
Kenzo ingin menyentuh pucuk kepala istrinya yang duduk di samping kanannya dengan tangan kiri tapi sulit, akhirnya ia menyerah. "Hah!"
Leka mengangkat kepalanya. "Ada apa Mas?"
"Eh, tidak ...."
Leka mengerut dahi.
"Iya, tidak."
Kembali wanita itu meletakkan kepalanya di bahu Kenzo. Mobil pun sampai ke rumah.
Mereka tidak menyadari ada yang memperhatikan mobil mereka masuk ke dalam rumah dari kejauhan. Seseorang dari dalam mobil. Ia melihat Leka turun dari mobil dan hanya wanita itu yang dilihatnya. Leka ... kenapa kau mau menikah dengannya? Apa kamu sakit hati aku tidak datang di acara ijab kabul pernikahan kita? Maafkan aku. Aku masih mencintaimu. Ada seorang wanita yang berusaha memberatkan langkahku padamu. Leka ... kau harus dengarkan penjelasanku ....
------------++++-----------
Mobil Arya sampai di toko bunga Reina. Dilihatnya Chris duduk menunggu di luar seperti biasa.
"Da!"
"Hei, tumben."
Arya menghampiri bersama Mariko. "Kelihatannya aman, apa masih bermasalah?" Arya menyangsikan melihat wajah Chris yang terlihat baik-baik saja.
Chris tertawa. "Kau tahu saja. masalahnya belum dibicarakan pada pihak perempuan. Besok baru akan dirembukkan. Tadi itu aku baru bicara pada Aska dan memberinya pengertian."
Arya duduk di samping Chris sedang Mariko masuk ke dalam menemui Reina.
"Sudah malam begini, kau habis dari mana?" Chris melihat Arya masih menggunakan batik yang di pakainya tadi pagi.
"Oh, menengok saudara yang sedang sakit. Eh, ya. Aku lusa ke Jepang mengantar mertua. Titip anak-anak ya, selama aku tidak ada."
"Oh, berapa hari? Sekalian liburan atau honeymoon kedua?"
Arya tertawa. "Aku tidak biasa meninggalkan anak lama-lama. Hanya 3 hari saja. Sudah lama juga aku tidak keluar negri. Yang paling sering, aku tinggal naik gunung. Aku tidak bisa membiarkan Mariko pergi keluar negri sendirian dan belakangan Mariko juga suka ikut aku naik gunung."
"Wah, pasangan serasi ya?"
Arya tersenyum lebar. "Kapan-kapan ikut Da, naik gunung."
"Ya, boleh. Ganti-ganti suasana."
--------------++++-----------
"Sebaiknya tidur terpisah saja, biar kita punya privacy(kehidupan pribadi) dan anak jadi mandiri."
Leka yang sedang memangku Runi, mendekapnya. "Aku terbiasa tidur dengan Runi, Mas."
"Ya ...." Kenzo menatap Leka yang tidak mau lepas dari anaknya. "Terserah saja, kamu maunya bagaimana."
Pintu diketuk. Leka melepas Runi di tempat tidur dan membuka pintu.
"Ada Pak Arya Bu, di bawah."
"O ya, makasih," sahut Kenzo dari dalam kamar.
Pasangan suami istri itu turun sambil membawa Runi.
"Ayah, ada apa malam-malam begini?" Kenzo menyambutnya di ruang tamu. "Kenapa Ayah tunggu di sini?"
Arya tertawa. "Masa Ayah ganggu penganti baru? Ya, gak bisa dong," ledek Arya.
"Ayah, ada-ada saja." Kenzo tersenyum simpul.
"Ini Ayah bawakan hp baru buat kamu. Kamu santai sekali, ke mana-mana gak bawa hp." Arya menyerahkan sebuah bungkusan pada Kenzo.
"Memangnya hp-nya ke mana?" tanya Leka heran.
"Kan hancur waktu kecelakaan."
"Oh."
"Aku masih bisa kerja dengan labtop kok Yah."
__ADS_1
"Ya, tapi kan hp itu penting untuk komunikasi. Siapa tahu kamu rindu pada Ayah, Ayah kan mau pergi lusa."
"Ayah kan gak pergi lama kan?"
"Siapa tahu lama."
"Mmh?" Kenzo mengerutkan keningnya.
Arya tertawa. "Enggak, Ayah cuma bercanda. Jaga baik-baik adik-adikmu ya, selama Ayah pergi."
"Kamu juga Leka. Sering-sering main ke rumah, main dengan Aiko dan Tama. Anggap saja adik sendiri," ucap Mariko.
"Oh, iya Bu."
"Jangan panggil Ibu. Panggil Mama saja."
Leka tersenyum malu. "Oh, iya Ma."
"Nomor Ayah, Mama dan adik-adikmu sudah Ayah masukkan, jadi memudahkan."
"Iya, Yah."
"Sudah. Ayah pulang dulu." Tiba-tiba Arya mendekap Kenzo, cukup lama.
"Ayah?"
"Ayah senang, kau sudah menikah. Sudah ada yang akan mengurusmu ...." Arya terdiam sejenak. Terdengar suara tangis yang tertahan.
"Ayah ...."
"Entah kenapa tiba-tiba Ayah rindu padamu."
"Mmh? Aku di sini Ayah ...."
Arya melepas pelukannya sambil mengusap kasar air matanya. "Maaf Ayah jadi cengeng."
Mariko menyentuhnya, turut menenangkan.
Leka dan Kenzo berpandangan.
"Iya Yah."
"Iya Pak."
Arya tersenyum pada Leka.
"Iya ... Yah. " Leka membetulkan kalimatnya.
"Sudah ya, Ayah pulang dulu." Arya berpamitan.
-------------+++----------
Belum lama Kenzo tertidur, ia merasakan kaki Leka menjalar di pahanya. Ia terpaksa bangun. "Leka ...." ucapnya dengan suara rendah. Kenapa wanita ini menggodaku di saat aku ingin tidur. Bukankah ada Runi?
"Mas, mmh ...." wanita itu menurunkan pandangannya.
"Apa? Kamu kenapa?" tanya Kenzo pelan.
"Aku kepikiran mandiin kamu tadi. Mmh ...."
Kenzo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau mau melakukan 'itu'? Kan ada Runi?"
"Mmh ... iya."
"Tanganku juga lagi begini ...." Kenzo melirik istrinya.
"Besok, Runi punya kamar sendiri saja ya Mas?"
"Tadi kan sudah Mas bilang."
"Kalau dipindahkan sekarang gimana Mas?"
__ADS_1
"Runi? Tapi kan kita belum pasang interkom di kamarnya, nanti kalau dia bangun gimana? Kita tidak tahu, dan dia nangis."
"Mmh ... Mas lebih sayang aku apa Runi?"
Ya ampun, pertanyaan apa pula ini? Cemburu pada Runi? "Astaga Leka. Kalau aku mencintai Runi, aku pasti sudah menikahinya."
Leka menahan tawanya dalam senyum termanisnya. "Mas."
"Ya?"
"Aku boleh kerja di restoran lagi gak?"
"Nanti Runi tidak terurus bagaimana?"
"Diurus kok."
Kenzo berpikir sejenak. "Boleh, tapi hanya sampai jam 2 saja. Sehabis makan siang kamu pulang."
Leka tiba-tiba terduduk. "Boleh Mas. Makasih," katanya senang. Ia langsung menyibak selimut dan mendatangi Kenzo. Ia menghimpit tubuh pria itu dan duduk di atasnya. Rambutnya yang panjang bergelombang terurai saat wanita itu mencoba mendekatkan wajah mereka. Seketika, wajah mereka terkurung oleh rambut indah Leka.
Gerakan mendadak istrinya itu membuat Kenzo panik. Ia berada diantara ingin menghindar atau penasaran dengan gerakan lainnya sementara tangannya yang di gips telah melumpuhkannya.
Wanita itu menakup wajah pria itu dan menariknya ke atas. Sapaan lembut bibir ranum itu pada bibir Kenzo dan hembusan napas hangat yang keluar dari hidung wanita itu membuat otak pejantannya seakan di kacaukan oleh degub jantungnya sendiri yang berdetak tak karuan. Ini benar-benar godaan yang memanjakan. Ia terlena. Membuat candu dan memabukkan. Sesudahnya, napasnya sedikit tersengal dan pikirannya mulai mengembara. "Hah ...."
Leka menyibak rambutnya ke samping dan menyentuh wajah Kenzo dengan jarinya, lembut. "Makasih ya Mas." Ia menyebutkan itu sekali lagi.
"Kau tidak harus ...." Kenzo masih mengatur napas dan detak jantungnya.
"Mas tidak suka?"
"Bukan tidak suka, Mas jadi ingin yang lain." Wajah Kenzo memerah saat menyebutkannya.
"Kita lakukan saja?"
"Kan ada Runi ...."
Leka melirik Runi. "Kita pindahkan saja dia, bagaimana?"
"Eh?" Kenzo melirik Runi. "Terserah kamu saja."
Leka mengambil Runi dengan hati-hati dan membawanya turun dari tempat tidur. Ia membawanya keluar kamar.
Kenzo yang ditinggal sendiri terlihat panik tapi tubuhnya tidak berkutik. Pikiran-pikiran nakalnya mulai menggelitik imaginasinya. Dalam sekejap wajahnya bersemu merah, tapi ... terdengar suara tangisan Runi dari kamar sebelah yang membuat khayalannya tercerai-berai seketika. Leka kembali dengan menggendong Runi yang sedang menyelesaikan sisa tangisnya dan matanya yang berkaca-kaca.
"Papa!" teriaknya saat melihat Kenzo di tempat tidur.
Kenzo hanya bisa menghela napas. Saat gadis kecil itu diletakkan di atas tempat tidur, ia segera mengejar dan memeluk lengan pria itu erat seakan tak ingin lepas. "Pa-pa ...." Seakan ia mengadu.
"Iya Nak, Papa di sini." Kenzo mulai memanggil Runi dengan panggilan sayang Leka pada gadis itu. Runi menatap pria itu seakan ingin dimengerti dan Kenzo hanya bisa memberikan mimik wajah menenangkan. Tangan kanannya yang di beri gips benar-benar membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
Namun gadis kecil itu seperti mengerti dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kenzo. Sebentar kemudian ia tertidur. Leka pun kembali tidur. Hanya pria itu kini yang tersiksa dengan khayalan yang setengah jadi di kepalanya. Butuh waktu lama untuk Kenzo bisa kembali tertidur.
---------+++----------
Pagi yang indah. Setelah sholat Subuh, Leka memandikan suaminya. Mata mereka seperti menyuarakan harapan akan adanya suatu keajaiban bisa memadu kasih berdua. Menunggu Runi tidur, tapi hingga siang gadis itu seperti bahagia dikelilingi orang-orang yang ia suka sehingga energinya seakan tak ada habis-habisnya. Akhirnya Leka membawa Runi dan Baby Sitter-nya juga Kenzo ke restoran. Leka bekerja sementara Kenzo hanya menemani anak dan istrinya di sana.
Runi membawa buku dari kain favoritnya karena ia bisa bermain dengan Kenzo yang suka bercanda dan bernyanyi untuknya. Pria itu juga mengajari beberapa kata bahasa Inggris yang baru didengarnya. Runi mendengar dengan seksama. Sebentar saja gadis kecil itu sudah bisa menyebutkan dan mengerti artinya.
Leka memperhatikannya dari dapur. Suaminya sangat sabar mengajar dan menunggui Runi bermain. Sangat bertolak belakang dengan Aska padahal pria itu notabene adalah ayah kandung Runi. Leka tidak tahu, apa setelah ia menikah dengan orang lain, Aska masih peduli pada anaknya atau tidak.
Di parkiran restoran, ada mobil Aska terparkir. Ia terlihat gusar hingga menggigit-gigit kuku ibu jarinya. Ia melihat Kenzo dan Runi bersama keluar masuk pintu restoran. Sesekali gadis kecil itu mengitari pria itu saking senangnya. Mmh, kau pintar sekali mencari muka di hadapan Leka. Kau bermanis mulut di depan anakku. Kau benar-benar iblis bermuka dua. Muka iblismu itu tertutupi bersamaan dengan rambut iblismu itu sejak kau menghitamkan rambutmu. Tapi iblis tetaplah iblis, ke manapun kau beralih rupa. Uangmu banyak, tapi hidupmu hanya bisa merebut istri orang, menghancurkan hidupku. Ingat Kenzo, aku akan merebut kembali Leka bagaimanapun caranya. Bagaimanapun caranya!
"Runi, Papa lelah. Papa duduk dulu ya?" Kenzo menarik sebuah kursi di depannya dengan tangan kirinya. Sedikit sulit memang tapi belakangan ia mulai melatih tangan kirinya agar ia mudah berkegiatan.
Seseorang menggendong Runi dari belakang dan gadis kecil itu terkejut. "Om, om!"
_____________________________________________
Reader tercinta, sebentar lagi novel ini akan tamat dan akan bersambung ke novel author berikutnya, Junior CEO And Bodyguard Mei. Masih tetap menceritakan tentang kisah cinta segitiga Aska, Leka dan Kenzo dan cerita lainnya. Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah. Salam, ingflora. 💋
Ada lagi karya author pria Ibn Muchsin, berjudul Antara Jeritan dan Harapan dengan tema yang sedikit out of the box. Bagi yang kepo dulu, kuy!
__ADS_1