul pinggangnya. "Eh, ada apa?"


"Ada yang kurang."


"Apa?"


"Stor kiss." Ia mengecup bibir istrinya.


"Eh, Bang ...." Leka bergerak mundur.


"Maaf, aku tak tahan melihatnya."


Leka hanya diam dan menunduk. Ia serba salah harus bagaimana.


Aska membungkuk, mengambil kotak sepatu baru yang berada di sampingnya, dan mengeluarkan sebuah sepatu. "Sini Abang pasangkan."


Leka menurut. Seperti kisah cinderella, suaminya memasangkan pada kaki istrinya satu-satu. Kaki Leka yang berkulit kuning langsat begitu indahnya terbalut sepatu sendal itu yang berwarna putih keperakan.


"Bagus kan?"


"Terima kasih Bang."


"Bayarannya, tidur semalam lho ini!"


"Eh?"


Aska tertawa. "Bercanda ...."


Namun tak luput, jantung Leka berdetak. "Oh, Runi bagaimana?" Ia berusaha mengalihkan.

__ADS_1


"Tidak usah, dia di rumah saja. Ini acara orang dewasa."


Leka membuka lemarinya dan mengeluarkan tasnya.


"Oh, aku lupa membelikanmu tas. Tas itu tas jelek, tidak usah kau pakai. Tinggalkan saja. Kita pergi ke pesta tanpa tas."


Leka menurut. Ia kembali memasukkan tasnya ke dalam lemari, tapi saat ia berbalik, suaminya sudah berada tepat di belakangnya. "Aduh Bang ... Kenapa senang sekali mengagetkan istri." Ia mengelus dada.


Aska tertawa. "Siapa yang ngagetin? Aku cuma minta dirapikan bajunya."


Sebenarnya Leka tidak tahu, apa yang mesti di rapikan karena Aska memakai baju batik mahal dengan warna hijau dan emas yang dominan, tapi sudah rapi. Walaupun begitu, ia berusaha memenuhi permintaan suaminya agar ia merasa di hargai.


"Sudah rapi Bang ...." Ia mensejajarkan kerah baju suaminya yang sudah rapi itu.


"Oya?"


Saat Leka melirik suaminya, ternyata lelaki itu sedang mengamati wajahnya dari dekat. Leka mendadak canggung dan mundur selangkah.


"Oh, maaf." Aska berusaha menahan diri dengan kekagumannya karena membuat istrinya tak nyaman. "Ayo kita berangkat." Ia membukakan pintu dan menyilahkan Leka keluar lebih dulu dan dirinya menyusul di belakang.


"Aku lihat Runi sebentar ya Bang ...."


Aska meraih tangan Leka. "Tidak usah, nanti dia nangis kalau gak ikut."


Dengan berat hati, Leka mengikuti ke mana suaminya membawanya.


Perjalanan mobil membutuhkan waktu 45 menit hingga sampai ke tempat tujuan. Di sepanjang jalan Aska sesekali melirik istrinya yang berdandan sangat cantik. Sekilas orang tak akan mengira, bahwa istrinya itu orang kampung karena pintarnya ia berdandan saat itu.


"Aneh ya Bang, dandananku? Aku cuma mencontoh di video viral."


"Tidak, malah sangat berkelas. Aku tidak mengira kamu bisa pintar dandan begini."


Mobil memasuki pekarangan sebuah rumah mewah yang megah. Aska memperlihatkan kartu undangannya pada satpam di sana sehingga ia di arahkan ke tempat parkir yang lebih terlindungi. Mereka kemudian turun dan mendatangi pintu utama rumah itu. Leka, seperti permintaan suaminya, menggantungkan tangannya pada lengan Aska yang menyiku.


"Oh, kalian sudah datang."


"Candi?" Leka terkejut.


"Apa suamimu tidak memberitahumu kalau pesta ini diadakan oleh Ayah temanku?"


Leka melirik suaminya yang hanya memberinya senyum.


"Ayo, masuk. Lewat sini saja." Candi memimpin di depan memasuki rumah itu.


Rumah itu berlangit-langit di lantai dua di hiasi dengan lampu kristal besar di tengah-tengahnya. Rumah besar dan megah itu sudah di penuhi oleh banyak tamu undangan yang datang. Bahkan tamunya ada hingga taman belakang.


Leka sedikit panik melihat begitu banyaknya tamu undangan dengan penampilan mereka yang berkilau membuat ia berpegang erat pada Aska. "Bang ...." bisiknya.


"Coba lihat aku," bisik Aska pada istrinya. Leka menurut. "Aku yang terbaik dan kau yang tercantik. Tidak ada yang mengalahkan kita berdua di sini."


Mereka kemudian sampai pada salah satu dinding di mana seorang pria paruh baya duduk di kursi roda dengan baju batik mahalnya. Sisa-sisa ketampanannya masih terpahat jelas di wajahnya yang telah merangkak tua dengan rambut yang hampir putih semua. Ia tersenyum pada tamu yang telah di bawa Candi menghadapnya.


"Ini anaknya Pak Chris Pak, dengan istrinya." Candi memperkenalkan.


Pria itu sedikit terkejut melihat Aska, karena tidak mirip dengan Chris, tapi ia segera memaklumi. "Oh, istrimu cantik sekali." katanya sambil berbasa-basi.


"Terima kasih."


"Bagaimana dengan bisnis Ayahmu, sepertinya semakin hari semakin berkembang pesat ya? Katanya mau bikin pabrik yang ketiga di luar kota?"


"Oh, iya benar. Rencananya yang di luar kota khusus untuk konsumsi lokal, jadi yang di Jakarta untuk pasar luar negri."


Mereka mengobrol lama sehingga Leka bosan karena tidak mengerti. Ia menurunkan tangannya dari tangan Aska dan menunggu.


"Leka maaf, di sana ada hidangan yang bisa dicicipi. Kalau mau makan duluan, mari aku antar."


Karena sikap Candi yang sopan, Leka menurut.


____________________________________________


Terima kasih para reader yang tetap setia membaca novel ini. Tetap dukung Author ya, dengan mengirim like, komen, vote dan hadiah atau mungkin juga koin. Ini ada visual Leka yang mulai bertransformasi menjadi gadis kota. Salam, Ingflora.💋

__ADS_1



__ADS_2