
Leka menyentuh kening pria itu. Normal, tapi kenapa wajahnya memerah?
"Kakak kepanasan?"
"Eh, i-i-ya." Tergagap Kenzo tidak bisa menjabarkannya dengan baik.
"Aneh? Padahal AC-nya cukup dingin. Oh ... buka saja bajunya Kak." Leka langsung menarik baju kaos yang dikenakan Kenzo dan melucutinya ke atas.
"Eh?" Kenzo tak sempat mencegahnya. Ia menyilangkan tangannya di dada.
"Kenapa? Sekarang dingin? Ngak apa-apa kok, airnya hangat." Leka kembali mendatangi wadah plastik itu dan merendam handuk itu sebentar sebelum memerasnya lagi. Ia menghampiri Kenzo dan mulai mengusap leher nya dari dekat.
Mata. Mataku harus bagaimana? Apakah aku harus memandangnya atau mengarah ke tempat lain? Aduh, aku bingung ....
"Kakak kok kelihatan tegang? Ada yang sakit Kak?" Leka menatapnya dari dekat. Tentu saja Kenzo salah tingkah.
"Eh, mmh ... ti-tidak." Matanya mengarah ke tempat lain.
"Mmh ... Kakak kenapa? Kaget airnya panas? Rileks aja Kak, nanti enak di badan. Coba pejamkan mata."
Pejamkan mata? Ide bagus. Aku tak perlu terlihat bingung.
"Nanti di rasa aja Kak, jangan tegang. Bilang aja kalau kepanasan."
Ok. Kenzo menurut. Ia memejamkan matanya. Ia bisa merasakan tangan lembut wanita itu mulai mengusap dadanya dengan handuk hangat dan bau rempah-rempah yang membuatnya serasa berada di pemandian air panas di Jepang. Bau rempah-rempahnya itu mengingatkannya pada masa kecilnya dulu, sewaktu orangtuanya masih hidup sering mengajaknya pergi ke penginapan milik orang tuanya di kaki gunung Fuji pada musim sakura. Di sana mereka minum teh hijau sambil menikmati kue dan bau kayu pohon di musim semi. Bau kayu pohon dan teh hijau itu mirip dengan bau rempah-rempah itu.
Kenzo merasa rileks sekaligus rindu pada kedua orang tuanya, tapi ia tidak tahu di mana kuburannya atau abunya berada. Bahkan rumahnya yang dulu di tinggalinya bersama orang tuanya yang sudah terbakar itu, tidak boleh ia dekati. Arya melarangnya. Ia takut musuh ayahnya akan mengenali Kenzo. Kabarnya rumah itu juga telah di jual pada orang lain. Tak terasa air mata Kenzo menetes saat mengenangnya.
"Kakak kenapa?" Leka melihat Kenzo menitikkan air mata.
"Oh," Pria itu membuka matanya. "Hanya teringat masa lalu." Ia mengusap air matanya.
Leka menatapnya lekat.
"Tidak apa-apa. Sudah berlalu."
Leka tidak menjawab. Ia kemudian mengambilkan baju kaos ganti dan membantu memakaikannya pada pria itu. "Sebentar aku periksa dulu makanannya ya?"
"Oh, iya terima kasih."
Leka membawa wadah air dan baju kotor pria itu keluar.
Kasihan sekali pria itu, sepertinya ia punya kenangan yang teramat buruk tentang masa lalunya hingga ia masih mengingatnya. Terlihat dari matanya yang sendu. Pasti Om Arya banyak membantunya melewati masa-masa sulit itu. Untung saja ia di kelilingi orang-orang baik yang menerima dirinya apa adanya. Hah ....
Pagi itu di rumah Chris, Chris, Reina dan Zack sedang sarapan di meja makan ketika seorang tamu datang sendirian menekan bel dan mengetuk pintu.
"Dia lolos dari penjagaan satpam depan, Seseorang yang kita kenal?" Tanya Reina pada Chris.
"Yup!" Chris masih mengunyah sedang Zack hanya menoleh.
"Dahlia ... tolong bukakan pintu!" Teriak Reina lagi.
"Iya Bu."
Pria itu datang menghampiri Chris dan Reina di meja makan. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," sahut mereka yang berada di meja makan.
"Siapa ya?" Tanya Chris masih belum mengenali pria kurus berkulit sedikit gelap yang berdiri di hadapannya itu.
"Rojak Om."
"Rojak? Wow. Penampilanmu beda sekarang ya?"
__ADS_1
Rojak yang berpakaian olah raga hanya menampilkan senyum.
"Tapi siapa yang memanggilmu kemari?" Chris menoleh pada istrinya. Reina menggeleng.
"Aku!" Salwa tiba-tiba sudah turun ke lantai bawah. Berpakaian olah raga dengan napas yang tersengal-sengal habis berlari di tangga, ia mengambil punggung tangan Chris dan juga Reina. "Aku pergi dulu, olah raga. Map, Pa. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," ucap mereka yang duduk mengitari meja makan.
"Ayo Jak!" Salwa melingkarkan tangannya pada lengan Rojak.
"Permisi Pak," ucap Rojak pada Chris.
"Iya."
Salwa mendorong Rojak agar cepat keluar.
Chris terlihat bingung. "Itu mereka ... " Ia menatap istrinya. Reina hanya mengangkat bahu.
Pagi itu juga harusnya pagi yang cerah untuk semua orang, pagi di hari Minggu pagi tapi tidak bagi Aska. Ia sulit tidur semalam dan bangun kesiangan.
Jam berapa ini. Aduhhh, sudah hampir jam 6. Aska mengucek-ngucek matanya dan meregangkan tubuh. Ia segera turun dari tempat tidur dan sholat Subuh.
Di sebuah taman kota yang cukup luas dan asri, di Minggu pagi itu, sudah ramai didatangi banyak penjual dan pengunjung yang datang berolah raga atau sekedar berjalan kaki. Ada juga yang mengkhususkan diri untuk mencari makanan karena di sana banyak sekali pedagang makanan. Seperti Rojak yang sibuk makan jajanan sambil menonton Salwa berolah raga.
"Eh, olah raga dong. Masa, capek-capek ke sini jajan?" Salwa masih melakukan pemanasan ringan sebelum jogging.
"Lah, itu kan elu. Ngapa mau capek? Nah, gua mah ke sini emang niat mau cari sarapan." Rojak masih mengunyah.
Salwa menghampiri Rojak. "Ih, jahat ih. Masa gue olah raga sendirian."
"Sapa yang nyuruh elu olah raga? Pan elu sendiri yang mau. Gua mah kalo nyuruh, makan, yuk makan yuk!" Ia menyodorkan makanan yang di pegangnya pada Salwa.
Wanita itu mengambilnya satu tusuk dan memakannya. "Waduh, pedes ini!" Ia mengipas-ngipas mulutnya. "Air dong, air."
"Masa bekas mulut kamu?" Protes Salwa.
"Napa? Kan bekas mulut gua ini. Bekas, bukan gua suruh minum dari mulut gua kan ...."
"Iya, tapi beliin aku yang baru dong."
"Gak ah, males."
"Haaa ... Rojak." Salwa merajuk.
"Iye, iye ... bentar ah! Jauh." Rojak bangkit dari duduknya dan Salwa meneruskan mengunyah sisa jajanan Rojak yang berada di tangannya.
Saat Rojak kembali, Salwa telah menghabiskan jajanannya. "Busyet, laper apa doyan?"
Salwa tersenyum dengan wajah semringah. Ia mengambil botol minuman air mineral dari tangan Rojak.
Dengan pakaian olahraga, Aska keluar dari gedung apartemen menuju mobil miliknya.
"Aska!"
Panggilan seseorang menghentikan langkahnya. Ia menoleh. Seorang wanita cantik berambut keriting yang panjang terurai dengan kulit putih bercahayanya datang mengejar pria itu.
"Monique?"
Gadis indo Perancis itu kini berdiri di hadapannya dengan senyum manis terbaiknya. "Kok kamu gak pernah hubungi aku lagi? Aku sudah nunggu kamu lama tapi kamu gak pernah hubungi aku lagi. Kenapa?"
"Maaf, tidak enak."
"Tidak enak kenapa, aku suka kalau kamu mau telepon aku."
__ADS_1
Aska mengerut kening mendengarnya. Ia paling tidak suka gaya Monique yang bermanja-manja dengannya padahal dari dulu ia sudah tegas-tegas menyatakan sikap tidak sukanya. Dari dulu hingga kapanpun itu, tak akan pernah berubah. "Maaf, ini hari Minggu, aku tidak sedang ingin memikirkan tugas kantor di hari liburku," katanya berusaha sopan.
"Maksudnya?"
"Hubunganku denganmu hanya sebatas tugas kantor."
"Tapi ...."
"Jangan berlebihan Monique! Sabtu-Minggu itu area pribadiku, dan aku tidak suka di ganggu di waktu-waktu istirahatku."
"Tapi bukankah kita ...."
"Tidak ada kita. Itu kamu dan pikiranmu. Maaf aku sedikit kasar, tapi aku sekarang mau keluar." Aska segera masuk ke dalam mobilnya, menjalankan mobil itu dan meninggalkan Monique sendirian di tempat parkir apartemen.
Gara-gara kamu, aku jadi bertengkar dengan Leka dan sekarang ia tidak lagi tinggal denganku.
Hah ... Leka, kamu jangan ngambek terlalu lama sebab aku mulai sukar tidur karenamu. Aku benar-benar merindukanmu, merindukan masakanmu, merindukan tangismu, air matamu, senyum manismu, khawatirmu padaku, bahkan saat kau marah padaku. Aku benar-benar merindukan itu semua. Sepertinya aku mulai tergila-gila padamu. Menyukai bentuk dirimu yang apapun itu. Apapun. Apapun itu tentang dirimu, takkan pernah bisa mengurangi nilaimu di mataku. Sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta padamu.
Namun ego Aska masih belum runtuh. Ia belum ingin mengatakan ini pada orang tuanya tapi ia begitu ingin Leka kembali padanya. Itulah yang di pusingkannya, apakah membiarkan dulu Leka pada Arya atau segera membujuknya dengan strategi lainnya, tapi apa?
Mobilnya sampai di perparkiran sebuah taman kota. Ia segera turun dan memasuki taman itu. Matanya kemudian berhenti di sebuah pemandangan yang baru semalam ia lihat. Salwa dan Rojak. Mereka sedang mengikuti senam rombongan ibu-ibu yang di lakukan di dalam taman itu. Mereka berdua berdiri paling belakang sehingga Aska cepat mengenali mereka karena Aska datang dari arah belakang. Ia mendekati mereka. "Mmh, lo olah raga apa pacaran sih?"
Keduanya menoleh pada Aska.
"Tuh, kan? Kagak ada yang percaya kalo gua olah raga. Dah ah!" Rojak berhenti berolah raga dan meninggalkan mereka.
"Jak, Jak!" Salwa menoleh pada Aska, kesal. "Kakak sih!" Ia segera mengejar Rojak.
"Lah, salahku apa? Aku kan cuma tanya?" Aska bingung melihatnya.
Rojak akhirnya mengantar Salwa ke toko bunga milik Reina, ibunya.
"Rojak?" Chris yang sedang duduk-duduk di luar toko langsung mengenali mereka.
"Oh, Papa." Salwa datang dan berdiri di sebelah meja kayu.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya Sal? Pak." Rojak menghidupkan motornya sambil menganggukkan kepala pada Chris.
"Eh tunggu-tunggu! Sini sebentar!" Chris memanggil Rojak dengan tangannya.
"Papa mau apa sama Rojak?" Salwa sedikit cemas.
"Tidak. Papa hanya ingin bicara saja dengan Rojak." Chris menjawab santai.
"Papa jangan ngomong aneh-aneh ya?"
"Aneh-aneh apa?"
"Janji?"
Mmh? Salwa kenapa?
Sementara Rojak yang mendengar dirinya di panggil, berusaha memastikan dengan menunjuk dirinya lagi. Chris mengangguk sehingga ia mematikan mesin motornya, melepas helmnya dan turun mendekati Chris. Ia duduk di hadapan pria bule itu.
"Hubungan kalian tuh sekarang apa?" Tanya Chris ramah pada Rojak.
"Hubungan apa, kami cuma teman, Papa." Salwa langsung menjawabnya.
Rojak hanya diam.
"Papa kan tanya sama Rojak?" Chris bingung, ia baru bertanya pada Rojak tapi Salwa terlihat panik.
"Iya, udah. Udah aku jawab."
__ADS_1
"Hanya teman? Tidak lebih?"