Sungai Rindu

Sungai Rindu
Memastikan


__ADS_3

Mereka duduk berseberangan di meja makan. Leka malas membuatkan minum untuk tamunya karena ia ingin Candi segera pulang. Ia sengaja membuka pintu depan agar tidak menjadi fitnah untuk keduanya karena hanya mereka berdua di rumah itu. "Ada apa?" Tanyanya lagi. Ia ingin segera pada intinya.


"Aku mendengar kabar kau telah menikah."


Ada rasa bertanya-tanya pada diri Leka, ada apa ini sebenarnya hingga harus malam-malam membicarakan ini. "Iya."


Candi memandangi isi rumah Leka yang sederhana. Barang baru yang dilihatnya hanya lemari es. Apa suaminya hanya mampu membelikan lemari es saja buat istrinya? "Ke mana suamimu?"


"Dia merantau."


"Mmh."


"Ada apa ya Can?"


"Aku hanya ingin berkenalan dengan suamimu."


"Maaf, dia tidak ada di sini."


"Istriku, aku telah bercerai."


Leka mengerutkan kening. Lalu apa hubungannya denganku? "Ya?"


"Leka, maaf. Aku dengar banyak gosip tentang dirimu. Apa hubunganmu baik dengan suamimu?"


"Dia masih menafkahiku. Aku jadi punya warung makan karenanya."


"Tapi saat kau melahirkan anakmu, kau hanya di temani ayahmu. Suamimu tak pernah muncul ...."


"Maaf, tapi kamu sudah membicarakan suamiku yang tidak-tidak. Aku masih istrinya dan Bapak baru meninggal. Tidak bisakah kamu datang di lain waktu sebab aku lelah sehabis tahlilan Bapak." Leka secara tidak langsung mengusir Candi karena pembicara mulai tak nyaman.


Candi menatap Leka gusar. Ia ingin Leka mengerti maksud kedatangannya. "Leka, aku masih menyukaimu. Aku bercerai dari istriku karena tak sanggup hidup tanpa cinta. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Orang tuaku sudah menyerahkan segalanya padaku."


"Maaf Candi, sebaiknya kamu lupakan aku. Aku tak bisa jadi yang kau mau karena aku sudah menikah. Sebaiknya kamu pulang saja sekarang." Leka dengan tegas menolaknya. Ia berdiri dari duduknya. Namun kemudian ia mendengar suara tangis anaknya. Ia segera mengejarnya ke kamar. Runi terbangun karena mendengar suara berisik di dalam rumah. Leka segera menggendong dan membawanya keluar.


"Leka, anakmu lucu sekali," ucap Candi saat melihat Runi.


"Maaf Candi, sebaiknya kamu pulang." Leka mengingatkan.


"Leka, aku mau menjadikannya anakku kalau kamu bersedia. Aku akan berusaha selalu berada di sisimu, menemanimu ...."


"Dan aku menolaknya. Tolong, aku sudah menikah Candi. Tolong hormati aku."


Candi terdiam sesaat. "Tolong pikirkan Leka, aku menunggu jawabanmu."

__ADS_1


"Candi ...."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Pria tampan bertubuh tegap itu segera keluar dari rumah itu. Ia menaiki mobilnya. Leka segera mendatangi pintu depan dan menutupnya. Terdengar deru mobil meninggalkan halaman rumahnya dan Leka hanya bisa menghela napas setelah bersandar pada pintu.


"Unda ...."


"Iya, sayang. Mau bobo sama Bunda ya?" Leka mengusap punggung Runi dan membawanya ke kamar.


Leka membaringkan tubuh bocah kecil itu di atas kasur tipis dan ia pun tidur di sampingnya. Runi, begitu nyaman berbaring di samping ibunya hingga dengan cepat ia tertidur. Leka masih menatap wajah kecil itu yang tidur di sampingnya.


Malaikat kecilku, Bunda takut membawamu ke mana-mana ke tempat yang sangat jauh. Takut tubuhmu tak kuat menahan kejamnya kehidupan, takut kau tak mampu bertahan. Kau adalah milik Bunda satu-satunya. Leka berusaha menahan derasnya air mata tapi tak ayal lagi, air mata itu jatuh berguguran di pipinya yang sudah mulai tirus itu. Namun ia bersyukur, ia bisa menangis tanpa suara. Ia takut anaknya terbangun dan melihat ia berlinang air mata.


Di tempat lain, Aska sedang termenung menatap kolam ikan di belakang rumahnya. Melihat ikan-ikan itu menenangkannya.


"Aska."


Aska mengangkat kepalanya. Reina, datang menghampirinya. "Ini sudah malam, kamu tidak ingin kembali ke apartemenmu?"


Sejak dua tahun yang lalu, Aska memutuskan untuk tinggal di apartemen ayah angkatnya, Chris karena ia ingin mandiri. Lagi pula rumah terlalu sesak baginya dan ia tidak leluasa melakukan apapun karena saudara kembarnya pasti mengadu pada Chris.


"Iya, Map." Aska memanggil ibu sambungnya Mamap.


"Kamu tidak apa-apa kan Aska? Sudah dua tahun ini Mamap lihat kamu kurang bersemangat bekerja. Ada apa? Apa ada masalah di kantor? Kamu terlihat seperti orang yang sedang patah hati. Kenapa kamu tidak tinggal di sini saja kembali, kan rame ada adik-adikmu yang bisa menghiburmu."


"Tidak usah Map, aku kan sudah besar. Sudah dewasa, aku ingin mencoba memutuskan apa-apa sendiri."


Reina mengusap lembut punggung Aska. "Ya sudah terserah kamu saja."


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu terlihat Lydia sedang berlari-lari mengejar Zack.


"Zack, kamu sedang apa?" Chris muncul dari balik pintu kamarnya.


Zack segera berhenti dan memasukkan sesuatu ke dalam kantong celananya. Lydia pun juga tiba-tiba berhenti di belakang Zack dan menatap ke arah Chris.


"Zack, apa yang kau sembunyikan?" Chris mendatangi keduanya. Wajah Zack tenang tapi Lydia menegang.


"Ayo sini, berikan pada Papa." Chris menyodorkan tangannya.


"Cuma mainan biasa kok Pa," sahut Zack dengan senyum dan ketenangannya. Ia melirik Lydia.

__ADS_1


"Eh, iya." Lydia terlihat panik.


"Ayo berikan pada Papa," Chris kembali menyodorkan tangannya. Ia tahu, Zack menyembunyikan sesuatu.


Zack kemudian memberikannya pada ayahnya. Sebuah lipstik. "Punya siapa ini?"


"Aku dapat dari Lydi. Katanya punya dia." Zack tersenyum nakal, melirik lydia.


Lydia terlihat pucat. Chris hanya menarik napas. "Kau ambil dari mana lagi Lydi?"


"Itu lipstick Mama." Lydia melirik Reina. Zack dan Lydia memanggil Mama pada Reina, tapi Salwa dan Aska memanggilnya Mamap.


"Sudah, tidak apa-apa Da," ucap Reina menengahi, tapi tidak bagi Chris. Lipstick itu merek mahal dan pasti isinya sudah rusak. Ia membukanya. Lipstik itu bentuknya sudah rusak parah. Seperti habis dilepas dan dijadikan mainan lalu kemudian ditempel kembali. Lipstik itu juga melekat di bagian dalam tutupnya sehingga agak susah dibuka.


"Ya ampun, Lydi ...." Chris sempat memejamkan mata sejenak karena pusing menghadapi kenakalan anak-anak berdua ini.


"Maaf." Begitu jawaban singkat Lydia begitu ketahuan mempermainkan barang yang semestinya bukan mainan itu. "Aku ketemu."


Jawabannya selalu sama setiap kali ulah kenakalan mereka diketahui.


"Sudah Da, mereka hanya anak-anak." Reina hanya memberi senyum. "Nanti aku bisa beli lagi kok."


"Iya, tapi kalau diulangi terus kan namanya kelewatan. Mereka harus di beri efek jera agar mengerti apa yang mereka lakukan itu merugikan orang lain."


"Lagi, gak kreatif sih jawabannya," sahut Aska menggoda adiknya. Zack dan Lydia tertawa.


"Hei! Siapa yang memperbolehkan kamu tertawa!" Hardik Chris.


Reina tersenyum menahan tawanya. Chris mulai menasehati kedua anak nakal itu. Anak-anak itu mendengarkan saja ucapan pria itu, tapi entah besok atau lusa mereka akan melakukan apa.


Aska berpamitan pulang. Ia kembali ke apartemennya dengan mobil miliknya yang kemudian di parkir di halaman depan gedung apartemen. Ia menggantung jas miliknya di lengan dan membawanya masuk ke dalam gedung.


Sambil menunggu di depan lift, ia menatap pintu lift yang memantulkan wajah dirinya. Wajah yang tidak bahagia. Selama dua tahun ini ia memendam rasa bersalahnya pada Leka, walaupun berulang kali ia katakan itu pada dirinya bahwa ia tak bersalah, tapi rasa itu malah makin menghantuinya. Ia yang dulu menghabiskan hari dengan memikirkan Nena, kini harus menghabiskan hari dengan rasa bersalah itu dan mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah merasa sebersalah ini pada perempuan sebelumnya. Terikat pernikahan dan menidurinya. Belum pernah sedekat dan seemosional ini pada wanita.


Seorang pria bule mendatangi lift dan berdiri di samping Aska. Ia sedang menelepon. "Honey,(sayang) aku tahu aku salah, tapi tolong dengarkan aku dulu. Sudah berbulan-bulan aku memikirkan ini, tapi akhirnya aku sadar kalau aku membutuhkanmu. Awalnya aku menolak ini karena kutahu aku mencintai orang lain, tapi itu dulu. Sekarang kepalaku hanya dipenuhi oleh dirimu. Aku mengkhawatirkanmu, menangisi semua kesalahanku padamu, pikiranku tak bisa lepas dari hanya memikirkanmu. Aku pikir aku telah jatuh cinta padamu dan sebelum itu terlambat, biarkan aku kembali padamu. Hancurkan aku sesukamu, pukul dan hina aku serendah-rendahnya asal kau biarkan aku kembali ke sisimu lagi. Biarkan aku menebusnya, menebus rasa bersalah ini. Aku tahu aku mungkin tak bisa mendapatkan kata maaf darimu karena telah membiarkanmu menunggu lama. Terlalu pengecut memang, tapi aku memohon padamu, hanya kamu yang bisa menghapus rasa bersalah ini. Memilikimu kembali, walau tak mungkin. Honey, please.(Sayang, tolong)"


Aska terkejut mendengar penuturan pria di sampingnya. Kembali ia menatap dirinya dari pantulan pintu lift di depannya. Walau tak jelas ia bisa melihat dirinya terlihat sangat syok mendengar penuturan pria itu. Ia seperti berkaca pada masalah pria itu dengan kekasihnya, yang sepertinya mirip dengan dirinya. Apa aku jatuh cinta pada Leka? Bukankah cintanya hanya pada Nena? Ia berpikir kembali kapan terakhir kali ia mengingat Nena dan ia ternyata tidak mengingatnya. Apakah bisa cinta yang baru mengganti cinta yang lama?


"Honey,(sayang) cintaku padamu membuatku buta pada yang lain. Bahkan aku mempertanyakan apakah pernah ada cinta yang lain sebelum denganmu. Aku telah benar-benar lupa pernah merasakannya."


Pintu lift terbuka. Bule itu masuk ke dalam lift sedang Aska tidak. Ia diam di tempat hingga pintu itu tertutup lagi.


Apa benar ia kini jatuh cinta pada Leka ... tapi yang ia rasakan hanya rasa bersalah, bukan cinta apalagi rindu. Rindu? Aku kadang membayangkan kita bertemu dengan kisah yang berbeda. Andai aku tak pernah bertemu Nena. Nena batu ganjalan untuk semuanya.

__ADS_1


Aska resah. Apa benar ia jatuh cinta pada Leka? Ia sudah meninggalkannya sekian lama, apa masih bisa bertemu lagi? Ia harus memastikan ini sebelum segalanya terlambat. Aska segera kembali ke mobilnya.


__ADS_2