Sungai Rindu

Sungai Rindu
Belum Selesai


__ADS_3

Aduh ... ada saja, Aska. Kembali bikin ulah. Aku heran kenapa aku bisa kecolongan begini ya? Aku memang mendengar laporan ia mabuk dan kemudian ditolong Monique, tapi aku tidak tahu kalau masih ada kejadian lagi setelah itu. Mmh. Tahun ini memang banyak masalah.


Mobil Chris memasuki halaman rumahnya. Ia yang disupiri Bodyguard-nya turun dari mobilnya.


Sementara itu di kamar Chris, Aska masih menangis didampingi Reina. Ia mengeluarkan semua isi hatinya pada ibunya itu. "Map, Papa pasti menikahkan Leka dengan Jepang sialan itu ya ... Kenapa Papa pergi tanpa bilang apa-apa? Kenapa Papa tega melakukan itu padaku?"


"Eh, jangan bilang begitu, Aska. Muhasabahlah. Koreksi dirimu. Jangan apa-apa kau salahkan orang lain. Apa kau tahu orang egois itu seperti apa? Ia menyalahkan orang lain tanpa membolehkan orang lain menyalahkan dirinya. Ya, itu kamu. Kamu pikir, dengan masalah yang membelitmu, itu semua kesalahan orang lain? Kau ikut andil di dalamnya, Aska. Tidak ada masalah yang bisa membelitmu kecuali kau ikut berkontribusi di dalamnya."


"Kesalahanku tidak banyak, hanya menghamili Monique, Map, tapi malah aku tidak boleh menikah dengan Leka. Ini tidak adil Map, ini tidak adil!" dengan bercucuran air mata Aska terus membela dirinya.


"Apa kamu bilang, hanya menghamili?" Chris masuk ke kamarnya tiba-tiba, membuat Aska panik. Ia langsung diam dan menghentikan tangisnya. "Kamu manusia yang terbuat dari apa? Batu porselen, hah? Bagaimana kalau itu terjadi pada adikmu? Apa kamu masih bisa mengoceh seperti itu?" ucapnya sedikit keras.


"Aku akan hajar Rojak dan mencincang tubuhnya kalau dia berani melakukan itu pada Salwa!"


"Nah! Monique itu manusia sama seperti adikmu Salwa. Ia punya keluarga yang menyayanginya seperti kau menyayangi Salwa, tapi kau telah mematahkan hatinya, merusak persahabatan mereka, menyakiti hati orang tuanya, dan bahkan kau telah MENCORENG NAMA KELUARGA INI PUN kau tak tahu. Kau sungguh tak tahu diri Aska, telah menyusahkan banyak orang pun kau tak peduli. Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri, sedang masalah yang telah kau buat dengan orang lain kau abaikan. Kalau sampai kau tidak mengakui anak itu juga, berarti kau juga telah merusak masa depan seorang calon manusia lainnya. Apa kau masih merasa hanya membuat kesalahan kecil hingga harus di maafkan? Apa kau tidak bisa melihat efek domino yang telah kau buat? Aska, kau benar-benar keterlaluan! Aku tidak tahu bagaimana lagi caranya menerangkan ini padamu!" Chris mengucapkannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Aska hati-hati bicara karena ia takut pada Chris. "Tapi setidaknya, Papa memberi aku kesempatan untuk bertemu Leka, mengatakan masalahnya dan membiarkan aku mengundurkan pernikahannya."


Chris menatap Aska dengan kesal. "Kamu itu bodoh atau bagaimana? Umumnya wanita, mana suka di madu? Kau pikir Leka akan menerimanya? Sudah, jangan pikirkan Leka lagi. Dia sudah Papa nikahkan dengan Kenzo tadi."


"Benarkah?" tanya Reina memastikan.


"Iya, agar Aska fokus pada satu perempuan saja!"


"Papa ... kenapa Papa tega melakukan itu padaku ...." Aska mulai menangis lagi.


"Astaga ... kenapa kamu tidak mengerti juga akan kesalahanmu? Kau sudah tidak boleh memikirkan Leka lagi karena dia sekarang telah menjadi istri orang. Fokuslah pada Monique karena ia tengah mengandung anakmu!"


"Leka juga memiliki anak dariku Papa ...." Aska terus mencari pembenaran.


"Aska! Leka sudah jadi istri Kenzo ... jangan kau ganggu dia. Jangan cinta membuatmu buta akan kesalahanmu!"


"Papa, kenapa semua orang membela Kenzo? Pria itu dari dulu selalu mereguk keuntungan dari jeri payahku. Aku yang berusaha mendapatkan wanita, tapi ia selalu yang menjadi pemenangnya. Ia bahkan tidak berusaha melakukan apapun pada Leka tapi ia malah yang menikah dengannya. Ini tidak adil Pa, ini tidak adil. Bahkan ia semakin kaya, dan aku masih kerja begini-begini saja."


"Kau ingin kaya seperti Kenzo? Baik. Papa akan ajarkan kamu semuanya. Mulai senin besok, Papa akan pindahkan kamu ke pabrik. Pelajari semua bidang pekerjaan di sana karena perusahaan kita bergantung dari 'nyawa' pabrik itu. Kalau kau bisa menaikkan kinerja pabrik menjadi lebih efisien dan baik, Papa akan siapkan jabatan yang lebih baik lagi untukmu. Juga Papa tidak mentolerir keterlambatan dan bolos kerja karena hunting(mencari) makanan enak, karena dengan itu kamu harus potong gaji."


"Papa ... aku tidak mau ke pabrik. Pabrik jauh Pa, aku jadi harus berangkat kerja pagi-pagi sekali. Mamap tolong aku Map...." Aska panik dan meminta tolong Reina, ibunya.


"Kalau kau tidak mau kelelahan di jalan, kau kan bisa tinggal di asrama atau cari indekosan yang murah di sekitar pabrik." Kembali Chris memberikan alternatif.


Aska membayangkan tempat tinggal yang kotor dan sempit. Ia tidak menginginkan itu karena ia sudah terbiasa hidup dengan segala fasilitas yang di berikan Chris. Lagipula, ia masih ingin melihat Leka.


"Sudah, bekerja saja yang rajin." Reina memberi semangat.

__ADS_1


Aska menunduk, tak bisa berkelit. Air matanya mulai mengering. "Aku di apartemen saja, aku tidak mau buang-buang uang untuk tempat tinggal."


"Ya sudah. Yang semangat ya?" Reina terus mengobarkan semangat pada Aska.


Aska keluar dari kamar dengan kepala tertunduk. Hanya dengan Chrislah, ia tak mampu berdebat. Ia hanya pasrah menerima nasibnya kini.


Sepeninggal Aska, Chris mendatangi Reina. "Kenapa kau tidak bisa keras dengannya? Kalau kau sedikit keras, mungkin kekeraskepalaannya bisa sedikit terkikis dan ia bisa mengerti orang lain."


"Di dalam keluarga, yang bagus ada unsur yin dan yang di dalamnya. Gelap-terang, tinggi-rendah dan keras-lembut. Aska adalah anak yatim piatu dan dia sangat sensitif. Sebaiknya kita rangkul dia dengan hati yang lembut di samping sedikit tegas dalam mengajarkannya. Kalau kau keras padanya, aku harus lembut agar ia tidak merasa diabaikan."


"Tapi Reina, aku tidak boleh mengistimewakan salah satu anak sekalipun. Itu tidak adil bagi mereka."


"I know,(Aku tahu) tapi tetap di dalam sebuah keluarga itu, harus ada yang menyeimbangi. Kalau kita sama-sama keras aku takut ia lari." Reina melingkarkan tangannya pada leher suaminya.


Chris menghela napas.


"Bagaimana dengan Lydia?"


"Dia sering tiba-tiba demam, jadi sering tak masuk sekolah. Mungkin dia sakit psikis. Rindu pada ayahnya."


"Mmh." Chris melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. Lalu mengecup dahinya. "Dia melihat sendiri ayahnya ditangkap jadi membebani jiwanya. Hah ... apa tidak ada kabar dari Anna?"


"Belum Sayang."


"Mmh." Chris menyatukan dahinya dengan Reina. "Aku harus memutuskan apa ya dengan keluarga Le Blanc besok?"


"Mmh, melihat begitu banyak orang yang begitu gampangnya meremehkan hubungan mereka, aku jadi makin takut kehilanganmu."


Reina tersenyum hampir tertawa. "Aku takkan begitu. Kamu?"


"Not in a million years(tidak akan pernah sampai kapanpun)."


----------++++----------


Aska masih berada di parkiran apartemennya, tapi ia enggan keluar dari mobilnya. Pikirannya buntu. Airmatanya masih menetes mengingat kegagalannya menikahi Leka, mantan istrinya yang amat ia cintai. Sudah banyak yang ia korbankan untuknya, waktu, tenaga, perhatian, tapi wanita itu malah menikah dengan orang lain. Betapa sakit hatinya, wanita itu tinggal selangkah lagi bersamanya, tapi malah meninggalkannya begitu saja. Leka menikah dengan musuh bebuyutannya yang selama ini ia berusaha singkirkan pelan-pelan dari hidupnya dengan membulinya, merendahkannya dan menghinanya. Itu semata-mata agar Kenzo pergi dari kehidupannya. Kenzo, pria itu memang ancaman bagi Aska karena ia selalu merasa insecure(tidak aman) berada di dekatnya. Semua wanita yang diinginkannya selalu berakhir dengan memilih Kenzo. Padahal Aska bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta dan tipe setia pada pasangannya. Itulah yang membuat Aska sulit untuk melepaskan Leka. Ia sudah terlanjur mencintainya dan tak mau melihat yang lain. Hanya Leka yang ia mau, sampai kapanpun.


Kenapa kejadian itu ada di tengah-tengah ia sedang memperjuangkan cinta Leka? Kenapa ia bisa pergi saat itu, hanya karena suntuk dengan kegagalannya naik jabatan? Mmh, itu kan kebodohanku sendiri hingga terjebak dengan Monique di hotel itu. Hah ... tapi tetap saja ia tak rela Leka bersanding dengan Kenzo.


Pikirannya yang buntu membuatnya semakin linglung. Leka, jangan tinggalkan aku. Aku sangat menyayangimu. Aku sangat membutuhkanmu. Kau harus kembali padaku, bagaimanapun caranya. Bagaimanapun caranya ....


------------+++----------


Leka membawa makanan untuk suaminya. Ia melihat suaminya sedang berbincang dengan pria Jepang yang sudah tua.

__ADS_1


" Ja, kiotsukete, ojiichan. Mata Nihon ni ikou kara,(Hati-hati ya, Kek. Lain waktu nanti akan ke Jepang lagi menengokmu.)" ucap Kenzo pada Ojiichan.


"Hem, otoko ni narou yo ... Mata atarashi seigatsu wa matteru kara.(Jadilah pria sejati. Kehidupan baru sudah menunggumu di muka)" nasehat Ojiichan sambil menepuk-nepuk bahu Kenzo.


"Arigatou, Ojiichan.(Terima kasih, Kek)"


"Mmh?" Leka memperhatikan mereka berdua bercengkrama. Kenzo duduk di sebuah kursi sambil memangku Runi. Gadis kecil itupun sama bingungnya.


"Oh, ini Ojiichan. Kakekku." Kenzo memberitahu.


"Kakek Ojiichan?"


"Oh, bukan." Kenzo hampir tertawa. "Ojiisan itu artinya kakek. San itu untuk panggilan umum tapi kalau panggil pakai chan itu berarti sudah sangat kenal seperti ojiichan untuk kakekku sendiri."


"Oh, artinya Kakek." Leka hampir menertawakan dirinya sendiri.


"She can't speak Japanese, right? How about English?(Dia tidak bisa bahasa Jepang kan? Kalau bahasa Inggris?)"


Kenzo menoleh pada istrinya. Leka tahu kira-kira apa yang di ucapkan kakek itu tapi ia sulit menjawabnya. Ia memperlihatkan 2 jari yang saling berdekatan. "Little?(sedikit)"


"A little." Kenzo memperbaiki.


"A little," ulang Leka.


"Oh, that's good. That's good.(Oh, bagus, bagus)"


"Gut, gut," ucap Runi, meniru Ojiichan berbicara.


Semua orang tertawa. Runi tidak tahu kenapa orang-orang menertawakannya. Yang ia tahu Ojiichan itu mengusap kepala Runi dengan lembutnya.


"Kak, ayo makan." Leka siap-siap mau menyuapi Kenzo.


"Eh, aku bisa sendiri." Kenzo sedikit malu, masalahnya tempat yang luas di samping mesjid itu ramai oleh tamu.


"Bagaimana caranya?" Leka menatap Kenzo menunggu jawaban.


"Eh ...." Pria itu sendiri tidak tahu cara melakukannya.


"Sudah Kak, makan saja." Leka menyuap Kenzo segera.


Ojiichan tertawa. "In the future, you better listen to your wife, I think.(Kedepannya, kamu harus mendengarkan istrimu, aku rasa.)" Ia menopang dagunya dengan tangan kanan.


____________________________________________

__ADS_1


Ada lagi rekomendasi dari author yanktie ino, kisah cinta dari masa lalu. Cuss, kepoin kuy!



__ADS_2