
Kini Aska bingung bagaimana cara mengutarakannya. Ini bagian yang paling sulit. "Untuk sementara hanya kita yang tahu pernikahan ini. Aku ingin pernikahan ini tersembunyi dan tidak ada keluargaku yang tahu hingga kita bisa pastikan mau bagaimana nantinya pernikahan ini, karena keluargaku tinggal dekat sini jadi kita harus berpura-pura." Katanya pelan-pelan.
"Berpura-pura? Berpura-pura apa maksudnya?"
"Karena kita tinggal hanya berdua saja di sini orang akan mencari tahu. Kau harus ...." Ucapan Aska terhenti. Ia ragu meneruskannya.
"Harus apa?" Leka mengerut dahi, penasaran.
"Berpura-pura jadi pembantuku."
"Kau sudah gila ya? Aku ini ISTRIMU bukan WANITA SIMPANAN!" Ujar Leka marah. Ia segera melangkah ke pintu.
Aska segera berlari menutup pintu dan menghadangnya. "Leka tolong aku. Kumohon. Bukankah kau ingin pernikahan kita jelas. Begitu juga aku. Kau hanya perlu pura-pura di luar tapi di dalam kau tetap istriku."
"Aku tidak mau!" Teriak Leka lagi.
"Tapi aku akan berikan semua yang kau mau, katakan saja. Akan aku berikan."
"Benarkah?"
"Iya sungguh." Wajah Aska mulai membaik.
"Aku ingin menginjak kakimu!" Wanita itu menginjak kaki Aska dengan keras sehingga pria itu mengangkat kakinya karena kesakitan dan melompat-lompat. "Aduuh ...."
Leka mendorong Aska hingga terjatuh dan membuka pintu. Leka bergegas keluar.
"Leka dengarkan aku. Kalau nanti kita terpaksa harus berpisah, aku akan menjamin kehidupanmu dan anakmu hingga kamu menemukan jodohmu. Tolong Leka. Bukankah kamu ingin memperjelas pernikahan ini?Jangan sampai salah satu dari kita menyesal kemudian. Kita tidak tahu mungkin juga kita berjodoh satu sama lain."
Langkah Leka berhenti. Ya allah betapa sulit mencari kebahagiaan ini. Apa suamiku tidak mencintaiku? Aku mencarinya untuk mencari tahu itu dan ternyata buka langkah menemuinya yang sulit tapi langkah bersamanya yang rumit. Walaupun ia terlihat berterus terang tapi aku tak tahu apa yang ada di pikirkannya. Kenapa ini jadi semakin sulit untuk kulalui.
"Unda ...." Runi terlihat ketakutan dan Leka baru sadar ia masih menggendong Runi saat bertengkar dengan suaminya tadi.
"Apa nak. Kamu lapar?"
Runi mengangguk. Hampir saja Leka menangis. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. "Iya, iya kita makan ya?" Leka sendiri bingung mencari makanan di mana di tempat seperti ini.
"Leka, ayo kita ke bawah. Di sana ada kafe, di seberang gedung apartemen ini." Aska menggandeng tangan istrinya turun melewati tangga. "Tapi ingat, di luar kau memanggilku 'Pak' dan Runi memanggilku 'Om', ok?"
Leka terpaksa mengikutinya. Ia butuh kata cerai dari mulut suaminya dan itu belum bisa ia dapatkan segera. Ia harus menunggu sebulan lagi baru bisa mendapatkannya. Masalahnya bukan lamanya ia harus hidup dengan pria ini, tapi ia takut ia makin jatuh cinta pada pria ini dan saat itu tiba hidupnya pasti sudah makin hancur karena tak bisa hidup dengan pria sialan ini lagi.
Setelah keluar dari lift, mereka keluar gedung dan menyeberang jalan. Aska tak lagi menggandengnya sejak keluar dari lift. Sebuah kafe yang tidak besar dengan lampu sedikit temaram terlihat dari pinggir jalan. Mereka memasukinya dan langsung melihat kue dan roti-roti di etalase kafe itu. Aska menunjuk etalase itu dengan acuh. "Pilih saja yang kau mau, nanti kubayar."
Leka melirik Aska. "Iya ... Pak."
Aska melirik istrinya sekilas, dan kembali acuh.
Leka memilih sepotong roti.
"Oh, iya. Aku butuh buat ngemil malam dan sarapan." Aska menunjuk 6 potong roti dan secangkir kopi. "Kau mau apa?"
"Aku?"
"Iya, Runi makan di sini saja. Kebetulan kafenya sepi cuma kita saja."
Leka melihat sekeliling dan memang tidak ada siapa-siapa kecuali pegawai kafe dan mereka.
"Minum jus ya?"
__ADS_1
"Iya ... Pak."
Aska tersenyum. "Jus apelnya satu ya?"
"Kamu tunggu di sana aku akan bawakan." Aska menunjuk ke salah satu meja dan Leka pun ke sana membawa Runi.
Aska mendatangi meja itu sambil menbawa baki berisi makanan. Leka mengambil jusnya dan sepotong roti sementara Aska mengambil kopinya.
"Roti ini untuk Runi. Jangan beri dia santan-santan dulu karena belum 5 tahun, tidak baik untuk pencernaannya." Ia menyodorkan sisa roti yang di belinya pada Leka.
Leka melirik Aska. "Oh, iya." Ia mulai menyuapi Runi roti dalam pangkuannya.
"Jangan di sana, coba dia duduk di kursi." Sebuah kursi yang memberi jarak di antara mereka berdua ditarik Aska. Leka mencoba meletakkannya. Runi menangis ketakutan karena ia masih bingung melihat Aska. "Tidak bisa, bonekanya ketinggalan di rumah. Ia lebih tenang kalau bersama bonekanya." Leka mengendong lagi Runi kepangkuan.
"Ya sudah, turunkan saja dia."
"Ha?"
"Dia harus banyak bergerak, dia masih masa pertumbuhan."
Banyak sekali peraturannya. Leka menurunkan Runi dan gadis kecil itu hanya bersandar kepangkuan Leka. Lama-lama ia melihat ke meja yang lain dan mulai menjelajah. Dilihatnya Leka mengikutinya dan gadis itu senang. Sekali-sekali ia kembali pada ibunya untuk makan roti yang telah dicubitkan untuknya.
Leka melihat Aska yang sibuk dengan hp-nya. Pria aneh, tapi setidaknya ia senang ia tidak perlu lelah mengurusi dagangan. Ia hanya perlu lelah mengurus Runi.
Padahal sekali-sekali Aska mencuri pandang melihat ibu dan anak itu berduaan sambil tersenyum.
"Runi mau minum?"
Gadis kecil itu mengangguk dan berlari mengejar Leka yang mengambil minuman di meja. Ia meminumnya. "Ingin.(Dingin)" Runi tersenyum sambil memperlihatkan gigi yang masih sedikit itu. Saat ia berbalik hendak menjelajah lagi, seseorang berdiri menghalanginya. Gadis kecil itu bingung karena tiba-tiba sekali dan orang itu langsung mengendong dan mengangkatnya ke atas. Ia menjerit dan tertawa. Orang itu melakukannya beberapa kali dan Runi masih tetap tertawa. Setelah diturunkan runi berlari dan memeluk kaki Leka. Ia terlihat bingung dan menatap Aska. Ia malu dan langsung menyembunyikan wajahnya pada rok Leka.
Leka juga bingung bagaimana Aska bisa membuat Runi tertawa, padahal mereka baru saling kenal. Apakah karena hubungan darah lebih kental dari apapun?
Runi menoleh lalu menyembunyikan lagi wajahnya. Ia malu di sebut anak nakal oleh Aska.
"Eh, ayo. Makannya jangan lari-lari kata ... Om." Leka melirik Aska.
Pria itu kembali ke kursinya dan mulai menyesap kopinya. Ia menunggu Runi menyelesaikan makannya. 15 menit kemudian mereka sudah kembali ke apartemen mereka. Mereka naik kembali ke lantai dua. Di seberang kamarnya Aska membuka pintu lagi. "Ini akan menjadi kamar Runi."
" Apa, Runi akan terpisah tidurnya?"
"Dia akan terbiasa dan hidup mandiri."
"Dia tidak terbiasa tidur tanpaku."
"Karena itu dibiasakan."
"Tidak, anak kecil tidak bisa begitu." Leka mulai kesal.
"Leka, kamu bisa memindahkan saat ia tidur. Nanti kamarnya kita pasang interkom."
"Interkom? Apa itu?"
Aska tertawa. "Itu semacam pemindah suara jadi kita bisa dengar kalau Runi menangis atau terjadi sesuatu padanya di kamar ini."
Leka terdiam. Kesal.
"Kau masukkan saja pakaianmu ke dalam lemariku, dan masukkan pakaian Runi ke lemari di sini. Sementara aku mau pasang lagi tempat tidur bayinya. Di sini ada tempat tidur bayi tapi sudah lama lepas, jadi aku mau pasang kembali, mudah-mudahan masih bagus." Aska melangkah ke dalam kamar itu.
__ADS_1
Leka masuk ke kamar pria itu bersama Runi. Ia menurunkan Runi dan membuka lemari pria itu. Wanita itu memperhatikan beberapa pakaian mahal suaminya. Kemeja-kemeja yang dipakainya walaupun terlihat sederhana ternyata merupakan merek terkenal dan sepertinya mahal. Di lemari raknya juga sama. Leka jadi sedikit malu mau meletakkan pakaiannya yang sama sekali tak berharga di sanding dengan pakaian suaminya, tapi akhirnya ia masukkan juga pakaian-pakaiannya semua ke sana.
Karena pintu terbuka, Runi sedang memperhatikan pintu di seberangnya. Tepatnya, tempat pria tadi masuk. Pelan-pelan di datanginya kamar itu yang terbuka pintunya dan melihat Aska sedang menyambung dua kayu dan ia sepertinya butuh orang untuk membantunya memegangi kayu itu. Saat Aska sedang berpikir, tak sengaja ia melihat Runi sedang berdiri di dekat pintu memperhatikannya. Gadis kecil itu mundur dan terlihat bingung melihat pria itu telah melihatnya.
"Tolong panggil Bundamu."
Runi segera berlari mendatangi Leka. Ia menarik-narik rok Leka.
"Apa nak?"
Runi menunjuk ke arah pintu. Leka segera menuruti dan pergi ke arah yang di tunjuk anaknya.
"Tolong pegangi kayu ini dong."
Leka membantu. Dengan cepat tempat tidur itu terangkai sempurna. Aska memberi tahu cara menaik turunkan pagar yang satunya agar bisa memasukkan Runi. Leka takjub dengan tempat tidur bayi yang besar itu. " Ini kan bisa untuk orang dewasa."
"Oh iya, ini memang bisa kalau ibunya mau menunggui anaknya." Aska memasukkan busa kasurnya.
"Oh, begitu."
"Seprainya di dalam lemari ya?"
Leka segera mencari, tapi ia juga menemukan bantal, guling, dan bantalan yang panjang. "Ini apa Bang?" Ia bingung dengan bantal panjang bertali.
Aska mengambilnya. "Ini dipasang di sini." Ia mengikatkan ke pagar tempat tidur.
Kemudian Leka memasangkan seprai dan sarung bantal. Tempat tidur itu terlihat sangat cantik. Leka menaikkan Runi ke atas tempat tidurnya dan gadis kecil itu terlihat senang.
Aska mencoba menaikkan pagarnya dan Runi terlihat bingung. Ia memegangi baju Leka.
"Ini supaya kamu tidak jatuh. Belajar tidur sendiri ya?" Aska tersenyum pada Runi.
Gadis kecil itu tidak mengerti dan terlihat takut. Leka kemudian mengeluarkannya dari tempat tidur itu. Aska juga memberitahu Leka cara mencuci baju dengan mesin cuci hingga ia langsung mencuci pakaiannya. Juga memberi tahu letak dapur. Wanita itu segera memeriksanya. "Kamu juga jangan keluar rumah ya, tanpa aku. Tinggal di sini saja."
"Tapi bagaimana caranya? Di lemari es tidak ada apa-apa."
"Aku biasanya beli jadi. Kamu mau masak?"
"Kan kalau beli jadi harus keluar?"
"Tidak juga, kan bisa delivery(diantar)."
"Delivery apa?"
"Diantar, masa kamu tidak tahu? Kan bisa lewat hp."
"Hp-ku hilang."
Aska menghela napas. "Ya sudah, kita ke supermarket saja."
"Kita mau beli sayuran, kenapa harus ke supermarket? Oiya, pasar sudah tutup ya?" Leka terlihat kecewa.
Aska sadar, istrinya belum pernah pergi ke supermarket. Kembali ia menghela napas.
----------------------------------------------------------------------
Hai, hai reader terima kasih sudah baca sampai di sini. Ini Author carikan visual Runi, si kecil yang belum bisa banyak bicara. Salam, Ingflora 💋
__ADS_1