Sungai Rindu

Sungai Rindu
Liburan Di Pantai


__ADS_3

Esok harinya, udara begitu cerah. Leka terbangun pagi-pagi sekali dan segera sholat Subuh. Terdengar suara orang yang sedang mengaji. Suaranya sangat merdu. Sepertinya ... itu suara Kenzo.


Leka menangis. Sudah lama sekali ia tidak membaca Al qur'an. Di carinya buku itu dalam tasnya dan menemukannya. Di bacanya ayat demi ayat semampu matanya mau membacanya, setelah itu ia menutupnya. Ia mendekapnya erat. "Bapak, aku sangat merindukanmu. Anakmu yang tak tahu diri ini sedang dalam masalah besar. Baru saja ia bercerai, ia sudah jatuh cinta pada pria lain. Haruskah aku mengejarnya Bapak, atau cukup kembali pada mantan suami yang sedang melakukan perbaikan diri untukku?"


Runi terbangun tanpa menangis. Ia melihat ibunya dan segera mendatanginya. "Unda ... cucu."


"O iya, sebentar ya?" Leka segera meletakkan Al qur'an di atas meja nakas dan merapikan mukenanya. Ia lalu keluar menggendong Runi.


Ternyata Ani sudah lebih dulu keluar dan menunggu Runi. "Mau dibuatkan susunya dulu Bu?"


"Oh, iya. Tolong ya?"


Tak lama Ani selesai membuat susu botol untuk Runi, ia kemudian menggendongnya.


"Ibu keluar dulu, mau ke pasar."


"Oh, iya Bu."


Leka segera ke kamar, memasang jilbab instant dan mengambil dompetnya. Ia segera keluar. Di luar ia bertemu satpam yang menjaga rumahnya. "Pak, ojek di daerah ini di mana Pak?"


"Oh, ada banyak Bu." Pria itu menunjukkan di luar di bagian mana saja ada pangkalan ojek.


"Oh, terima kasih ya Pak." Leka keluar ke tempat pangkalan ojek terdekat. Ia kemudian naik ojek ke pasar.


Sesampainya di pasar Leka segera bergegas mencari bahan makanan yang diinginkannya. Ia mendatangi sebuah lapak sayuran langganannya. Pemiliknya adalah seorang Ibu setengah baya yang saat itu sedang menasehati anak perempuannya.


"Pan Emak udah bilang, laki salah-salah dikit diaminin aje, eh elunya minta cerek, lah begini jadiknye. Ape enak jadi jande, ke sana ke sini diomongi orang? Mau ngobrol juga ame siape, sendirian kan gak ada yang nulungin? Deket ama cowok dighibahin. Elunya juga sih kegatelan. Liat laki lain eh, elunya demen. Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi tak seindah ngejalaninnye. Ntar lu nikah lagi trus cerek lagi, pegimane? Udeh deh, elu mendingan balik lagi deh sama laki lu, itu udah yang terbaek."


"Tapi Mak, adatnya keras susah di bilanginnye." Anak perempuannya mengusap air matanya.


"Yang penting laki lu sayang ame anak, udah sisanya tutup mata aja," terang Emaknya.


"Tapi main judinya itu Mak ...."


"Yang penting die sayang ame elu kan? Cari makan juga. Udeh, kekurangannya jangan di sebut-sebut. Kayak elu gak punya kekurangan aje ... Pasti adalah, namanya manusia."


Leka termenung mendengar percakapan ibu dan anak ini. Seakan dirinya bercermin pada masalahnya sendiri. Masalahnya tidak terlampau parah seperti anak ibu itu yang mempunyai mantan suami penjudi sedang Aska hanya sedikit kasar kalau bicara, selebihnya pria itu sedang berusaha.


"Neng, mau belanja apa?"


Leka terkejut dengan teguran Ibu paruh baya itu.


"Mau buat sayur sop Mak, sama bumbu dapur."


"Oh, iya Neng. Bentar ya?"


Setelah cukup berbelanja, Leka kembali pulang. Ia segera masak untuk sarapan pagi. Saat ia, Runi dan Ani sedang sarapan, Aiko datang menyambangi. "Kata Mama nanti jam 9 berangkatnya. Ngak usah bawa apa-apa, cuma bawa baju ganti aja. Takut basah."


"O, ya ya."


Di rumah Chris, Nena baru saja turun dari lantai dua dengan berpakaian rapi. Dilihatnya Chris dan Aska di meja makan.


"Kau mau ke mana?" tanya Chris melihat Nena pergi sendirian. "Mau ke kuburan? Tidak sama Kenzo?"


"Oh, aku mau pergi sama Kenzo tapi pergi piknik."


"Aduh, asyiknya ... berdua," ledek Aska.


"Siapa bilang berdua. Keluarganya juga ikut kok."


"Mmh, tidak ada yang menjaga Leka dong?" pikir Aska bingung.


"Lho, kan Leka sudah pulang."


"Kapan?" Serempak Aska dan Chris bertanya.


"Kemarin sore. Memangnya, tidak ada yang tahu?"


Chris dan Aska menggeleng bersamaan.


"Eh, berarti Leka ikut dong?" tanya Aska lagi.

__ADS_1


"Mungkin."


"Oh, berarti aku juga boleh ikut ya?" Aska segera berdiri dan mengambil jaketnya.


"Eh, ini bukan acaraku," tolak Nena.


"Eh, tolong katakan aku ikut," bujuk Aska.


"Telepon sendiri, enak aja." Nena meninggalkan Aska.


Chris hampir tertawa melihat mereka bertengkar.


"Hei! Aduuh ...." Aska mengangkat hpnya. Ia menelepon Arya sambil berjalan keluar rumah. "Om, Om pergi piknik bawa Leka ya Om?"


"Iya."


"Lho kok baru pulang dari rumah sakit, Leka sudah di bawa jalan-jalan Om?"


"Justru itu. Kami membawanya ke tepi pantai."


"Om, boleh ikut gak Om? Aku khawatir padanya."


"Oh, boleh saja, tapi kami sudah di perjalanan."


"Oh ... ok, ok, ok. Aku menyusul." Aska menutup hp-nya. "Pa, berangkat dulu," sahutnya sebelum hilang di balik pintu utama.


Chris hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Aska melihat Nena hendak membuka garasi. "Eh, kamu aku antar ke sana aja ya?"


"Ih, siapa mau?" Nena melirik tajam.


"Hei, di sana macet kalau musim liburan panjang begini."


"Karena gak tahu tempatnya, kan?" ledek Nena.


"Eh, ayolah! Daripada menyetir sendirian di tempat macet begitu, kita kan bisa gantian."


"Ayo masuk mobilku ...." Aska membukakan pintu mobilnya pada Nena.


Sementara itu, Arya baru saja mematikan hp-nya. Ia tersenyum senang. Mariko yang duduk di sampingnya, terlihat bingung. "Kenapa Mas?"


"Ini piknik paling seru yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku gak sabar untuk sampai ke sana."


"Oh, begitu ...."


Arya melirik ke kursi belakang lewat cermin kecil di depannya. Ada Leka, Ani yang menggendong Runi dan Aiko berdesakan duduk di sana. Sedang Tama dan Kenzo naik mobil Kenzo karena di supiri Bodyguard-nya.


Bagaimana dengan Nena dan Aska yang terpaksa berada dalam satu mobil? Mereka sepertinya lebih sering bertengkar saat bicara.


"Kenapa mereka tidak memberi tahu kalau Leka sudah pulang?" tanya Aska pada Nena.


"Mana aku tahu. Mungkin malas ketemu mantan kali," jawab Nena asal.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?"


Nena melirik dengan pandangan aneh. "Mana aku tahu kau tidak tahu. Lagi pula itu bukan urusanku." Matanya mendelik kesal. Ia melipat tangannya.


"Kenapa sih sejak tinggal di Amerika, kamu sangat judes saat bicara denganku?"


"Memang kenapa? Mulut-mulut aku. Kalaupun aku judes itu karena mulutmu yang suka menjelek-jelekan orang lain dan bicaranya selalu menuduh."


"Menuduh? Menuduh apa? Aku bicara sesuai kenyataan."


"Bukan kenyataan namanya, kalau nuduh tanpa fakta."


"Melihat dengan mata kepala sendiri, apa itu bukan fakta?"


"Bukan. Penglihatan bisa saja salah."


Aska tertawa. "Dari dulu kamu masih saja mengelak."

__ADS_1


"Tentang Kenzo? Aku memang menyukainya, tapi kami belum pacaran. Ia masih belum tahu kalau aku menyukainya, paham?"


"Tapi benar kan dulu kau meninggalkanku demi mengejar Kenzo?"


"Tidak. Kenzo tidak ada kaitannya. Ia hanya datang di saat yang tidak tepat."


"Bohong!"


"Kuakui, saat bertemu dengannya aku merasakan arti cinta, tapi jauh sebelum itu aku memang sudah ingin putus denganmu. Keberadaan Kenzo hanya memperkuat keinginanku waktu itu."


"Jadi benar kan karena Kenzo kamu ingin meninggalkanku?"


"Tidak!"


Aska hampir tertawa. "Kau baru saja mengatakannya."


"Kau membohongiku kan agar bisa pacaran denganku."


"Tidak! Aku berusaha melindungimu dari perundungan waktu itu. Buktinya tidak ada yang membulimu lagi sejak itu."


"Aku sudah bilang, aku tidak mencintaimu dari awal, tapi kau tetap memaksa menjadi pacarku agar aku terlindungi dari perundungan itu. Kalau kemudian aku memutuskanmu itu kan harusnya hal yang wajar. Aku dulu tak berani mengatakannya karena kau majikanku."


"Oh, jadi itu sebabnya kau sekarang berani bicara begitu padaku?"


"Mengapa tidak, kau tipe pria yang suka bicara kasar pada siapapun. Kenapa aku harus takut?"


"Mentang-mentang kau diangkat anak oleh Grandpa ...."


"Mentang-mentang kau dianggap anak oleh Pak Chris!"


Sambil menyetir Aska melirik Nena dengan sinis sedang Nena hanya tersenyum karena bisa membalas perkataan pria itu.


Setelah bergelut dengan kemacetan yang masih bisa di tolerir, mereka akhirnya sampai juga ke daerah pantai yang di maksud. Pantai tempat Arya dan keluarganya berpiknik itu dekat dengan sebuah hotel berbintang hingga mereka punya fasilitas yang bisa membuat mereka nyaman berpiknik di tepi pantai.


Aska dan Nena akhirnya menemukannya. Tikar kain untuk mereka duduk-duduk sudah di gelar. Ada beberapa makanan dan minuman di sediakan di tengah-tengah, dan keluarga Arya sudah berkumpul di sana.


Kenzo sedikit menyendiri berdiri di antara tumpukan batu karang.


Nena dan Aska segera turun. Nena mendatangi Kenzo dan Aska mendatangi Leka yang sedang menyusun makanan di atas tikar kain untuk piknik itu.


"Halo Sayang!" Aska segera duduk di samping Leka.


Bukan hanya Leka yang menoleh, semua keluarga Arya menoleh melihat kedatangan pria itu, termasuk Kenzo. Kenzo akhirnya menyadari ada Nena di sampingnya.


"Kau datang bersama Aska?"


"Eh, iya." Nena tersenyum.


Leka terkejut dengan kedatangan mantan suaminya. "Abang?"


Aska tersenyum. "Kok kamu gak kasih kabar, sudah pulang Sayang?"


Leka sedikit risih dengan panggilan Sayang yang disebut Aska sebab begitu banyak mata memandang mereka sehingga ia malu. "Kamu jangan bilang, sayang-sayang. Aku bingung," bisik Leka pada Aska.


"Kenapa? Kau kan istriku?"


"Mantan." Aiko membetulkan sedang Tama tertawa kecil.


Aska mengerucutkan mulutnya.


Arya hanya melihat sekilas tapi yang menjadi perhatiannya adalah Kenzo. Kenzo seperti bingung harus melihat atau tidak Leka bersama Aska.


"Kak ...." Panggil Nena pada Kenzo.


"Mmh?"


"Aku ada yang mau diomongin sama Kakak."


"Mmh, apa?" Kenzo masih mencuri-curi, melirik pada Leka dan Aska. Ia tidak fokus mendengarkan apa yang dikatakan Nena.


Nena mengira Kenzo sedang fokus melihat Aska. Ia sedang berusaha menerangkan sesuatu tapi pria itu seperti tidak fokus dengan apa yang ingin diucapkannya. Ia kemudian melangkah maju ke depan tapi karena batu karang itu tidak rata dan licin, ia tergelincir jatuh ke dalam air. "Ahhh ...."

__ADS_1


Kenzo terkejut. Leka melihat Nena jatuh dan sepertinya tidak bisa berenang karena tubuhnya timbul tenggelam. Tanpa pikir panjang Leka segera berlari masuk ke dalam air dan berenang mendekati Nena. Diraihnya tubuh Nena dan di bawanya ke tepian.


__ADS_2