
Kenzo mendengar derai tawa anak kecil dan seorang wanita dengan bersuara lembut dari sebuah sungai. Ia penasaran dan mendekat. Sepertinya suara itu amat dikenalnya. Sungai itu beraliran air sangat jernih sehingga kedua ibu dan anak itu menenggelamkan kaki mereka hingga lutut sambil duduk-duduk di pinggir sungai.
"Leka? Runi?"
"Papa!" Runi berdiri di bantu Leka.
"Sayang, kau dari mana saja?" Leka mulai berdiri dan menatap Kenzo.
"Sa-sa-sayang?"
Leka melingkarkan tangannya pada lengan Kenzo. "Lihat sungai ini. Airnya sangat jernih."
"Kenapa kau membawa Runi bermain di pinggir sungai? Apa kau tak takut ia tenggelam?"
"Kenapa harus takut, ini kan rindumu, Sayang." Leka mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi pria itu. Tentu saja pipi Kenzo memerah.
"Eh ...." Kenzo kehilangan kata-kata.
"Kak bangun! Eh, kenapa pipinya memerah?" Tama yang duduk di sebelah Kenzo memperhatikan wajah kakaknya.
Kenzo yang ditepuk bahunya oleh Tama terbangun. Pada saat itu, Leka datang membawa baki makanan dan membuat Kenzo terkejut. Pria itu langsung menyentuh pipinya.
"Kenapa Kak pipinya? Wajahnya kemerahan," tanya Tama heran.
"Itu karena ...." Kenzo menatap Leka yang sedang menyajikan makanan. Ia mengarahkan pandangan pada meja makan di sampingnya yang sudah duduk Aiko, Mariko dan Tama mengelilingi meja itu. Arya datang kemudian juga membawa baki. "Kita di restoran?"
"Oh, iyalah Kak, memang Kak Jo pikir di mana?" sahut Tama. Kemudian mata nakal Tama berputar dan melihat ke arah Kenzo. "Atau, ahaha ... lagi mimpi mesum ya?" Ia menunjuk wajah Kakaknya.
"Hus!" Kenzo menepis jari Tama. Wajahnya memerah. Sekilas ia melirik Leka yang juga melirik padanya, ingin tahu. Wajahnya semakin memerah, malu.
Yang lain terlihat tersenyum mendengar ucapan Tama yang usil.
"Eh, Leka, ayo kita makan!" ajak Arya.
"Eh, tapi Pak, tamunya masih banyak." Leka enggan karena sepertinya acara keluarga, lagipula di jam makan yang ramai pelanggan.
"Aku sudah capek-capek menggabungkan dua meja kok! Ayo, kamu dibebas tugaskan sekarang, ayo kita makan." Arya berkeras hingga Leka terpaksa duduk bersama Ani.
"Aku cuci muka dulu." Kenzo berdiri dan langsung pergi ke pintu belakang. Di luar sana ada toilet, tempat wudhu dan tempat sholat. Ia mencuci wajahnya di ruang toilet dan menatap wajahnya di cermin.
Ah, aku bisa gila lama-lama di sini. Semakin lama aku semakin menginginkannya hingga terbawa dalam mimpi. Apa karena di dalam darahku mengalir darah Ayahku, Kenji Aratami sehingga aku tidak bisa lepas dari takdir ini? Payah! Kenapa aku bisa lemah begini.
Kenzo kembali ke meja makan. Ia duduk di kursi terjauh dan berhadapan dengan Leka. Sesekali ia melirik Leka yang kadang memperhatikan makan Runi.
"Kakak tidurnya enak banget, sampai Runi di angkat aja Kakak gak tau," celoteh Tama.
"Oh, ya?" Kembali Kenzo melirik Leka, tapi kali ini wanita itu sedang menatapnya. Karuan saja ia segera menundukkan pandangan.
"Oniichan, oleh-olehnya mana?" tanya Aiko.
"Oh, aku belum buka koper. Nanti ya?"
"Kakak lama kan di sininya?"
Kembali Kenzo menatap Leka dan ketahuan. Wanita itu juga sedang menatapnya. Ia sedikit panik. "Ah, tergantung nanti."
"Tergantung apa?"
"Urusan bisnisku."
Dari pendengaran dan juga gerak gerik Kenzo, Arya sudah bisa menangkap bahwa Kenzo sangat menyukai Leka tapi ia berusaha mengabaikan isyarat tubuhnya. Arya hanya bisa diam dengan senyum di kulum menikmati kegelisahan anaknya.
Selesai makan siang, Kenzo pamit.
"Eh, sekalian titip adikmu berdua, pulang." Arya menoleh pada kedua anaknya yang lain. "Jangan lupa sholat Zuhur dulu sebelum mengerjakan tugas sekolah."
"Iya Yah!" sahut mereka berdua berbarengan.
__ADS_1
Kenzo pulang setelah mengantar adik-adiknya. Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Aku harus bagaimana, aku tidak tahu aku harus bagaimana. Setelah bertemu dengannya aku malah semakin bingung. A-aku ... haahh ... kenapa setiap bertemu denganmu semuanya kembali ke titik nol. Semua usahaku sia-sia. Kenzo mengacak-ngacak rambut. Well, tidak juga. Rinduku mereda. Ia memeluk guling. Tapi, itu kan bukan solusi, wajahnya kini merengut.
Di rumah Chris, Zack menunggu Lydia tak juga turun untuk makan siang, padahal sudah lewat dari waktunya. Ia menaiki anak tangga dan mengetuk kamarnya. Tak ada jawaban. Zack membuka pintunya.
Lydia ternyata tertidur di atas tempat tidurnya. Saat didekati, ada genangan air mata di sudut matanya. Zack terkejut.
"Lydi ...." Zack mengguncang-guncangkan bahu Lydia karena dari dulu gadis itu selalu tidur dengan nyenyaknya hingga susah dibangunkan.
Gadis itu terbangun dan terkejut melihat Zack ada di kamarnya. Ia segera duduk.
"Kau kenapa, habis menangis?"
Lydia panik dan segera menghapus air matanya. "Ngak ...."
Zack menggeser tubuhnya mendekat, ia memeluk Lydia. "Maafkan Kakak ya?"
"Ngak apa-apa Kak."
Namun Zack tidak melepas pelukannya. Lydia merasa nyaman dengan pelukan Zack, sesaat ia terdiam. Tak lama Zack melepas pelukannya.
"Kalau butuh Kakak, Kakak ada untukmu."
Lydia hanya terdiam. Zack menggandeng Lydia untuk turun ke lantai bawah. "Yuk, kita ke bawah, makan." Sambil menuruni tangga, diperhatikannya wajah Lydia yang menunduk diam. Zack tak berani bertanya.
Baru saja beberapa langkah menuju meja makan, bunyi bel rumah terdengar. Zack dan Lydia menoleh ke arah pintu utama. Ijah berlari ke arah pintu dan membukanya. Lydia terkejut melihat siapa yang datang. "Daddy ...." Ia berlari mengejarnya ke pintu. Pria kurus berkulit sedikit gelap itu merentangkan tangannya saat melihat Lydia memanggilnya. Ia memeluk anak satu-satunya itu.
"Oh ... Daddy miss you so much.(Daddy sangat kangen padamu)" Rafi melepas pelukannya. "How's your school?(bagaimana sekolahmu?)"
"Fine, Daddy.(Baik-baik saja, Daddy.) Kenapa Daddy lama sekali datangnya? Kan Daddy janjinya 2 bulan yang lalu?"
"Iya, maaf Sayang. Daddy baru bisa datang sekarang karena sibuk dengan pekerjaan. Yang penting kan sekarang Daddy datang."
Lydia kembali memeluk ayahnya sekejap karena senang.
"Ayo kita masuk dulu." Rafi menggandeng Lydia.
Rafi menemui Zack. "Halo Zack, tadi Om sudah telepon Ayahmu Chris tapi ia sedang pergi."
"Eh, iya, Waalaikum salam."
"Makan siang, Om. Sudah waktunya."
"Kalian belum makan siang?"
"Belum Om."
"Oh, sama. Ayo kita makan siang." Rafi menyambutnya.
Rafi akhirnya sholat dan makan siang di sana, tapi tanda-tanda Chris akan pulang tidak ada sementara Lydia sudah turun membawa kopernya dan Reina masih di toko bunga. "Om tak bisa lama-lama. Om pamit sama Lydia, dengan kamu saja."
"Oh, iya Om."
Dengan berat hati Zack mengantar kepergian Lydia menginap di rumahnya yang lain di Jakarta bersama Ayahnya. Ia kembali sendirian.
Sejam kemudian Rojak datang bersama Salwa dengan pakaian rapi. Mereka baru saja menghadiri pernikahan seorang teman. Zack, menceritakan apa yang terjadi.
"Oh, Zack. Kamu gak punya teman bermain lagi ya? Kenapa kamu gak suka main di luar rumah sih? Kamu kan bisa main ke rumah teman, kenapa senangnya main sama Lydi dan jadi anak rumahan?" tanya Salwa.
"Kalau suka kenapa?"
"Ya sudah. Kalau Kakak gak ada lembur, Kakak cepat pulang. Papa mana, di toko bunga?"
"Papa lagi pergi sama Kak Aska. Ada urusan bisnis, katanya."
Tak lama, Aska dan Chris pulang.
"Oh, Rojak. Apa kabar?" Chris bertemu Rojak di ruang tamu bersama Zack dan Salwa.
__ADS_1
"Baik Om."
Melihat Rojak, Aska malas bertahan di sana. Ia segera pamit. "Pergi dulu Pa, ke tempat Leka." Aska mencium punggung tangan Chris.
"Ih, demennye ama mantan." ledek Salwa.
"Biarin."
"Lagi, kenapa cerek ya?" masih meledek.
"Brisik!"
Rojak tak dapat menahan tawa. Aska sebal melihatnya, ia segera keluar dari sana.
"Jangan diledek begitu, Salwa. Kakakmu itu masih suka sama mantan istrinya. Entah kenapa dulu ia menceraikannya."
"Maka itu, Papa. Kok jadi cowok gampang banget menceraikan istrinya, padahal masih suka. Makanya jadi cowok hati-hati kalau bicara karena kalau cerai, gampang, tapi kalau udah nyesel, setengah mati untuk balik lagi." Salwa juga melirik Rojak.
"Dih, napa tuh mata lirik ke gua? Gua belum pernah nikah, woi! Itu kan Abangmu bukan gua."
"Ya itu pelajar, biar gak gampang nyakitin hati wanita."
"Mmh, baik Nyonya Rojak."
Salwa kesal dan mencubit Rojak.
"Aduh, ampun mak!" Rojak berusaha menghindar.
Zack dan Chris tertawa.
Terdengar telepon berbunyi. Itu suara hp Chris. Nomor tidak di kenal. "Halo."
"Ini Pak Christian Jhonson."
"Iya."
"Ini dari kantor polisi Pak. Bapak bisa mengambil anak yang bernama Lydia Akhyar."
"Bukankah dia pergi bersama Ayahnya? Ada apa dengannya?"
"Ayahnya kami tangkap dalam penggerebekan narkoba, Pak. Sekarang kami tahan."
"Apa? Tapi itu tak mungkin."
"Pak Rafi sedang kami proses Pak, jadi tinggal tunggu hasilnya."
"Ok, jadi ini kantor polisi mana?"
Polisi itu menyebutkan tempatnya. Chris segera menutup hp-nya. Ia melirik Zack. "Zack, ikut Papa. Lydi membutuhkanmu."
"Ada apa dengan Lydi Pa?" Zack sempat tak sengaja mendengar dan menduga-duga itu Lydia.
"Daddy-nya ditangkap polisi."
"Apa?" Salwa ikut terkejut.
"Ayo Zack."
Zack dan Chris segera menaiki mobil, diantar oleh bodyguardnya.
Di dalam perjalanan, Chris tak habis pikir. Bukankah Rafi sudah menyerah tentang pekerjaan lamanya? Ini kan tak sebanding dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang diberikan ayah Anna, mertuanya yang merupakan pria terkaya di Amerika? Kenapa ia menyentuh barang haram itu lagi?
Sebelum berkenalan dengan Anna, istrinya, Rafi adalah salah satu Gembong Narkoba terbesar di Asia. Sebelum menikah, ia sudah menekan kontrak dengan mertuanya untuk meninggalkan pekerjaan lamanya bila ia ingin menikah dengan Anna. Namun bila Rafi benar telah kembali bersentuhan dengan barang haram itu lagi dan menjalankan usaha itu juga, besar kemungkinan pernikahannya dengan Anna akan semakin bermasalah. Bahkan, bukan itu saja. Di Indonesia, ia bisa terkena hukuman mati. Chris menyayangkan kalau itu benar-benar terjadi. Namun benarkah Rafi terlibat narkoba lagi?
Sesampainya di kantor polisi mereka segera mencari Lydia dan menenangkannya. Lydia tampak terpukul melihat apa yang menimpa ayahnya.
____________________________________________
__ADS_1
Halo reader ini author selipkan visual Rafi, ayah Lydia yang tertangkap di Jakarta. Jangan lupa like, komen, vote, hadiah juga koin untuk author ya? Salam, ingflora💋